
Abraham menangis terharu, ia berjanji akan semakin menghargai waktu bersama Sang istri tercinta.
“Syila kemana saja? Terima kasih sudah mau kembali, terima kasih istriku,” ucap Abraham yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kembalinya Sang istri tercinta.
“Hiks.. hiks.. Maaf karena telah membuat Mas Abraham dan Anak-anak menunggu lama. Asyila tak bermaksud membuat kalian menunggu,” tutur Asyila yang kini menangis sambil bersandar di dada suaminya.
“Sebentar,” ucap Abraham dan melepaskan sejenak pelukannya.
Abraham menoleh ke arah pintu dan berlari secepat mungkin untuk kembali mengunci kamar.
Kemudian, menggendong tubuh sang istri membawanya masuk ke dalam kamar.
Asyila tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia tersenyum lebar walau air matanya terus saja mengalir. Kemudian, mencium mesra bibir suaminya.
“Terima kasih, sekali lagi terima kasih. Sekarang, Mas tidak akan takut menghadapi dunia ini seorang diri,” terang Abraham.
Ketika Abraham membuka pintu kamarnya, ia tersenyum lebar dan meminta kedua buah hatinya untuk datang kepadanya.
“Arsyad! Ashraf! Sini peluk Ayah dan juga Bunda!” panggil Abraham.
Arsyad dan Ashraf seketika itu menoleh ke arah orang tua mereka yang sudah lengkap.
“Ayah, Bunda!” Keduanya berlari mendekat dan menangis bersama-sama.
“Kita sekarang sudah berkumpul kembali. Ayah berjanji akan memperlakukan kalian lebih baik lagi dan tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada untuk kita,” ucap Abraham dan menciumi kening kedua buah hatinya serta sang istri secara bergantian.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi mungil itu tiba-tiba menangis, seakan-akan meminta untuk diperhatikan oleh Ayah tercintanya.
Abraham tertegun mendengar suara bayi yang menangis.
“Syila, apakah Asyila mendengar suara bayi menangis?” tanya Abraham yang belum tahu bahwa di atas tempat tidur ada buah hatinya bersama Sang istri yang Abraham kira sudah meninggal.
“Mas, itu bayi kita,” balas Asyila sambil menunjuk ke arah tempat tidur.
Abraham sekali lagi tertegun, ia merasakan bahwa Allah telah memberikannya kejutan-kejutan yang sangat luar biasa.
Abraham pun bangkit dari jongkoknya dan dengan perlahan berjalan mendekati tempat tidur.
Ketika baru melangkah tiga langkah, Abraham tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menangis terharu. Ia bersujud kepada Allah dan mengucapkan syukur atas apa yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia seperti dirinya.
“Oek... Oek... Oek.. Oek..” Bayi mungil itu kembali menangis dan tangisannya semakin keras. Seakan-akan meminta Sang Ayah untuk segera menggendong tubuh mungilnya yang belum pernah merasakan pelukan hangat dari Ayah kandungnya.
Abraham beranjak dari sujud dan perlahan mendekati bayi mungilnya.
“Mas, bayi kita minta gendong,” tutur Asyila yang sudah berada tepat dibelakang punggung Abraham.
Abraham menangis terharu dan dengan hati-hati menggendong bayi mungilnya yang nampak mirip dengannya.
“Ya Allah, ini beneran bayi kita? Ba-bagaimana bayi kita bisa selamat?” tanya Abraham dan perlahan menempelkan hidung ke hidung bayi mungilnya.
“Semuanya tidak ada yang tidak mungkin, Mas. Asyila pasti akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi setelah kejadian di laut itu,” tutur Asyila dan bersandar di bahu suaminya yang saat itu tengah menggendong bayi mungil mereka.
“Masya Allah, Allah benar-benar sangat baik dengan keluarga kita. Orang yang Mas pikir telah meninggalkan dunia ini ternyata masih ada dan sekarang sudah berada disini,” terang Abraham.
Asyila mencium pipi kiri suaminya dan memeluk pinggang suaminya dengan sangat erat.
“Kita tak akan terpisahkan, Mas,” balas Asyila.
__ADS_1
Bayi mungil yang sedang digendong oleh Abraham, seketika itu kembali terlelap dan terlihat sangat nyaman berada di gendongan Sang Ayah yang sudah lama dirindukannya.
“Maaf Ayah ya sayang, saat Bunda tengah mengandung kamu, Ayah sama sekali tidak berada di samping kamu. Dan ketika kamu lahir ke dunia, Ayah juga tak berada di samping kamu dan juga Bunda.”
Abraham berkali-kali meminta maaf pada bayi mungilnya itu. Abraham merasa sangat bersalah karena selama ini tidak berusaha lebih giat lagi untuk menemukan keberadaan Sang istri yang saat itu tengah mengandung buah hati ke-empat mereka.
“Mas tidak perlu minta maaf. Setiap hal yang terjadi, ada hikmah dibaliknya. Awalnya Asyila merasa sangat sedih ketika Asyila tersadar dari koma. Asyila sempat koma selama 2 Minggu dan hal yang sangat membuat Asyila benar-benar merasakan kebesaran Allah, ketika Asyila tahu bahwa buah hati kita masih berada di dalam rahim Asyila,” terang Asyila.
“Iya, Istriku. Bagaimanapun Allah yang telah mengatur semuanya. Akan tetapi, ini benar-benar sangat luar biasa. Setelah sekian lama akhirnya kita bisa kembali berkumpul dan suasana dirumah ini akhirnya hangat kembali,” balas Abraham.
Asyila tersenyum dan menoleh ke arah kedua buah hatinya.
“Arsyad dan Ashraf turun ya! Kalian pergilah dulu ke ruang makan, Ayah dan Bunda akan menyusul bersama adik baru kalian,” tutur Asyila.
Dengan air mata bahagia, kedua bocah itu berjalan keluar meninggalkan orang tua dan juga adik baru mereka.
Setelah Arsyad dan Ashraf benar-benar pergi meninggalkan kamar, Abraham dengan hati-hati meletakkan bayi mungilnya dan menciumi bibir Sang istri dengan penuh semangat.
Asyila pun membalas ciuman bibir dari suaminya. Mereka akhirnya larut dalam ciuman panas yang berbulan-bulan tidak pernah mereka lakukan.
Ketika sedang menikmati nya, tiba-tiba hal yang menggemaskan pun terjadi.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi mungil itu kembali menangis dan kedua kakinya digerakkan seakan-akan protes dengan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya sehingga mengabaikan dirinya.
Abraham dan Asyila seketika itu juga menghentikan ciuman mereka. Kemudian, tertawa lepas.
“Iya sayang, Bunda tidak akan lupa sama kamu. Sini minum susu dulu ya,” ucap Asyila membujuk buah hatinya untuk tenang dan dengan hati-hati memberikan ASI kepada bayi mungilnya itu.
Abraham menyeka sisa air matanya dan mencium kening sang istri dengan penuh cinta.
Sambil menyusui bayi mungilnya, Asyila terus saja memperhatikan Sang Suami dan tak lupa memberikan senyum terbaiknya.
Abraham berkali-kali mengucapkan syukur dalam batinnya karena apa yang ia harapkan selama ini akhirnya terkabul.
“Mas sudah selesai mengganti pakaian,” ucap Abraham yang telah mengenakan piyama berwarna biru muda.
“Anak-anak dibawah pasti sedang menunggu kita. Mas turun duluan ya, Asyila menyusui bayi kita dulu,” tutur Asyila.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Abraham dengan ekspresi terkejut dan sembari memukul dahinya sendiri.
“Ada apa, Mas?” tanya Asyila yang mulai panik.
“Karena terlalu fokus dengan Syila, Suamimu ini sampai lupa dengan jenis kelamin dan juga nama bayi kita,” ungkap Abraham.
Asyila tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Nanti Asyila akan memberitahu Mas Abraham. Sekarang Mas cuci muka dan turun ke bawah dulu ya!”
Abraham mengiyakan dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kemudian, melenggang keluar kamar untuk segera menemui kedua buah hatinya yang sudah lebih dulu berada diruang makan.
“Ayah, Bunda sama adik mana?” tanya Arsyad.
“Bunda sama adik baru tidak pergi lagi'kan, Ayah?” tanya Ashraf yang terlihat was-was.
Abraham menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.
“Insya Allah, tidak. Selamanya Bunda dan juga adik baru akan tetap berada disini,” jawab Abraham dan seketika itu juga membuat Arsyad maupun Ashraf bernapas lega.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Asyila berjalan menghampiri suami serta kedua buah hatinya sembari menggendong bayi mungilnya. Asyila datang dengan mengenakan piyama berwarna senada dengan suaminya.
Melihat Sang istri yang mengenakan piyama tersebut, membuat jantung Abraham berdebar-debar tak menentu.
“Wajah Mas Abraham kenapa tiba-tiba merah? Mas alergi?” tanya Asyila sambil menatap wajah suaminya dengan sangat dekat.
Abraham yang gugup segera menunduk malu dan membuat yang melihatnya malah tertawa.
“Ayah malu sama Bunda ya?” tanya Arsyad dan tak bisa menghentikan tawanya.
Asyila mengernyitkan keningnya dan meminta suaminya untuk segera membalas tatapan darinya.
Abraham dengan malu-malu mendongakkan kepalanya menatap mata indah sang istri.
Deg! Deg! Deg!
Lagi-lagi jantung Abraham berdebar-debar tak karuan. Abraham kembali merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Wajah Mas Abraham semakin memerah,” goda Asyila dan mencium sekilas kening suaminya didepan kedua buah hatinya.
“Jangan disini,” ucap Abraham malu-malu.
Asyila tertawa kecil dan mendaratkan bokongnya di samping suaminya.
“Mas, ayo kita makan!” ajak Asyila.
Abraham mengiyakan dan mengambil alih menggendong bayi mungilnya.
“Sini, biar Mas saja yang menggendong bayi kita. Syila lebih baik layani Arsyad dan juga Ashraf terlebih dahulu,” tutur Abraham.
Asyila kembali tersenyum lebar dan seketika itu membuat Abraham menjadi salah tingkah.
Ayolah Abraham, kau bukan lagi pria muda. Kau sudah memiliki empat orang anak. 😳 Akan tetapi, senyum Asyila memang sangat menggoda dan membuatku merasa sangat gugup.
Asyila mengambil piring kedua buah hatinya dan mengisinya dengan nasi serta lauk keinginan mereka.
“Terima kasih, Bunda!”
“Sama-sama kesayangan Bunda. Sekarang kalian harus makan yang banyak biar cepat besar,” balas Asyila.
Arsyad mengiyakan dengan semangat, sementara Ashraf menggelengkan kepalanya.
“Ashraf kenapa geleng-geleng kepala?” tanya Asyila penasaran.
“Ashraf tidak mau jadi besar. Ashraf mau tetap menjadi kecil biar bisa dekat sama Ayah dan juga Bunda,” terang Ashraf benar-benar polos.
Asyila dan Abraham saling tukar pandang mendengar jawaban dari putra kedua mereka.
“Sayang, menjadi besar itu bukan pilihan. Akan tetapi, itu sudah takdir dari Allah. Meskipun begitu, Ashraf masih bisa dekat sama Ayah dan juga Bunda. Jadi, tidak ada yang perlu Ashraf takutkan ketika Ashraf sudah besar nanti,” tutur Asyila dan mencubit pelan pipi kiri Ashraf.
Ashraf tersenyum dan akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh Wanita dihadapannya.
Abraham ❤️ Asyila
Like ❤️ komen👇
__ADS_1