Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Memancing Bersama 1


__ADS_3

Pukul 02.30 WIB.


Asyila terbangun dari tidurnya dan entah berapa kali dirinya bolak-balik dari tempat tidur ke ranjang bayi mungilnya yang entah kenapa agak rewel dari malam-malam sebelumnya.


Asyila menghela napasnya dan dengan mata terkantuk-kantuk dirinya berjalan menuju ranjang bayi mungilnya itu. Kemudian, menggendong dan membawanya ke sofa untuk disusui.


“Kenapa sayang? Tidak biasanya kamu rewel seperti ini?” tanya Asyila dengan mata terkantuk-kantuk.


Sekitar 5 menit kemudian, akhirnya bayi itu kembali tertidur. Asyila lagi-lagi mengembalikan bayi mungil ke ranjang bayi, lalu ia berjalan menuju tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya yang agak tidak nyenyak tersebut.


Saat Asyila sudah kembali tidur, disaat itu juga Abraham terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan sholat tahajjud. Ia tidak sholat tahajjud sendiri, akan tetapi mengajak Arsyad dan juga istri kecilnya.


“Arsyad sayang, bangun Nak. Ayo sholat tahajjud!” panggil Abraham sambil menciumi pipi putra sulungnya berulang kali.


Usaha Abraham membangunkan Arsyad pun berhasil, Arsyad akhirnya terbangun dari tidurnya. Setelah Arsyad bangun, kini Abraham bergeser untuk membangunkan istri kecilnya.


“Syila sayang, ayo bangun. Ayo sholat tahajjud!” ajak Abraham dan menciumi pipi istri kecilnya berulang kali sampai akhirnya Asyila benar-benar terbangun dari tidurnya.


“Iya, Mas. Apa bayi kita bangun lagi?” tanya Asyila yang sangat mengantuk.


“Tidak. Bayi kita tidak bangun, ayo sholat tahajjud!” ajak Abraham pada istri kecilnya.


Asyila terduduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan mata yang masih terpejam.


“Mas, Asyila sebenarnya masih mengantuk,” tutur Asyila dan berusaha untuk membuka matanya.


Abraham menuntun istri kecilnya berdiri dan bergantian mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajjud.


Setelah semuanya mengambil air wudhu, Abraham pun mulai mengimami sholat untuk istri dan juga putra sulung mereka di dalam kamar.


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan Arsyad yang baru selesai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, terkejut mendapati Asyila yang sudah tertidur dengan posisi terduduk dan masih mengenakan mukena.


“Ayah, kasihan Bunda. Bunda pasti capek karena terlalu sering bangun dan akhirnya tidur seperti ini,” tutur Arsyad yang merasa kasihan dengan Bundanya tercinta.


“Ssuuttt, Arsyad jangan berisik. Ayah akan mengangkat Bunda ke tempat tidur,” bisik Abraham ditelinga Arsyad.


Ashraf mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ayahnya.


Abraham dengan hati-hati mengangkat tubuh istri kecilnya dan membaringkannya di tempat tidur.


Setelah membaringkan istri kecilnya di tempat tidur, Abraham lalu mengajak putra sulungnya untuk keluar kamar.


“Kita mau ngapain diluar rumah begitu Ayah?” tanya Arsyad penasaran.


“Nak, coba hirup udara segar di waktu seperti ini. Ayo ikuti Ayah!” Abraham merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya. Kemudian, menghirup udara segar di waktu pagi yang masih gelap tersebut.


Arsyad memperhatikan Ayahnya dan mengikuti apa yang sedang dilakukan Ayahnya.


“Wah, ternyata segar ya Ayah udaranya,” ucap Arsyad dengan terus memejamkan matanya sembari merasakan bagaimana segarnya udara di waktu tersebut.


Disaat yang bersamaan, Ashraf datang menghampiri Ayah serta Kakaknya.


“Kak Arsyad kenapa tidak tidur sama Ashraf?” tanya Ashraf ngambek.


Abraham dan juga Arsyad terkejut karena Ashraf yang tiba-tiba muncul.


“Kenapa sayang? Kok datang-datang langsung kesal begitu? Semalam Kak Arsyad tidur bersama Ayah dan juga Bunda. Kalau Ashraf mau, besok tidurlah bersama Ayah dan Bunda juga,” ujar Abraham sambil membelai lembut rambut putra keduanya.


Ashraf yang semua ngambek sekaligus kesal. Perlahan luluh dan akhirnya rasa ngambek sekaligus kesal dihatinya langsung hilang.


“Ayah dan Kak Arsyad ngapain begini-begini?” tanya Ashraf sambil mempraktekkan tangannya yang ia rentangkan lebar-lebar.


Arsyad tertawa kecil dan menjelaskan kepada Ashraf mengapa dirinya serta Sang Ayah melakukan hal seperti itu.


Setelah dijelaskan, Ashraf pun mempraktekkannya dan betapa senangnya Ashraf ketika merasakan sensasi yang begitu segar masuk ke dalam hidungnya.


20 menit kemudian.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam dan ternyata Arumi serta Herwan sudah bangun.


“Kalian sudah bangun ternyata, Oya dimana Asyila? Apakah sudah bangun?” tanya Arumi karena tak mendapati putri kesayangannya bersama dengan menantu serta cucu-cucu kesayangannya itu.


“Asyila masih berada di kamar, Ibu. Sepertinya bayi kami agak rewel dan membuat tidur Asyila terganggu,” jawab Abraham.


“Ya begitulah, resiko punya bayi. Ya sudah, kalian mengobrol lah disini. Ibu mau menghangatkan makanan terlebih dahulu untuk kita sahur,” ujar Arumi dan melenggang pergi menuju dapur.


Di dalam kamar.


Asyila terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya sudah berada di tempat tidur, padahal sebelumnya ia sedang menemani suami serta putra sulung mereka membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


“Pasti Mas Abraham yang memindahkan aku karena ketiduran,” ucap Asyila dan menoleh sekilas ke arah jam di dinding.

__ADS_1


Mata Asyila terbelalak lebar, ia pun cepat-cepat melepaskan mukena miliknya dan melipatnya. Kemudian, ia bergegas keluar dari kamar untuk segera pergi ke dapur membantu Ibunya.


“Maaf Ibu, Asyila bangun terlambat,” ucap Asyila dengan napas terengah-engah.


“Kamu ini kenapa panik begitu? Tenang saja, lauknya sudah siap. Hanya memanaskannya saja, ayo panggil yang lainnya. Ibu akan mengantarkan makanan ini ke depan untuk Pak Udin serta yang lainnya sahur,” tutur Arumi dan melenggang dengan membawa sebuah nampan berukuran cukup besar untuk Pak Udin serta para bodyguard menantunya.


Eko hampir 2 Minggu pulang ke rumahnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Abraham tak mempermasalahkan hal tersebut, bagaimanapun itu hak setiap orang untuk bisa berkumpul dengan keluarga.


Asyila datang menghampiri suami serta yang lainnya untuk segera sahur bersama.


Abraham beranjak dari duduknya dan mencium kening Istri kecilnya di depan Ayah mertua serta anak-anaknya bersama Sang istri tercinta.


“Mas ini apa-apaan?” tanya Asyila sambil mencubit perut suaminya.


“Awww... Sakit,” ucap Abraham dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat seperti orang kesakitan.


“Biarin, suruh siapa mencium kening Asyila di depan Ayah dan anak-anak,” celetuk Asyila sedikit kesal dengan kelakukan suaminya itu.


Abraham, Asyila serta yang lainnya bergegas menuju ruang makan. Kemudian, Arumi datang setelah memberikan makanan untuk orang depan.


“Ayo semuanya, waktunya kita sahur. Arsyad sayang, pimpin Do'a ya!” pinta Arumi sembari menyentuh bahu cucu pertamanya itu.


Arsyad mengiyakan dan mulai melafalkan bacaan Do'a sebelum makan diikuti yang lainnya.


****


Pagi hari.


Abraham, Arsyad dan Ashraf saat itu tengah berjalan-jalan tanpa menggunakan alas kaki.


“Nak, nanti sekitar jam 10 kita akan pergi memancing di tempat Pak Mun,” tutur Abraham sambil menoleh ke arah Arsyad dan juga Ashraf secara bergantian.


“Apa? Memancing?” tanya Ashraf yang terlihat sangat terkejut.


“Memangnya kita mau memancing dimana Ayah?” tanya Arsyad penasaran.


“Kalau diingat-ingat, kita belum pernah melakukan kegiatan memancing bersama. Coba lihat rumah pojok berwarna hijau itu!” tutur Abraham sambil menunjuk ke arah rumah Pak Mun, pemilik kolam Lele, “Nah, itu rumah Pak Mun dan dibelakang ada kolam Lele. Kalian mau ikut Ayah memancing ikan Lele?” tanya Abraham.


“Mau!” seru mereka dengan penuh semangat.


“Yakin mau?” tanya Abraham sekali lagi untuk memastikan bahwa kedua putranya benar-benar ingin memancing bersama.


“Iya, Ayah. Kami sangat yakin,” jawab Arsyad.


“Iya, Ayah. Pasti kita dapat ikan yang banyak dan sangat besar,” ucap Ashraf sambil menggambarkan betapa besarnya ikan dengan tangannya.


“Ayo kita pulang, Bunda pasti menunggu kita di rumah!” ajak Abraham sambil menggandeng tangan kedua buah hatinya.


Asyila dan Bela tengah duduk di teras depan rumah. Sambil menunggu kedatangan Abraham, Arsyad dan juga Ashraf.


Saat itu, bayi Akbar sedang berada di gendongan Nenek tersayangnya.


Sehingga, Asyila maupun Bela bisa sejenak bersantai sembari mengobrol di teras depan rumah.


Banyak hal yang tengah mereka perbincangkan, bahkan Asyila terus saja menanyakan Bela mengenai rencananya ke depan.


Bela yang polos pun menceritakan keinginannya untuk menjadi guru TK dan ia juga ingin membantu anak-anak yang belum bisa membaca agar bisa membaca.


Apa yang diajarkan oleh Arsyad padanya, membuat Bela termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Saat keduanya tengah berbincang-bincang, dari kejauhan terdengar suara teriakkan Ashraf dan seketika itu membuat Asyila terkesiap sekaligus terkejut.


Asyila mengira bahwa ada sesuatu hal buruk terjadi kepada putra keduanya, ternyata tidak sama sekali. Justru Ashraf dengan semangat memanggil Bundanya sambil berlari mendekat.


“Bunda!” teriak Ashraf dengan penuh semangat dan terus berlari mendekati wanita yang telah berjasa dalam hidupnya.


“Ashraf kenapa teriak-teriak begitu? Membuat Bunda takut,” ucap Ashraf sedikit protes dengan tingkah Ashraf.


“Hehe.. hehe.. Maaf, Bunda. Ashraf terlalu senang karena Ayah akan mengajak Ashraf dan juga Kak Arsyad untuk pergi memancing di tempat Pak Mun,” terang Ashraf.


“Kapan? Wah pasti sangat seru, Bunda sebenarnya mau ikut. Tetapi, ada hal yang lebih penting lagi yaitu menjaga adik bayi,” ujar Asyila yang kini tengah berjongkok tepat dihadapan buah hatinya.


“Nanti Bunda, jam 10,” jawabnya.


Abraham dan Arsyad pun tiba dengan tatapan berseri-seri.


“Mas akan mengajak anak-anak memancing d tempat Pak Mun? Kalau boleh tahu, Pak Mun itu siapa ya Mas?” tanya Asyila penasaran.


“Tetangga, itu yang rumahnya di pojok berwarna hijau,” jawab Abraham.


“Oh iya, Mas. Asyila baru ingat, ternyata dekat dan berjalan kaki pun sampai,” tutur Asyila yang telah mengingat sosok dari Pak Mun, tetangga suaminya.


“Iya, Syila. Jadinya tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati waktu bersama anak-anak,” balas Abraham.

__ADS_1


“Adik bayi kemana Bunda?” tanya Arsyad yang tak melihat keberadaan adik bungsunya.


“Ada di dalam, sama Kakek dan Nenek,” jawab Asyila.


Arsyad seketika itu juga berlari masuk ke dalam untuk melihat adik bayi.


Beberapa saat kemudian.


Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Abraham serta kedua buah hatinya pun tiba. Tidak hanya mereka bertiga saja yang pergi memancing, Pak Udin dan Herwan pun ikut pergi memancing sekalian merilekskan pikiran mereka.


“Kami berangkat dulu ya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Arumi, Asyila dan juga Bela.


“Arsyad dan Ashraf hati-hati ya sayang,” ucap Asyila pada kedua putranya.


“Baik, Bunda!” seru mereka yang tak sabaran ingin segera sampai di kolam ikan.


Arsyad dan Ashraf berjalan sembari menggandeng tangan Ayah mereka.


Melihat kedua buah hatinya bahagia, Abraham pun ikut bahagia dan berharap memancing bersama suatu hari akan menjadi kenangan yang tak terlupakan oleh kedua putranya.


“Mau kemana ramai-ramai?” tanya salah satu tetangga Abraham.


“Mau ke tempat Pak Mun,” jawab Abraham.


“Wah, pasti seru disana. Di kolam ikan Pak Mun banyak sekali orang-orang yang memancing.”


“Iya, Pak. Semakin ramai tentu saja semakin seru, mari Pak!” seru Abraham dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kolam ikan milik Pak Mun.


Tak butuh waktu lama, Abraham serta yang lainnya tiba di kolam ikan tersebut.


Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pak Mun yang tak lain ada pemilik kolam ikan Lele tersebut.


“Selamat pagi, Tuan Abraham, Pak Herwan dan juga Pak Udin!” sapa Pak Mun dengan sangat ramah.


“Pagi juga Pak Mun,” balas Abraham, Herwan serta Pak Udin.


“Mau memancingnya? Mari masuk, bayar 20 ribu bisa memancing sepuasnya. Ya hitung-hitung, membagi sedikit rezeki,” terang Pak Mun.


Abraham tersenyum dan memberikan uang lebih kepada Pak Mun.


“Tuan Abraham, ini terlalu banyak,” tutur Pak Mun ketika melihat jumlah uang yang diberikan oleh Abraham kepadanya.


“Pak Mun, hitung-hitung saya membagi sedikit rezeki untuk Pak Mun. Tolong ambilah, kalau Pak Mun tak mengambilnya saya akan merasa sedih,” balas Abraham.


Pak Mun akhirnya menerima uang pemberian Abraham, dari dulu Abraham memang terkenal sangat baik dan suka berbagi rezeki untuk para tetangga.


“Ayo anak-anak, kita duduk disebelah sana!” ajak Abraham pada kedua buah hatinya.


Pak Udin dan Herwan memilih kolam yang lain, sekaligus ingin memberikan waktu untuk Abraham serta kedua putranya.


“Ayah, Ashraf belum pernah memancing. Kalau Ashraf jatuh bagaimana?” tanya Ashraf dengan begitu polos nya.


“Ya kalau Ashraf jatuh Ayah langsung nyemplung ke kolam dan menolong Ashraf. Lagipula, kolamnya tidak dalam,” balas Abraham.


Abraham mengambil pancingan miliknya dan tak lupa ia memberikan umpan di kail pancing miliknya.


“Ayah, Ashraf jijik,” ucap Ashraf yang sangat jijik dengan cacing.


Abraham tertawa lepas melihat ekspresi wajah Ashraf yang begitu jelek.


“Ayah jangan tertawa,” tegas Ashraf agar Ayahnya tak menertawakan dirinya.


“Sini, biar Kak Arsyad yang melakukannya,” ucap Arsyad yang sama sekali tak jijik maupun geli dengan cacing tanah tersebut.


“Iiiihhhh, jijik,” tutur Ashraf ketika melihat bagaimana Kakaknya memegang cacing dengan tangan kosong.


Arsyad tertawa lepas dan malah mendekatkan cacing ditangannya ke wajah Ashraf.


“Bunda!” teriak Ashraf dengan sangat keras.


Para pemancing ikan pun seketika itu menoleh ke arah Ashraf yang ternyata sudah terjungkal dan menangis histeris.


Arsyad terkejut karena ia tak mengira bahwa adiknya begitu takut dengan cacing.


Abraham sama sekali tak marah kepada Arsyad, ia pun mendekati putra keduanya dan memeluknya dengan erat.


“Ashraf sayang, sudah tidak apa-apa. Jangan takut ya, ada Ayah disini,” tutur Abraham mencoba menenangkan putra keduanya.


Perlahan Ashraf pun menghentikan tangisannya dan bergeser sedikit menjauhi Kakaknya.


“Arsyad tidak boleh seperti itu, sekarang minta maaf sama Ashraf,” tutur Abraham dengan tegas, tanpa marah sedikitpun.

__ADS_1


Arsyad menundukkan pandangannya, ia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat adiknya menangis.


Like ❤️


__ADS_2