Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Do'a Adalah Pilihan Terbaik


__ADS_3

Herwan baru saja tiba dan langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat istrinya yang dikabarkan pingsan tak sadarkan diri.


“Ibu kenapa bisa pingsan begini?” tanya Herwan pada istrinya yang tengah berbaring.


Arumi yang baru sadarkan diri hanya bisa tersenyum seakan-akan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.


Fahmi juga datang dan terlihat sangat terkejut.


“Nenek kenapa bisa pingsan, Dyah?” tanya Fahmi pada istrinya.


“Nanti saja Dyah ceritakan, sebaiknya kita keluar dulu ya Mas,” jawab Dyah dan mengajak suaminya untuk segera keluar dari kamar tersebut.


“Baik, Bunda,” balas keduanya.


Asyila masuk ke dalam kamar dan saat itu juga dirinya meneteskan air mata ketika mengingat fakta bahwa Rahma telah resmi berpisah dari Kevin.


Asyila sebenarnya ingin menanyakan alasan dari perceraian mereka. Akan tetapi, Asyila juga tidak bisa ikut campur dalam urusan Rahma maupun Kevin.


“Ya Allah, hati hamba sangat sakit. Tolong berikan Mbak Rahma kebahagiaan Ya Allah, hamba mohon,” ucap Asyila memohon kepada Sang Pencipta.


Bayi Akbar yang semula tidur, tiba-tiba bangun dan untungnya tak menangis.


Melihat buah hatinya yang telah terjaga, Asyila tersenyum sembari menyeka air matanya. Kemudian, ikut merebahkan tubuhnya di samping buah hatinya yang mungil nan menggemaskan itu.


“Akbar sayang, hari ini dan nanti malam tolong jangan rewel ya sayang. Kepala Bunda saat ini sedang sakit, terutama dada Bunda yang agak sesak,” tutur Asyila pada Bayi Akbar.


Bayi mungil itu hanya diam sambil menggerakkan kaki serta tangannya berulang kali, seakan-akan mengerti apa yang dikatakan oleh Bundanya.


Disaat yang bersamaan, Abraham dan tim yang lain akhirnya berhasil meringkus para pelaku penculikan.


Saat itu juga Abraham bersujud kepada Allah karena dirinya akan segera kembali untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.


“Terima kasih, Tuan Abraham. Berkat Tuan Abraham, pekerjaan kita menjadi lebih mudah,” tutur Edi yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Abraham.


“Jangan berterima kasih aku, berterima kasih lah kepada Allah dan juga para tim yang lain. Berkat Allah dan kekompakan kita, semuanya berjalan dengan mudah. Semoga kedepannya kita tidak mengalami hal sulit seperti ini lagi,” terang Abraham sambil menepuk bahu Edi sebanyak dua kali.


Abraham tersenyum bahagia dan masuk ke dalam sebuah ruangan untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

__ADS_1


Abraham ingin segera kembali, karena dirinya begitu merindukan istri kecilnya serta buah hati mereka.


“Tuan Abraham, apakah anda akan segera pulang? Tidak ingin berbuka puasa bersama terlebih dahulu?” tanya Edi.


Abraham menoleh ke arah jam tangan miliknya yang sekitar 3 jam lagi adalah waktu berbuka puasa. Akan tetapi, Abraham tidak bisa karena dirinya harus segera tiba di Jakarta.


“Maaf, sepertinya aku langsung pulang saja. Tolong jangan tersinggung,” ucap Abraham.


“Tuan Abraham jangan berkata seperti ini, bagaimanapun kami sangat mengerti dan kami sama sekali tidak tersinggung,” terang Edi.


***


Malam hari.


Asyila terlihat sangat gelisah karena suaminya sejak jam 3 sore tidak bisa dihubungi, biasanya Sang suami akan mengirim pesan ataupun menghubunginya lewat telepon, tapi hari itu Abraham sama sekali tak ada kabar dan semakin membuat Asyila tidak bisa tidur.


“Sayang...” Arumi datang menghampiri Asyila dengan menepuk pelan bahu Asyila.


Asyila yang sempat melamun, seketika itu terperanjat.


“Astaghfirullahaladzim,” tutur Asyila sembari mengelus-elus dadanya yang kaget.


“Iya, Ibu. Mas Abraham sejak jam 3 tadi belum ada kabar, Asyila khawatir kalau Mas Abraham kenapa-kenapa disana,” terang Asyila.


“Asyila sayang, jangan berpikiran seperti itu. Insya Allah Nak Abraham baik-baik saja,” ucap Arumi.


Arumi duduk di sofa dan saat itu juga menyandarkan tubuhnya di sofa dengan sorot mata berkaca-kaca.


“Syila, sampai sekarang Ibu masih memikirkan nasib Nak Rahma. Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Nak Rahma dan juga Nak Kevin? Kenapa mereka harus berpisah secepat ini,” ujar Arumi yang sangat menyayangkan perpisahan Rahma dan juga Kevin.


“Ibu, sebaiknya kita jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka yang sudah kandas itu. Bukankah Mbak Rahma tidak ingin memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada kita? Mungkin Mbak Rahma butuh waktu untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Dan soal Kevin, dia adalah pria yang baik yang Asyila kenal. Akan tetapi, Asyila juga tidak tahu ada apa dengan Kevin sebenarnya. Jadi, daripada kita menerka-nerka yang tidak jelas, lebih baik kita mendo'akan kebaikan mereka saja ya Ibu,” ujar Asyila.


“Iya, Asyila sayang. Do'a adalah pilihan terbaik untuk Rahma dan juga Kevin,” sahut Arumi.


“Bismillahirrahmanirrahim,semoga kedepannya mereka dua bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.”


“Aamiin Allahumma Aamin,” sahut Arumi.

__ADS_1


Samar-samar Asyila mendengar suara bayi mungilnya menangis, Asyila pun saat itu juga berlari menuju kamarnya untuk melihat apakah benar bayinya menangis ataukah tidak.


“Oek... Oek... Oek...”


Asyila merasa bersalah karena meninggalkan bayi mungilnya seorang diri di dalam kamar, Asyila pun menggendong bayi mungilnya dan berusaha untuk menenangkan bayinya itu.


“Iya sayang, ini Bunda. Maaf ya sayang, cup.. cup.. jangan menangis ya sayang,” tutur Asyila dengan terus menimang-nimang bayi mungilnya.


Bayi mungilnya itu perlahan tenang dan akhirnya tertidur kembali. Karena tak ingin membuat bayi mungilnya kembali menangis, Asyila pun meletakkan bayinya di tempat tidur agar bisa Asyila pantau secara dekat.


“Sayang, tidur disini ya sama Bunda,” bisik Asyila pada bayi mungilnya yang telah terlelap.


Karena sudah malam, Asyila pun memutuskan untuk segera tidur sekaligus mengistirahatkan pikirannya yang cukup membuatnya lelah.


Di ruang tamu.


Arumi masih duduk di sofa ruang tamu dengan terus memikirkan Rahma. Bagaimanapun, Rahma sudah seperti putri kandungnya sendiri.


Arumi terlihat begitu mengkhawatirkan Rahma yang untuk kedua kalinya menjadi seorang janda.


“Adik, kenapa masih disini? Ayo tidur! Ini sudah malam,” ucap Herwan mengajak istrinya untuk segera tidur.


“Mas, apakah Rahma akan baik-baik saja?” tanya Arumi pada suaminya.


“Serahkan semuanya sama Allah, hanya Allah yang tahu bagaimana nasib kita kedepannya. Sekarang, ayo kita masuk ke kamar dan beristirahat!” ajak Herwan.


Arumi pun mengiyakan ajakan suaminya.


“Dyah, kenapa belum tidur?” tanya Arumi yang tak sengaja berpapasan dengan Dyah yang baru saja keluar dari kamar.


“Dyah baru bangun, Nek. Ini Dyah mau ke dapur,” tutur Dyah.


“Nak Fahmi dan Asyila kecil sudah tidur?” tanya Arumi.


“Sudah, Nek,” jawab Dyah apa adanya.


Arumi berpesan kepada Dyah untuk tidak tidur larut malam, kemudian Arumi dan Herwan melanjutkan langkah mereka menuju kamar.

__ADS_1


“Ya ampun, ternyata sudah jam segini. Aku mengantuk,” tutur Dyah bermonolog dengan terus melangkah menuju dapur.


__ADS_2