Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kemarahan Abraham


__ADS_3

Setibanya di rumah, Abraham dan Asyila bergegas masuk ke dalam kamar. Meskipun masih pagi, Abraham ingin berduaan dengan Istri kecilnya di dalam kamar.


Abraham langsung berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai. Sudah beberapa hari terakhir Abraham tidak mengontrol kantor miliknya yang berada di Jakarta maupun Bandung.


Untungnya, ada Yogi Sang sahabat yang bersedia membantu Abraham mengurus kantor miliknya.


“Mas mau pakai baju yang mana?” tanya Asyila sambil memperhatikan isi almari pakaian.


“Pilihkan saja Mas kaos lengan pendek dan celana santai,” balas Abraham.


Asyila mengiyakan dengan senyum manisnya dan mengambil pakaian serta celana santai Sang suami.


“Ini Mas!” Asyila menghampiri suaminya dan memberikan baju kaos lengan pendek dan celana santai.


Abraham mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


“Syila kenapa tidak segera ganti pakaian?” tanya Abraham.


Asyila menggelengkan kepalanya, “Asyila masih ingin memakai pakaian ini Mas,” jawab Asyila yang sebenarnya tidak ingin jika punggung terlihat oleh suaminya.


“Apa perlu Mas yang menggantikannya?” tanya Abraham yang bersiap-siap melepaskan pakaian Asyila.


“Ti-tidak perlu Mas,” tolak Asyila sambil bergeser menjauh dari Abraham.


Abraham mengernyitkan keningnya dan sedikit bingung dengan sikap Sang istri.


“Mas bau ya?” tanya Abraham.


Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak, kok Mas.”


“Lalu, kenapa Mas merasa kalau Asyila tidak ingin dekat-dekat dengan Mas?” tanya Abraham.


“Maaf bila Mas merasa Asyila sengaja menjauh dari, Mas,” balas Asyila dan segera merapatkan tubuhnya ke tubuh Abraham.


Abraham menghela napasnya dan mendekap erat tubuh Asyila.


“Aawww...” Asyila tiba-tiba merasakan sakit dipunggungnya ketika Abraham semakin mempererat dekapannya.


Mendengar rintihan kesakitan dari Asyila, Abraham langsung panik dan segera melepaskan dekapannya.


“Syila kenapa? Apa Mas terlalu kencang?”


Asyila kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin memberitahukan bahwa punggungnya memar karena pukulan keras dari pelaku teror yang sekarang sudah mendekam di balik jeruji besi.


Kecurigaan Abraham semakin besar dan tak izin dari Asyila, Abraham melepas paksa pakaian sang istri dan betapa terkejutnya Abraham ketika melihat punggung Sang istri membiru.


“Ya Allah, istriku. Mengapa ini bisa terjadi?” Mata Abraham berkaca-kaca seakan dirinya ikut merasakan sakit dipunggungnya.


Hati suami mana yang tak sedih melihat tubuh istrinya membiru.


“Jelaskan sekarang juga! Mengapa punggung Asyila bisa membiru seperti ini?” tanya Abraham dengan sangat serius.


Meskipun Abraham sangat serius bertanya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Abraham akan menangis.


“Mas, tolong jangan seperti ini!” pinta Asyila ketika melihat Sang suami menangis dihadapannya.


Abraham bukanlah pria cengeng. Akan tetapi, Abraham adalah pria sekaligus suami yang sangat menyayangi keluarganya terutama Sang istri yang sangat berjasa melahirkan buah hati mereka.


“Apa Asyila mengalami kecelakaan saat membawa motor?” tanya Abraham mengira bahwa punggung Asyila yang membiru akibat jatuh dari motor.


“Bukan karena kecelakaan, Mas. Sebenarnya punggung Asyila dipukul,” jawab Asyila.


“Dipukul? Beritahu Mas sekarang siapa yang telah memukul Asyila?” tanya Abraham yang terlihat ingin segera menemui orang yang telah membuat istri kecilnya kesakitan.


Karena tak ingin membuat Sang suami semakin penasaran, Asyila pun memberitahukan siapa yang telah membuat punggungnya membiru.


Abraham pun terkejut dan tanpa pikir panjang, ia mengganti pakaiannya untuk segera pergi menemui si pelaku teror.


Asyila berusaha mencegah suaminya agar tak pergi ke kantor polisi. Akan tetapi, Abraham tidak bisa dihentikan. Ia harus segera memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat istri kecilnya merasa kesakitan.


“Mau kemana, Nak Abraham?” tanya Arumi ketika berpapasan dengan menantu kesayangannya di ruang tamu.


Abraham mencium punggung tangan Ibu mertuanya dan mengatakan bahwa ia harus keluar saat itu juga karena ada urusan mendadak.


“Hati-hati ya Nak!”


“Insya Allah, Ibu. Assalamu’alaikum!”

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam.”


***


Kantor Polisi.


Abraham meminta Dicky dan Hedy untuk segera membawa dua pelaku teror terutama pelaku yang membuat punggung istri kecilnya membiru.


“Siapa diantara kalian yang telah memukul istriku?” tanya Abraham dengan tatapan dan rahang yang mengeras.


Keduanya terdiam seakan-akan tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Abraham.


Bugh!


Bugh!


Abraham memberikan bogem mentah ke wajah mereka dan membuat salah satu hidung mereka mengeluarkan darah.


Dicky dan Hedy sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Abraham.


Akan tetapi, mereka tidak melerai apa yang dilakukan oleh Abraham.


Jika saja, Dicky dan Hedy berada di posisi Abraham, kemungkinan kedua pelaku teror sudah mereka tembak dengan timah panas.


“Aku tanya sekali lagi kepada kalian, siapa yang telah memukul istriku hingga punggung istriku membiru!”


Salah satu dari dua pelaku mundur selangkah dan melirik ke arah pelaku lainnya, dalam kata lain bahwa pelaku yang tidak mundur adalah orang yang telah membuat punggung Asyila membiru.


Abraham menatap dingin dan tanpa pikir panjang ia menarik tangan pria itu.


“Jadi, kamu orangnya,” ucap Abraham yang terdengar sangat marah.


“Aaaaakkkkhhh!” Pria itu menjerit kesakitan ketika merasakan jemari tangannya ditekan oleh Abraham.


Abraham tertawa kecut dan melakukan hal yang sudah semestinya ia lakukan dari tadi.


“Aaaakkkkhhhhh!” Kini ia menjerit kesakitan bukan karena jarinya ditekan. Melainkan, pergelangannya dipatahkan oleh Abraham.


“Terima kasih, kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Assalamu'alaikum!”


Dicky dan Hedy bahkan tak sempat membalas salam dari Abraham.


Polisi yang bertugas langsung berbondong-bondong datang ketika mendengar suara teriakkan kesakitan.


“Ada apa ini?” tanya salah satu polisi.


Dicky dan Hedy terkesiap ketika melihat si pelaku teror sudah dikerumuni oleh yang lainnya.


Abraham cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya untuk segera kembali ke rumah.


Namun sebelum sampai di rumah, Abraham memutuskan mampir ke apotek untuk membelikan obat oles.


Di rumah.


Asyila tengah menemani kedua putra kecilnya makan, sesekali Asyila harus menahan rasa sakit dipunggungnya ketika Ashraf bergerak-gerak di pangkuannya.


Maklum saja, saat itu Ashraf sangat manja dan selalu ingin berada di pangkuan Bundanya.


“Sayang, makanlah yang benar!” pinta Asyila kepada Ashraf.


Arsyad saat itu makan dengan sangat tenang, berbeda dengan Ashraf yang tak bisa diam pada saat proses makan.


Setelah selesai menemani Arsyad dan Ashraf makan, Asyila kemudian mencuci alat makan yang baru saja kedua putra kecilnya gunakan.


“Hai Aunty!” sapa Dyah sambil membuka pintu kulkas.


“Kamu sudah sarapan belum?” tanya Asyila.


“Tentu saja sudah, malah Dyah sekarang mau makan lagi,” jawab Dyah cengengesan.


“Kamu mau makan apa? Biar Aunty yang menyiapkannya?” tanya Asyila sambil mencuci alat makan.


Dyah menggelengkan kepalanya dan dengan semangat menggigit buah apel yang ia ambil dari kulkas.


Asyila langsung merampas buah apel yang berada di tangan Dyah dan mencuci bersih.


“Kalau makan sesuatu apalagi seperti buah, haruslah dicuci,” tutur Asyila dan memberikannya apel yang sudah ia cuci bersih kepada Dyah.

__ADS_1


“Aunty ini memang idaman semua orang, terima kasih Aunty ku tersayang,” puji Dyah dan melenggang pergi untuk mencari kedua adiknya.


Tugas mencuci piring Asyila telah selesai, waktunya ia untuk membereskan ruang keluarga yang sedikit berantakan karena ulah kedua putra kecilnya.


Pekerjaan Ibu rumah tangga memang sangat berat dan juga banyak. Akan tetapi, Asyila tidak mengeluh. Malah Asyila sangat menikmati kewajibannya.


“Aaaww...” Asyila lagi-lagi merintih kesakitan ketika akan membungkuk untuk mengambil beberapa mainan yang berserakan di lantai.


Ketika Asyila kembali membungkuk, tiba-tiba tubuhnya melayang dan ternyata yang melakukannya adalah Sang suami yang datang dengan sangat cepat.


“Mas, tolong turunkan Asyila!” pinta Asyila karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya membereskan ruang tamu.


Abraham enggan menurunkan tubuh Asyila dan membawa Asyila masuk ke dalam kamar.


Setibanya di kamar, Abraham langsung menurunkan Asyila ke tempat tidur dan tak lupa mengunci pintu kamar mereka agar Arsyad dan Ashraf tak sembarang masuk ke dalam kamar.


“Mau Mas yang membuka pakaian Asyila atau Asyila yang membukanya sendiri?” tanya Abraham datar.


“Biar Asyila saja, Mas,” jawab Asyila dan perlahan melepaskan pakaiannya.


“Sekarang berbaringlah dengan posisi tengkurap!” perintah Abraham.


Asyila pun menuruti perintah dari suaminya dan perlahan berbaring dengan posisi tengkurap.


“Mas akan mengoleskan salep ini ke punggung Syila, pokoknya Asyila diam saja dan jangan menangis jika salep ini rasanya panas sekali,” ucap Abraham menakut-nakuti Sang istri.


“Panas sekali?”


“Iya. Salep ini sangat panas hingga kulit manusia bisa terkelupas,” jawab Abraham.


Asyila terkesiap dan menolak untuk dipakaikan salep. Ia tidak ingin kulitnya terkelupas dan memilih untuk merasakan sakit daripada harus memakai salep.


“Ayo tengkurap!” perintah Abraham yang tak ingin menerima penolakan dari Asyila.


Dengan ragu-ragu Asyila kembali tengkurap dan pasrah jika kulit punggungnya mengelupas.


Abraham tersenyum tipis dan mulai mengolesi punggung istri kecilnya dengan salep.


“Masss....” Asyila setengah menjerit ketika merasakan dingin dipunggungnya dan berpikir bahwa kulitnya akan segera mengelupas.


Abraham tak bisa menahan tawanya, ia tertawa ketika melihat reaksi Sang istri yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


“Kenapa Mas malah tertawa?” tanya Asyila terheran-heran dan di detik berikutnya, Asyila akhirnya mengerti bahwa suaminya sedang mengerjai dirinya.


Asyila terduduk dan mencubit kedua pipi suaminya dengan cukup keras.


“Mas Abraham jahat,” ucap Asyila dan melipat kedua tangannya ke dada dengan ekspresi wajah kesal.


Bukannya segera membujuk istri kecilnya dan meminta maaf, tawa Abraham malah semakin menjadi ketika melihat ekspresi wajah Sang istri.


“Hentikan Mas!” pinta Asyila sambil membungkam mulut suaminya dengan tangan.


Abraham segera menghentikan tawanya dan merebahkan tubuh Asyila dengan posisi miring serta sangat hati-hati.


“Untuk beberapa hari ke depan, Asyila tidak boleh melakukan pekerjaan ini dan itu. Semuanya biar Mas saja yang mengerjakannya!” perintah Abraham.


“Bagaimana bisa semuanya Mas yang mengerjakan? Untuk kali ini Asyila tidak ingin menuruti perintah Mas,” jawab Asyila.


“Perintah suami tidak boleh ditolak, hukumnya dosa,” jelas Abraham.


Glek!


Asyila menelan salivanya dengan susah payah dan terpaksa menyetujui serta menuruti apa yang diperintahkan oleh suaminya terhadap dirinya.


“Sekarang tidurlah agar punggung Syila segera sembuh. Si penjahat itu sudah Mas beri pelajaran dan Mas pastikan dia tidak akan pernah melakukan hal itu lagi kepada asyila.”


“Apa yang Mas lakukan terhadap orang itu?” tanya Asyila penasaran.


“Hanya mematahkan jemari tangannya dan pergelangan tangannya,” jawab Abraham.


Asyila terperangah dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Jangan menatap Mas dengan tatapan seperti itu, Syila membuat Mas malu,” ucap Abraham dan menyembunyikan wajahnya dengan selimut.


Asyila tak bisa menahan tawanya, ia tertawa ketika melihat reaksi suaminya yang sangat malu ketika ditatap olehnya.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


Terima kasih atas kunjungannya 🙏💖


__ADS_2