
Bruk!
Abraham tak sengaja menyenggol tumpukan buku dimeja kerjanya, sehingga buku-buku tersebut berserakan dilantai.
“Sudah, biar aku saja yang membereskannya,” ucap Yogi sembari mengumpulkan buku-buku yang berserakan di lantai.
Abraham terlihat sangat berantakan, rambutnya yang biar tertata rapi kini acak-acakan. Bagaimana tidak, Abraham sore itu nampak kebingungan karena sang istri sama sekali tidak ada kabar. Ia bahkan telah meminta sahabatnya, Dayat dan Edi untuk mencari keberadaan sang istri namun, hasilnya nihil.
Yogi pun kasihan melihat sahabatnya hanya duduk diam dengan begitu gelisah.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Istriku? Apa yang sedang dihadapinya diluar sana,” ucap Abraham dengan mata yang mulai memerah.
“Asyila bukan wanita lemah, Abraham. Aku percaya bahwa Asyila baik-baik saja,” tutur Yogi berusaha menenangkan Abraham. Yogi sendiri pun tidak yakin dengan ucapannya itu. Akan tetapi, ia mengatakan hal itu agar Abraham sedikit lebih tenang.
”Dddrrrtttt!” Ponsel pintar Abraham bergetar dan dengan cepat Abraham menyambar ponsel miliknya yang berada dihadapannya.
“Iya, bagaimana? Apakah Istriku sudah ketemu?” tanya Abraham begitu antusias.
Dari seberang telepon, Dayat memberitahukan bahwa dirinya dan tim yang bertugas khusus mencari orang hilang tak juga menemukan keberadaan istri Abraham. Sontak saja, kepala Abraham dihinggapi hal-hal negatif.
“Ini waktunya bagi kalian untuk membantuku menemukan Asyila, aku ingin sebelum pukul 10 malam kalian sudah dapat menemukan Asyila,” tegas Abraham dan mematikan sambungan telepon.
Yogi yang mendengar dan melihat wajah sahabatnya itu ikut panik. Ia juga tak bisa berbuat banyak untuk menenangkan pikiran sahabatnya.
“Aku permisi sebentar,” ucap Yogi ketika mengetahui bahwa istrinya, Ema. Menghubungi dirinya.
Ia keluar dari ruang kerja dan menerima sambungan telepon dari istrinya itu.
“Assalamu’alaikum, iya adik ada apa?” tanya Yogi karena tak biasa menghubungi dirinya di jam kerja.
“Wa’alaikumsalam, Abang sekarang bersama Pak Abraham? Ashraf dari tadi mengunci dirinya di kamar dan terus memanggil Bundanya. Tolong beritahu Pak Abraham untuk membujuk Ashraf!” pinta Ema dari seberang telepon.
“Baik, Abang akan segera memberitahukan Abraham,” balas Yogi.
“Terima kasih, Abang. wassalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam.”
Yogi kembali memasukkan ponselnya ke dalam celana dan bergegas memberitahukan sahabatnya bahwa Ashraf mengurung diri dan terus menangis.
“Sebaiknya pulanglah! Semua pekerjaan biar aku saja yang menangani,” ucap Yogi dan kembali duduk di kursi kerjanya, “Ashraf membutuhkanmu,” imbuh Yogi.
Abraham mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sahabatnya.
“Apa Ashraf menangis?” tanya Abraham.
“Ya. Ashraf menangis dan mengurung diri di dalam kamar,” jawab Yogi.
Tanpa berpikir panjang, Abraham langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan memasukkan barang-barang lainnya ke dalam tas kerja miliknya.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Maaf merepotkan mu,” ucap Abraham dan melenggang keluar ruangan dengan begitu tergesa-gesa.
****
Ema masih mencoba untuk menenangkan Ashraf dan meminta Ashraf segera membuka pintu kamar. Akan tetapi, Ashraf terus saja menangis di dalam kamar dan enggan untuk membuka pintu kamar.
“Huhu... huhuhu... Bunda!” Ashraf menangis sambil terus memanggil Bundanya.
“Ashraf jangan nangis!” Kahfi pun mencoba membuat sahabatnya untuk segera berhenti menangis.
Disaat yang bersamaan, Abraham tiba dan tak lupa mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah Ema dan Yogi.
“Assalamu’alaikum!” Abraham mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
Ema yang mendengarnya segera bergegas keluar dan membalas salam dari sahabat suaminya itu.
“Wa’alaikumsalam, untung Pak Abraham segera datang. Ashraf dari tadi tidak mau keluar kamar,” terang Ema gelisah.
“Dimana Ashraf?” tanya Abraham.
Ema bergegas menuju kamar yang ia maksud dan Abraham membuntuti Ema dari belakang.
“Ashraf ada di dalam,” ucap Ema tepat didepan pintu kamar putra kecilnya, Kahfi.
Abraham mendekat dan mencoba memanggil putra kecilnya yang dari luar kamar terdengar suara tangisannya.
“Ashraf sayang! Ini Ayah,” ucap Abraham sambil menempelkan pipi kanannya di pintu kamar.
“Mana Bunda?” tanya Ashraf dari dalam kamar.
__ADS_1
“Kalau Ashraf di dalam kamar, mana bisa bertemu dengan Bunda?” tanya Abraham.
Ashraf cepat-cepat membuka pintu dan memeluk kaki sang Ayah.
“Sini Ayah peluk!” Abraham mengangkat tubuh putra kecilnya dan memeluk tubuh kecil Ashraf.
“Hiks... hiks... hiks.... Ayah, Bunda kemana?” tanya Ashraf sambil menangis di pelukan Ayah tercintanya.
“Ema terima kasih karena telah menjaga Ashraf, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Ema.
Kahfi ingin ikut bersama Abraham dan juga Ashraf. Akan tetapi, Ema dengan cepat mencegah putra kecilnya itu.
“Kahfi mainannya lain kali ya! Ashraf sedang sedih dan Ayahnya Ashraf mencoba menghibur Ashraf, Kahfi paham 'kan, maksud Mama?” tanya Ema dengan menggenggam erat tangan putra kecilnya.
“Baik, Mama,” balas Kahfi.
Abraham melangkahkan kakinya menuju rumah dengan tergesa-gesa, agar bisa segera menenangkan putra kecilnya itu.
“Bunda kemana? Bunda....” Ashraf menggerakkan tubuhnya berkali-kali berusaha untuk turun agar bisa mencari keberadaan Bundanya itu. Akan tetapi, tenaganya kalah dengan tenaga Ayahnya tercinta.
“Ashraf tidak boleh menangis seperti ini!” perintah Abraham yang tiba-tiba sangat tegas dengan Ashraf. Hal itu Abraham lakukan agar Ashraf tidak mudah menangis.
Ucapan Abraham benar-benar manjur, Ashraf tiba-tiba terdiam dan tak menangis lagi. Meskipun begitu, air matanya terus mengucur deras.
“Bunda sebentar lagi akan pulang, kalau Ashraf menangis terus, Bunda tidak akan mau pulang. Ashraf mau tidur sendirian?” tanya Abraham dan mendudukkan diri di sofa bersama Ashraf.
Ashraf menggelengkan kepalanya dan segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin jika Bundanya tidak pulang karena dirinya terus saja menangis.
“Apa masih mau menangis?” tanya Abraham dengan wajah serius.
Ashraf menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya kembali.
“Ashraf duduk disini dulu, Ayah akan mengambil air minum!” perintah Abraham.
Ashraf duduk diam dan sangat patuh dengan apa yang diperintahkan oleh Abraham.
“Sekarang minum dan habiskan!” pinta Abraham sambil menyerahkan segelas air minum.
Ashraf mengambil segelas air minum ditangan Abraham dan meneguknya sampai habis.
“Sini peluk Ayah!”
Ashraf pun meminta maaf karena telah menangis dan membuat ayahnya kesal. Itu semua tidak luput dari didikan Abraham dan Asyila kepada Arsyad maupun Ashraf jika melakukan kesalahan sekecil apapun, haruslah meminta maaf dan menyadari kesalahan mereka.
“Sekarang Ashraf mandi bersama Ayah!” ajak Abraham dan mengangkat tubuh putra kecilnya tinggi-tinggi.
Ashraf yang semula sedih kini bisa tertawa lepas. Setidaknya, ia bisa melupakan sejenak alasannya mengapa menangis dan mengurung diri di dalam kamar Kahfi.
****
Malam hari.
Ashraf turun dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan sang Ayah. Ia berjalan keluar kamar dan memanggil Ayah tercintanya.
“Ayah... Ayah!” Ashraf mulai menuruni anak tangga sambil berpegangan di sisi anak tangga.
Abraham yang tengah duduk di ruang tamu sembari menunggu kabar dari Dayat dan tim lainnya, bergegas menghampiri putra kecilnya, Ashraf.
“Iya sayang, ada apa? Kenapa bangun?” tanya Abraham dan menggendong tubuh kecil Ashraf.
“Bunda belum pulang ya Ayah? Ashraf mau makan,” terang Ashraf sambil menyentuh perutnya.
Abraham menepuk jidatnya sendiri karena lupa untuk memberikan putra kecilnya makanan.
“Astaghfirullah, maafkan Ayah ya nak. Ashraf mau makan apa?” tanya Abraham dan melangkahkan kakinya menuju dapur sambil terus menggendong Ashraf.
Ashraf bingung dan meminta Ayahnya untuk membuka isi kulkas.
“Mau itu!” Tunjuk Ashraf ketika melihat telur di dalam kulkas.
Abraham mengiyakan keinginan Ashraf dan meletakkan buah hatinya di kursi.
“Ashraf duduk disini ya! Ayah akan membuatkan lauk untuk kita makan,” tutur Abraham dan segera memasak makanan untuk mereka berdua.
Disisi lain.
Asyila sedang berada di pusat perbelanjaan dan tengah membeli beberapa bahan makan serta cemilan untuk suami dan buah hatinya, Ashraf. Asyila tahu bahwa dirinya sedang dinantikan oleh suami dan putra kecil mereka di rumah. Akan tetapi, Asyila enggan memberi kabar tentang keberadaan malam itu.
__ADS_1
“Berapa Mbak?” tanya Asyila.
Usai membayar biaya belanjaannya, Asyila bergegas keluar dari tempat tersebut untuk segera kembali ke rumah.
“Nona Asyila! Nona Asyila!”
Asyila mengernyitkan keningnya dan terlihat sedikit kebingungan karena samar-samar ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
“Nona Asyila!”
Lagi-lagi suara itu terdengar dan perlahan suara itu makin mendekat ke arah Asyila.
“Nona Asyila!”
Asyila segera berbalik dan ternyata ia mengenali siapa orang yang terus memanggil namanya.
“Pak Dayat,” ucap Asyila dengan kepala setengah mengangguk.
Dayat menghela napasnya yang berantakan karena terus berlari ke arah istri dari sahabatnya itu.
“Nona Asyila kemana saja?” tanya Dayat dan bersiap-siap untuk menghubungi sahabatnya, Abraham.
Asyila dengan cepat mencegah Dayat untuk menghubungi suaminya. Bagaimanapun, Asyila ingin bahwa dirinyalah yang menjelaskan alasannya kenapa tak pulang. Lebih baik Asyila menceritakannya sendiri daripada harus orang lain yang menceritakannya kepada sang suami.
“Tolong jangan hubungi Mas Abraham, saya akan memberitahukan semua kepada Mas Abraham,” ucap Asyila.
Dayat berpikir sejenak dan akhirnya setuju dengan keinginan Asyila. Bagaimanapun, itu adalah urusan rumah tangga mereka dan Dayat tidak mungkin ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
“Kalau begitu saya pamit pulang, Mas Abraham dan Ashraf pasti telah menunggu saya. Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Dayat.
Asyila melangkahkan kakinya dengan begitu tergesa-gesa, ia khawatir jika Dayat melanggar ucapannya untuk tidak memberitahukan dirinya yang telah ditemukan.
*****
Asyila telah tiba dengan motor suaminya, tak ingin buang-buang waktu, Asyila segera mengetuk pintu rumah.
“Assalamu’alaikum! Mas Abraham, Ashraf!” Asyila mengetuk pintu dan terus memanggil suami serta buah hati mereka.
Abraham yang tengah berada di ruang keluarga segera berlari ketika mendengar suara wanita pujaannya.
“Ya Allah, Syila!” Abraham yang baru saja membuka pintu, langsung menarik tubuh Asyila seketika itu juga ke dalam pelukannya. Abraham yang awalnya kelihatan tegar kini telah menangis.
Abraham tak dapat menahan rasa sedih sekaligus terharu karena istri kecilnya telah kembali dan dalam keadaan selamat.
“Syila dari mana saja?” tanya Abraham dengan terus memeluk erat tubuh istri kecilnya itu.
“Maafkan Asyila, Mas. Asyila sebenarnya diculik,” jelas Asyila.
Abraham terkejut dan segera mengajak istri kecilnya masuk ke dalam. Sesampainya di dalam rumah, Abraham langsung menggendong tubuh istri kecilnya untuk segera pergi ke kamar mereka. Namun sebelum bergegas menuju kamar, Abraham terlebih dulu mengunci pintu rumah dan akhirnya membawa Asyila ke dalam kamar.
Setelah berada di dalam kamar, Abraham segera melepaskan hijab sang istri dan mulai memeriksa apakah tubuh sang istri ada yang terluka atau tidak.
“Mas tidak perlu khawatir, Asyila tidak apa-apa dan orang yang menculik Asyila sama sekali tidak menyakiti ataupun mendekati Asyila dengan mudahnya,” jelas Asyila.
“Benarkah? Coba ceritakan bagaimana Syila bisa diculik dan beritahu dimana lokasi mereka! Mas akan membuat pelajaran kepada mereka,” ucap Abraham dengan tatapan penuh kemarahan.
Asyila menceritakan bagaimana ia dan lainnya selamat. Tentu saja, Asyila menceritakan tentang kerjasama mereka dalam mengalahkan orang-orang yang tidak berperikemanusiaan itu. Akan tetapi, Asyila tidak menceritakan tentang keahlian beladiri yang ia miliki.
Jika saja Abraham sampai tahu alasan Asyila diculik karena unsur kesengajaan dari Asyila yang ingin diculik, sudah pasti Abraham akan marah besar kepadanya. Dan Asyila tidak ingin hal itu terjadi sehingga ia tidak bisa lagi menggunakan keahliannya itu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Akan ada saatnya Abraham tahu tentang keahlian Asyila, tapi tidak untuk dalam waktu dekat. Karena Asyila masih ingin mengasah kemampuan dan keahliannya itu.
“Apakah Syila tahu apa yang paling Mas takutnya? Mas paling takut jika Asyila kenapa-kenapa dan menghilang dari pandangan Mas,” ucap Abraham dan kembali memeluk tubuh sang istri.
“Mas tidak perlu takut, Allah pasti akan menjaga Asyila. Lagipula, mereka sudah tidak bisa mengganggu Asyila,” jelas Asyila.
“Berjanjilah jangan keluar tanpa sepengetahuan Mas!” pinta Abraham agar sang istri membuat janji kepadanya.
“Ashraf kemana, Mas?” tanya Asyila mengalihkan pembicaraan.
“Ashraf ada dikamar sebelah,” jawab Abraham.
“Mas, kita lanjutkan nanti ya mengobrol nya. Asyila harus mandi karena tubuh Asyila bau keringat,” ucap Asyila dan segera menyambar handuk miliknya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Abraham merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari sang istri. Akan tetapi, Abraham tidak ingin bertanya lebih dalam lagi. Toh, jika waktunya tiba sang istri pasti akan memberitahukan alasan yang sebenarnya.
“Karena Syila sedang mandi, sebaiknya aku menyiapkan pakaiannya,” ucap Abraham dan bergegas mengambil pakaian ganti untuk sang istri.
__ADS_1
Abraham sangat mencintai istri kecilnya itu, setiap detik yang ia pikirkan adalah istri kecilnya. Barulah ia memikirkan kedua putra kecilnya, bukannya Abraham egois. Akan tetapi, Asyila lah yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna dan kedua putra kecilnya adalah warna-warna itu.
Abraham 💖 Asyila