Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kembali Mendapatkan Teror


__ADS_3

Malam hari.


Asyila duduk di ruang tamu bersama Arumi dan juga Herwan. Sementara Dyah, Arsyad dan Ashraf sudah tidur setelah makan malam. Abraham pun belum kembali dari kantornya yang berada di kota Jakarta.


“Uhuk... uhuk...”


“Ibu batuk?” tanya Asyila sambil memegangi tangan kanan Ibunya.


“Iya sayang, sudah tiga hari ini Ibu batuk-batuk. Ibu sudah hampir menghabiskan obatnya. Akan tetapi, belum ada kemajuan untuk sembuh,” terang Arumi mengeluhkan kondisinya.


“Besok pagi kita ke dokter ya Ibu!”


“Iya sayang,” balas Arumi.


Hewan tersenyum melihat istri dan putri tunggalnya.


“Ayah kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Asyila penasaran.


“Ayah sangat bahagia melihat Asyila sudah berkeluarga. Apalagi, sekarang Ayah sudah punya cucu-cucu yang tampan,” jawab Herwan.


“Mas ini bagaimana? Mereka juga cucu-cucu Ibu,” sahut Arumi.


“Iya-iya, Arsyad dan Ashraf adalah cucu kita,” ucap Herwan memperbaiki kata-katanya.


Dor!!!!


“Astaghfirullahaladzim!” Asyila dan keduanya orangtuanya terkejut ketika mendengar suara ledakan. Mereka cepat-cepat keluar rumah untuk memeriksakan bunyi apa itu.


Pak Udin lari terbirit-birit mendekati Asyila dan kedua orangtuanya dengan wajah memucat.


“Nona Asyila, ta-tadi ada orang,” ucap Pak Udin terbata-bata.


“Orang? Siapa? Tadi bunyi ledakan apa Pak Udin?” tanya Asyila panik.


“Tadi ada seorang pria yang tiba-tiba datang dan melemparkan petasan yang bunyinya seperti tadi. Saya kira apa, ternyata itu petasan dan tangannya terkena ledakannya ketika ingin memeriksa benda yang dilemparkan oleh pria itu,” jelas Pak Udin sambil menunjukkan tangannya yang memerah dan melepuh akibat ledakan petasan tersebut.


“Ya Allah!” Asyila cepat-cepat berlari ke dalam untuk mengambil kotak P3K.


“Pak Eko duduk dulu disini!” pinta Arumi yang benar-benar kasihan dengan apa yang menimpa penjaga gerbang rumah Abraham.


“Sini biar Ayah yang mengobati Pak Udin!” Herwan mengambil kotak P3K dan berusaha mengobati luka Herwan.


“Untuk sementara ini Pak Udin diobati sama Ayah dulu ya! Besok pagi kita akan ke rumah sakit,” ucap Asyila.


“Nona Asyila tidak perlu khawatir, ini hanya luka kecil saja. Yang terpenting, orang rumah tidak apa-apa, saya sudah bersyukur,” terang Pak Udin yang tidak ingin sampai hal-hal buruk terjadi kepada keluarga Abraham.


“Pak Udin kenal dengan orang yang melempar petasan itu?” tanya Asyila dan berharap bahwa Pak Udin mengenalinya.


Pak Udin dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda bahwa dirinya tak mengenali pria yang telah membuat dirinya terluka.


“Wajahnya ditutupi masker dan ia mengenakan topi, Nona Asyila. Jadinya, saya tidak bisa mengenali apalagi melihat wajahnya,” balas Pak Udin.


Asyila mengepalkan tangannya kuat-kuat setelah mendengar keterangan dari Pak Udin.


Jelas-jelas ini unsur kesengajaan dari pria itu.


Siapa lagi yang ingin mencelakai keluargaku?


Aku tidak bisa tinggal diam, siapapun orangnya dia harus mendapatkan hukuman.


Arumi mendekati putri kesayangannya yang tengah melamun.

__ADS_1


“Nak!”


Asyila tersadar dari lamunannya dan membalas panggilan Ibunya dengan senyuman.


“Kamu sedang memikirkan apa, Nak?” tanya Arumi penasaran.


“Siapapun dia, pasti dia adalah orang yang tak menyukai keluarga kita,” tutur Asyila pada Ibunya.


“Bagaimana Asyila tahu bahwa orang itu tidak menyukai kita? Bisa jadi dia tidak sengaja melempar petasan itu ke dalam halaman rumah dan berlari begitu saja karena takut disalahkan,” terang Arumi yang selalu berpikir positif dengan setiap kejadian.


“Maaf menyela pembicaraan, tapi menurut saya pria itu sadar benar dengan apa yang dilakukannya. Karena sebelum melemparkan petasan yang saya kira benda biasa, ia lebih dulu menengok kanan kiri seperti orang yang ingin melakukan tindakan yang jahat. Saya seharusnya lebih waspada dan bukannya mendekati petasan itu,” ucap Pak Udin panjang lebar.


“Untuk masalah ini, Asyila mohon untuk tidak memberitahukannya kepada Mas Abraham. Pekerjaan Mas Abraham akhir-akhir ini menumpuk dan Asyila tidak ingin memperparah keadaan!” pinta Asyila.


“Nona Asyila tenang saja, saya tidak akan memberitahukan masalah ini kepada Tuan muda,” jawab Pak Udin.


“Baiklah,” sahut Herwan menuruti permintaan putri kesayangannya.


“Tapi, Nak....”


“Tolong, Ibu!” pinta Asyila agar Arumi menyetujui keinginannya.


Dengan berat hati, Arumi menuruti keinginan putri kesayangannya dan berharap agar kedepannya hal seperti itu tak terulang kembali.


“Terima kasih, ibu.” Asyila memeluk tubuh Ibunya dengan penuh kasih sayang.


Usai memeluk tubuh Arumi, Asyila melenggang menuju gerbang rumah.


“Nak! Mau ngapain?” tanya Arumi.


“Asyila mau membersihkan bekas petasan,” jawab Asyila dan kembali melanjutkan langkahnya.


Arumi tak bisa diam begitu saja, iapun menyusul putri kesayangannya untuk menemani Asyila.


“Asyila bukan anak kecil lagi, Ibu. Asyila sudah bisa menjaga diri Asyila dan mengurus hal seperti ini,” tutur Asyila sambil memperhatikan Ibunya yang sibuk menyapu bekas ledakan petasan.


“Iya, Ibu tahu. Ibu hanya tidak ingin Asyila kenapa-kenapa,” jawab Arumi.


Tangan Pak Udin telah selesai diperban oleh Herwan. Tak lupa Pak Udin mengucapkan terima kasih dan kembali ke pos penjagaan miliknya.


“Tolong jangan mengucapkan terima kasih kepada saya. Justru saya yang harusnya berterima kasih dan meminta maaf atas kejadian ini,” ucap Herwan menghentikan langkah Pak Udin menuju pos penjagaan.


Pak Udin hanya tersenyum dan pamit kembali ke tempatnya yaitu ke pos penjagaan.


“Pak Udin, kami sudah selesai membersihkan bekas ledakan petasan. Lain kali Pak Udin harus berhati-hati ya!” pinta Asyila yang masih khawatir dengan pria berumur 50 tahunan itu.


“Insya Allah, lebih baik sekarang Nona Asyila dan Ibu Arumi masuk ke dalam. Kalau tiba-tiba Tuan muda datang, saya akan bingung untuk menjawab pertanyaan Tuan muda nantinya.”


“Baik, kami permisi!” Asyila menggandeng tangan Ibunya menuju rumah.


Deg! Deg!


Jantung Asyila berdebar-debar ketika lampu mobil menyoroti dirinya dan juga Ibunya, Arumi.


Sang suami ternyata sudah kembali dan cepat-cepat Asyila masuk ke dalam rumah.


“Ibu, apakah Mas Abraham melihat kita?” tanya Asyila.


“Entahlah, Ibu harap suamimu tidak melihat kita. Kalau begitu, Ibu akan masuk ke dalam kamar agar suamimu tak banyak bertanya.”


Abraham memasuki pekarangan rumah setelah Pak Udin membukakan gerbang untuknya.

__ADS_1


Namun, perhatiannya tiba-tiba fokus ke arah tangan Pak Udin. Abraham pun memundurkan mobilnya untuk bertanya mengenai tangan Pak Udin yang terbalut perban.


“Kenapa dengan tangan Pak Udin?” tanya Abraham penasaran ketika melihat tangan kanan Pak Udin terbalut oleh perban.


“Tidak kenapa-kenapa, Tuan muda. Hanya mengalami kecelakaan sedikit,” balasnya bohong.


“Apakah sudah ke rumah sakit?” tanya Abraham yang masih penasaran.


“Insya Allah besok pagi saya ke rumah sakit, Tuan muda,” jawab Pak Udin.


“Besok saya sendiri yang akan mengantarkan Pak Udin. Kalau begitu, saya mau langsung masuk ke dalam,” tutur Abraham dan bergegas memarkirkan mobilnya di garasi mobil.


Asyila bergegas keluar dari dalam rumah untuk menyambut sang suami yang baru saja pulang.


“Assalamu’alaikum, Syila ku!” Abraham sangat senang ketika melihat wajah cantik istri kecilnya ditambah senyum manis sang istri yang lagi-lagi membuat Abraham tergoda.


“Wa’alaikumsalam, bagaimana pekerjaan Mas?” tanya Asyila dan tak lupa mencium punggung tangan sang suami.


Abraham tersenyum lebar hingga jejeran giginya terlihat. Ia mencium kening, kedua pipi Asyila dan juga hidung mancung Asyila. Ketika ingin mencium bibir sang istri, Asyila cepat menutup bibirnya dengan sebelah tangannya.


“Kita lanjutkan di dalam kamar ya Mas!” pinta Asyila takut jika nantinya ada yang melihat mereka berdua sedang bermesraan di depan rumah.


“Kita lanjutkan ya tadi sore kalau begitu!” ajak Abraham dengan senyum menggoda.


Abraham berjalan masuk sembari merangkul pinggang sang istri.


“Oya, tadi Syila dan Ibu sedang ngapain di depan?” tanya Abraham yang ternyata melihat istri serta Ibu mertuanya di dekat pos penjagaan Pak Udin.


Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kepada Mas Abraham. Ya Allah, maafkan hamba karena tidak berkata jujur dengan suami hamba.


“Syila!”


“Iya, Mas. Itu tadi...”


“Tadi kenapa?” tanya Abraham semakin penasaran.


“Bunda!” Ashraf tiba-tiba datang dengan mata yang masih terpejam.


“Awas sayang!” Asyila segera menangkap tubuh putra kecilnya yang hampir jatuh.


Ashraf terkejut dan menangis di dekapan Bundanya. Ia ternyata baru saja mengalami mimpi buruk.


“Hiks... hiks... Kak Arsyad nakal, kak Arsyad mengambil permen punya Ashraf,” ucap Ashraf.


Abraham dan Asyila bukannya bersedih mendengar ucapan Ashraf. Justru mereka tertawa karena mengetahui bahwa putra kecilnya mereka baru saja mengalami mimpi buruk.


“Ya sudah jangan nangis lagi, besok Ayah belikan permen kesukaan Ashraf!” Abraham berusaha membujuk putra kecilnya agar berhenti menangis.


Ashraf mengangguk setuju dan melingkarkan tangannya di leher Sang Bunda. Ia dengan cepat kembali tidur dan terdengar jelas suara dengkuran halus Ashraf.


“Sini biar Mas saja yang membawa Ashraf ke kamar!” Abraham dengan hati-hati mengambil alih untuk menggendong Ashraf.


“Oya Mas, Asyila siapkan makan dulu ya,” ucap Asyila menghentikan langkah kaki suaminya.


“Oke, setelah itu kita olahraga!” seru Abraham dan bergegas mengantarkan Ashraf ke kamar.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya yang sangat senang mengajaknya untuk berolahraga. 😅


“Huh... Untung saja Ashraf datang,” ucap Asyila bermonolog dan bergegas menyiapkan makanan untuk sang suami tercinta.


Di dalam kamar, Abraham tak langsung bergegas keluar kamar. Ia memilih untuk sementara waktu melihat kedua wajah putra kecilnya.

__ADS_1


“Kalian adalah jagoan dan masa depan kami. Terima kasih telah memilih kami menjadi orang tua kalian,” ucap Abraham sambil memandangi wajah Arsyad dan Ashraf secara bergantian.


Abraham 💖 Asyila


__ADS_2