Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Asyila Kembali Beraksi


__ADS_3

“Bangun!” teriak salah satu remaja pada Asyila serta seorang gadis yang sebelumnya ingin dinodai oleh mereka berdua.


Asyila terbangun, kepalanya sangat sakit karena ternyata dirinya terkena obat bius dari sapu tangan yang sebelumnya membekap mulut serta hidungnya.


“Kalau saja kamu tidak ikut campur, mana mungkin kamu ada di tempat ini. Meskipun begitu, ternyata kalau dilihat-lihat kamu cantik juga. Sangat cocok dengan pekerjaan ini,” ucap salah satu pria yang lengannya banyak sekali tato.


“Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan kepada gadis itu?” tanya Asyila sembari menoleh ke arah gadis yang belum juga bangun.


“Apa yang akan kami lakukan bukan urusan kamu, tapi karena kamu sudah disini saya akan memberitahukan kamu. Jadi, gadis itu telah meminjam uang kepada saya sebesar 10 juta. Karena dia tidak bisa membayarnya, dia harus melunasinya dengan jual diri selama 1 tahun,” terangnya.


“Apa kalian tidak memiliki hati dengan sembarangan berbuat hal yang begitu keji? Sekarang kalian semua menyerah lah dan lepaskan semua gadis-gadis yang telah kalian tahan!” perintah Asyila yang sama sekali tidak tahu dengan keempat pria dihadapannya.


“Berani juga kamu ya, kalau begitu biar aku duluan yang mencicipi kamu,” ucap pria bernama Tono, pria yang sebelumnya berbicara kepada Asyila.


Asyila sama sekali tak takut, sudah kesekian kalinya ia berada di situasi seperti itu.


“Siapapun yang mencoba mendekati aku, kalian akan menerima hukumannya,” tegas Asyila.


“Jangan banyak bicara kau wanita gila!” teriak Tono sembari mendekat ke arah Asyila.


Asyila tersenyum dan dengan gerakan cepat ia menjatuhkan Tono saat itu juga.


“Aakkkhhh!” Tono berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.


“Bos!” teriak tiga remaja yang kemungkinan adalah bawahan si Tono.


Asyila tertawa mengejek dan meminta ketiganya untuk segera maju melawan dirinya.


“Jangan menyesal kamu ya!” teriak salah satu remaja dan dengan liciknya mengambil sepotong kayu untuk memukul Asyila.


Asyila mengernyitkan keningnya dan ia pun berlari ke ruangan lain untuk mengecoh lawan.


“Biar masalah wanita itu ditangani oleh Fendy. Kita diam saja disini,” ucap Yanto.


“Fendy, jangan sampai dia mati!” teriak Raffi.


“Tenang saja, aku hanya memberikannya sedikit pelajaran saja. Agar dia tak sombong,” balas Fendy dan tertawa mengejek.


Asyila terus saja berlari, hingga akhirnya ia berhenti disebuah ruangan kosong.


“Mau lari kemana lagi Mbak cantik? Lebih baik menurut saja, lagipula kalau Mbak cantik mau teriak pun pasti tak akan ada yang mendengar teriakkan Mbak cantik. Sekarang Mbak cantik mendekat lah!” perintah Fendy dengan senyum menyeringai lebar.


Asyila tersenyum tipis dibarengi dengan salah satu alisnya terangkat ke atas.


Fendy berjalan mendekat sembari mengeluarkan tangannya untuk menyentuh Asyila, akan tetapi hal tak terduga pun terjadi ketika saat Asyila menarik tangan tersebut.


Kratak!!! Suara pergelangan tangan Fendy yang dipatahkan oleh Asyila.


“Aaakkkhhh!” Fendy berteriak kesakitan dan seketika itu juga dua rekannya datang.


Mereka terkejut melihat pergelangan tangan Fendy yang sudah patah karena ulah Asyila.


“Wanita tak tahu diri, matilah kamu!” teriak Raffi sambil melemparkan sebuah kursi kayu ke arah Asyila.


Asyila dengan gesit menghindar lemparan kursi yang dilayangkan oleh Raffi ke arahnya.


“Apakah kalian tidak berani melawanku dengan tangan kosong?” tanya Asyila menantang Raffi dan juga Yanto.


Fendy berteriak kesakitan, ia terus saja mengumpat kesal dengan apa yang telah Asyila lakukan padanya.


“Wanita seperti dia tidak perlu dikasihani, lebih baik bunuh saja dia!” perintah Fendy yang sangat dendam dengan apa yang Asyila lakukan padanya.


Asyila menggigit bibirnya sendiri dan berlari ke arah ruangan lain untuk kembali mengecoh lawannya.


“Jangan kabur kabur!” teriak Yanto dan juga Raffi sembari mengejar Asyila yang lari dari mereka berdua.


Asyila masuk ke dalam sebuah ruangan yang tertutup, ia membuka kunci pintu tersebut dan terkejut mendapati banyaknya para wanita muda yang tengah diikat.


“Astaghfirullahaladzim!” Asyila terkejut dan nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Bulan suci Ramadhan yang seharusnya adalah bulan yang begitu istimewa, malah dijadikan sebagai bulan untuk menarik pundi-pundi uang serta pemuas n*fsu para pria tak punya hati yang mementingkan diri mereka sendiri.


“Mbak, tolong kami. Kami dipaksa melakukan pekerjaan kotor,” ucap salah satu wanita muda yang mengadu kepada Asyila.


Saat Asyila ingin membuka tali yang mengikat kencang tangan wanita itu, tiba-tiba Raffi dan Yanto pun datang.

__ADS_1


“Hahaha... Baguslah kalau kamu sudah masuk ke dalam ruangan ini, kami tidak perlu susah payah membawamu kemari,” tutur Raffi tertawa puas.


Asyila berbalik badan dan seketika itu mengeluarkan jurus-jurus nya untuk membuat Raffi diam.


Kratak!! Kratak!!


“Aakkkkhhhh! Setan alas!” teriak Raffi setelah pergelangan tangan kiri dan kanannya dipatahkan oleh Asyila dengan begitu mudahnya.


Para wanita muda yang disekap oleh Raffi serta rekan-rekannya, menatap takjub apa yang dilakukan oleh Asyila. Bahkan, ada yang masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Apakah kemampuan kalian hanya segini saja? Ayo kamu, lawanlah aku! Sudah cukup lama aku tidak melakukan pemanasan,” tutur Asyila sambil berjalan mendekat ke arah Yanto.


Nyali Yanto tiba-tiba kikuk, ia baru menyadari bahwa wanita berhijab dihadapannya ternyata memiliki ilmu beladiri yang bisa dikatakan sangat hebat.


Yanto berjalan mundur selangkah demi selangkah, akan tetapi ia malah jatuh karena tak sengaja menabrak sebuah kursi kayu yang sudah lapuk.


Yanto pun berusaha bangkit, untuk menjauh dari Asyila yang malam itu terlihat sangat menakutkan. Akan tetapi, Yanto tak berhasil kabur karena Asyila sudah lebih dulu menangkap dirinya.


Dengan gerakan cepat dan juga kuat, Asyila membanting tubuh Yanto ke lantai dan seketika itu juga Yanto tak sadarkan diri.


Asyila menghela napasnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Allah yang telah melindungi dirinya. Kemudian, merogoh kantong celana Yanto untuk mengambil ponsel agar segera menghubungi polisi.


“Assalamu’alaikum, selamat malam,” ucap Asyila dan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi kepada pihak berwajib.


Asyila dengan serius menggambarkan letak dimana mereka berada dan meminta salah satu wanita itu menjelaskan lebih tepatnya lokasi tersebut.


Saat Asyila baru saja selesai berbicara dengan pihak berwajib, Yanto tiba-tiba sadar dan berusaha memukul Asyila dengan sebuah besi.


“Awas!!!!!” teriak mereka dengan histeris.


Asyila berbalik dan untungnya ia bisa menghindari pukulan maut dari Yanto.


“Rupanya kamu ingin bernasib sama seperti dua temanmu yang tulangnya aku patahkan!” teriak Asyila yang hampir saja celaka jika dirinya tidak berbalik badan secepat mungkin.


Asyila menendang perut Yanto dan menjegal kaki Yanto kita remaja itu terpelanting ke lantai dengan sangat keras.


Tak hanya sampai disitu saja, Asyila menarik tangan Yanto dan mematahkan pergelangan Yanto saat itu juga.


“Aakkkhhhh!” Yanto menjerit kesakitan.


Asyila belum juga puas, ia meninju wajah Yanto dan memukul titik saraf Yanto agar pingsan saat itu juga.


Para wanita muda memandangi Asyila dengan penuh kekaguman. Mereka tak mengira wanita berhijab berpakaian piyama bisa dengan mudahnya mengalahkan pria-pria hidung bela seperti Yanto serta rekannya.


“Kalian tidak perlu takut, sebentar lagi polisi akan datang dan membebaskan kalian semua,” tutur Asyila sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat pergelangan serta kaki para wanita muda.


Setelah semuanya lepas dari belenggu tali tersebut, Asyila pun berlari mendekati wanita yang sebelumnya akan ia tolong.


“Mbak tidak apa-apa?” tanya gadis remaja itu.


“Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak apa-apa,” balas Asyila pada gadis remaja tersebut.


“Mbak, sebenarnya siapa? Kenapa Mbak mau menyelamatkan saya?” tanya gadis remaja itu dengan wajah yang sudah babak belur karena sebelumnya sudah disiksa oleh Tono serta yang lainnya.


“Wajahmu kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya Asyila ketika menyadari bahwa wajah gadis remaja dihadapannya sudah babak belur.


“Hiks.... hiks.... hiks...” Gadis remaja itu hanya bisa menangis tanpa mau menjawab pertanyaan dari Asyila.


“Menangislah kalau dengan cara menangis kamu bisa tenang,” tutur Asyila dan memeluk gadis remaja itu, “Siapa nama kamu gadis cantik?” tanya Asyila.


“Nama saya Septia, Mbak,” jawabnya dengan gemetar.


Asyila mengangguk kecil dengan terus memeluk tubuh gadis remaja tersebut.


“Aakkhh... Sakit... Sakit...” Septia tiba-tiba merintih kesakitan sembari menyentuh perutnya.


Asyila pun melepaskan pelukannya dan melihat celana berwarna putih Septia mengeluarkan darah.


“Kamu sedang menstruasi Septia?” tanya Asyila.


Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Tanpa pikir panjang lagi, Asyila tahu bahwa gadis remaja dihadapannya sedang mengalami pendarahan.


Disaat yang bersamaan, sirine polisi terdengar. Yang artinya bahwa polisi yang sebelumnya Asyila hubungi sudah tiba.

__ADS_1


“Apakah anda adalah orang yang menghubungi kami?” tanya salah satu polisi pada Asyila.


“Iya, Pak. Saya Asyila dan ada empat pria yang berada dibalik penculikan serta pelecehan seksu*l kepada anak dibawah umur,” terang Asyila.


Para polisi itu pun segera meringkus para pelaku untuk segera diamankan.


“Pak, ada gadis remaja yang butuh pertolongan secepat mungkin. Tolong bawalah kami ke rumah sakit!” pinta Asyila.


****


Beberapa jam kemudian.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


Asyila sangat mengantuk dan payudar*nya pun sudah bengkak karena untuk beberapa jam belum menyusui bayi mungilnya.


“Astaghfirullahaladzim, aku harus menghubungi Mas Abraham sekarang juga,” ucap Asyila bermonolog.


Wanita muda itu menoleh ke area sekitar dan melihat seorang gadis remaja yang tengah duduk sambil memegangi ponsel.


“Maaf, permisi,” tutur Asyila dengan sangat sopan.


“Iya, Mbak. Ada perlu apa?” tanya gadis remaja tersebut.


“Boleh saya pinjam ponselnya sebentar, saya ingin menghubungi suami saya di rumah?” tanya Asyila.


“Boleh, Mbak. Ini silakan saja,” jawabnya dan memberikan ponsel miliknya kepada Asyila.


Asyila menerimanya dan mencoba menghubungi suaminya.


Sekali, dua kali Abraham tak kunjung menjawab. Asyila tahu kenapa suaminya begitu, jika ada nomor telepon baru yang menghubungi suaminya sudah pasti suaminya itu tidak akan menjawab.


“Boleh saya mengirim pesan?” tanya Asyila meminta izin.


“Silakan saja Mbak,” jawabnya lagi.


Asyila pun mengirim pesan singkat kepada suaminya untuk segera datang ke rumah sakit tempat dimana Asyila berada. Usai mengirim pesan singkat tersebut, Asyila menghapus pesan serta riwayat panggilan. Lalu, memberikan ponsel itu kepada pemiliknya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Ketika melihat seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Septia, Asyila pun buru-buru mendekat.


“Dok, bagaimana dengan Septia?” tanya Asyila.


Dokter wanita itu menggelengkan kepalanya bercampur dengan ekspresi sedih.


“Bayi di dalam kandungannya tidak tertolong,” ucap dokter wanita itu.


Asyila terkejut sekaligus sedih mendengar bahwa Septia mengalami keguguran.


“Kalau boleh tahu, berapa usia kandungannya Dok?” tanya Asyila dengan air mata yang telah mengucur deras.


“Sekitar 9 Minggu,” jawab Dokter itu lagi.


“Innalilahi wa innailaihi rojiun,” ucap Asyila sembari menyentuh dadanya, “Dok, bolehkah saya masuk ke dalam?” tanya Asyila.


“Silakan, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu!”


“Baik, Dok,” balas Asyila dan bergegas masuk ke dalam ruangan dimana Septia sedang dirawat.


Asyila berjalan perlahan manakala dirinya mendengar suara isak tangis Septia yang begitu menyayat hati.


Asyila pernah merasakan bagaimana dirinya kehilangan bayinya, bagaimana dirinya keguguran. Akan tetapi, Asyila sadar bahwa apa yang ia dapatkan sekarang hanyalah titipan. Bahkan, nyawanya sendiri adalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


“Mbak, apakah aku benar-benar keguguran?” tanya Septia.


Asyila mengangguk kecil dan menyentuh tangan kanan Septia dengan cukup erat.


“Aku pernah berada diposisi kamu saat ini Septia. Akan tetapi, sebagai manusia aku cuma bisa menerimanya. Karena tidak semua yang datang kepada kita, menjadi milik kita seutuhnya,” tutur Asyila.


“Mbak, sebenarnya bayi itu adalah hasil hubungan gelap aku dan pacarku,” terang Septia yang memutuskan untuk jujur kepada Asyila.


“Apakah pria itu tahu mengenai kamu yang tengah hamil?” tanya Asyila.


Septia perlahan menggelengkan kepalanya, “Aku merahasiakannya,” tutur Septia.


“Kenapa merahasiakan kehamilan kamu?” tanya Asyila.

__ADS_1


Septia tak menjawab, mungkin ia butuh waktu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu sebaiknya tenang ya, kondisi kamu saat ini sedang tidak baik-baik saja,” ucap Asyila yang kini duduk tepat di ranjang pasien.


__ADS_2