
Asyila dengan teliti mengukur setiap bagian tubuh Bela dan setelah mendapatkan ukurannya, Asyila bergegas membuatkan pakaian untuk gadis kecil tersebut.
Bela tersenyum lebar sembari duduk di kursi kecil dengan terus melihat bagaimana Asyila memotong setiap kain untuk dijadikan sebuah pakaian.
“Aunty harap pakaian yang akan Aunty buat disukai oleh Bela,” ucap Asyila sembari fokus menggunting kain terus.
“Bela pasti suka dengan pakaian yang Aunty buat,” balas Bela.
“Kamu ini bisa saja,” tutur Asyila dan kemudian tertawa kecil.
Di teras depan rumah, Abraham terus memandangi wajah bayi mungilnya yang begitu menggemaskan.
“Nak, sampai detik ini Ayah sangat kagum dengan kesayangan Ayah yang kuat ini. Mendengar apa yang dikatakan oleh Bundamu, membuat Ayah sadar bahwa keturunan Ayah dan Bunda adalah anak-anak yang hebat,” ujar Abraham dan perlahan menciumi pipi bayi mungilnya itu.
Bayi mungil itu hanya diam sambil terus memperhatikan wajah Ayahnya dan semakin membuat Abraham gemas ingin menggigit kedua pipi kemerah-merahan bayi mungilnya tersebut.
Beberapa jam kemudian.
Asyila tersenyum puas ketika jahitannya telah selesai dan dengan semangat Asyila meminta Bela untuk segera mengenakannya.
“Bela sayang, pakaiannya sudah jadi dan hijabnya pun sudah jadi. Tolong dipakai ya, Aunty ingin melihat Bela mengenakannya!” pinta Asyila.
Bela dengan semangat menerima pakaian tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas setelan pakaian yang Asyila sengaja jahitkan untuk dirinya.
“Aunty, Bela suka. Akhirnya Bela punya baju baru,” ucapnya menangis terharu.
Asyila ikut menangis terharu melihat Bela begitu senang menerima setelan pakaian yang ia berikan hasil dari tangannya sendiri.
“Sayang, kalau boleh tahu memangnya Bapak dan Ibu Bela tidak pernah membelikan Bela pakaian baru?”
“Bapak dan Ibu tidak pernah beli baju untuk Bela. Baju yang Bela pakai semuanya baju bekas,” balasnya.
Disaat yang bersamaan, Abraham meminta Asyila dan juga Bela untuk bersiap-siap tanpa masuk ke dalam ruangan kerja istri kecilnya.
Asyila dan Bela pun kompak mengiyakan perintah dari Abraham.
Setelah mendengar jawaban dari keduanya, Abraham langsung bergegas menaiki anak tangga untuk segera bersiap-siap.
“Bela siap-siap dulu ya di kamar, Aunty juga mau ganti pakaian dulu.”
“Baik, Aunty.”
Asyila berlari kecil menaiki anak tangga dan bergegas masuk ke dalam kamar.
“Mas!” Asyila berlari dengan penuh semangat untuk segera memeluk suaminya.
Abraham terkejut melihat betapa semangatnya Sang istri tercinta yang saat itu berlari memeluk dirinya.
“Kenapa Syila terlihat sangat semangat?” tanya Abraham yang juga membalas pelukan suaminya.
“Asyila juga tidak tahu, Mas. Melihat wajah pria tampan ini membuat Asyila bahagia,” jawab Asyila sembari mendongak dan menyentuh wajah suaminya.
Abraham terperangah melihat bagaimana istri kecilnya mengatakan bahwa wajahnya tampan.
“Benarkah suamimu ini tampan?” tanya Abraham penasaran dengan tatapan malu-malu.
Asyila tertawa lepas melihat wajah konyol suaminya itu.
“Mas suka ya kalau Asyila mengatakan Mas tampan?”
Abraham tersipu malu dan bingung harus menjawab apa.
“Muaaccch... Asyila mencintai Mas selamanya,” terang Asyila setelah mencium bibir suaminya secara tiba-tiba.
Abraham tersenyum dengan penuh kemenangan setelah mendapatkan ciuman di bibirnya.
“Terima kasih,” ucap Abraham dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
“Terima kasih juga Mas Abraham,” balas Asyila.
Ketika Abraham ingin mencium bibir istri kecilnya, hal tak terduga pun tiba-tiba terjadi.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba menangis dengan sangat kencang.
Abraham seketika itu mendengus kesal karena tak jadi mencium sang istri. Sementara Asyila tertawa mengejek melihat wajah suaminya.
“Anak pintar,” puji Asyila sembari menggendong bayi mungilnya dan menoleh ke arah suaminya yang ternyata menatap kearahnya. Kemudian, Asyila menjulurkan lidahnya mengejek suaminya itu.
Abraham hanya pasrah dan memutuskan untuk mengganti pakaiannya.
Tak butuh waktu lama, bayi mungil itu terlelap dan tanpa pikir panjang lagi, Asyila langsung beranjak dari tempat tidur untuk segera mengganti pakaiannya.
Ketika Asyila berbalik badan tiba-tiba suaminya...
“Muaaccchhh!”
Asyila terkejut buat main ketika Sang suami berhasil mencium bibirnya.
“Mas Abraham nakal,” celetuk Asyila dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Abraham hanya tersenyum dengan penuh kemenangan sembari mengedipkan sebelah matanya dengan sangat genit.
***
Akhirnya setelah drama yang cukup panjang antara Abraham dan Asyila, merekapun siap untuk pergi mengantarkan Bela sekaligus menemui kedua orang tua Bela.
Dyah saat itu juga ikut dan hanya seorang diri tanpa mengajak putri kecilnya, dikarenakan putri kecilnya tengah tertidur bersama dengan Sang suami tercinta, Fahmi.
“Dyah, kamu yakin tidak mengajak Asyila kecil ikut?” tanya Abraham.
“Paman, kalau Asyila kecil ikut dan bangun dari tidurnya. Orang pertamanya yang Asyila kecil cari adalah Papanya dan bukan Mamanya. Oleh karena itu, daripada putri kecil Dyah rewel, lebih baik Dyah tinggal saja. Toh, Mas Fahmi senang kalau menjaga putri kami,” ungkap Dyah.
Abraham memilih untuk diam dan perlahan mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Bela.
“Bela, tolong tunjukkan jalan menuju rumah ya!” pinta Abraham yang saat itu tengah mengemudikan mobil.
Asyila melirik sekilas ke arah gadis kecil yang duduk diantara dirinya dan juga Dyah. Terlihat dengan jelas bahwa Bela ketakutan.
Asyila hanya berharap agar semua masalah keluarga Bela bisa terselesaikan dan kedua orang tua Bela bisa berubah.
Kurang dari 1 jam, akhirnya Abraham tiba juga di daerah tempat dimana Bela tinggal.
Akan tetapi, mobil tidak bisa masuk dikarenakan gang menuju rumah yang mereka tuju hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
“Aunty, Paman dan Kak Dyah. Bela pulang dulu ya,” ucapnya dan berlari menuju kediamannya.
Melihat Bela yang berlari sembari meneteskan air mata, Asyila pun mencoba mengejar Bela dan disusul pula oleh Abraham serta Dyah.
“Dasar anak tidak tahu diri, kenapa baru pulang sekarang!” teriak seorang pria yang bertelanjang dada kepada seorang gadis kecil bernama Bela.
“Baju dari mana ini? Bukannya pulang membawa uang kamu malah membeli baju baru!” teriak seorang wanita yang nampak sangat kesal dan seketika itu merobek hijab serta pakaian yang dikenakan oleh Bela.
“Maafkan Bela, jangan pukul Bela lagi,” ucap Bela memohon belas kasih dari kedua orangtuanya yang terus memukuli dirinya.
Asyila, Abraham dan juga Dyah terkejut melihat bagaimana Bela disiksa oleh kedua orangtuanya.
“Cukup!” teriak Abraham sambil mendorong kedua orang tua Bela yang terus memukuli Bela dengan tangan kosong.
Dyah berlari mendekat dan memeluk erat tubuh Bela yang saat itu gemetar begitu hebat.
“Apa yang telah kalian lakukan ini sungguh sangat keterlaluan, bagaimana bisa orang tua seperti kalian ini yang seharusnya menjaga serta melindungi buah hatinya malah menyiksa serta memperalat buah hatinya untuk mendapatkan uang dengan cara kotor seperti itu!” Abraham terlihat begitu marah hingga uratnya terlihat jelas.
“Siapa kamu?” tanya Ayah Bela sambil mendorong tubuh Abraham dan untungnya Abraham tidak terjatuh.
“Kamu siapa, lepaskan anak saya!” Seorang wanita yang tak lain adalah Ibu Bela, seketika itu mendorong tubuh Dyah dan menarik paksa putrinya.
__ADS_1
Tanpa ragu, Bela kembali dipukul oleh Ibunya sendiri.
“Lihat semua, Bela ini putri saya. Mau saya pukul, mau saya apakan ya terserah saya!” tegas Ibu Yuyun yang sama sekali tak merasa kasihan dengan putri kandungnya sendiri.
Bela saat itu benar-benar seperti anak yang terbuang, ia benar-benar disiksa dan membuat yang melihatnya sungguh sangat miris.
“Mas, Bela di depan kita saja diperlakukan seperti ini. Bagaimana bisa gadis kecil seperti ini mendapatkan siksaan yang begitu kejam dari kedua orangtuanya,” ucap Asyila yang sudah berderai air mata.
Abraham sudah tak bisa bersabar lagi, ia paling benci melihat istri kecilnya menangis karena sesuatu hal yang menyakitkan.
Seketika itu juga Abraham menendang kaki Ayah dari Bela dan mendorong tubuh Ibu Bela dengan cukup keras.
“Akkkhhh!” Pria bernama Manto yang tak lain Ayah dari Bela berteriak kesakitan karena ternyata kaki kirinya patah setelah ditendang oleh Abraham.
Sementara Yuyun, tidak mengalami luka serius dan hanya terjatuh saja.
Tak butuh waktu lama setelah teriakkan Manto, para tetangga berduyun-duyun mendatangi rumah Manto.
“Ada apa ini?” tanya salah satu tetangga.
Abraham menoleh ke arah pria yang baru saja bertanya.
“Apakah anda mengenal orang tua tak punya hati ini?” tanya Abraham.
“Kami tentu saja mengenalnya, Pak Manto dan Ibu Yuyun ini benar-benar susah dinasehati. Sudah berkali-kali kami memberitahukan kepada mereka agar tidak menyuruh Bela melakukan hal berbahaya seperti itu,” ucapnya.
“Siapa pun yang tahu mengenai kedua orang jahat ini, tolong besok datanglah bersama saya untuk menjadi saksi di pengadilan. Akan saya pasti bahwa kedua orang tua ini akan berakhir di penjara,” tegas Abraham.
Para tetangga pun begitu senang mendengar perkataan Abraham dan tak ada sedikitpun rasa kasihan untuk kedua orang tua Bela yang memang terkenal tak punya hati.
“Ini ada uang, tolong bawa pria ini ke rumah sakit di dekat jalan raya itu. Kemudian, tunggulah sampai polisi datang!” pinta Abraham sembari memberikan beberapa lembar uang kepada pria tersebut.
“Tenang saja, uang ini bukan untuk biaya rumah sakit tapi untuk anda yang membawanya ke rumah sakit,” ungkap Abraham dan tak ingin berlama-lama lagi di tempat itu, Abraham pun pamit pulang ke perumahan Absyil.
Asyila meminta suaminya untuk menggendong bayi mungil mereka terlebih dahulu dan kemudian merangkul tubuh Bela yang begitu gemetaran setelah dihajar oleh kedua orangtuanya.
“Ya Allah, kenapa gadis kecil seperti kamu bisa memiliki orang tua seperti mereka. Aunty bahkan takut untuk membayangkan bagaimana kamu dipukuli seperti tadi,” ucap Asyila yang terus berderai air mata.
Asyila ikut merasakan sakit di sekujur tubuhnya ketika melihat gadis kecil seperti Bela disiksa oleh kedua orangtuanya dengan sangat kejam.
Pakaian yang Asyila buat sebelumnya kini sudah robek dan terlihat sekali bahwa Bela begitu dihinakan oleh kedua orangtuanya.
Saat itu Bela hanya bisa meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara tangisan sedikitpun.
Gadis kecil itu sangat ketakutan sekaligus kecewa dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua orangtuanya.
Tidak ada seorang anakpun yang ingin dipukuli serta disiksa oleh orangtuanya. Begitu juga dengan Bela yang sejak dulu mengharapkan kasih sayang orang tuanya yang sampai detik itupun tidak pernah ia rasakan sedikitpun.
Merekapun akhirnya masuk ke dalam mobil dan seketika itu juga Asyila melepaskan hijab syar'i miliknya dan mengenakan hijab di kepala Bela agar bisa menutup seluruh tubuh gadis kecil itu.
Bela mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok wanita baik tersebut.
“Bela tidak usah khawatir, Aunty masih ada dalaman hijab,” ucap Asyila sembari menunjuk ke arah dalam hijab miliknya yang rambutnya tertutup sempurna dengan dalam hijab tersebut.
Bela tersenyum dan memeluk tubuh Asyila dengan sangat erat untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya atas apa yang telah Asyila lakukan untuknya.
Abraham meminta Dyah untuk menggendong Bayi Akbar dan Dyah pun menyetujuinya dengan senang hati.
Setelah Bayi Akbar sudah benar-benar berada di gendongan Dyah, Abraham akhirnya menyalakan mesin mobil dan bergegas menuju perumahan Absyil.
Dyah melirik ke arah Bela dan ikut merasakan kesedihan serta derita yang dialami oleh Bela.
Sungguh, siapapun yang melihat bagaimana Bela diperlakukan dengan begitu kejam, pasti rasanya ingin menghujat serta menyumpahi kedua orangtuanya itu.
“Aunty, pokoknya kedua setan itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan terhadap Bela,” ucap Dyah yang sangat geram.
“Dyah, kamu tidak perlu khawatir. Mereka akan mendapatkan hukuman seadil-adilnya,” tutur Abraham.
__ADS_1
Abraham ❤️ Asyila
Mohon like ❤️