
Asyila serta yang lainnya akhirnya sampai di Perumahan Absyil. Terlihat jelas wajah puas dari mereka yang telah membagikan nasi kotak dan juga sembako.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham serta yang lain sebelum masuk ke dalam rumah.
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, akhirnya kalian sudah sampai,” ucap Ema.
“Iya, Ema. Alhamdulillah, mereka sangat senang ketika aku memberikan nasi kotak dan juga sembako,” tutur Asyila sembari mendaratkan bokongnya di sofa.
“Seharusnya aku ikut juga,” balas Ema.
“Kamu lebih baik di rumah, Oya kamu sudah makan?” tanya Asyila pada Ema.
“Alhamdulillah, sudah. Aku makan rujak buah,” jawab Ema.
“Rujak buah? Kenapa tidak makan nasi?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Rujak buah terlihat sangat mengiurkan untuk dinikmati. Oya Asyila, aku pulang sekarang ya. Entah kenapa aku ingin sekali tidur di kamar Kahfi,” ucap Ema yang ingin segera tidur di kamar putra kecilnya.
“Mungkin itu keinginan dari calon buah hati yang kamu kandung, baiklah kalau begitu!”
Ema, Kahfi dan Yogi akhirnya pulang ke rumah mereka.
“Ah, rasanya sangat lelah sekali. Ayo masuk ke kamar, Asyila mau istirahat!”
“Jangan istirahat dulu, ayo kita sholat Dhuha!” ajak Abraham sembari merangkul pinggang Sang istri menuju kamar tidur mereka.
Saat mereka baru saja memasuki kamar, rupanya bayi Akbar telah terbangun dan samar-samar terdengar suara seperti mengomel.
“Mas, coba dengarkan Omelan Akbar!” panggil Asyila pada suaminya.
Abraham mendekat dan terdengar ocehan dari Akbar yang hanya membuka mulutnya.
“Jika Akbar sudah besar nanti, pasti Akbar jadi pengacara,” tutur Abraham.
“Kenapa Mas bisa berpikiran seperti itu?”
“Ya coba lihat saja buah hati kita dari tadi uggghh ughhh ughhh terus tak ada henti-hentinya,” jawab Abraham.
“Mas ini bisa saja, ayo ganti pakaian dan bergegas mengambil air wudhu!” ajak Asyila.
Merekapun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Kemudian, melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena akan melaksanakan sholat Dhuha bersama.
Beberapa jam kemudian.
“Tok! Tok! Tok!” Suara pintu diketuk dari luar.
Abraham dan Asyila yang saat itu tengah tidur siang, perlahan membuka mata mereka.
“Mas, siapa itu? Apakah Mbok Num?” tanya Asyila yang masih sangat mengantuk.
“Siapa?” tanya Abraham yang masih berada di tempat tidur.
“Ini Bela, Paman Abraham!” seru Bela.
Saat itu Abraham turun dari tempat tidurnya dan membuka setengah pintu kamarnya hingga hanya terlihat bagian kepala serta setengah tubuhnya.
“Iya Bela, ada apa?” tanya Abraham.
“Maaf, Paman. Itu di ruang tamu ada yang mencari Paman Abraham,” terang Bela.
“Iya, Bela tidak apa-apa. Tolong sampaikan kepada tamu itu, kalau Paman sebentar lagi akan datang,” ucap Abraham pada Bela.
“Baik, Paman. Bela permisi,” tutur Bela dan melenggang menuju ruang tamu untuk memberitahukan pesan Abraham tersebut.
Abraham kembali menutup pintunya sembari mengernyitkan keningnya. Abraham ingat, kalau hari itu dirinya tak membuat janji kepada siapapun untuk bertemu.
“Ada apa, Mas? Kenapa wajah Mas Abraham kelihatan bingung begitu,” ujar Asyila yang masih mengantuk.
“Di ruang tamu ada orang yang ingin bertemu dengan Mas. Akan tetapi, Mas hari ini tidak ada janji dengan siapapun,” terang Abraham sembari menyentuh pipi Sang istri.
“Coba Mas lihat handphone Mas, barangkali ada pesan,” tutur Asyila pada suaminya.
Abraham langsung beranjak dari tempat tidur untuk melihat telepon genggam miliknya, barangkali orang yang sedang berada di ruang tamu adalah salah satu Sahabatnya.
“Bagaimana, Mas?” tanya Asyila pada suaminya.
“Ternyata di depan adalah Dayat,” jawab Abraham ketika melihat isi pesan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
“Mas tunggu apalagi? Cepat ganti pakaian dan temui Pak Dayat. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga Pak datang di waktu seperti ini,” tutur Asyila pada suaminya.
Abraham mengiyakan dan buru-buru mengganti pakaiannya. Kemudian, berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengetahui alasan kedatangan Dayat.
“Tuan Abraham!” Dayat tersenyum lebar dan memeluk sekilas tubuh sahabatnya, Abraham Mahesa.
“Apa kabar? Kenapa datang kemari hanya seorang diri. Dimana Edi?” tanya Abraham.
“Edi sedang ada tugas dari atasan untuk menelusuri hutan yang berada di daerah Sumatera Selatan,” jawab Dayat.
“Sejak kapan? Memang tugas apa yang Edi dan tim lain kerjakan?” tanya Abraham semakin penasaran.
“Para pembegal banyak yang bersembunyi di hutan itu dan apa yang mereka lakukan benar-benar tidak dapat dimaafkan. Mereka tidak hanya membegal mobil, motor atau harta benda lainnya kepada pengendara yang lewat. Akan tetapi, mereka juga tak segan-segan menghabisi nyawa orang lain,” terang Dayat pada Abraham.
“Itu sungguh mengerikan, mereka bertindak dengan sangat kejam dan sungguh kasihan dengan keluarga para korban,” tutur Abraham.
“Maka dari itu, Edi serta tim yang lain ditugaskan untuk menangkap para komplotan begal,” terang Dayat.
Saat mereka berdua tengah membahas masalah yang penting, Asyila datang dengan membawa satu gelas kopi dan satu gelas air putih. Tidak hanya itu, Asyila juga membawa kue kacang, keripik pingsan dan kue brownies panggang untuk suami serta tamu dari Sang suami tercinta.
“Silakan Pak Dayat, dinikmati kopi dan cemilannya,” tutur Asyila.
“Terima kasih, Nona Asyila,” sahut Dayat.
“Mas Abraham juga ya, silakan dinikmati,” ucap Asyila pada suaminya dengan memberikan senyum terbaiknya pada Sang suami tercinta.
“Terima kasih, istriku,” balas Abraham dan memberikan kedipan mata genit kepada istri kecilnya.
Untungnya Dayat tidak melihat kelakuan Abraham pada Asyila.
Asyila pun cepat-cepat melenggang pergi menjauh dari suaminya yang genit.
“Sekarang ceritakan kedatangan mu kemari!” pinta Abraham yang sangat penasaran dengan kedatangan Abraham.
“Begini, kami mendapat informasi bahwa besok malam akan ada pertemuan sindikat narkoba besar-besaran di Surabaya. Dan pertemuan antar sindikat itu akan berlangsung di tempat yang tidak bisa kita lalui dengan jalur darat,” terang Dayat.
“Jalur darat? Maksudnya bagaimana, tolong jelaskan lebih detail!” pinta Abraham.
“Begini, jadi pertemuan antar sindikat tersebut akan berlangsung di atas kapal yang tentunya akan sangat sulit untuk kita menangkap mereka. Kalaupun ia, kita harus menunggu mereka lengah,” ungkap Dayat.
“Kalau begitu, kenapa tidak tidak menunggu mereka berlabuh di pelabuhan? Kita juga bisa mengintai mereka dengan menggunakan drone?” tanya Abraham.
“Baiklah, daripada kita membuang-buang waktu seperti ini. Kirim aku saja ke kapal tersebut dan aku akan berusaha melumpuhkan Ket mereka,” ujar Abraham.
Dayat dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia menolak ide dari Abraham.
“Tidak. Terlalu beresiko untuk anda pergi sendirian,” tegas Dayat yang tidak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Sahabatnya.
“Bukankah aku juga sudah sering mengalami keadaan yang seperti itu. Kau tenanglah, aku akan baik-baik saja,” ucap Abraham.
Dayat tak langsung menjawab, bagaimanapun ia tidak berani mengambil keputusan dengan keinginan Abraham.
“Kau takut aku kenapa-kenapa?” tanya Abraham.
“Tentu saja. Kami semua takut bila sesuatu hal buruk terjadi kepada Tuan Abraham,” sahut Dayat.
“Ayolah, apakah aku selemah itu?” tanya Abraham dengan sangat santai.
“Anda memang tidak lemah, anda pria kuat yang pernah saya temui. Akan tetapi, saya dan tim yang paling pasti tidak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Tuan Abraham,” balas Dayat.
“Tenanglah, aku baik-saja. Kapan perjalanan menuju Surabaya?” tanya Abraham.
“Insya Allah besok pagi, kita menggunakan jalur udara untuk sampai ke Surabaya dan setelah itu kita berkumpul di pelabuhan,” terang Dayat.
Disaat yang bersamaan, Asyila berada di dalam kamar dan tengah menyusui bayi mungilnya. Asyila tahu kedatangan Dayat pasti ada sesuatu hal yang penting sekaligus mendesak.
Setelah hampir 2 bulan Abraham tak beraksi, kini Asyila harus lapang dada karena Sang suami pasti akan beraksi lagi dan tentu saja pasti akan membuat perasaan Asyila menjadi sangat khawatir.
Meskipun begitu, Asyila berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan mendo'akan keselamatan suami serta sahabat suaminya yang lain.
Setelah menyusui bayi mungilnya, Asyila kembali meletakkan buah hatinya itu ke ranjang bayi. Kemudian, melenggang keluar dari kamar untuk memasak sesuatu di dapur.
Asyila ingin sekali memasak lobster yang ia beli di pasar beberapa hari yang lalu.
“Nona Asyila mau ngapain?” tanya Mbok Num.
“Ini, Mbok. Asyila mau memasak lobster,” jawab Asyila sembari merendamkan lobster tersebut ke air.
__ADS_1
“Biar Mbok saja ya Nona Asyila,” tutur Mbok Num yang ingin menggantikan Asyila memasak.
“Tidak, usah Mbok Num. Biar Asyila saja,” balas Asyila.
“Baiklah, Mbok akan membuat kue kacang saja kalau begitu,” sahut Mbok Num.
“Memangnya kaki Mbok Num sudah sembuh? Mbok Num yang memasukkan kue kacang ke dalam toples saja kalau begitu,” ucap Asyila yang tidak ingin jika Mbok Num kelelahan.
Mbok Num langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh Asyila padanya.
Saat Asyila tengah mempersiapkan bumbu untuk membuat lobster bumbu lada hitam, tiba-tiba Abraham datang menghampiri istri kecilnya.
“Syila,” ucap Abraham dan memeluk tubuh istri kecilnya dari belakang.
Para karyawati yang juga berada di dapur itu, dengan cepat memalingkan wajah mereka dan bergeser menjauh untuk memberikan Keduanya privasi.
“Mas, kita tidak sedang di dalam kamar,” ucap Asyila lirih sembari melepaskan tangan yang melingkar sempurna diperutnya.
Antagonis biasanya akan menjawab apa yang dikatakan oleh istri kecilnya. Akan tetapi, kali ini ia hanya diam dan memilih untuk duduk di kursi sembari memperhatikan istri kecilnya.
Asyila menyadari bahwa suaminya tidak seperti biasanya. Asyila pun menghentikan kesibukannya itu dan kini duduk tepat disamping suaminya.
“Mas kenapa diam saja? Apa ada hal yang mengganggu pikiran Mas Abraham? Atau ada yang ingin Mas Abraham sampaikan kepada Asyila?” tanya Asyila yang telah siap jika suaminya harus pergi untuk membantu Dayat serta yang lain.
“Besok pagi Mas akan pergi ke Surabaya. Bisakah Asyila bersabar menanti kedatangan Mas?” tanya Abraham yang terlihat sangat sedih jika istri kecilnya sedih.
“Jadi ini yang membuat Mas tidak seperti biasanya? Kalau memang Mas ingin pergi, ya sudah tidak apa-apa. Bukankah Asyila sering mengalami hal seperti ini, akan tetapi Asyila meminta kepada Mas untuk jaga diri dan pulanglah dengan selamat,” balas Asyila sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar dipeluk oleh suaminya.
Abraham tersenyum dan ia pun segera memeluk tubuh istri kecilnya.
Mbok Num serta yang lain sesekali melirik ke arah Keduanya.
“Ya ampun, kenapa mereka romantis sekali? Aku bahkan meleleh melihat mereka yang berpelukan dengan sang mesra seperti itu,” tutur salah satu wanita yang bekerja dalam membuat kue kacang.
Setelah mereka cukup lama berpelukan, Asyila kembali melanjutkan aktivitasnya yang tengah memasak. Abraham pun ikut membantu istri kecilnya memasak lobster dengan bumbu lada hitam.
“Mas, tolong belikan Asyila oleh-oleh Surabaya ya kalau misi Mas dan yang lain berhasil!” pinta Asyila.
“Tentu saja misi Mas dan yang lain akan berhasil. Asyila tenang saja, Mas akan membeli banyak oleh-oleh untuk dibagikan kepada yang lain.”
“Terima kasih, suamiku yang baik!”
Abraham mengangguk kecil dan mengecup lembut kening Istri kecilnya.
“Mas, Pak Dayat apa sudah pulang?” tanya Asyila karena Sang suami malah sibuk membantunya di dapur.
“Sudah, makanya Mas kemari mencari Asyila,” jawab Abraham yang saat itu tengah membersihkan kotoran lobster.
Beberapa saat kemudian.
Lobster bumbu lada hitam akhirnya siap untuk disajikan. Saat itu juga, Asyila memanggil para karyawatinya untuk makan siang bersama.
“Bela, ayo sini sayang!” panggil Asyila pada Bela.
Bela tersenyum lebar dan berlari kecil mendekat ke arah Asyila.
“Ayo, kita makan sama-sama!” ajak Asyila pada Bela.
Bela bertepuk tangan dengan penuh gembira ketika mengetahui Asyila memasak lobster.
Hampir seminggu sekali, Asyila memasak lobster dengan bumbu yang berbeda-beda.
Bagaimanapun, apa yang Asyila masak tentu saja akan dimakan oleh para karyawatinya. Asyila sama sekali tak pelit dalam urusan makanan, apa yang dimakan pasti dimakan juga oleh mereka yang bekerja di rumah tersebut.
“Karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita makan bersama. Semoga apa yang kita kerjakan, menjadi keberkahan untuk diri kita dan juga orang lain,” tutur Asyila sebelum bersama-sama menikmati makan siang.
Abraham yang memang pria sendiri, saat itu langsung memimpin Do'a sebelum makan dan diikuti pula oleh yang lain.
Usai berdo'a sebelum makan bersama, merekapun dengan semangat menyantap masakan yang dibuat oleh Asyila dan juga Abraham.
Seperti biasa, Abraham dan Asyila menikmati makanan sepiring berdua.
Abraham sesekali melirik ke arah istri kecilnya dan berharap Sang istri bisa tegar ketika dirinya pergi untuk menyelesaikan misi.
Asyila juga sesekali melirik ke arah Sang suami, Asyila sangat berharap bahwa suaminya itu bisa pulang dengan selamat, sehingga mereka bisa kembali berkumpul seperti biasanya.
“Uhuk... Uhuk...” Asyila tiba-tiba tersedak dan saat itu juga Abraham dengan sigap memberikan segelas air minum kepada istri kecilnya.
__ADS_1
“Ini diminum, hati-hati Syila,” tutur Abraham dengan nada selembut mungkin.
“Terima kasih, Mas Abraham,” tutur Asyila yang telah meneguk setengah gelas air minum yang diberikan oleh suaminya itu.