
Asyila mengangguk kecil pada suaminya dan kembali fokus menonton kartun bersama dengan Bela.
Bela merasa sangat beruntung karena Asyila maupun Abraham begitu sayang terhadapnya, bahkan menemaninya menonton acara kartun.
“Bela, besok ada guru yang akan datang kemari. Bela semangat ya belajarnya biar lancar membaca dan juga menghitung,” ucap Asyila pada Bela.
“Bela pasti semangat, Aunty. Terima kasih sudah memberikan Bela segalanya yang sebelumnya tak pernah Bela dapatkan,” terang Bela.
“Bela sayang, kami melakukan ini juga karena kami sangat sayang dengan Bela. Yang terpenting Bela mau belajar, itu saja sudah cukup untuk kami,” ujar Asyila sembari merangkul lengan Bela.
Dyah dan Fahmi datang menyusul Bela di ruang keluarga yang ternyata sudah ada Aunty serta Paman kesayangannya.
“Aunty dan Paman sudah lama disini?” tanya Dyah sambil mendaratkan bokongnya di salah sofa sofa.
“Tidak terlalu lama,” jawab Abraham, sementara Asyila hanya memberikan senyum manisnya.
Dyah dan Fahmi yang baru saja duduk, samar-samar mendengar suara tangisan bayi mereka. Merekapun beranjak dari duduk dan kompak berlari kecil menuju kamar untuk melihat putri kecil mereka yang tengah menangis.
Beberapa saat kemudian.
Karena hari sudah malam, Abraham dan Asyila memutuskan untuk segera tidur. Mereka berdua bersama-sama melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamar tidur mereka.
“Tidak terasa sudah jam 10 malam ya, Mas. Haduh, mata Asyila rasanya ingin cepat-cepat tidur,” terang Asyila sambil berjalan masuk menuju kamar mandi.
Saat Asyila sedang berada di dalam kamar mandi, Abraham memutuskan untuk merapikan tepat tidur dan tak lupa menyapu bersih seprai kasur agar terhindar dari debu-debu sekaligus mengusir jauh makhluk-makhluk yang tak terlihat seperti yang biasa dilakukan oleh Rasulullah ketika akan tidur.
Asyila keluar dari kamar mandi dengan tatapan berseri-seri.
“Terima kasih, Mas Abraham,” ucap Asyila karena telah membersihkan serta merapikan tempat tidur mereka.
“Kembali kasih, istriku sayang. Mas ke kamar mandi dulu ya, mau wudhu. Syila sudah wudhu?” tanya Abraham.
“Tentu saja, sudah!” seru Asyila sambil menggantung hijab miliknya di sebuah besi kecil.
Asyila berjalan menuju tempat tidur dan menoleh sekilas ke arah bayi mungilnya yang tengah terlelap.
“Masya Allah, ini tempat tidur nyaman sekali,” ucap Asyila sambil menggeliat dan tak lupa membaca surah-surah pendek sebelum tidur.
Beberapa menit kemudian.
Abraham keluar dari kamar mandi sambil menyentuh perutnya yang agak sakit, ia pun menoleh ke arah istri kecilnya yang rupanya sudah terlelap tanpa menunggu dirinya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“Syila pasti sangat mengantuk, makanya tidur lebih dulu,” tutur Abraham dengan perasaan sedikit sedih karena ditinggal istri kecilnya tidur duluan.
Keesokan paginya.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Asyila kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia terlihat sangat serius dengan kain dihadapannya dan saat itu juga Bela maupun Dyah memilih untuk bersantai di ruang keluarga agar Asyila lebih fokus lagi dengan pekerjaannya itu.
“Bela, mau sarapan apa?” tanya Dyah pada gadis kecil yang duduk tepat disampingnya.
“Apa saja, Kak Bela,” jawab Bela yang dari dulu tak pernah memilih menu makanan, apa yang disediakan di meja makan pasti dilahap oleh Bela.
“Bela pintar sekali,” puji Dyah sambil membelai lembut rambut Bela.
Karena Asyila masih sibuk dengan jahitannya, Dyah pun mengajak Bela untuk memasak bersama di dapur.
“Ayo kita Kak Dyah ke dapur!” ajak Dyah sambil menggandeng tangan Bela.
Sesampainya di dapur, Dyah langsung membuka kulkas untuk melihat apa saja yang bisa di masak.
“Kak Dyah, ini yang masak siapa?” tanya Bela karena ternyata meja makan sudah dipenuhi oleh hidangan.
Dyah tertegun sejenak dan tak butuh waktu lama, Dyah tahu bahwa Aunty-nya lah yang telah memasak.
“Ini pasti Aunty yang memasak, ya sudah ayo nonton televisi saja. Kita hanya tinggal menunggu Paman Abraham dan Mas Fahmi,” terang Dyah dan tak jadi memasak karena Aunty-nya telah lebih dulu memasak hidangan sarapan.
Mereka berdua mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham dan Fahmi serempak.
Salam Keduanya tak dibalas oleh Asyila, Dyah ataupun Bela.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham dan Fahmi sekali lagi.
Dyah terkesiap dan saat itu juga berlari kecil untuk membalas salam dari Paman serta suaminya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Dyah.
“Istri Paman kemana?” tanya Abraham pada Dyah.
Samar-samar Abraham mendengar suara mesin jahit istri kecilnya, Abraham pun tahu bahwa istri kecilnya sedang menjahit.
“Tidak perlu dijawab, Paman sudah tahu dimana Aunty mu,” terang Abraham.
__ADS_1
Abraham melangkah menuju ruang kerja istrinya, akan tetapi Abraham tak langsung masuk. Ia justru memperhatikan sejenak wajah Sang istri yang sangat serius dengan jahitannya.
Asyila berhenti sejenak dan menyegarkan tenggorokannya dengan jus alpukat yang beberapa saat lalu sengaja ia buat untuk menambah semangat dalam menjahit pakaian.
“Tinggal sedikit lagi, jahitan ku akan siap,” tutur Asyila bermonolog.
Saat Asyila melirik ke pintu, Asyila terkejut mendapati suaminya yang tengah berdiri sambil memperhatikan dirinya. Asyila pun terkesiap dan berlari kecil menghampiri suaminya.
“Mas kapan pulang? Kenapa Asyila tidak dengar?” tanya Asyila dan mencium punggung tangan suaminya.
“Sekitar 3 menit yang lalu,” jawab Abraham dan mencium kening Istri kecilnya.
“Maaf ya Mas, Asyila terlalu fokus menjahit,” tutur Asyila merasa bersalah.
“Iya, tidak apa-apa. Asyila lanjutkan saja menjahitnya, bukankah tinggal sedikit lagi?”
“Mas tunggu Asyila ya!” pinta Asyila agar suaminya mau menunggu dirinya yang sedang menjahit.
“Tentu saja, Mas akan menunggu Asyila sampai selesai,” balas Abraham.
Asyila kembali melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya Asyila sedikit gugup karena terus dipandangi oleh suaminya. Akan tetapi, sebisa mungkin Asyila menunjukkan ketenangannya.
20 menit kemudian.
Jahitan Asyila akhirnya selesai, Asyila dengan bangga menunjukkan hasil jahitannya kepada Sang suami.
“Mas, pokoknya Mas Abraham harus jawab jujur dengan hasil jahitan Asyila. Dari 1-10 nomor berapa yang cocok untuk pakaian muslimah ini?” tanya Asyila penasaran.
Abraham memperhatikan secara detail jahitan istri kecilnya yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya.
“Nyaris mendekati sempurna,” jawab Abraham dengan sangat jujur.
“Alhamdulillah, Asyila berharap pakaian hasil jahitan Asyila bisa diterima oleh masyarakat luas,” tutur Asyila penuh harap.
“Syila tidak perlu khawatir, apapun yang Asyila jual insya Allah akan laris serta berkah,” sahut Abraham.
Asyila menangis terharu mendengar perkataan suaminya.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih yang tak henti-hentinya mendukung apapun yang Asyila lakukan,” ucap Asyila dengan sangat bahagia.
“Ini masih sangat pagi, Syila dilarang untuk menangis,” tutur Asyila sembari menyeka air mata istri kecilnya, “Ayo kita sarapan bersama!” ajak Abraham.
__ADS_1
“Sebelum sarapan, Mas Abraham harus berganti pakaian dulu. Ayo, Asyila pilihkan pakaian untuk Mas Abraham!”