Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ikhlas


__ADS_3

Dyah tersenyum lebar sambil terus melangkahkan kakinya ke arah calon suaminya, Fahmi. Pria dihadapannya sore itu terlihat sangat tampan, apalagi jaket yang dikenakan oleh Fahmi bukan jaket yang biasa ia kenakan.


“Tumben,” celetuk Dyah malu-malu.


“Kenapa? Tidak cocok ya dengan usia Mas?” tanya Fahmi yang terlihat kecewa dengan perubahannya.


“Kok malah berpikiran seperti itu? Tentu saja Mas Fahmi sangat cocok mengenakan jaket Levis seperti ini, terlihat lebih tampan dan modis,” jawab Dyah.


“Kamu ini bisa saja, ayo naik! Kalau tidak pulang sekarang, takutnya hujan.”


***


Dyah turun dari motor dan Fahmi bergegas kembali ke perumahan Absyil, senyum Dyah tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia.


“Jadi begini ya rasanya memiliki seseorang yang dicintai, sekarang aku bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Oh ya ampun, kenapa jadi tidak sabar ingin menikah,” ucap Dyah bermonolog sambil membayangkan dirinya dan juga Fahmi menikah.


Dyah senyum-senyum sendiri ketika membayangkan dirinya dan Fahmi telah menikah. Sampai akhirnya, Yeni datang mengagetkan Dyah.


“Dor!” teriak Yeni sambil memukul bahu putri kesayangannya.


“Mama kenapa suka sekali membuat Dyah terkejut? Bagaimana jika Dyah mati muda?”


“Cuma begitu saja sampai bawa-bawa mati segala. Hmmm, lagipula kamu kenapa sore-sore begini malah melamun? Oya, dimana calon menantu Mama?” tanya Yeni sambil mengedarkan pandangannya untuk menemukan keberadaan calon menantunya itu.


“Habis mengantarkan Dyah, Mas Fahmi langsung pulang,” jawab Dyah.


Yeni mengangguk kecil dan merangkul pundak putrinya untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Papa kemana, Ma?” tanya Dyah karena tak melihat Papanya tersayang.


“Papa kebetulan sedang pergi, menghadiri acara pernikahan teman kerjanya.”


”Kok tumben Mama tidak ikut? Biasanya Mama yang paling semangat kalau urusan makan gratis.”


“Enak saja makan gratis, tetap bayar sayang,” celetuk Yeni.


“Iya Mama sayang,” balas Dyah.


“Mungkin Papamu sampai ke rumah malam.”


“Malam? Memangnya jauh ya Ma?”


“Lumayan. Sudahlah jangan bahas Papamu lagi, sekarang kamu mandi yang bersih. Setelah itu, kita makan bersama!”

__ADS_1


“Ok Mamaku yang cantik!” seru Dyah dan berlari kecil menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri.


Di dalam kamar, Dyah tak langsung membersihkan diri. Ia justru merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.


“Rasanya aku ingin selalu berada di dalam kamarku ini,” tutur Dyah dan berguling-guling di kasurnya.


“Dyah! Cepat mandi!” perintah Yeni dari luar pintu kamar.


Dyah terkesiap dan akhirnya bergegas membersihkan diri.


Malam hari.


Gadis itu mengernyitkan keningnya ketika baru saja membaca pesan dari Kevin yang isinya adalah Kevin senang melihat Dyah bahagia dan ikhlas jika Dyah ternyata bukan jodohnya.


“Kamu ekspresi wajah kamu seperti itu sayang?” tanya Yeni penasaran.


“Tidak ada apa-apa, Ma. Ma, Dyah masuk ke kamar dulu ya.”


“Iya sayang, tapi jangan lama-lama ya!”


“Iya Mama.”


Ketika Dyah tengah berjalan menuju kamarnya, Kevin tiba-tiba menghubungi dirinya. Tanpa berpikir panjang, Dyah langsung menerima sambungan telepon dari sahabatnya.


“Assalamu'alaikum,” ucap Kevin.


“Wa'alaikumsalam, ada apa Kevin?” tanya Dyah sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Kevin tidak langsung menjawab pertanyaan Dyah, pria muda itu malah menghela napasnya dan semakin membuat Dyah bingung harus menanggapi Kevin bagaimana lagi.


“Sebelumnya aku berpikir bahwa suatu saat kamu akan menerima perasaanku. Akan tetapi, aku sekarang sadar bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Maaf karena telah membuatmu tak nyaman dengan perasaanku ini.”


Dyah menggigit bibirnya sendiri, ia bingung harus membalas ucapan Kevin dengan kata-kata seperti apa. Dyah tidak bisa merangkai kata-kata bijak, karena itu ia memilih untuk diam dan mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh Kevin.


“Aku sudah ikhlas, Dyah. Selamat atas hubunganmu dengan pria itu,” ucap Kevin yang masih belum sanggup jika harus menyebutkan nama pria yang telah mengalahkan dirinya dalam urusan asmara.


“Namanya Mas Fahmi, Kevin,” jelas Dyah.


“Ya, aku tahu namanya. Kamu pun sudah menyebutkan namanya secara langsung,” balas Fahmi.


Dyah menyisir rambutnya dengan menggunakan jemari tangannya. Pikirannya langsung tertuju pada calon suaminya yang kebetulan malam itu sedang keluar rumah.


“Dyah, jangan lupa ya untuk mengirim undangan pernikahanmu. Aku pun ingin menjadi saksi sejarah pernikahan mu itu, sekarang aku sudah ikhlas dan aku akan selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu dan calon suamimu. Assalamu'alaikum.”

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam,” balas Dyah.


Dyah melempar ponselnya di tempat tidur dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, Dyah merasakan bahwa Kevin sangat dewasa.


“Kamu adalah pria yang baik, Kevin. Aku pun percaya bahwa kamu bisa menemukan gadis yang lebih dari aku,” tutur Dyah.


Beberapa menit kemudian.


Dyah terkesiap ketika ponselnya kembali berbunyi, ia berpikir bahwa itu adalah Kevin. Ternyata dugaannya salah, orang yang mengirim pesan singkat untuknya ternyata calon suaminya, Fahmi.


“Dyah, saat ini Mas sedang berada di kedai. Dyah mau apa? Biar Mas yang membawanya ke sana!”


Dyah tersenyum lebar, ia senang ketika membaca pesan tersebut. Calon suaminya benar-benar sangat perhatian terhadap dirinya.


“Dyah sebenarnya sudah kenyang, Mas. Begini saja, bawakan Dyah roti coklat!”


Mereka terus berkirim pesan, sampai akhirnya Yeni memanggilnya untuk segera keluar dari kamar. Dyah pun mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar untuk menemani Mamanya menunggu Papanya tersayang.


“Kamu lama sekali di dalam, itu kenapa senyum-senyum sendiri? Pasti gara-gara calon menantu Mama ya?”


Dyah dengan malu-malu mengangguk kecil.


“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya Yeni penasaran.


Mata Dyah terbuka lebar, ia terkejut mendengar pertanyaan dari Mamanya itu.


“Mama kenapa tanya begitu? Bukankah Mama dan Papa yang lebih tahu kapan Mas Fahmi menikahi Dyah,” jawab Dyah sambil menahan malunya.


Yeni terkekeh geli melihat respon dari putri kesayangannya itu.


“Baiklah, kalau calon menantu Mama kesini, Mama langsung menanyakan kapan kalian menikah.”


“Mama!”


Dyah memasang wajah cemberut sambil melipat kedua tangannya ke dada.


“Sayang, Mama dan Papa berharap kamu menjadi istri yang baik serta patuh terhadap suamimu. Ingat ya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi istri dari Nak Fahmi. Tolong camkan ini baik-baik, apapun yang Nak Fahmi katakan kelak, kamu harus menurutinya dan tak boleh membantah. Insya Allah hadiahnya adalah surga,” terang Yeni.


Dyah menangis terharu dan segera memeluk Namanya.


“Terima kasih, Ma. Dyah tidak akan pernah melupakan pesan Mama ini dan Dyah akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Mas Fahmi, terus do'akan Dyah ya Ma!”


“Tentu saja sayang,” balas Yeni.

__ADS_1


Suara klakson mobil berbunyi, Yeni dan Dyah pun terkesiap. Orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


“Ayo sayang, Papamu sudah datang!” ajak Yeni dan menggandeng tangan putrinya ke depan rumah untuk menyambut kedatangan Temmy.


__ADS_2