Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Positif


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Asyila dengan semangat membawa masuk Arsyad ke dalam rumah untuk memberi kejutan kepada yang lainnya.


“Assalamu’alaikum, Ashraf! Ibu! Ayah!” panggil Asyila yang begitu bersemangat.


Ashraf, Arumi dan juga Herwan bergegas mendatangi sumber suara tersebut.


“Wa’alaikumsalam!” seru ketiganya.


“Kakak!” teriak Ashraf ketika melihat Arsyad tengah berdiri disamping Bunda mereka.


Ashraf berlari secepat mungkin dan akhirnya kakak beradik itu pun saling berpelukan.


“Kak Arsyad... hiks.. hiks...” Ashraf memanggil kakak dengan terus menangis, begitu juga dengan Arsyad yang juga menangis karena akhirnya bisa bertemu dengan adik kecilnya.


Asyila terus saja memperhatikan keduanya dan tiba-tiba pandangannya menjadi kabur.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Abraham terkejut ketika melihat Asyila hampir saja terjatuh.


Sontak saja, semua perhatian mereka tercurahkan kepada Asyila.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Arumi panik ketika melihat wajah Asyila yang tiba-tiba pucat.


“Bunda kenapa?” tanya Arsyad dan Ashraf secara kompak.


“Mas, pandangan Asyila tiba-tiba kabur dan kepala Asyila tiba-tiba sakit. Tolong bantu Asyila ke kamar, Mas!” pinta Asyila yang masih memejamkan matanya karena pusing yang tak tertahankan.


Abraham tanpa pikir panjang dan tanpa malu-malu, langsung menggendong tubuh istri kecilnya dan bergegas membawa sang istri masuk ke dalam kamar.


Arsyad dan Ashraf pun mengikuti Ayah mereka yang tengah membawa Bunda tersayang mereka.


“Syila sebaiknya beristirahat,” ucap Abraham sambil melepaskan hijab istri kecilnya.


“Mas, kok Asyila merasa sangat mual ya?” tanya Asyila.


Abraham panik dan menoleh kesana kemari untuk menampung muntahan istri kecilnya yang mungkin bisa secara tiba-tiba dimuntahkan.


“Uwekkk...Uweeekkkk...” Asyila mencoba mengeluarkan isi di dalam perutnya. Namun, hasilnya nihil.


“Bunda kenapa?” tanya Arsyad dan juga Ashraf dengan wajah panik.


“Arsyad dan Ashraf diluar dulu ya Nak. Biar Bunda, Ayah yang temani.”


Arsyad mengiyakan permintaan Ayah mereka dan mengajak Ashraf keluar meninggalkan kedua orang tua mereka.


Setelah kedua putra kecilnya keluar, Abraham bergegas mendekati sang istri yang terlihat begitu lemas.


“Kita ke rumah sakit ya!” ajak Abraham.


Asyila mengernyitkan keningnya dan memukul dada suaminya.


“Mas tadi ngapain gendong Asyila? Lengan Mas itu masih sakit, kalau kenapa-kenapa bagaimana?” tanya Asyila yang baru ingat bahwa lengan suaminya terluka karena luka tembak.


“Ini hanya luka kecil saja, yang terpenting Asyila baik-baik saja,” balas Abraham yang lebih mementingkan kondisi sang istri dari pada dirinya.


“Sini mendekat lah, Asyila mau lihat luka di lengan Mas Abraham!” pinta Asyila.


Abraham mengiyakan dan membiarkan istri kecilnya melihat lukanya itu.


“Syukurlah tidak robek,” terang Asyila bernapas lega.


“Sekarang Syila sudah tahu 'kan, kalau suamimu ini baik-baik saja.”

__ADS_1


“Iya, Mas,” jawab Asyila dan berusaha memejamkan matanya.


Abraham mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi salah satu dokter yang ia kenal agar segera datang ke kediamannya.


Akan tetapi, Asyila dengan cepat meminta suaminya untuk tidak menghubungi dokter dan meminta Abraham untuk segera menemaninya tidur.


“Syila tidurlah sekarang, Mas ingin menghubungi dokter agar bisa mengetahui kondisi Asyila,” ucap Abraham sambil membelai lembut rambut Asyila.


“Tapi, Mas.....”


“Sssuuttt... Tidak baik membantah apa yang dikatakan oleh suami,” tutur Abraham.


Mau tak mau akhirnya Asyila menyetujui perkataan suaminya yang ingin mendatangkan dokter untuk memeriksa kondisi tubuhnya.


“Sekarang tidurlah istriku yang cantik.”


Perlahan Asyila mulai memejamkan matanya dan ia pun tertidur di samping suaminya yang dengan fokus memperhatikan wajah Asyila yang sangat pucat.


Disaat yang bersamaan di ruang keluarga, Arumi dan Herwan begitu mengkhawatirkan kondisi putri kesayangan mereka yang tiba-tiba sakit.


“Mas, apakah putri kita baik-baik saja?” tanya Arumi yang terlihat sangat mengkhawatirkan kesehatan Asyila.


“Putri kita pasti baik-baik saja. Lagipula, ada Nak Abraham yang selalu berada di samping Asyila,” jawab Herwan yang terlihat biasa-biasa saja. Padahal ia sendiri begitu mengkhawatirkan kondisi putri tunggalnya itu.


Arsyad dan Ashraf yang berada didekat Kakek serta Nenek mereka hanya diam tak bersuara. Kedua bocah kecil itu pun terlihat tegang karena Bunda tercinta mereka tengah sakit.


“Kalian kenapa diam saja? Pergilah bermain dan jangan memikirkan kondisi Bunda kalian, sebentar lagi Bunda Asyila akan sembuh dan bisa menemani kalian bermain,” tutur Arumi sambil memberikan senyum terbaiknya kepada kedua cucunya yang kembali bersatu.


Arsyad mengiyakan dengan penuh semangat dan bergegas membawa adiknya bermain di teras depan rumah.


Beberapa saat kemudian.


Seorang wanita berpakaian serba putih dengan hijab berwarna senada, baru saja turun dari mobil dan memberikan senyuman hangatnya kepada Kakak beradik yang tengah bermain Lego.


“Wa’alaikumsalam, kami main Lego,” jawab Arsyad dan juga Ashraf yang begitu kompak.


Kehadiran dokter Erika langsung hangat oleh Arumi dan juga Herwan.


“Selamat datang dokter!” sapa Arumi yang beberapa menit diberitahukan oleh Abraham bahwa akan ada dokter wanita yang datang untuk memeriksa kondisi kesehatan Asyila.


“Assalamu’alaikum, Ibu Arumi dan juga Pak Herwan!”


“Wa’alaikumsalam,” balas keduanya.


“Mari masuk, Nak Asyila dan juga Nak Abraham telah menunggu dikamar!” ajak Arumi dan menuntun dokter Erika masuk ke dalam rumah menuju kamar Abraham serta Asyila.


Sesampainya di kamar, Erika langsung meminta yang lainnya untuk keluar dari kamar dan memberikannya ruang untuk memeriksa kondisi kesehatan Asyila yang saat itu tengah berbaring lemas.


“Selamat siang, Nona Asyila. Perkenalkan saya Erika,” tutur Erika memperkenalkan dirinya kepada Asyila yang tengah berbaring.


“Selamat siang juga dokter Erika, maaf saya berbaring seperti ini. Entah kenapa, tiba-tiba badannya menjadi kurang bertenaga dan rasanya perut ini seperti diaduk-aduk,” terang Asyila memberitahukan keluhannya.


Dokter Erika tersenyum ramah, “Bolehkah saya memegang tangan Nona Asyila?” tanya dokter Erika meminta izin menyentuh tangan Asyila.


“Silakan, Dok,” jawab Asyila.


Dokter Erika kembali tersenyum ramah dan mulai memeriksa denyut nadi Asyila.


Kemudian, kembali meminta izin menyentuh bagian perut Asyila.


“Ada apa, Dok?” tanya Asyila ketika melihat wanita yang tengah menyentuh perutnya senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


“Apakah saya harus memberitahukannya sekarang?” tanya Dokter Erika yang perkataannya seperti teka-teki untuk Asyila.


“Me-meberitahukan apa, Dok?” tanya Asyila yang justru panik dengan ucapan Dokter Erika.


Asyila menggigit bibirnya sendiri dan berpikir bahwa dirinya memiliki penyakit serius.


“Dok, tolong beritahu apa yang sebenarnya terjadi dengan saya? Apakah saya memiliki penyakit serius?” tanya Asyila panik.


“Astaghfirullahaladzim, kenapa Nona Asyila berpikir seperti itu? Ini bukanlah penyakit serius,” balas Dokter Erika.


Diluar pintu, Abraham serta yang lainnya nampak khawatir. Mereka semua tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Asyila.


“Ibu, kenapa memeriksa kondisi Asyila begitu lama?” tanya Abraham yang tak sabaran ingin melihat istri kecilnya di dalam kamar.


“Bukan kamu saja yang merasa seperti ini, Nak Abraham. Ibu juga merasa bahwa mereka sangat lama di dalam dan belum juga membukakan pintu untuk kita,” balas Arumi.


30 menit kemudian.


Dokter Erika keluar dengan peralatannya dengan senyum ramahnya.


“Bagaimana keadaan putri saya?” tanya Arumi sambil menyentuh tangan kanan Dokter Erika.


“Sebaiknya, Pak Abraham temui Nona Asyila sekarang!” pinta Dokter Erika.


Tanpa bertanya, Abraham bergegas masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh istri kecilnya yang tengah berdiri.


“Ada apa Syila? Kenapa Syila menangis seperti ini?” tanya Abraham panik.


“Mas... Hiks... Hiks....”


“Iya, ada apa? Kenapa menangis? Apakah kepala Asyila sangat sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!”


Asyila bukanlah menangis sedih, wanita cantik itu justru menangis terharu karena telah mengetahui penyebab dirinya tiba-tiba sakit.


“Mas, lihatlah ini!” Asyila memperlihatkan benda pipih di genggamannya dengan begitu bahagia.


Deg!!


“Ini.. ini bukankah testpack? Alhamdulillah...” Dengan penuh syukur, Abraham bersujud dan terus saja mengucapkan syukur kepada yang Maha kuasa.


Arumi, Herwan serta buah hati Abraham dan Asyila cepat-cepat masuk ke dalam kamar ketika mendengar suara Abraham.


“Ada apa, Nak Abraham? Ada apa, Asyila?” tanya Arumi penasaran.


“Bu, Asyila positif,” terang Asyila.


“Positif? Maksudnya saat ini Asyila tengah mengandung?” tanya Arumi memastikan.


“Iya Ibu, Asyila tengah mengandung,” balas Asyila sambil menyentuh perutnya yang masih rata.


Keluarga itu kompak menangis terharu, begitu juga dengan Arsyad dan Ashraf yang mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan memiliki adik bayi yang lucu.


Dokter Erika yang melihat kebahagiaan mereka ikut terbawa suasana. Ia menangis terharu dan berharap semuanya berjalan dengan baik.


“Terima kasih, istriku. Terima kasih Ya Allah!” Abraham terus saja mengucapkan terima kasih.


Dengan penuh semangat, Abraham mengelus dan menciumi perut istri kecilnya yang tengah tertutup oleh pakaian yang dikenakan oleh Asyila.


“Selamat untuk Tuan Abraham dan juga Nona Asyila, semoga kalian selalu dirahmati dan berkati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” terang dokter Erika.


Mana nih like dan komen?

__ADS_1


Abraham dan Asyila akan terus berlanjut teman-teman. Jangan lupa berikan poin dan juga vote ❤️❤️😘


__ADS_2