Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Menggali Informasi Mengenai Kematian Tiara


__ADS_3

“Lihat cucu Mama ini, sudah cantik penurut lagi,” puji Yeni pada cucu pertamanya.


“Memangnya Dyah tidak cantik dan penurut ya Ma?” tanya Dyah penasaran.


“Hhmm.. Sebentar, Mama berpikir dulu,” jawab Yeni sambil memasang wajah serius.


“Mama nyebelin,” celetuk Dyah sambil memasang wajah cemberut.


“Tidak baik seperti itu, bagaimana kalau dilihat Lala?”


“Ya habisnya, Mama meledek Dyah,” balas Dyah.


“Iya deh, Mama minta maaf,” tutur Yeni dan tertawa kecil melihat wajah putrinya.


Bayi mungil yang sedang digendong oleh Yeni terlihat sangat anteng.


Setelah dirasa cukup menghangatkan bayi mungil itu, Yeni memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah.


Disaat yang bersamaan, Abraham keluar dari rumah dengan pakaian yang sangat rapi.


“Paman mau kemana?” tanya Dyah sambil mengernyitkan keningnya, “Kenapa tidak sarapan dulu?” tanya Dyah kembali.


“Paman ada urusan yang sangat penting, kebetulan Paman tidak lapar,” jawab Abraham.


“Apa harus sepagi ini?” kini Yeni lah yang bertanya.


“Iya, Mbak,” jawab Abraham.


Yeni mengangguk kecil melihat wajah Abraham yang sangat serius.


“Mbak, Abraham berangkat dulu. Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam!”


Pagi itu, Abraham pergi seorang diri tanpa diantar oleh sopir pribadinya, Eko.


Abraham pergi menuju tempat yang seharusnya ia datangi beberapa Minggu yang lalu. Akan tetapi, karena ada hal yang lebih mendesak Abraham pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke lokasi tersebut.


Kali ini, Abraham pergi ke daerah terpencil yang ada di Bandung. Daerah tersebut terkenal kumuh dan terkenal banyak sekali pekerja wanita penghibur.


Alasan Abraham kesana adalah ada salah satu wanita yang mati menggemaskan dengan keadaan tengah mengandung.


Meskipun begitu, tidak ada orang yang mau mempedulikan mengenai kematian menggemaskan tersebut. Sehingga, Abraham harus turun tangan dan melihat secara langsung daerah tersebut.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham ketika sambungan teleponnya terhubung oleh Dayat, sahabatnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham dari seberang telepon.

__ADS_1


“Dimana kau sekarang? Apakah sudah berada di Bandung?”


“Tenang saja, kami tidak lupa dengan janji kami untuk pergi ke tempat itu. Ini saya, Edi dan juga Sanjaya tengah dalam perjalanan menuju tempat yang anda katakan,” jawab Dayat.


“Bagus. Terima kasih karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk pergi ke tempat yang aku maksud,” balas Abraham.


“Tuan Abraham tidak perlu sungkan-sungkan. Hal ini juga termasuk tugas kami dan kami akan selalu siap jika Tuan Abraham membutuhkan kami,” tutur Dayat.


“Baiklah, aku akhiri. Wassalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” balas Dayat.


Beberapa jam kemudian.


Akhirnya Abraham tiba di tempat kumuh tersebut. Baru saja menghentikan mobilnya, mobilnya perlahan didekati oleh para wanita yang pakaiannya benar-benar membuat Abraham jijik.


Cukup lama Abraham di dalam mobil dengan mata yang sengaja ia pejamkan.


Abraham akan turun, kalau para sahabatnya sudah tiba di tempat tersebut.


Kurang dari 30 menit lamanya, Dayat dan dua lainnya tiba dan langsung mengusir para wanita yang mengerumuni mobil Abraham Mahesa.


Dayat, Edi dan Sanjaya sangat mengenal sosok Abraham. Mereka bertiga tahu bahwa Abraham tidak akan turun sebelum para wanita itu menjauh dari mobilnya.


“Maaf, kami datang terlambat,” ucap Dayat pada Abraham yang baru turun dari mobil.


“Tidak masalah, hanya saja aku sedikit takut kalau-kalau mereka semakin banyak mengerumuni mobilku,” jawab Abraham.


“Jangan ada yang mendekat. Jika diantara kalian mendekat, aku tidak akan segan-segan menembaki kalian,” tegas Dayat.


Ucap Dayat seketika itu membuat mereka takut. Merekapun akhirnya pergi menjauh karena tak ingin sampai nyawa mereka melayang karena peluru bisa saja menebus tubuh mereka.


Abraham berjalan mendekat ke arah salah satu wanita yang berpakaian tertutup. Akan tetapi, ia tidak menutupi rambutnya dengan hijab.


“Bisa kamu ikut kami sekarang?” tanya Abraham tanpa berniat menatap mata wanita dihadapannya.


“Boleh,” jawabnya genit, karena ia pikir Abraham dan yang lainnya membutuhkan jasa untuk memuaskan mereka berempat.


Abraham berjalan ke arah sebuah warung yang kebetulan saat itu sedang tutup.


Wanita itu tersenyum senang dan mengikuti langkah kaki Abraham.


“Jaga jarak!” perintah Abraham yang terlihat begitu marah.


Wanita itu mengernyit keningnya mendengar dan melihat sikap kasar Abraham padanya.


“Bu-bukankah kalian ingin....”

__ADS_1


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Abraham langsung memintanya untuk diam dan hanya menjawab jika ada hal yang ditanyakan oleh Abraham serta yang lainnya.


Karena takut, wanita itu hanya mengangguk kecil sambil berdo'a agar nasibnya baik-baik saja.


Abraham duduk terlebih dahulu disebuah kursi panjang dan diikuti oleh ketiganya. Sementara wanita penghibur itu hanya berdiri dengan tubuh gemetaran.


“Santai saja, kedatangan kami kesini hanya ingin mengetahui wanita yang mati menggemaskan dalam kondisi sedang mengandung. Tolong ceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi kepada wanita yang telah meninggal itu!” pinta Abraham.


Wanita yang tengah berdiri dengan penuh ketakutan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Seperti ada hal yang sangat ditakutinya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Kalau kami bertanya, kau harus menjawabnya. Atau begini saja, kalian semua yang tinggal disini akan kami masukkan ke dalam penjara,” tutur Dayat yang terpaksa mengancam wanita itu agar segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tolong jangan lakukan hal itu, baiklah saya akan menceritakan apa yang saya ketahui. Akan tetapi, apakah kalian bisa menjamin keselamatan saya?” tanyanya ketakutan.


“Tenang saja, kami adalah anggota polisi dan kami akan menjamin keselamatan mu,” balas Dayat.


Dengan mulut gemetar, wanita yang bernama Menik menceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Sebenarnya wanita yang Tuan-tuan maksud itu adalah sepupu saya, Tiara. Tiara sebenarnya wanita yang sangat baik dan sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi wanita penghibur seperti kita. Akan tetapi, karena pria yang tak tahu diri itu akhirnya Tiara berubah menjadi wanita penghibur seperti kami ini. Tiara bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup Yudi yang tak tahu diri,” tutur Menik dengan berderai air mata dan terlihat sekali bahwa Menik begitu sedih menceritakan nasib sepupunya.


Abraham mengernyitkan keningnya dan meminta Menik untuk melanjutkan ceritanya mengenai Tiara.


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan yang lainnya nampak sangat terkejut ketika mengetahui penyebab kematian tragis dari seorang Tiara.


Bahkan, Abraham tanpa sadar menetaskan air matanya begitu mengetahui semua hal yang terjadi kepada Tiara.


“Jadi, apakah kamu dan yang lainnya mengetahui alasan dari kematian Tiara?” tanya Edi yang terlihat sangat geram setelah mendengar keterangan dari Menik.


“Ha-hampir semua dari kami mengetahuinya,” jawab Menik terbata-bata.


“Apakah kamu tahu, menyembunyikan kebenaran atas kematian Tiara adalah kejahatan yang sangat besar dan dosa yang sangat besar. Bagaimana bisa kalian bungkam dan memilih untuk berpura-pura tak mengetahui tentang kematian Tiara, bagaimana bisa? Dan lagi, anda sendiri adalah sepupu dari Tiara. Bagaimana bisa mengetahui saudarinya mati dengan sangat tragis, malah hanya diam seribu bahasa,” ucap Abraham dengan sangat kesal.


Kaki Menik gemetar hebat, sampai-sampai ia terjatuh dan tak sanggup untuk berdiri.


“Ma-maafkan saya, tolong jangan penjarakan saya!” Menik memohon belas kasihan dari empat pria dihadapannya.


Abraham beranjak dari duduknya dan memberikan sebuah sapu tangan yang belum digunakan oleh Abraham


“Tenanglah, kami tidak akan memenjarakan dirimu. Sekarang beritahu kami dimana Yudi berada dan secepatnya pria itu akan kami proses,” ucap Abraham sambil memberikan sapu tangan miliknya.


Menik menyeka air matanya menggunakan sapu tangan milik Abraham. Kemudian, ia mengembalikan sapu tangan itu kepada pemiliknya.


Setelah itu, Menik menuntun keempat pria itu ke arah rumah Yudi yang tak lain adalah tersangka kasus pembunuhan yang membunuh istri dan calon bayinya sendiri.


Menik berjalan dengan penuh ketakutan, ia sangat takut kalau-kalau Yudi melakukan hal yang tidak-tidak kepada keempat pria dibelakangnya.

__ADS_1


“Anda tidak perlu takut,” ucap Abraham ketika Menik menoleh ke arah belakang.


Menik kembali berjalan lurus dan berharap bahwa Abraham serta yang lainnya dapat dipercaya untuk menghukum Yudi.


__ADS_2