
Satu tahun kemudian.
Tak terasa satu tahun telah berlalu dengan sangat cepat. Dan dalam satu tahun itu banyak hal yang telah berubah.
Abraham pun sudah sangat sehat dan kembali beraktivitas di kantornya, sementara Asyila sudah disibukkan dengan usaha barunya yaitu, usaha pakaian muslim di rumah.
Jualan Asyila cukup laris, tidak hanya offline Asyila juga menjualnya lewat online.
Kebanyakan yang membeli pakaian-pakaian muslimah Asyila adalah Ibu-ibu pengajian.
Asyila berjualan tidak hanya seorang diri, ada Ema dan juga Dyah yang ikut membantunya dalam berjualan.
“Aunty, Ibu Sisil yang kemarin pesan pakaian muslimah model terbaru kita, sekarang pesan lain sebanyak 2 lusin,” ucap Dyah kegirangan sambil menunjukkan pesan dari Ibu Sisil yang ingin kembali memesan pakaian muslim sebanyak 2 lusin.
“Alhamdulillah!” Asyila dan lainnya mengucap syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka.
“Ibu Sisil ingin mengambilnya hari apa, Dyah?” tanya Asyila.
“Sebentar, Dyah tanyakan dulu pada Bu Sisil,” balas Dyah dan segera menghubungi Ibu Sisil.
Dyah sedikit menjauh dari Ema dan Asyila agar fokusnya tidak buyar.
Asyila dan Ema dari kejauhan terus saja memperhatikan Dyah yang saat itu tengah berbadan dua.
“Bagaimana?” tanya Ema pada Dyah yang telah selesai berkomunikasi dengan Bu Sisil.
“Ibu Sisil akan mengambil pesanannya besok lusa,” jawab Dyah.
Asyila sekali lagi mengucapkan syukur, ia memeluk tubuh Ema dan Dyah secara bergantian.
“Terima kasih, untuk kalian berdua. Terima kasih atas kerja sama kita yang luar biasa ini,” ucap Asyila.
“Aku dan Dyah yang seharusnya berterima kasih, berkat kamu kami bisa mendapat penghasilan tambahan tanpa perlu menunggu uang dari suami,” terang Ema sambil tertawa kecil.
“Kalau boleh jujur, Dyah sangat senang berada disini. Padahal, Mas Fahmi juga memiliki usaha sendiri, tapi Dyah malah sering menghabiskan makanan yang di jual Mas Fahmi,” ucap Dyah yang sangat sebal dengan dirinya sendiri yang suka sekali makan. Sampai-sampai tubuh Dyah yang sekarang seperti donat raksasa.
“Ya mau bagaimana lagi, suamimu memang harus menerimamu apa adanya seperti ini,” balas Asyila sambil menyentuh pipi tembam Dyah.
“Yang lucunya lagi, Dyah saat ini tengah mengandung dengan usia buah hati yang baru 4 bulan. Akan tetapi, perutnya terlihat seperti hamil 9 bulan,” terang Ema dan tertawa lepas.
Dyah memanyunkan bibirnya sambil melemparkan bantal ke arah wajah Ema.
“Sssuutt, tidak boleh berbicara seperti itu, Ema,” ucap Asyila mengingatkan Ema untuk tidak berbicara sembarangan.
“Iya deh, aku minta maaf ya Dyah. Maaf telah membuatmu tersinggung,” terang Ema meminta maaf dengan tulus.
__ADS_1
Dyah sama sekali tak marah dengan apa yang dikatakan oleh Ema, bagaimanapun ia gemuk karena buah hati yang tengah dikandungnya.
Disaat yang bersamaan, Abraham datang dengan membawa kantong plastik berisi buah-buahan yang cukup banyak.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham.
Asyila terkesiap dan berlari kecil menghampiri suaminya.
“Wa’alaikumsalam, Suamiku!” seru Asyila dan tanpa ragu malu memeluk tubuh suaminya yang baru saja tiba.
Ema dan Dyah seketika itu iri dengan pasangan yang selalu saja menunjukkan keromantisan mereka.
“Haduh, Abang Yogi kenapa belum pulang? Aku juga mau deh seperti mereka berdua,” ucap Ema lirih dan bisa didengar oleh Dyah.
“Aku pun mau,” sahut Dyah.
Asyila melepaskan pelukannya dan membawa suaminya masuk ke dalam kamar. Sementara Dyah dan Ema kembali fokus dengan ponsel mereka untuk kembali memposting foto-foto pakaian muslim di sosial media mereka.
Di dalam kamar, Asyila membantu suaminya melepaskan kemeja. Di rumah itu, mereka hanya tinggal berdua saja. Dikarenakan, Arsyad memilih untuk melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren. Sementara Ashraf, memilih untuk tinggal di Jakarta bersama dengan Kakek serta Neneknya.
“Sore ini istri Mas yang cantik terlihat bahagia, Mas jadi penasaran,” ucap Abraham sambil memainkan bibir manis istrinya dengan jemari tangannya.
“Hari ini, jualan pakaian, hijab dan baju Koko laris manis. Terima kasih atas dukungan Mas selama ini,” terang Asyila.
“Alhamdulillah, sukses terus istriku. Apapun itu, Suamimu akan selalu mendukungmu,” balas Abraham dan mencium sekilas kening Asyila.
“Mas mau mandi dulu, kemungkinan nanti malam akan kembali ke kantor,” ucap Abraham.
Asyila seketika itu terlihat murung, dikarenakan hampir seminggu ini suaminya terus saja lembur dan jarang berada di rumah.
“Mas lembur lagi?” tanya Asyila yang terdengar begitu sedih.
“Maafkan Mas ya Syila, urusan kantor akhir-akhir sangat banyak dan Mas harus menanganinya secara langsung,” jawab Abraham apa adanya sambil menyentuh kedua bahu istri kecilnya agar tidak sedih.
Asyila menghela napasnya dan memeluk tubuh suaminya yang tengah bertelanjang dada.
“Ya mau bagaimana lagi? Asyila hanya ingin mengatakan, kalau Asyila rindu tidur di dekapan Mas. Ketika Asyila ingin tidur, biasanya Mas lebih dulu membelai rambut Asyila dan mengucapkan kata-kata manis. Tapi sekarang, Asyila harus tidur sendiri dan akan bangun ketika sudah jam 2 atau jam 3 pagi. Itu pun ketika Mas Abraham pulang,” keluh Asyila.
Abraham mencubit gemas hidung mancung Asyila dengan penuh cinta.
“Mas janji, besok tidak akan lembur dan Mas akan memeluk Asyila sepanjang malam.”
“Yang benar?”
“Tentu saja, sekarang Mas harus mandi dan setelah itu kita makan bersama!”
__ADS_1
Asyila mengiyakan dan mempersilakan suaminya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Astaghfirullahaladzim, aku sampai lupa kalau dibawah ada Ema dan Dyah,” ucap Asyila bermonolog dan berlari kecil untuk menemui keduanya.
Disaat yang bersamaan, Dyah dan Ema sedang menikmati buah segar yang dibeli oleh Abraham.
“Aunty, maafkan kami karena telah lebih dulu menikmati buah-buahan ini. Habisnya, buah-buahan ini terlihat sangat nikmat untuk dimakan,” ucap Dyah dan kembali mengunyah mangga manis tersebut.
Asyila sama sekali tidak marah, justru ia sangat senang jika keduanya menikmati buah-buahan itu.
“Makanlah yang cukup, habis itu kamu siap-siap karena Fahmi sebentar lagi datang,” ucap Asyila yang hafal dengan waktu kedatangan Fahmi.
Mata Dyah terbelalak lebar, ia dengan cepat menghabiskan mangga di mulutnya dan cepat-cepat membersihkan tangan serta mulutnya yang terasa lengket.
“Dyah hati-hati, kamu sedang hamil,” ucap Asyila sambil berlari kecil menyusul Dyah yang tengah berlari menuju wastafel.
Asyila sudah seperti Ibu yang menjaga putrinya, setiap tindakan Dyah selalu membuat Asyila olahraga jantung. Ada-ada saja yang Dyah perbuat dan itu juga yang membuat Asyila harus ekstra hati-hati dalam menjaga Dyah.
“Tin...tin!” Suara klakson mobil Fahmi.
“Ya ampun, itu Mas Fahmi sudah datang. Bagaimana tampilan Dyah sekarang, Aunty? Tidak terlihat berantakan 'kan?” tanya Dyah sambil merapikan pakaiannya agar terlihat cantik dihadapan suaminya.
Asyila tertawa geli dan menjelaskan bahwa Dyah sudah sangat cantik.
“Assalamu’alaikum,” ucap Fahmi yang kedatangannya tentu saja untuk menyusul istrinya, Dyah.
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!”
Fahmi dengan sangat sopan masuk ke dalam rumah dan mendaratkan bokongnya di sofa.
“Mas Fahmi dari cabang yang mana?” tanya Dyah mengenai kepergian Suaminya.
“Cabang yang ke empat, kenapa memangnya?” tanya Fahmi balik.
“Tidak apa-apa, hanya tanya saja,” jawab Dyah berpura-pura cuek.
Asyila geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakan suaminya yang terlihat jual mahal.
“Maaf semuanya, aku langsung pulang ya. Besok aku akan kemari lagi, Wassalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka.
Ema seketika itu pulang ke rumahnya yang bersebelahan tepat di samping rumah sebelah Asyila.
Fahmi pun pamit dan bergegas membawa istrinya kembali ke rumah yang tentu saja masih satu perumahan.
__ADS_1
“Sekarang tinggal aku sendiri, sebaiknya langsung tutup toko dan bergegas menyiapkan Mas Abraham makan,” ucap Asyila bermonolog.