Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akhirnya Asyila Kecil Ditemukan


__ADS_3

Fahmi, Temmy dan juga Yeni sedang berada di masjid meminta kesembuhan untuk Dyah yang kondisinya semakin menurun.


Cukup lama mereka berada di masjid, sampai akhirnya ponsel milik Fahmi berbunyi dan ternyata itu adalah Abraham.


Abraham meminta Fahmi untuk berada di sisi Dyah saat itu juga. Tanpa pikir panjang, Fahmi langsung beranjak dan bergegas menuju ruangan istrinya.


“Tunggu kami, Fahmi!” pinta Yeni.


Mereka bertiga pun bersama-sama menuju ruangan Dyah.


Setibanya di ruangan tersebut, Fahmi berserta kedua mertuanya hanya melihat Dyah seorang yang masih tak sadarkan diri.


Tiba-tiba Abraham mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam.


Ternyata, tidak hanya Abraham saja yang datang.


Tetapi, bayi mungil yang tengah digendong oleh Abraham.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham.


Mereka bertiga seketika itu menoleh, “Wa'alaikumsalam.”


Fahmi, Temmy dan Yeni terperangah melihat Abraham tengah menggendong makhluk kecil.


Mereka bertiga tertegun dan terlihat seperti patung.


“Kenapa diam saja? Ini Asyila kecil kita telah kembali,” terang Abraham.


“Allahu Akbar,” ucap Fahmi dan bersujud kepada Allah karena telah mengembalikan putri kecilnya.


Temmy dan Yeni masih terlihat tak percaya, keduanya masih sangat terkejut dengan bayi mungil dihadapan keduanya.


“Oek... Oek...” Bayi itu menangis dan membuatnya Kakek serta Neneknya cepat-cepat menghampiri Asyila kecil.


Dengan sangat hati-hati, Yeni mengambil alih menggendong cucunya.


“Ya Allah, ternyata benar ini adalah cucu kami, Asyila,” tutur Yeni dengan sangat bahagia.


Fahmi mendekati Abraham dan memeluk tubuh pria yang telah menemukan serta membawa buah hatinya kembali.


“Paman, terima kasih. Seumur hidup, Fahmi akan berhutang kepada Paman,” ucap Fahmi dan menangis sambil terus memeluk Abraham.


Abraham pun tak bisa menyembunyikan air matanya, ia ikut menangis terharu karena telah berhasil menyatukan Asyila kecil dengan keluarganya.


“Ba-bagaimana kamu bisa menemukan Asyila, Abraham?” tanya Temmy.


Tanpa basa-basi, Abraham menceritakan secara detail bagaimana ia dan rekan lainnya menemukan Asyila kecil.


Saat tiba di panti asuhan, banyak sekali drama yang harus dihadapi oleh Abraham.


Pengurus panti serta pemilik panti awalnya menolak kedatangan Abraham. Bahkan, setelah mengetahui mengenai Asyila kecil, pengurus panti serta pemilik panti tidak ingin memberikan Asyila kecil karena sudah menganggap Asyila kecil seperti putri mereka, wajahnya yang menggemaskan membuat siapapun yang melihatnya ingin sekali memiliki.

__ADS_1


Sampai akhirnya, mereka setuju menyerahkan Asyila kecil ke dalam gendongan Abraham.


Fahmi, Temmy serta Yeni sangat berterima kepada Abraham dan kepada para sahabatnya.


“Oek... Oek... Oek...” Asyila kecil kembali menangis dan terlihat wajahnya semakin memerah.


Yeni bergeser menjauh para pria dan mencoba menenangkan cucu kesayangannya.


“Asyila cucu Nenek, jangan nangis ya. Sekarang Asyila aman disini,” ucap Yeni mencoba menenangkan Asyila kecil.


Perlahan tangisan bayi itu mengecil dan akhirnya kembali tertidur.


Mulutnya yang kecil terus saja bergerak, seakan-akan tengah meminum sesuatu.


Abraham sebenarnya ingin terus berada di rumah sakit bersama dengan yang lainnya.


Akan tetapi, ia tidak bisa berlama-lama karena ada sesuatu hal yang sangat penting dan mungkin hal penting tersebut bisa mengejutkan semua orang.


“Maaf semuanya, aku harus pergi sekarang,” ucap Abraham.


“Kamu mau kemana? Tetaplah disini!” pinta Temmy.


“Aku masih ada urusan yang sangat penting, setelah urusanku beres, aku akan segera kemari. Permisi, assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka bertiga.


Abraham tak langsung pulang ke rumah, ia ingin sekali-kali menikmati segelas es teh manis di kantin rumah sakit.


“Bu, saya pesan es teh manis 1,” ucap Abraham.


“Itu saja,” jawab Abraham.


Tak sampai 2 menit, es teh manis pesanan Abraham tiba.


Abraham meminumnya dengan sangat cepat dan bergegas menuju area parkir tempat dimana sopir pribadinya, tengah menunggunya.


“Kapan kamu sampai?” tanya Abraham pada Eko.


“Kurang lebih 10 menit yang lalu,” jawab Eko.


“Ayo pulang!” perintah Abraham agar Eko segera pulang ke perumahan Absyil.


“Baik, Tuan Muda Abraham!” seru Eko dan dengan senyum lebarnya ia masuk ke dalam mobil.


Beberapa hari kemudian.


Dyah masih saja berbaring di ranjang tanpa berniat untuk bangun. Fahmi serta kedua orang tua Dyah berharap besar untuk kesembuhan Dyah.


Kepala Yeni tiba-tiba pusing, karena tidak ingin cucunya kenapa-kenapa, Yeni pun meletakkan bayi mungil itu disebelah kanan Dyah.


“Lala sayang, Nenek duduk dulu ya,” ucap Yeni dan duduk sambil meluruskan tubuhnya di lantai yang sebelumnya telah beralaskan matras.

__ADS_1


Perlu diketahui, Yeni memberikan panggilan kesayangan kepada Asyila kecil dengan sebutan ”Lala” bisa dikatakan panggilan itu sangat spesial untuk seorang Nenek kepada cucunya.


Baru saja diletakkan, bayi mungil itu tiba-tiba menangis.


“Oek... Oek... Oek...”


Yeni mengatur napasnya dan mencoba untuk bangkit.


Dan kejadian menakjubkan pun terjadi.


“Masya Allah, Allahu Akbar,” ucap Yeni ketika melihat kedua mata Dyah terbuka. Yeni bahkan mengabaikan tangisan cucunya.


Yeni berlari mencari dokter yang menangani putrinya. Yeni benar-benar sangat senang, hingga siapapun yang melihatnya sudah pasti bisa menebak bahwa saat itu Yeni sedang mendapatkan hal yang begitu membahagiakan.


“Dokter, putri saya sudah sadar. Tolong cepat ke ruangannya!” pinta Yeni.


Dokter itu terkesiap dan bergegas untuk memeriksa keadaan Dyah.


Sesampainya di ruang rawat Dyah, Yeni serta dokter tersebut terperangah melihat Dyah yang sudah menggendong putri kesayangannya.


Dengan bibir pucat, sepucat mayat. Dyah tersenyum pada bayinya.


“Mama tahu kalau Asyila pasti akan kembali ke pelukan Mama. Maafkan Mama ya sayang, Mama tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi,” tutur Dyah yang sama sekali tak sadar jika ada Yeni dan juga dokter wanita yang tengah berdiri sembari memperhatikan dirinya.


Dyah terus tersenyum dan ia pun baru menyadari bahwa Yeni dan seorang dokter tengah memperhatikannya.


“Sayang,” ucap Yeni sambil menghampiri putrinya dan menciumi kening Dyah berulang kali.


“Ma, Dyah tidak sedang mimpi, bukan?” tanya Dyah dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak, sayang. Ini benar-benar nyata dan sekarang Lala sudah bersama dengan kita,” terang Yeni.


“Hiks.. hiks... Dyah sangat bahagia Ma. Dyah tidak akan membiarkan hal seperti kemarin terjadi kepada Asyila, Dyah tidak mau Ma,” ucap Dyah yang sangat takut kehilangan putrinya kembali.


“Tidak akan lagi sayang, tidak akan. Pamanmu akan memastikan bahwa kalian aman,” balas Yeni berusaha meyakinkan Dyah untuk tak lagi khawatir.


Dokter wanita itu mendekat dan dengan suara yang begitu lembut, ia meminta Dyah untuk memberikan Asyila kecil kepada Yeni. Kemudian, memeriksa keadaan Dyah yang secara ajaib terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Dok, apa saya harus keluar?” tanya Yeni bersiap-siap untuk keluar.


“Tidak perlu, lagipula saya hanya sebentar,” jawabnya.


Beberapa menit kemudian.


Dokter wanita itu tersenyum dan mengatakan bahwa kondisi Dyah tiba-tiba memiliki kemajuan yang sangat pesat. Mungkin, kondisi Dyah yang memburuk karena sangat merindukan serta mengkhawatirkan kondisi putrinya, Asyila.


Setelah memberitahukan kondisi Dyah, dokter itu pun bergegas pergi meninggalkan ruangan.


“Ma, Paman kemana?” tanya Dyah yang masih terlihat lemas.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Pamanmu seperti itu. Pamanmu mungkin sedang beristirahat dirumahnya, setelah kejadian yang menimpa keluarga kamu, terutama hilangnya Lala,” terang Yeni.

__ADS_1


“Lala? maksud Mama, Lala itu adalah Asyila?” tanya Dyah memastikan karena sebelumnya ia tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan oleh Yeni.


”Iya sayang, Lala itu adalah Asyila. Bisa dikatakan panggilan Mama ke putrimu adalah panggilan kesayangan,” jawab Yeni.


__ADS_2