
Hampir satu jam lamanya kedua pasangan suami istri membuat istana pasir. Sampai-sampai Ashraf dan Kahfi bosan karena menunggu orang tua mereka menyelesaikan pembuatan istana pasir pantai.
“Yuk main lagi!” ajak Ashraf.
Kedua bocah kecil itu akhirnya kembali melanjutkan pembuatan istana pasir pantai merupakan dan mengabaikan kedua orang tua mereka.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” ucap Asyila dengan begitu senangnya.
“Ashraf dan Kahfi kemari!” panggil Abraham.
Ashraf dan Kahfi mengiyakan panggilan dari Abraham.
Ema memanyunkan bibirnya dan menatap kesal pada suaminya.
“Sekarang istana pasir Ayah dan Bunda telah jadi, tolong kalian beritahu siapa yang menang!” pinta Abraham.
Tanpa pikir panjang, Ashraf dan Kahfi kompak menunjuk ke arah istana pasir yang dibuat oleh Abraham dan Asyila.
”Alhamdulillah!” Abraham dan Asyila terkesiap, mereka saling berpelukan dengan sangat gembira karena telah memenangkan lomba membuat istana pasir.
“Abang kurang cepat,” ledek Ema.
***
Karena matahari sudah mulai meninggi, merekapun memutuskan untuk kembali ke penginapan. Mereka sangat senang akhirnya bisa menikmati pemandangan dipinggir pantai, meskipun belum sempat terjun ke air asin tersebut.
“Ayah, Bunda! Besok mandi di pantai ya!” pinta Ashraf.
“Sayang, kita lihat besok ya! Ayah dan Bunda tidak bisa janji,” sahut Abraham.
“Baik, ayah,” jawab Ashraf.
Sesampainya di penginapan, Ashraf langsung dimandikan oleh Asyila karena setengah tubuh Ashraf dipenuhi oleh pasir. Begitupun dengan Abraham dan juga Asyila yang akan mandi setelah putra kecil mereka dimandikan.
“Bunda, kapan Kak Arsyad pulang?” tanya Ashraf yang terlihat merindukan kakaknya.
“Kalau sudah waktunya, Kak Arsyad akan pulang, sayang. Sekarang Ashraf mandi ya!”
Asyila mulai memandikan buah hatinya, sementara Abraham memilih untuk duduk dilantai dekat pintu kamar mandi.
“Mas ngapain duduk disitu?” tanya Asyila.
“Mas hanya ingin duduk disini,” jawab Abraham santai.
Usai memandikan Ashraf, Asyila cepat-cepat mengenakan pakaian untuk Ashraf agar tidak kedinginan.
“Bunda, Ashraf bobok sama Kahfi ya!” pinta Ashraf.
“Boleh!” seru Abraham dengan penuh semangat.
Asyila langsung memanyunkan bibirnya mendengar seruan dari suaminya yang begitu semangat.
“Sekarang sudah ganteng kesayangan Bunda,” puji Asyila.
”Siapa dulu Ayahnya!” seru Abraham.
Asyila menoleh sekilas dan memasang wajah cemberutnya.
Abraham tertawa kecil melihat reaksi istri kecilnya yang begitu menggemaskan.
“Masih ada waktu untuk sholat Dhuha, kalau begitu Mas mandi dulu,” tutur Abraham yang tak bisa mengajak istri kecilnya mandi bersama. Dikarenakan, masih ada buah hati mereka yang terlihat seperti tengah memantau kedua orangtuanya.
Didalam kamar mandi, Abraham teringat akan janjinya untuk mewawancarai pria yang dicurigai oleh Abraham dan Asyila.
Abraham berharap bahwa dugaannya dan istri kecilnya benar.
“Mas, apakah masih lama?” tanya Asyila yang tiba-tiba merasakan sakit di perutnya.
“Sebentar lagi istriku!” seru Abraham dari dalam kamar mandi.
Ashraf yang telah wangi meminta izin kepada Bundanya ke kamar Kahfi. Asyila pun mengiyakan dan dengan cepat, Ashraf berlari menuju kamar Kahfi yang letaknya bersebelahan.
Beberapa menit kemudian.
Abraham keluar dari kamar mandi dan bergegas mengenakan pakaiannya.
“Hati-hati Syila,” tutur Abraham ketika melihat istri kecilnya tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Asyila mengiyakan dari kamar mandi, perutnya benar-benar sakit.
Abraham yang telah mengenakan pakaiannya, langsung melebarkan sajadah miliknya dan milik sang istri. Mereka berdua akan melaksanakan sholat Dhuha berjamaah.
“Alhamdulillah,” ucap Asyila setelah keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
“Jangan menggoda Mas seperti itu, sekarang pakailah pakaian!”
Asyila terkekeh geli dan segera mengenakan pakaiannya.
Sholat sunah Dhuha pun berlangsung, usai melaksanakan sholat mereka berdua pun memutuskan untuk membaca ayat suci Al-Quran.
Seperti biasa, Abraham akan menyimak dan mengoreksi bacaan istri kecilnya dengan begitu serius.
Sore hari.
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Abraham akhirnya tiba, sore itu ia telah bersiap-siap untuk melakukan wawancara yang sebenarnya adalah Abraham ingin melihat-lihat isi dalam rumah pria yang bernama Arif.
“Mas, apakah Mas yakin pergi seorang diri? Bolehkah Asyila ikut Mas?”
Abraham menyentuh kedua pipi istri kecilnya dengan tatapan serius.
“Syila sebaiknya diam disini, akan sangat berbahaya kalau Asyila ikut,” jawab Abraham.
“Apakah karena Asyila seorang wanita? Apakah karena menurut pria wanita adalah makhluk yang lemah dan hanya menjadi beban untuk kaum pria?” Asyila nampak sangat sedih dengan jawaban dari suaminya.
“Ini bukan masalah menjadi beban atau lemah, istriku. Syila terlalu berharga dan Mas tidak ingin istri Mas ini kenapa-kenapa, tolong mengertilah!” pinta Abraham dan mendekap erat tubuh Asyila.
Asyila menangis karena suaminya benar-benar tak mengizinkannya untuk ikut. Dengan kemampuannya, Asyila yakin bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri.
“Sudah jangan menangis, Mas janji akan segera pulang begitu urusan Mas selesai.”
Asyila mengiyakan, menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
”Kalau begitu, Mas pergi dulu. Assalamu'alaikum!”
”Wa’alaikumsalam.”
Asyila memperhatikan suaminya dari jendela kamar, tentu saja Asyila tidak tinggal diam. Ia pun memutuskan untuk membuntuti suaminya dari belakang dan berharap suaminya tidak mengetahui dirinya.
“Asyila tidak bisa berdiam diri disini, Mas. Asyila akan menyusul Mas,” ucap Asyila dengan penuh tekad yang kuat.
Abraham pergi dengan berjalan kaki, jarak dari penginapan menuju kediaman Arif sekitar 15 menit jika berjalan kaki.
Dari kejauhan, tampak Arif yang telah menunggu dengan motornya. Rupanya Arif tidak sabaran untuk segera diwawancarai atau mungkin Arif tidak sabaran untuk mendapatkan uang sebesar 10 juta.
“Ayo naik!” ajak Arif penuh semangat.
“Saya tidak mengira kalau Pak Arif menyusul saya,” ucap Abraham sambil menaiki motor.
“Ah, Pak Abraham jangan sungkan-sungkan begitu. Perjalanan ke rumah saya 'kan, tidak terlalu dekat,” ucap Arif dan segera mengendarai motornya menuju kediamannya.
Sesampai dikediaman Arif, Abraham sedikit terkejut melihat tiga orang wanita berdiri tepat didepan pintu.
“Kalian sedang apa berdiri disitu, cepat bawa masuk motor ini!” perintah Arif yang terlihat sangat kasar dengan ketiga wanita itu.
Abraham mengernyitkan dahinya sambil terus memperhatikan Arif yang terlihat suka memerintah.
“Kalian sudah menyiapkan makanan?” tanya Arif.
“Sudah,” jawab mereka dengan takut-takut.
Arif mempersilakan Abraham masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sebelum memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka kecuali, Arif yang diam saja.
Abraham kini penasaran dengan pria yang duduk dihadapannya. Abraham ingin lebih mengenalnya pria yang bernama Arif.
“Apakah mereka....”
Belum sempat Abraham bertanya, Arif langsung memotong ucapan Abraham.
“Mereka bertiga adalah istri saya,” jawab Arif dan tertawa lepas seakan-akan hal seperti itu adalah kebanggaan untuknya.
Abraham mengepal tangannya kuat-kuat, ia terlihat tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Arif.
__ADS_1
Tiba-tiba, mata Abraham menangkap sesosok wanita difoto yang sama persis wajahnya dengan wanita yang dibunuh.
Benar, foto itu adalah foto dari korban pembunuhan. Berarti, pria ini mengenalnya.
Arif permisi sebentar untuk pergi ke kamar mandi, Abraham pun mengiyakan dan berpura-pura menyibukkan diri dengan buku yang sengaja ia bawa. Setelah Arif pergi, Abraham langsung menanyakan ke-tiga wanita yang berdiri tak jauh darinya tentang sosok wanita di foto itu.
“Itu istri keempat Mas Arif,” jawab salah satu dari mereka.
Abraham terkejut mendengar jawaban tersebut.
Astaghfirullah...
Arif cepat-cepat mendaratkan bokongnya di kursi dan dengan senyum lebarnya.
“Apakah Pak Abraham sudah makan? Ayo makan sama saya!” ajak Arif.
Abraham ingin sekali menolak ajakan Arif, akan tetapi, Abraham tidak bisa menolak karena akan mempersulit dirinya sendiri untuk mengetahui lebih banyak lagi dari sosok Arif.
“Baiklah, maaf kalau boleh tahu ini siapa anda?” tanya Abraham.
Arif menoleh ke arah foto yang ditunjuk oleh Abraham dan tertawa terbahak-bahak.
“Itu pembantu saya,” jawab Arif.
“Sekarang dimana?” tanya Abraham.
Arif terlihat tak senang dengan pertanyaan Abraham, ia pun mengatakan bahwa pembantunya itu telah pulang kampung sebulan yang lalu.
Jelas-jelas wanita difoto itu adalah istrinya. Sebulan? Ck... Yang benar saja.
Abraham tak tahan dan langsung menendang kaki Arif, hingga Arif jatuh seketika itu juga.
“Apa yang kamu lakukan!” Arif berteriak tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Abraham kepadanya.
Abraham menarik kerah baju Arif dan memukul bagian kepala Arif dengan cukup kuat. Sehingga, Arif pun pingsan tak sadarkan diri.
Ketiga istri Arif berteriak ketakutan dan dengan cepat Abraham menjelaskan niatnya. Abraham pun bertanya kepada ketiga tentang istri keempat Arif.
“Nama gadis malang itu adalah Lia. Seminggu yang lalu, Lia meminta Arif untuk menceraikannya karena Lia sudah tak tahan dengan perlakuan suami kami. Sebenarnya, Lia baru menikah dengan suami kami sekitar 2 bulan dan selama 2 bulan itu Lia tidak boleh ke luar dari rumah. Sehingga, tetangga sekitar tidak pernah mengetahui bahwa Mas Arif memiliki istri empat,” ucap si istri pertama yang terlihat sangat kurus dibandingkan dua istri yang lainnya.
Si istri pertama menangis dan tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Kemudian, wanita yang bernama Mela akhirnya buka suara.
“Lia terus mendapatkan siksaan karena tak ingin melayani suami kami, sebenarnya tidak hanya Lia saja, kami pun hampir setiap hari mendapatkan siksaan,” ucap Mela istri kedua Arif.
“Kenapa kalian tidak mencoba melapor?” tanya Abraham.
“Ka-kami sebenarnya sangat ingin, tapi kami tidak tahu harus melapor ke mana. Kami tidak tahu jalan untuk keluar dari sini, meskipun ada kami tidak memiliki uang untuk pulang ke kampung halaman kami,” terang Mela.
“Memangnya kalian semua bukan orang sini?” tanya Abraham.
“Bukan, Mbak Yuni adalah asli orang Jawa tengah, saya sendiri asli orang Jawa timur, Mbak Heni asli orang Padang dan Lia asli orang Aceh,” ucapnya.
“Apakah kalian tahu bahwa wanita yang bernama Lia sudah meninggal karena dibunuh?” tanya Abraham.
Ketiga terkejut dan sangat ketakutan. Mereka tidak pernah menyangka jika Lia telah meninggal dunia karena dibunuh.
“Apakah Tuan yakin? Mas Arif mengatakan bahwa Lia sedang kerja di Jakarta,” tutur Mela dengan sangat ketakutan.
“Sudah dapat dipastikan, bahwa Pak Arif lah yang telah membunuh Lia. Kalau begitu, saya minta tolong kepada kalian untuk mengikat Pak Arif. Sementara saya, akan menggeledah tempat ini untuk mencari bukti yang kuat. Setelah kalian mengikatnya, pergilah ke penginapan mawar dan carilah pria yang bernama Yogi serta jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Yogi. Sahabat saya pasti akan membantu kalian,” jelas Abraham.
Ketiganya mengucapkan terima kasih berkali-kali karena kebaikan dan keberanian Abraham. Mereka berpikir bahwa Abraham adalah malaikat yang dikirim oleh Allah untuk membantu mereka.
“Cepat! Kalian tidak punya banyak waktu,” ucap Abraham agar mereka bergegas mengikat Arif yang tengah pingsan tak sadarkan diri.
Abraham berlari kecil untuk masuk lebih dalam lagi, matanya pun tertuju pada sebuah kamar dan tanpa pikir panjang Abraham masuk ke dalam.
“Ternyata ini adalah gudang, kalau begitu buktinya pasti disini,” ucap Abraham dan mulai mencari bukti.
Ketiganya dengan takut-takut mengikat suami mereka yang benar-benar sangat kejam. Bagaimana bisa, seorang suami membunuh istrinya sendiri.
Apakah menyiksa keempat istrinya tidaklah cukup? Sampai-sampai harus membunuhnya dengan begitu kejam.
“Mas Arif jahat!” teriak Mela dan menampar pipi suaminya berulang kali.
Tidak hanya Mela yang menampar wajah Arif. Yuni dan Heni pun memukul bagian lainnya dengan begitu keras. Mereka sangat membenci Arif yang begitu kejam. Anggaplah kemarahan mereka adalah hal yang memang dari dulu mereka lakukan untuk membalas perlakuan kejam suaminya itu.
__ADS_1
Abraham 💖 Asyila
Lanjut? Jangan lupa like dan komen