
Siang hari.
Ashraf memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah belajar dari pagi sampai siang hari.
“Sudah selesai sayang belajarnya?” tanya Asyila pada Ashraf yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Belum, Bunda. Habis sholat Dzuhur dan makan siang, Ashraf mau belajar lagi biar bisa lulus tes,” jawab Ashraf dan naik ke tempat tidur orangtuanya.
“Semangat ya sayang, Ayah dan Bunda hanya bisa membantu Ashraf lewat Do'a,” ujar Asyila sembari membelai lembut rambut Ashraf.
“Terima kasih, Bunda. Oya, Ayah mana Bunda?” tanya Ashraf yang menyadari bahwa Ayahnya tidak berada di dalam kamar.
“Ayah sedang ada urusan di kantor. Sebentar lagi Ayah pulang,” jawab Asyila dengan suara selembut mungkin pada Ashraf.
Ashraf memejamkan matanya sementara Asyila terus membelai rambut Ashraf, hingga akhirnya Ashraf terlelap.
“Masih ada 45 menit sebelum sholat Dzuhur, sebaiknya biarkan Ashraf beristirahat,” tutur Asyila lirih dan memutuskan untuk keluar dari kamar bersama dengan bayi Akbar agar Ashraf bisa tidur nyenyak.
Akbar tersenyum ke arah Bundanya yang tengah menggendong dirinya. Kemudian, menarik hijab yang dikenakan Bundanya itu.
“Akbar sayang, tidak boleh menarik hijab Bunda!” pinta Asyila.
Akbar memejamkan matanya dan melepaskan hijab yang sebelumnya ia tarik.
“Anak pintar, jangan nakal ya,” tutur Asyila. Lalu, mengecup lembut pipi Ashraf.
Akbar tertawa lepas dan membuat Asyila semakin gemas untuk menciumi pipi buah hatinya berulang kali.
Mendengar suara tawa Akbar, Dyah cepat-cepat menghampiri adiknya itu.
“Masya Allah, suara tawanya Ashraf benar-benar mengemaskan. Aunty, sini biar Dyah yang menggendong adik Akbar!” pinta Dyah yang ingin sekali menggendong buah hati dari pasangan Abraham dan Asyila.
Asyila tersenyum dan memberikan bayi Akbar pada Dyah. Akan tetapi, bayi Akbar langsung menolak dengan cara menangis.
“Maaf, Dyah. Sepertinya Akbar menolak untuk digendong kamu,” ucap Asyila.
“Akbar, Kak Dyah yang cantik begini masak tidak mau? Mau ya!” pinta Dyah mencoba menggendong Akbar.
Lagi-lagi Akbar menangis dan tangisannya kali ini begitu keras.
Dyah bahkan sampai terkejut mendengar tangisan penolakan dari adiknya itu.
Saat Dyah akan berbalik menuju ruang keluarga, tiba-tiba putri kecilnya berjalan menuju ke arahnya.
“Asyila cari Mama ya?” tanya Dyah dan menggandeng tangan putri kecilnya menuju ruang keluarga.
Asyila gemas melihat putri kecil Dyah yang sudah pandai berjalan.
“Sebentar lagi kesayangannya Bunda pandai berjalan, aaahh... Rasanya baru kemarin Bunda melahirkan Akbar,” tutur Asyila sembari berjalan menuju ruang keluarga.
Arumi yang saat itu tengah duduk, langsung meminta Asyila membawa cucu mungilnya ke dalam pangkuannya. Asyila mengiyakan dan memberikan bayi Akbar kepada Arumi.
“Aunty, kok adik Akbar mau sama Nenek Arumi?” tanya Dyah dengan ekspresi terheran-heran.
“Aunty juga tidak tahu, tidak biasanya Akbar pemilih seperti ini,” jawab Asyila apa adanya.
Akbar terlihat nyaman berada di pangkuan Neneknya. Sementara Arumi, begitu senang karena bisa dekat dengan cucu ke-empatnya.
“Asyila, Nak Abraham belum pulang?” tanya Arumi penasaran.
“Kalau itu, Asyila juga tidak tahu. Mungkin, saat ini Mas Abraham sedang dalam perjalanan pulang,” jawab Asyila.
“Lalu, dimana Ashraf? Dari tadi Ibu tidak melihatnya,” tutur Arumi menanyakan Ashraf.
“Ashraf sedang tidur di dalam kamar, Ibu. Dari pagi sampai beberapa menit yang lalu, Ashraf berada di kamarnya,” balas Asyila.
“Ngapain dia di dalam kamar lama-lama?” tanya Arumi penasaran.
“Belajar buat persiapan tes masuk pondok pesantren, Ibu,” ungkap Asyila.
“Masya Allah, semoga saja Ashraf bisa lolos dan akhirnya masuk ke pondok pesantren yang dia inginkan,” sahut Arumi.
__ADS_1
“Aamiiin!” seru Asyila, Dyah, Fahmi, Bela, Arumi dan juga Herwan secara serempak.
Disaat yang bersamaan, Abraham sedang dalam perjalanan pulang.
Abraham tersenyum tipis sembari membayangkan wajah menggemaskan istri kecilnya, ketika Abraham menoleh ke arah luar mobil, Abraham melihat rambutan yang terlihat sangat segar.
“Eko, kita putar arah!” perintah Abraham.
“Baik, Tuan Abraham. Kita mau kemana?” tanya Eko.
“Lihatlah disebelah sana, aku ingin membeli buah rambutan untuk orang rumah,” terang Abraham.
“Ok, siap Tuanku!” seru Eko yang begitu bersemangat.
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya berhenti tepat di depan penjual buah rambutan.
“Eko, kamu turunlah dan borong semua rambutan itu!” perintah Abraham.
Eko tak banyak bertanya, ia mengiyakan dan mengambil uang tunai yang diberikan oleh Abraham untuk membayar buah rambutan yang di borong tersebut.
“Beli berapa kilo, Pak?” tanya penjual buah rambutan tersebut.
“Semuanya, Pak,” jawab Eko.
“Ya Allah! Bapak yakin?” tanya penjual buah rambutan yang terlihat tak percaya pada pria dihadapan yang ingin memborong buah rambutan yang ia jual.
Abraham turun dari mobil dan menegaskan bahwa mereka memborong buah rambutan tersebut.
“Alhamdulillah,” ucap pria tua itu dengan penuh syukur.
Eko tersenyum dan membuka pintu belakang mobil agar buah rambutan tersebut segera dimasukkan ke dalam mobil.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, Eko pun menyerahkan uang tunai tersebut.
“Pak, ini uangnya kelebihan 100 ribu,” ucap pria tua itu sembari menyerahkan uang tersebut kepada Eko.
“Tidak, itu memang untuk bapak,” balas Eko.
Abraham mendekat dan memberikan beberapa lembar uang kertas kepada bapak penjual buah rambutan tersebut.
Penjual rambutan itu begitu senang dan cepat-cepat mengendarai motor bututnya untuk segera membeli kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya di rumah.
1 jam kemudian.
Mobil pun perlahan memasuki area halaman rumah.
“Selamat siang, Tuan Abraham!” Pak Udin tersenyum menyapa Abraham yang baru saja tiba.
“Selamat siang juga Pak Udin! Pak Udin sudah makan siang?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, sudah Tuan Abraham. Nona Asyila sendiri yang mengantarkan makanan untuk saya,” jawab Pak Udin.
“Pak Udin, nanti masuk ke dalam ya! Kita makan rambutan bersama!” ajak Abraham.
“Alhamdulillah, Baik Tuan Abraham!” seru Pak Udin.
Abraham melenggang menuju teras depan rumah dan mengucapkan salam.
“Assalamu'alaikum,” ucap Abraham.
Herwan yang mendengar salam tersebut, bergegas menuju ruang depan.
“Wa’alaikumsalam, sudah pulang ternyata Nak Abraham,” sahut Herwan.
Abraham mengangguk kecil sembari mencium punggung tangan Ayah mertuanya.
Asyila tengah berada di dalam kamar bersama Ashraf dan juga Akbar.
“Bunda, kalau yang ini jawabannya apa?” tanya Ashraf meminta jawaban dari Bundanya.
“Kalau yang ini artinya sapi betina,” jawab Asyila.
__ADS_1
“Oh, jadi artinya sapi betina. Terima kasih Bunda,” sahut Ashraf yang memang sedang serius belajar.
Abraham masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.
Ashraf dan Asyila seketika itu menoleh ke arah pintu.
“Ayah!” Ashraf begitu gembira melihat Ayahnya. “Horeee, Ayah sudah pulang,” imbuh Ashraf dan mencium punggung tangan Sang Ayah tercinta.
“Iya sayang, Alhamdulillah Ayah sudah pulang,” sahut Abraham.
Asyila jalan mendekat ke arah suaminya dan mencium punggung tangan pria yang teramat sangat Asyila cintai.
“Bagaimana urusan di kantor, Mas?” tanya Asyila sembari membantu suaminya melepaskan dasi serta jas kerja milik suaminya.
“Alhamdulillah, semuanya lancar,” jawab Abraham dan memilih bersantai sejenak di sofa.
“Mas mau makan siang sekarang atau nanti?” tanya Asyila.
“Sebentar lagi,” jawab Abraham dan mencium sekilas kening Istri kecilnya tanpa dilihat oleh Ashraf yang saat itu kembali fokus dengan buku milik Sang Kakak, Arsyad Mahesa.
Beberapa saat kemudian.
Abraham telah selesai makan siang ditemani oleh istri kecilnya. Setelah itu, Abraham memerintahkan kepada Eko untuk mengeluarkan semua rambutan yang telah dibeli dan membawa masuk ke ruang keluarga agar di makan bersama keluarga serta para karyawati yang bekerja.
Asyila, Arumi, Ashraf, serta yang lainnya terkejut melihat buah rambutnya yang begitu banyak.
“Ayah, kenapa rambutannya banyak sekali?” tanya Ashraf terheran-heran.
“Hari ini kita akan pesta Rambutan,” jawab Abraham. “Ashraf, tolong panggilkan Mbok Num dan semuanya yang berada di dapur serta di gerai muslimah untuk segera datang ke ruang keluarga!” pinta Abraham pada Ashraf.
Ashraf dengan semangat mengiyakan dan berlari secepat mungkin untuk memberitahukan kepada yang lain agar segera berkumpul di ruang keluarga.
“Bela, tolong panggilkan Kahfi dan orangtuanya untuk datang kesini sekarang ya!” pinta Abraham pada Bela.
“Baik, Paman,” jawab Bela dan bergegas pergi ke rumah keluarga kecil Yogi untuk memberitahukan bahwa Abraham meminta mereka segera berkumpul di rumah.
Tak butuh waktu lama, ruang keluarga pun sudah ramai.
“Semuanya, hari ini makanlah buah rambutan secukupnya. Dan kalau ingin membawa pulang, bawa pulanglah karena memang ini rambutan untuk dibagi-bagi. Jadi, tunggu apalagi? Silakan dinikmati,” ujar Abraham.
Mereka bersorak kegirangan dan langsung menikmati buah rambutan tersebut.
Ema sangat senang, ia bisa menikmati rambutan yang sangat diinginkannya itu.
Ternyata, tidak hanya Ema, Yogi dan Kahfi saja yang datang. Akan tetapi, Mami dari Ema dan Ibu dari Yogi juga datang untuk menikmati buah rambutan tersebut.
Asyila tersenyum bahagia dan mengambil gambar untuk dijadikan kenang-kenangan suatu hari nanti.
“Dyah! Lihat sini!” Asyila memotret Dyah yang tengah memegang segerombol buah rambutan.
“Bunda, Ashraf juga mau!” pinta Ashraf yang ingin difoto oleh Bundanya.
Cekrek! Cekrek! Cekrek! Asyila dengan semangat mengambil gambar setiap orang yang tengah menikmati buah rambutan.
Dyah bangkit untuk menghampiri Aunty-nya yang tengah sibuk mengambil gambar.
“Aunty, sekarang biarkan Dyah yang mengambil gambar. Aunty duduklah berdekatan dengan Paman, kalau bisa gayanya yang romantis ya!” pinta Dyah dan mengambil kamera di tangan Aunty-nya.
Asyila tersenyum malu-malu dan berjalan mendekat ke arah Sang suami.
“Aunty, lebih mesra lagi posenya!” pinta Dyah yang bersiap-siap untuk memotret sepasang suami istri itu.
Abraham tersenyum dan merangkul pinggang Sang istri. Kemudian, ia mencium pipi istri kecilnya itu.
Cekrek! Cekrek!”
Asyila terkejut karena suaminya tiba-tiba mencium pipinya.
“Ya ampun, so sweet sekali,” puji Dyah ketika melihat hasil jepretan. “Aahhh... Dyah bahkan malu untuk melihatnya,” imbuh Dyah.
Asyila memanyunkan bibirnya dan memukul lengan suaminya.
__ADS_1
“Tak tahu malu,” ucap Asyila dengan berbisik di telinga suaminya.
Abraham tertawa puas melihat ekspresi wajah istri kecilnya dan ucapan Sang istri yang membuat istri kecilnya itu semakin menggemaskan.