Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Layaknya Dokter Dan Pasien


__ADS_3

Asyila yang sedang bersandar di bahu suaminya tiba-tiba merasa mual. Ia meminta Pak Eko turun menghentikan laju mobil dan setelah mobil berhenti, perlahan Asyila turun dengan dibantu oleh Sang suami tercinta.


Asyila mengeluarkan isi perutnya dengan sangat lemas. Sampai Abraham tak tega melihat istri kecilnya sakit seperti itu.


“Syila masih kuat? Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah,” tutur Abraham.


“Asyila coba bertahan ya Mas. Ayo bantu Asyila masuk ke dalam mobil,” pinta Asyila.


Abraham mengiyakan dan kembali membantu istri kecilnya masuk ke dalam mobil.


Setibanya di perumahan Absyil, Eko cepat-cepat membuka pintu mobil dan berlari untuk mengetuk pintu rumah agar segera dibuka.


“Assalamu’alaikum, Mbok Num!” panggil Eko dengan terus mengetuk-ngetuk pintu agar segera dibukakan dari dalam.


Tak butuh waktu lama, Mbok Num datang dan membuka pintu.


“Wa’alaikumsalam, ya Allah...” Mbok Num terkejut ketika melihat Asyila yang sudah digendong oleh Abraham dengan wajah memucat.


Abraham dengan perlahan masuk ke dalam rumah dan melangkah lebar-lebar menuju kamar mereka.


Selang beberapa menit, Dyah dan Fahmi tiba. Mereka cepat-cepat masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi Asyila secara langsung karena sebelumnya wajah Aunty tidak terlalu terlihat, sebab tertutup oleh jaket milik Abraham.


“Mbok Num, Paman dan Aunty apakah sudah di dalam kamar?” tanya Dyah.


“Alhamdulillah, sudah Mbak Dyah,” jawab Mbok Num.


“Syukurlah. Lalu, dimana Adik Akbar?” tanya Dyah.


“Mas Akbar kebetulan ada di kamar Mbok dan sedang tidur,” jawabnya.


“Kenapa tidak ditaruh dikamar Paman dan Aunty saja, Mbok?”


Mbok Num dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Saya tidak berani, Mbak Dyah. Terlebih lagi, Tuan Abraham dan Nona Asyila tidak ada di rumah,” jawabnya.


“Baiklah, Dyah mengerti maksud Mbok Num. Kalau begitu, Dyah akan membawa adik Akbar ke kamar orangtuanya,” terang Dyah.


Dyah berlari kecil menuju kamar yang telah ditempati oleh Mbok Num dan dengan hati-hati membawa adiknya menuju kamar Paman serta Aunty kesayangan Dyah.


“Tok!! Tok!!!” Dyah mengetuk pintu kamar orang tua bayi Akbar dengan perlahan.


Abraham saat itu tak bertanya dan langsung membukakan pintu.


“Paman, boleh Dyah masuk sekalian menaruh adik Akbar di ranjang bayi?” tanya Dyah dengan sangat lirih.


“Silakan,” balas Abraham mempersilakan keponakannya untuk masuk ke dalam kamar.


Dyah berjalan dengan langkah pelan dan dengan hati-hati meletakkan bayi mungil tersebut ke ranjang bayi. Setelah itu, Dyah memutuskan untuk mendekat ke arah Aunty-nya yang tengah memejamkan mata.


“Aunty sudah tidur ya?” tanya Dyah lirih.


Saat itu juga Asyila membuka matanya.


“Aunty belum tidur, Dyah. Hanya saja, kepala Aunty sangat pusing makanya Aunty mu ini memejamkan mata,” terang Asyila.


Dyah pun menyadari bahwa bagian kepala Asyila tertutup kain kasa seperti orang yang baru saja dijahit.

__ADS_1


“Paman, itu kepala Aunty kenapa dan kenapa wajah Aunty membiru? Astaghfirullahaladzim, ini tangan Aunty juga lebam-lebam, sebenarnya Aunty kenapa?” tanya Dyah panik dan telah mengucurkan air mata melihat kondisi Aunty kesayangannya.


“Dyah, jangan nangis. Aku tidak apa-apa,” sahut Asyila yang tidak ingin membuat Dyah bersedih.


“Kamu sebaiknya tidur, istri Paman saat ini butuh banyak istirahat. Kamu do'akan saja semoga Istri Paman, Aunty kesayangan mu ini cepat sembuh!” pinta Abraham.


Dyah menyeka air matanya dengan terus menganggukkan kepalanya berulang kali.


Kemudian, Dyah pamit keluar dari kamar itu dengan tatapan sayu.


“Dyah kenapa menangis?” tanya Fahmi memergoki istrinya tengah menangis tersedu-sedu.


Dyah tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia memeluk dan menangis sejadi-jadinya dipelukan suaminya.


Fahmi mencoba menenangkan istrinya dengan cara membelai lembut punggung istrinya, Dyah.


“Mas, Aunty Asyila kasihan sekali. Sepertinya ada yang telah melakukan kekerasan terhadap Aunty, Dyah tidak tega melihatnya,” ungkap Dyah yang memang sangat sayang dengan Aunty-nya, sehingga melihat Aunty-nya dengan kondisi seperti itu, Dyah menjadi sangat sedih.


“Kita ke kamar dulu ya Dyah, tidak baik kalau menangis disini,” balas Fahmi mengajak istrinya untuk segera masuk ke dalam kamar agar tak mengganggu tidur yang lainnya.


Di dalam kamar, Asyila meminta suaminya untuk membantunya bersandar di kepala ranjang dan setelah itu, Asyila meminta Sang suami tercinta untuk membawa bayi mereka ke dalam pangkuan Asyila untuk disusui.


Melihat kondisi istri kecilnya yang cukup parah, Abraham menolak permintaan istrinya itu. Akan tetapi, Asyila terus saja memaksa sampai akhirnya Abraham mengiyakan walaupun dengan terpaksa.


“Kesayangan Bunda,” ucap Asyila dengan sangat lirih pada bayi mungilnya yang sudah berada di gendongannya, itu juga dibantu oleh suaminya karena Asyila belum sepenuhnya kuat untuk menggendong bayi mungil mereka.


Asyila perlahan menyusui bayi mungilnya dengan dibantu oleh Sang suami tercinta yang sangat perhatian dengan kondisi istri kecilnya yang sedang tidak baik-baik saja.


Sekitar 5 menit kemudian, Asyila meminta suaminya untuk kembali meletakkan bayi mereka ke ranjang bayi.


Setelah itu, Abraham membantu Sang istri untuk mengganti pakaian agar mempermudah Asyila untuk bergerak.


“Maaf ya Mas, Asyila sekarang menyusahkan Mas Abraham,” tutur Asyila.


“Kenapa Asyila bicara seperti itu? Mas tidak suka. Karena apa yang Mas lakukan sama sekali tidak membuat Mas repot, sekarang Asyila cukup diam karena Mas ingin mengganti pakaian Asyila,” tegas Abraham.


Asyila tersenyum tipis dengan tatapan sayu.


“Setelah ganti pakaian, Asyila harus makan dan setelah itu Mas akan mengoleskan salep ke wajah serta tangan Asyila yang lebam,” ujar Abraham.


“Terima kasih, Mas,” balas Asyila dan berusaha untuk tidak menangis terharu karena apa yang dilakukan oleh Sang suami tercinta.


Malam itu Abraham benar-benar memfokuskan perhatiannya kepada Asyila. Abraham rela tak tidur semalaman untuk memastikan istri kecilnya tidur nyaman.


Di dalam hatinya, Abraham terus menyalahkan keteledoran dirinya yang menyebabkan Sang istri terluka. Abraham juga tak akan membiarkan siapapun yang terlibat dalam penculikan istri kecilnya bebas begitu saja.


Asyila sama sekali tak bisa tidur nyenyak, ia berulang kali bangun tidur bangun tidur karena seluruh tubuhnya merasakan sakit yang cukup membuat Asyila sulit tidur.


“Syila kenapa? Apakah merasa lapar?” tanya Abraham dengan tatapan penuh cinta.


“Mas kenapa tidak tidur? Asyila sama sekali tidak lapar. Bukankah tadi Mas sudah menyuapi makanan pada Asyila?” tanya Asyila.


“Kalau tidak lapar, apakah Asyila ingin ke kamar mandi? Ayo, biar Mas yang antar!”


“Tidak, Mas. Asyila hanya sulit tidur. Bolehkah Asyila meminta satu hal kepada Mas?”


“Asyila meminta apa dari Mas?” tanya Abraham penasaran.

__ADS_1


“Mas, tolong lantunkan sholawat nabi,” jawab Asyila.


Abraham tersenyum dan dengan suara merdunya ia melantunkan sholawat nabi sesuai permintaan istri kecilnya.


Asyila tersenyum sembari mengkhawatirkan lantunan sholawat dari Sang suami tercinta.


Sekitar 30 menit kemudian, Asyila perlahan memejamkan matanya sementara Abraham terus bersholawat berharap kesembuhan untuk istri kecilnya.


Keesokan paginya.


Abraham tersenyum lebar ke arah istri kecilnya sembari mengelap tubuh istri kecilnya dengan air hangat karena Asyila tidak ingin mandi. Abraham melakukan semuanya seorang diri dan sama sekali tidak ingin dibantu oleh Dyah ataupun Mbok Num dalam merawat istri kecilnya.


“Mas..” ucap Asyila dengan sangat lirih.


“Iya Syila, ada apa?” tanya Abraham yang langsung mendekat ke arah wajah istri kecilnya.


“Mas tidak perlu melakukan ini semua,” tutur Asyila yang sebenarnya tidak ingin merepotkan suaminya yang terus menjaga dirinya serta merawat dirinya layaknya seorang dokter yang merawat pasiennya.


“Asyila kenapa terus berkata seperti itu? Anggap saja Mas ini dokter dan Asyila pasiennya,” ujar Abraham.


Asyila tertawa kecil mendengar ucapan dari suaminya yang malah main peran layaknya dokter dan pasien.


“Syila kenapa tertawa?” tanya Abraham yang sangat senang melihat raut wajah istri kecilnya.


“Mas lucu, makanya Asyila tertawa,” jawab Asyila.


“Alhamdulillah,” sahut Abraham mendengar jawaban dari istri kecilnya yang mengatakan bahwa dirinya lucu.


“Oek... Oek... Oek...” Tiba-tiba bayi Akbar bangun dan menangis sekencang-kencangnya.


Abraham terkesiap dan berlari kecil untuk menenangkan bayi mungil mereka.


“Iya sayang, ini Ayah. Akbar sayang jangan menangis lagi,” tutur Abraham dengan terus menimang-nimang bayi mungil mereka.


“Mas, sini bawa Akbar kepangkuan Asyila. Mungkin Akbar ingin minum susu,” tutur Asyila meminta suaminya untuk segera membawa bayi mereka ke dalam pangkuannya.


Abraham mengiyakan dan membantu istri kecilnya untuk menyusui bayi mungil mereka.


“Benar, 'kan? Bayi kita itu haus Mas,” tutur Asyila yang tengah menyusui bayi mungil mereka.


“Syila sekarang lagi sakit, Syila juga butuh minum obat. Sebaiknya, kita beri Akbar susu formula saja,” ucap Abraham memberi saran.


Saran dari Abraham seketika itu ditolak oleh Asyila. Bahkan, Asyila tak ingin minum obat agar ASI untuk bayi mungilnya tak tercampur oleh obat yang ia minum.


“Syila tidak boleh seperti itu, bagaimanapun Syila harus tetap minum obat. Asyila menurut ya!” pinta Abraham.


“Iya, Mas. Akan tetapi, jangan beri bayi kita susu formula ya,” ucap Asyila dengan tatapan penuh harap.


“Iya, Syila sayang. Bayi kita tetap minum ASI dan bukan susu formula,” terang Abraham.


Asyila mengucap syukur dengan senyum manisnya. Walaupun, bibir Asyila saat ini masih terlihat memucat.


“Sebentar lagi kita sarapan, Mas akan menyuapi makanan pada Asyila,” tutur Abraham.


“Terima kasih, dokter Abraham.”


“Sama-sama pasienku yang paling cantik,” sahut Abraham.

__ADS_1


__ADS_2