Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ashraf Hampir Saja Dipatuk Ular


__ADS_3

“Aku ingin sekali membantu Mas Abraham. Akan tetapi, untuk sekarang aku tidak bisa. Masih ada anak-anak yang harus aku rawat, terutama bayi Akbar,” tutur Asyila yang sudah merebahkan tubuh di tempat tidur.


Saat Asyila tengah merenung dengan kondisinya saat itu, tiba-tiba Ashraf masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kedatangannya ternyata ingin memberikan roti bakar untuk Bundanya.


“Bunda, ini untuk Bunda!” Dengan tangan kecilnya, Ashraf memberikan beberapa potong roti bakar dengan rasa coklat dan juga strawberry.


“Terima kasih ya sayang,” balas Asyila sambil menerima roti bakar yang diberikan oleh Ashraf.


“Bunda, malam ini Ashraf tidur sama Bunda dan adik bayi ya!” pinta Ashraf karena Ayahnya tak berada di rumah, oleh karena itu dirinya ingin tidur bersama Bundanya tercinta.


“Ashraf yakin mau tidur sama Bunda?” tanya Asyila memastikan.


Ashraf mengangguk-angguk kepalanya.


“Ini Bunda mau tidur, kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita berwudhu dan segera tidur!” ajak Asyila.


Asyila turun dari tempat tidur begitu juga dengan Ashraf, keduanya masuk ke dalam kamar mandi dan bergantian mengambil air wudhu.


Setelah mengambil air wudhu, keduanya kembali naik ke tempat tidur untuk segera beristirahat.


***


Arumi bangun tidur lebih awal, ia sudah bangun dari jam setengah 2 pagi. Ibu dari Asyila itu, bergegas menuju dapur untuk membuat menu sahur. Arumi sengaja tidak membangunkan Asyila maupun yang lainnya untuk membantunya memasak, ia ingin melakukannya seorang diri saja.


“Ada tahu, sebaiknya aku goreng saja,” tutur Arumi bermonolog.


Arumi melakukan pekerjaan dapur dengan sangat cepat, tak terasa sudah jam 3 pagi dan disaat itu juga Arumi telah selesai memasak menu makanan sahur.


“Ternyata lumayan juga ya, sebaiknya aku tidur sebentar dan setengah empat aku akan bangun,” tutur Arumi memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


“Ibu dari mana saja? Ayo sholat tahajjud!” ajak Herwan yang telah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat tahajjud.


Keinginan Arumi untuk tidur sejenak, akhirnya ia urungkan. Sholat tahajjud lebih penting daripada tidur.


Disaat yang bersamaan, Asyila sudah selesai melaksanakan sholat tahajjud seorang diri di kamarnya. Ia pun bergegas menuju dapur untuk membantu Ibunya memasak, akan tetapi setibanya di dapur Asyila sangat terkejut sekaligus merasa bersalah karena bangun terlambat.


“Kenapa Ibu tidak membangunkan Asyila? Ya Allah, hamba jadi merasa bersalah,” tutur Asyila bermonolog.


Saat Asyila tengah berada di dapur sambil menata piring, Dyah dan Yeni pun datang.


“Ini Aunty dan Nenek Arumi yang menyiapkan?” tanya Dyah.


Asyila saat itu juga menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Bukan, ini semua Ibuku yang menyiapkannya,” jawab Asyila.


“Ya ampun, Dyah juga bangunnya telat karena Asyila kecil agak rewel,” terang Dyah.


“Mbak juga, Asyila. Mbak bangun telat karena semalam begadang,” ujar Yeni.


Arumi tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa dirinyalah yang sengaja untuk tidak membangunkan mereka bertiga.


“Ibu, kenapa sengaja begitu?” tanya Asyila dengan tatapan sedih.


“Kalau Dyah memang bangunnya telat, Nek. Maaf ya Nek,” sahut Dyah.


“Sudah tidak apa-apa, jangan merasa bersalah seperti ini. Ayo kita bangunkan anak-anak, mereka harus segera bangun agar saat sahur mereka tidak rewel!”


Asyila melenggang pergi menuju kamarnya untuk membangunkan Ashraf, sementara Dyah dan juga Arumi membangunkan Bela serta Arsyad yang tidur lain kamar.


Tak butuh waktu lama, semuanya berkumpul. Kecuali, Abraham Mahesa yang sedang ada pekerjaan penting membantu sahabatnya.


“Syila, jangan melamun. Ibu tahu kamu saat ini pasti memikirkan Nak Abraham, kalau pekerjaan di perusahaan Nak Abraham sudah selesai, pasti suamimu itu pulang,” tutur Arumi setengah berbisik agar tak di dengar oleh yang lain.


Asyila berusaha tersenyum lebar meskipun senyuman itu terlihat begitu dipaksakan. Bagaimanapun, hanya Asyila yang tahu mengenai suaminya yang tengah membantu Edi serta para tim untuk menangkap penjahat.


Mas, Asyila akan terus berdo'a dan menunggu kedatangan Mas Abraham. Saat bayi kita sudah agak besar, Asyila janji akan membantu Mas Abraham dalam menghadapi orang jahat diluar sana. Asyila tidak akan selemah kemarin, Asyila sekarang bukanlah wanita yang dengan mudahnya disingkirkan.


Arsyad tanpa diminta, dirinya sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia memimpin do'a membaca niat puasa Ramadhan dengan begitu lantang, diikuti oleh yang lainnya.


***


Ashraf tengah bermain mobil remote control di area halaman depan rumah, ia bermain hanya seorang diri, dikarenakan Arsyad dan Bela sedang belajar di ruang keluarga, sementara dirinya ingin bermain di area halaman rumah.


“Mas Ashraf lagi ngapain?” tanya Pak Udin pada putra kedua Tuannya.


“Main mobil dong, Pak Udin mau main juga?” tanya Ashraf tanpa menoleh ke arah Pak Udin.


“Oh tidak usah, Mas Ashraf. Pak Udin tidak pandai main mobil-mobilan seperti itu, apalagi pakai remote control,” terang Pak Udin dan tertawa kecil.


“Pak Udin, mau Ashraf ajarin?” tanya Ashraf dan memberikan remote control tersebut pada Pak Udin.


Pak Udin awalnya menolak, akan tetapi Ashraf terus memaksanya dan Pak Udin akhirnya mengiyakan daripada nanti Ashraf malah menangis.


“Pak Udin, kalau mau lurus ekan ini dan kalau mau kearah kiri dan kanan tekan ini ya!” Ashraf dengan sabar mengajari Pak Udin agar bisa membuat mobil miliknya bergerak.


Pak Udin perlahan mengerakkan tombol remote control tersebut dan apa yang dilakukan oleh Pak Udin malah membuat Ashraf tertawa lepas. Masalahnya karena mobil miliknya bergerak tak tentu arah, Ashraf sama sekali tak takut jika mobil mainannya rusak. Jikalau rusak, Ayahnya pasti akan langsung memberikan mobil mainan baru untuknya.

__ADS_1


Dari teras depan rumah, Asyila memperhatikan bagaimana bahagianya Ashraf bermain dengan Pak Udin.


“Bahagia terus ya sayang, Bunda terus berdo'a dan berharap agar kedepannya keluarga kita bahagia tanpa harus mengeluarkan air mata terlebih dahulu,” tutur Asyila bermonolog.


Asyila duduk di kursi teras dan berusaha menghubungi suaminya. Asyila berharap, suaminya bisa mengangkat teleponnya.


“Assalamu’alaikum, istriku,” ucap Abraham menyapa istri kecilnya dari balik telepon.


“Wa’alaikumsalam, Mas sekarang dimana? Asyila kangen,” ujar Asyila yang memang sangat merindukan suaminya.


“Sabar ya istriku sayang, insya Allah Mas pulang paling lambat lusa,” balas Abraham.


“Aamiin, semoga saja ya Mas. Karena kurang dari seminggu kita sudah lebaran.”


“Syila tidak perlu khawatir, serahkan semuanya kepada Allah. Maaf ya Syila, Mas harus menyudahi panggilan telepon ini.”


Asyila mengiyakan dan sambungan telepon pun berakhir.


Mas Abraham pasti disana sangat sibuk, astaghfirullahaladzim. Kenapa aku tidak memberikan Mas Abraham semangat? Akan tetapi, tidak mungkin aku menghubungi Mas Abraham sekarang.


Saat Asyila tengah melamun, tiba-tiba Ashraf menjerit ketakutan dan begitu pula dengan Pak Udin.


Para bodyguard segera berlari menghampiri keduanya dan ternyata ada ular kobra yang bersiap-siap untuk mematuk kaki Ashraf.


Asyila berlari dan memeluk erat tubuh putra keduanya.


“Bunda!” Ashraf berteriak ketakutan dengan tubuh gemetar.


Untung saja ular tersebut sudah ditangkap dan sudah dimasukkan ke dalam karung.


“Nona Asyila dan juga Mas Ashraf tidak perlu takut, ular ini sudah kami amankan. Saya akan membuangnya ke tempat yang jauh dari penduduk,” terang Alif dan seketika itu pergi menggunakan motor untuk membuang ular kobra tersebut.


Arumi, Herwan serta yang lainnya berhamburan keluar mendekati Asyila dan juga Ashraf.


“Ibu tadi mendengar suara Ashraf menjerit, ini kenapa pada berkumpul disini?” tanya Arumi.


“Nenek, tadi ada ular,” sahut Ashraf yang masih ketakutan.


“Ibu tidak perlu khawatir begitu juga yang lainnya, ular kobra tersebut sudah dibereskan oleh Alif,” jelas Asyila yang tidak ingin membuat keluarganya ketakutan.


Mendengar penjelasan Asyila mengenai ular kobra, membuat Herwan sedikit trauma dengan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Herwan pun meminta kepada para bodyguard untuk memastikan kembali apakah ular kobra masih berkeliaran di halaman rumah ataukah tidak.


Setelah memberi perintah, Herwan bergegas mengajak putri serta cucunya untuk segera masuk ke dalam.

__ADS_1


“Adik yang tenang ya, ada Kak Arsyad disini,” tutur Arsyad mencoba menenangkan adiknya.


Ashraf hanya mengangguk kecil tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


__ADS_2