Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Orang Tua Tak Berperasaan


__ADS_3

“Mas suka Asyila cium seperti barusan?” tanya Asyila dengan malu-malu.


“Tentu saja, ciuman Asyila itu seperti suntikan vitamin untuk Mas,” jawab Abraham dan melebarkan senyumnya.


“Dasar tukang membual, bagaimana bisa pria seperti Mas ini pintar sekali membual. Sudah berapa banyak wanita yang sudah Mas buat klepek-klepek karena perkataan Mas yang manis ini?” tanya Asyila.


“Apakah Mas harus menyebutkan satu-persatu?” tanya Abraham.


Asyila mengernyitkan keningnya dan memukuli dada suaminya berulang kali.


“Oh, jadi selama ini Mas berbohong kalau hanya Asyila saja yang Mas cintai. Menyebalkan sekali,” ketus Asyila yang seketika turun dari tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sofa dengan begitu kesal.


Abraham segera beranjak dari tempat tidur dan mengikuti Sang istri yang telah merebahkan diri di sofa.


“Syila, Mas tadi hanya bercanda saja. Syila'kan, tahu bahwa dari dulu sampai sekarang wanita dihati Mas hanyalah Asyila seorang,” terang Abraham berharap Sang istri tidak ngambek lagi.


“Yang benar?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja,” jawab Abraham.


Asyila kembali tersenyum lebar dan meminta suaminya untuk menggendong tubuhnya.


Abraham dengan sigap menggendong tubuh istri kecilnya dan membawanya kembali ke tempat tidur.


“Ayo Mas kita tidur, Asyila sudah sangat mengantuk.”


“Baiklah, sini Mas peluk,” tutur Abraham sembari memeluk tubuh istri kecilnya.


Asyila perlahan memejamkan mata dipelukan suaminya dan tak butuh waktu lama wanita muda itu tertidur.


Melihat Sang istri yang sudah tidur, Abraham pun bergegas memejamkan mata untuk segera tidur.


***


Sore hari.


Asyila dan suami tengah menyibukkan diri menyiram tanaman hias. Tiba-tiba Asyila kembali teringat dengan keinginannya yang belum dipenuhi oleh suaminya.


“Mas!” panggil Asyila.


Abraham tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya.


“Sate Padang,” ucap Asyila dengan tatapan penuh keinginan.


“Syila masih mau sate Padang?” tanya Abraham memastikan.


“Tentu saja Mas,” balas Asyila.


“Ya sudah, Mas ganti pakaian dulu ya habis itu pergi mencari sate Padang keinginan Asyila.”


“Terima kasih Mas Abraham,” ujar Asyila yang terlihat sangat senang.


Asyila kembali melanjutkan aktivitasnya menyiram bunga sementara Sang suami bersiap-siap untuk membelikan sate Padang keinginan Sang istri tercinta.


Abraham keluar dari rumah dengan pakaian rapi dan pamit kepada istri kecilnya untuk pergi mencari sate Padang.


Asyila tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah sang suami yang tengah mengemudikan mobil.


Setelah tak terlihat lagi, Asyila menyudahi menyiram tanaman hias dan memutuskan untuk memandikan bayi mungilnya.


“Kesayangan Ayah dan Bunda masih tidur jam segini?” tanya Asyila ketika melihat bayi mungilnya masih terlelap di kereta bayi.


Dengan hati-hati Asyila menggendong bayi mungilnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


“Sayang, waktunya kamu mandi ya. Ayo bangun!” pinta Asyila dan menciumi pipi bayi mungilnya berkali-kali.


Bayi itu perlahan membuka matanya dan untungnya saja tidak sampai menangis.


“Horee, bayi Bunda akhirnya bangun juga,” ucap Asyila sembari menanggalkan pakaian bayi mungilnya.


Ketika semua pakaian yang dikenakan bayi mungil itu lepas, Asyila seketika itu menepuk dahinya sendiri.


“Astaghfirullahaladzim, Bunda lupa kalau belum menyiapkan air hangat untuk Akbar. Maaf ya sayang, seharusnya Bunda membuka pakaian Akbar nanti setelah menyiapkan air hangat,” ucap Asyila merasa bersalah.


Asyila menutupi seluruh tubuh bayi mungilnya dengan kain, terkecuali bagian wajah.


Kemudian, Asyila berlari kecil memasuki kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Beberapa menit kemudian.


Wanita muda itu keluar dari kamar mandi sembari berlari kecil menuju bayi mungilnya.


Asyila terkejut ketika melihat kain yang sebelumnya menutupi tubuh bayinya ternyata sudah terbuka lebar.


“Ayo, siapa tadi yang melepaskan kain ini?” tanya Asyila sembari menyentuh hidung mancung bayi mungilnya.


Bayi mungilnya dengan cepat menggerakkan mulutnya, mengira bahwa jari telunjuk Bundanya adalah ASI.


“Haus sayang? Nanti ya sayang setelah mandi,” ujar Asyila.


Asyila menggendong buah hatinya dengan sangat hati-hati dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera memandikan bayi Akbar.

__ADS_1


“Dingin tidak Nak?” tanya Asyila.


Dengan sangat hati-hati Asyila memandikan bayi mungilnya dan tak ingin berlama-lama, Asyila pun menyudahinya dan bergegas keluar dari kamar mandi.


“Alhamdulillah, kesayangan Ayah dan Bunda sudah mandi. Sekarang tinggal mengenakan pakaian,” tutur Asyila.


Disaat yang bersamaan, Abraham masih berkeliling mencari pedagang kaki lima yang menjual sate Padang. Sudah hampir setengah Abraham belum menemukannya.


“Kemana lagi aku harus mencari, kalau pulang dengan tangan kosong Asyila pasti sangat sedih,” ucap Abraham bermonolog.


Abraham terus mengemudikan mobilnya dan ketika ia akan berbelok, Abraham tak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul begitu saja.


“Ya Allah!”


Abraham seketika itu panik dan bergegas keluar dari mobil untuk melihat kondisi seseorang yang baru saja ia tabrak.


“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Abraham ketika melihat seorang gadis kecil tergeletak di aspal.


Abraham dengan cepat membantu gadis kecil itu berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam mobil untuk segera diobati.


Ketika melihat orang-orang sekitar, Abraham menyadari bahwa orang-orang dilingkungan tersebut acuh tak acuh dengan apa yang baru saja terjadi.


Saat Abraham tengah mengemudikan mobilnya untuk mencari apotek terdekat, gadis itu tiba-tiba meminta Abraham untuk ganti rugi dan menurunkan dirinya di pinggir jalan.


“Paman, tolong berikan Bela uang dan turunkan Bela dipinggir jalan!” pinta gadis kecil yang bernama Bela.


Abraham terkejut mendengar permintaan gadis kecil itu dan ketika Abraham melirik ke arah tangan Bela, ternyata banyak sekali bekas luka yang belum kering.


“Kenapa luka kamu banyak sekali? Kenapa tidak diobati?” tanya Abraham dan kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Gadis kecil itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Abraham.


“Dimana orangtuamu?” tanya Abraham penasaran.


“Di rumah,” jawab Bela.


“Baiklah, kamu tunjukkan arah rumah kamu dan Paman akan mengantarkan kamu sampai ke rumah,” ujar Abraham.


“Jangan Paman, kalau Bela tidak mendapatkan uang Bela belum boleh pulang,” jawabnya dengan begitu polos.


Abraham terkejut mendengar pernyataan dari Bela yang tidak boleh pulang sebelum mendapatkan uang.


Meskipun begitu, Abraham memilih untuk diam karena urusan tersebut akan Abraham alihkan kepada Dan istri tercinta.


Sepertinya ada hal yang tidak beres dengan orang tua gadis kecil ini. Baiklah, aku akan membawanya pulang dan meminta Asyila untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Abraham putar balik dan kembali ke perumahan Absyil tanpa membawa sate Padang yang diinginkan oleh istri kecilnya tersebut.


Ketika Asyila ingin menghubungi suaminya lewat telepon, mobil suaminya pun masuk ke dalam area halaman rumah.


“Akhirnya sampai juga,” ucap Asyila lega dan bergegas membukakan pintu.


Saat Asyila baru saja membuka pintu, Asyila terkejut mendapati seorang gadis kecil dengan tampilan lusuh serta bagian tangan dan juga kaki yang dipenuhi oleh luka-luka yang belum kering datang bersama dengan suaminya.


“Mas, siapa anak kecil itu?” tanya Asyila penasaran.


“Mas tadi menabraknya dan alasan Mas membawanya kemari itu karena Mas curiga dengan orangtuanya,” jawab Abraham setengah berbisik agar tak di dengar oleh Bela.


“Ya Allah,” ucap Asyila terkejut mengetahui bahwa gadis kecil dihadapannya adalah korban tabrak dari suaminya, “Nak, sini ikut Aunty masuk!” ajak Asyila.


Bela masuk ke dalam rumah tersebut dengan perasaan takut.


“Kamu tenang saja, kami orang baik. Oya, nama kamu siapa?” tanya Asyila.


“Bela,” jawabnya.


Asyila tersenyum dan mengajak Bela untuk duduk di ruang keluarga.


“Sini duduk sama Aunty!”


Gadis kecil itu pun dengan ragu-ragu duduk bersebelahan dengan Asyila.


“Syila, Mas mengambil kotak P3K dulu ya,” tutur Abraham.


Asyila mengangguk kecil dan perhatiannya kini kembali fokus pada Bela.


“Kalau boleh tahu, Bela kelas berapa dan umur berapa?” tanya Asyila mencoba mencari tahu tentang gadis kecil yang duduk disampingnya.


“Bela umur 12 tahun dan tidak sekolah.”


“Haaa?” Asyila begitu terkejut dengan gadis kecil dihadapannya yang ternyata tidak sekolah, “Bela kenapa tidak sekolah?” tanya Asyila semakin penasaran.


“Bapak dan Ibu tidak punya uang, kata Ayah dan Ibu kalau Bela mau sekolah, Bela harus jatuh di depan mobil supaya diberi uang sama orang dan uang itu untuk Bela sekolah,” jawabnya dengan begitu polos.


Asyila sangat terkejut mendengar keterangan dari Bela.


“Sayang, anak seusia kamu itu belum mengerti apa-apa. Apakah luka-luka ini dari orang yang menabrak Bela?” tanya Asyila sembari menahan air matanya agar tak jatuh.


Lagi-lagi gadis kecil itu mengatakan dengan sangat polos bahwa luka di tubuhnya karena orang-orang yang menabrak dirinya.


Ketika Abraham tiba dengan membawa P3K, Asyila seketika itu menangis dan membuat Abraham sedih.

__ADS_1


Abraham tahu, ketika istri kecilnya sudah menangis berarti ada hal yang sudah diketahui oleh istri kecilnya mengenai Bela.


“Mas, tolong gendong Akbar!” pinta Asyila dengan air mata yang terus mengalir deras.


Abraham mengiyakan dan menggendong bayi mungil mereka.


“Bela sayang, sini Aunty obati. Bela tahan ya, Insya Allah malam ini kita pergi ke rumah sakit,” tutur Asyila yang mulai mengobati luka-luka di tangan Bela.


“Tidak usah, Aunty. Uangnya buat Bela saja,” ucapnya.


Asyila sama sekali tak marah dengan apa yang dikatakan oleh Bela yang menginginkan uang. Akan tetapi, Asyila marah dengan orang tua Bela yang tak berperasaan sebagai orang tua.


Orang tua adalah orang yang melindungi anak-anak mereka dan bukannya malah mencelakai serta memperalat anak mereka untuk menghasilkan uang dengan cara yang sangat tidak benar.


“Bela tenang saja, besok kami akan memberikan uang kepada Bela,” balas Asyila.


“Terima kasih,” ucap Bela yang terlihat sangat senang ketika tahu bahwa besok dirinya akan mendapatkan Uang.


Suara adzan Maghrib pun berkumandang, Abraham meletakkan bayi mungilnya di kereta bayi dan tanpa pikir panjang ia bergegas menuju masjid.


“Istriku sayang, Mas pergi ke Masjid dulu ya. Syila jangan lupa sholat,” ucap Abraham sembari menyeka air mata istri kecilnya.


“Iya Mas, sebentar lagi Asyila akan sholat Maghrib,” balas Asyila.


Abraham mengucapkan salam dan bergegas menuju masjid.


Setelah Sang suami pergi, Asyila mengajak Bela untuk masuk ke dalam kamar serta memberikan Bela setelan pakaian untuk mengganti pakaian Bela yang sudah tidak layak pakai.


“Ini, pakailah punya Aunty. Kebetulan Aunty ada baju seukuran Bela dan mungkin agak sedikit kebesaran. Ini juga celana dan pakaian dalam untuk Bela, sekarang gantilah di kamar mandi!”


Bela awalnya menolak pemberian dari Asyila. Akan tetapi, Asyila terus saja memaksa dan membuat Bela menerima pakaian yang diberikan oleh Asyila.


Setelah Bela mengganti pakaiannya, Asyila mengajak Bela untuk sholat Maghrib berjama'ah.


“Aunty, ini taruh dimana?” tanya Bela yang tengah membawa pakaian miliknya.


Asyila mengambil kantong plastik dan memberikannya kepada Bela.


“Taruh saja pakaian itu di kantong plastik, habis itu kita sholat sama-sama!” ajak Asyila.


Bela dengan cepat menolak ajakan Asyila yang mengajaknya untuk sholat Maghrib.


“Kenapa tidak mau?” tanya Asyila terheran-heran.


“Bapak dan Ibu tidak pernah sholat. Bela juga tidak tahu caranya sholat,” jawabnya.


Asyila seketika itu mengelus dadanya sendiri, ia begitu miris dengan kedua orang tua Bela.


Jadi, apa saja yang dilakukan mereka sebagai orang tua?


Astagfirullahaladzim, Ya Allah ampunilah kedua orang tua Bela dan berikanlah hidayah untuk mereka yang sudah dzalim kepada putri mereka sendiri.


“Ya sudah tidak apa-apa,. untuk kali ini Bela lihat cara Aunty sholat ya,” ucap Asyila dan dengan cepat Bela mengangguk setuju.


Sebelum Asyila mengambil air wudhu, Asyila meminta Bela untuk menjaga bayi mungilnya yang saat itu masih terlelap.


Beberapa saat kemudian.


Bela terlihat sangat mengantuk dan hampir saja ia terjatuh karena saking ngantuk.


Asyila yang baru selesai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, saat itu juga mengajak Bela untuk makan malam.


Ketika mereka tengah menuruni anak tangga, Abraham datang dengan membawa sate Padang yang sebelumnya diinginkan oleh Asyila.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sambil memperlihatkan dua bungkus sate Padang oada istri kecilnya.


“Wa’alaikumsalam,” balas Asyila sembari berlari kecil menghampiri suaminya, “Apakah ini Sate Padang?” tanya Asyila memastikan.


“Tentu saja, ayo kita makan malam bersama. Bela pasti sangat lapar,” ajak Abraham.


Bela merasa sangat senang karena di rumah itu dirinya diperlakukan dengan sangat baik. Lain halnya jika ia ada dirumahnya sendiri, kedua orangtuanya pasti akan memarahinya dan tak segan-segan memukul dirinya.


“Bela makan yang banyak ya, anggap saja kami ini keluargamu,” ucap Asyila sambil memberikan beberapa tusuk sate Padang kepada Bela.


Bela seketika itu menangis terharu dan berkali-kali mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh sepasang suami istri dihadapannya.


“Cup.. cup.. cup.. Anak cantik tidak boleh menangis, ayo hapus air mata itu dan cepatlah makan,” ucap Asyila dengan tersenyum lebar ke arah Bela.


Bela ikut tersenyum dan mulai menyeka air matanya.


“Nah kalau gitu'kan, cantik,” puji Asyila.


Ya Allah, kasihan sekali Bela. Orang tua Bela benar-benar orang tua tak berperasaan. Besok aku harus bertemu dengan mereka untuk mengetahui alasan dari mereka yang telah memperlakukan Bela secara tidak manusiawi.


“Bela suka dengan sate Padang yang Paman beli?” tanya Abraham.


“Enak sekali, Paman. Bela belum pernah makan ini sebelumnya dan sekarang sudah bisa. Terima kasih Paman dan Aunty,” ucapnya.


“Sama-sama Bela,” jawab Abraham dan juga Asyila dengan sangat ramah.


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


Like ❤️


__ADS_2