
Malam hari.
Abraham dan Asyila telah berada di dalam kamar, keduanya saat itu tengah berbincang-bincang sembari bersenda gurau sebelum beristirahat.
Saat Abraham tengah bersenda gurau dengan menciumi telinga istri kecilnya, tiba-tiba ponsel Asyila berbunyi.
Awalnya Asyila mengabaikan pesan tersebut, tetapi ponselnya berulang kali berbunyi dan membuat Asyila terpaksa menghentikan gurauannya bersama sang suami tercinta.
“Mas, sebentar ya. Asyila mau lihat dulu, siapa yang mengirim pesan di jam malam seperti ini,” tutur Asyila dan perlahan turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias.
Asyila membaca pesan dari salah satu penghuni perumahan Absyil yang ternyata ingin memesan kue kacang kepada Asyila sebanyak 70 toples.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila dan saat itu juga Asyila naik ke tempat tidur untuk memeluk suaminya.
Abraham terheran-heran dengan sikap istri kecilnya yang terlihat sangat bahagia.
“Mas, Bu Narti memesan kue kacang sebanyak 70 toples kepada Asyila,” ungkap Asyila.
“Alhamdulillah, semangat istriku. Pasti besok Syila sangat sibuk ya,” balas Abraham.
“Terima kasih, Mas. Tentu saja Asyila harus semangat dan meskipun sibuk, asal itu berkah,” terang Asyila.
Asyila sendiri sebenarnya tak kekurangan uang sama sekali, bahkan uang yang diberikan oleh suaminya belum ia pakai sama sekali.
Apa yang Asyila lakukan semata-mata untuk mencari kesibukan sekaligus ingin menjadi orang yang dibutuhkan serta bermanfaat untuk orang sekitar.
“Mas, besok temani Asyila ke pasar ya. Asyila ingin membeli bahan-bahan untuk membuat kue kacang,” ujar Asyila.
“Besok ya? Sepertinya Mas bisa,” balas Abraham.
“Kok Mas Abraham berkata seperti itu, memangnya Mas Abraham mau kemana besok?” tanya Asyila penasaran.
“Sebenarnya Mas ingin silaturahim dengan Mbah Tedjo serta yang lain. Akan tetapi, tak masalah. Besok lusa juga bisa,” terang Abraham.
Asyila tersenyum lebar dan membalas pesan tersebut untuk menanyakan kapan kue kacang tersebut diambil.
Tak butuh waktu lama, Narti pun membalas dan akan mengambil kue kacang tersebut pada hari Jum'at.
“Mas, do'akan Asyila ya agar apa yang Asyila lakukan ini menjadi berkah!” pinta Asyila.
“Syila tenang saja, setiap Do'a Mas, ada nama Asyila yang selalu Mas do'akan,” balas Abraham dan mengecup lembut kening Asyila dengan penuh cinta.
“Mas, ayo tidur. Sudah jam segini dan besok Asyila akan sangat sibuk,” tutur Asyila mengajak suaminya untuk segera beristirahat.
“Ayo wudhu dulu!” ajak Abraham.
Keesokan paginya.
Asyila tersenyum lebar ketika menuruni anak tangga, pagi itu ia dan suami akan pergi ke pasar untuk berbelanja.
“Dyah, kamu yakin bisa menghandle ini semua? Apakah tidak repot jika harus menjaga adikmu, Akbar?” tanya Asyila yang baru saja menuruni anak tangga.
“Aunty tenang saja, Dyah justru sangat senang bisa menjaga Adik Akbar,” balas Dyah.
“Sebelumnya terima kasih, Dyah. Oya, kamu mau dibelikan apa?” tanya Asyila barangkali ada hal yang ingin dimakan oleh Dyah.
__ADS_1
“Bakso beranak saja, Aunty,” jawab Dyah yang sangat ingin menikmati bakso beranjak.
“Bela mau Aunty belikan apa, sayang?” tanya Asyila pada Bela yang berdiri tepat dihadapannya.
“Sama seperti Kak Dyah saja, Aunty. Bakso beranak,” jawab Bela dengan malu-malu.
“Baiklah, Aunty akan membelikan kalian berdua bakso beranak. Aunty pergi dulu ya, Paman kalian pasti sudah menunggu Aunty di mobil, assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Asyila berlari kecil menuju ke arah luar untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Maaf ya Mas, Asyila tadi sedang mengobrol dengan Dyah dan juga Bela,” ucap Asyila yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Iya, tidak apa-apa,” balas Abraham dan memberikan kecupan manis di pipi kanan istri kecilnya.
Abraham lalu meminta Eko untuk segera pergi menuju pasar.
Sepanjang perjalanan menuju pasar, Abraham dan Asyila memutuskan untuk membahas masalah proyek pembangunan masjid.
Tak hanya itu, mereka bahkan bertukar pendapat satu sama lain secara terbuka.
Eko salut dengan hubungan keduanya yang saling melengkapi satu sama lain.
Tak butuh waktu lama, merekapun tiba disebuah pasar yang sangat terkenal di daerah itu.
“Ayo kita berbelanja!” Abraham dengan semangat merangkul pinggang istri kecilnya dan bersama-sama memasuki pasar.
Asyila sangat senang karena ada suaminya yang menemani dirinya berbelanja.
“Cari apa, Mbak? Ini semua sayuran segar,” terang Si penjual sayur.
“Mas mau dimasakin apa nanti siang?” tanya Asyila pada suaminya.
“Apapun itu, asal Asyila yang memasaknya,” jawab Abraham.
Penjual sayur yang mendengar jawaban dari Abraham, seketika itu tertawa dan memuji keromantisan sepasang suami istri dihadapannya.
“Pengantin baru ya?” tanya Si penjual mengira bahwa Abraham dan Asyila adalah pengantin baru.
“Iya, Ibu. Alhamdulillah,” jawab Abraham yang sangat senang karena wanita dihadapannya mengira bahwa ia dan Sang istri adalah pengantin baru.
Usai berbelanja sayuran, Asyila mengajak suaminya untuk membeli kacang serta mentega. Kemudian, Abraham meminta Sang istri untuk membeli ikan gurame yang masih hidup.
***
Perumahan Absyil.
Setelah sampai di rumah, Asyila memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang keluarga sembari menengok bayi mungilnya yang tengah terlelap di kereta bayi.
“Bayi Akbar rewel?” tanya Asyila pada Dyah.
“Ya ampun, Aunty. Adik Akbar itu sama sekali tidak rewel, justru dari tadi itu banyak tidur,” ungkap Dyah.
“Syukurlah, dari tadi Aunty kepikiran terus di pasar. Takutnya adikmu merepotkan,” tutur Asyila, “Oya, bakso beranak nya jangan lupa dimakan,” imbuh Asyila.
__ADS_1
Dyah tersenyum lebar dan mengajak Bela untuk segera menikmati nikmatnya bakso beranak.
Sekitar 5 menit Asyila beristirahat di ruang keluarga, ia memutuskan untuk segera membuat kue kacang.
“Aunty yakin mau buat sekarang?” tanya Dyah pada Asyila yang tengah sibuk menggiling kacang tanah.
“Tentu saja, Aunty mau mencicil sedikit demi sedikit agar waktunya tiba kue kacang sudah siap untuk diberikan kepada Mbak Narti,” terang Asyila.
Abraham tiba-tiba datang dan memberikan ponsel milik istri kecilnya yang terus saja berbunyi.
“Ada apa, Mas?” tanya Asyila.
“Syila coba lihat itu pesan, soalnya dari tadi ponsel Syila berbunyi. Sepertinya ada hal yang sangat penting,” ujar Abraham sembari memberikan ponsel tersebut kepada Asyila.
Asyila membuka isi pesan tersebut.
“Mas!” teriak Asyila.
Abraham yang berada di hadapan istri kecilnya sangat terkejut dengan teriakkan Sang istri.
“Ada apa?” tanya Abraham panik sambil memegang kedua bahu Sang istri.
“Mas, yang order kue kacang Asyila semakin banyak. Bagaimana ini?” tanya Asyila dengan sangat senang.
“Wah, selamat ya Aunty. Kalau begini terus, bisa-bisa Aunty jadi pebisnis kue kacang,” sahut Dyah yang sangat senang mengetahui bahwa kue kacang buatan Aunty banyak diminati.
“Semangat istriku, Mas yakin kalau Asyila bisa,” ucap Abraham memberi istri kecilnya sebuah semangat.
Asyila menangis terharu dipelukan suaminya.
“Semua ini berkat Mas Abraham, uang dari orderan pertama akan Asyila sumbangkan ke yayasan yatim-piatu, Mas,” ungkap Asyila.
“Alhamdulillah, mereka pasti akan senang mendapatkan rezeki dari Allah lewat Asyila,” balas Abraham yang sangat bangga dengan pemikiran serta kebaikan istri kecilnya.
Asyila melepaskan pelukannya dan kembali fokus untuk membuat adonan kue kacang.
Melihat Aunty-nya yang sibuk sendirian, Dyah pun memutuskan untuk membantu Aunty-nya dalam mencetak kue kacang.
Asyila sangat senang karena Dyah ikut membantunya.
“Bela juga mau membantuku Aunty,” ucap Bela.
“Bela sayang, bukannya Aunty tidak mau. Akan tetapi, Bela lebih baik temani adik Akbar dan juga adik Asyila di ruang keluarga, bela juga bisa menonton televisi,” balas Asyila.
Bela dengan patuh mengiyakan dan melenggang pergi meninggalkan Asyila serta Dyah yang tengah sibuk.
“Syila, Mas ke depan ya,” tutur Abraham.
“Baik, Mas Abraham!”
Abraham duduk di kursi teras depan rumah seorang diri.
“Kau sedang apa disitu? Kemarilah dan temani aku mengobrol!” Abraham memanggil sopir pribadinya agar duduk bersamanya.
Eko tersenyum lebar sambil berlari kecil mendekat ke arah Tuannya.
__ADS_1