Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Akhirnya Menceritakan Segalanya


__ADS_3

Abraham mencoba mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum memberitahukan segalanya kepada Arsyad maupun Ashraf.


Arsyad mengecilkan volume televisi agar Ayahnya bisa menceritakan apa yang sepatutnya Sang Ayah ceritakan sejak kemarin-kemarin.


“Arsyad dan Ashraf siap mendengarnya?” tanya Abraham sambil menoleh kearah kedua putranya secara bergantian.


Ashraf yang lebih muda dari Arsyad hanya mengiyakan saja tanpa berpikir yang aneh-aneh. Akan tetapi, lain halnya dengan Arsyad yang entah kenapa merasa ada sesuatu hal besar yang ingin diceritakan oleh Ayahnya kepada mereka berdua.


“Ayah...” Sebelum Abraham melanjutkan ucapannya, Arsyad lebih dulu memeluk tubuh Ayahnya dan berusaha untuk menahan tangisnya.


Entah kenapa, Arsyad tiba-tiba merasa cengeng dan butuh pelukan hangat dari Sang Ayah.


“Arsyad sudah siap? Kalau Arsyad belum siap, Ayah tidak akan melanjutkan ucapan Ayah,” tutur Abraham pada Arsyad yang terus saja memeluknya.


Arsyad mendongakkan kepalanya dan meminta Ayahnya untuk berterus-terang kepada mereka berdua.


“Nak, kalian adalah anak-anak dari Ayah dan Bunda. Kami tahu bahwa kalian berdua adalah anak yang kuat dan juga pemberani. Sudah banyak hal yang kita lalui bersama sampai akhirnya kita bisa kembali melanjutkan hidup kita,” ucap Abraham yang akhirnya tak bisa menahan air matanya.


Suasana ruang keluarga tiba-tiba menjadi sangat hening dan hanya suara televisi saja yang berbunyi. Itupun suaranya begitu lirih karena sebelumnya telah dikecilkan oleh Arsyad.


Arsyad mengambil remote control dan mematikan televisi tersebut.


“Nak, apakah kalian sangat merindukan Bunda?” tanya Abraham dengan suara gemetar.


“Iya Ayah, Ashraf merindukan Bunda Asyila,” balas Ashraf dan memeluk tubuh Ayahnya.


“Bagaimana dengan Arsyad? Apakah Arsyad juga merindukan Bunda?” tanya Abraham pada Arsyad yang belum juga menjawab pertanyaan darinya.


“Arsyad sangat merindukan Bunda, almarhum adik Azzam dan juga adik bayi. Adik kami perempuan apa laki-laki, Ayah?” tanya Arsyad.


Abraham tertegun dan tak untuk waktu yang cukup lama, Abraham tak bisa menggerakkan bibirnya.


Pertanyaan dari Arsyad membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang terus mengalir deras.


“Ayah, kenapa Ayah menangis? Hiks.. hiks..” Arsyad bangkit dari duduknya dan menyeka air mata Ayahnya.


Putra sulung dari Abraham dan juga Asyila saat itu pun menangis.


Melihat Ayahnya yang terus berlinang air mata.

__ADS_1


“Arsyad dan Ashraf yang tegar ya. Kedepannya kalian harus lebih kuat. Bunda sekarang sudah tenang di surga bersama kedua adik kalian.”


Dada Abraham sangat sesak dan berusaha untuk terus mengatakan mengenai kematian Sang istri.


“Ayah bohong!” teriak Arsyad dengan mata mendelik tajam, “Ayah tidak boleh bicara seperti itu. Allah tidak suka dengan orang yang suka bohong,” tegas Abraham.


Ashraf menangis histeris mendengar keterangan dari Ayahnya.


“Bunda!” teriak Ashraf dan menjatuhkan dirinya di lantai. Kemudian, berguling-guling sambil terus memanggil Sang Bunda tercinta.


“Bunda kalian sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Maafkan Ayah yang baru berani menceritakan ini kepada kalian. Tolong, mengertilah maksud Ayah. Ayah hanya tidak ingin membuat kalian sedih,” ungkap Abraham sambil terus berlinang air mata.


Arsyad menangis histeris dan memukul dada Ayahnya yang ternyata terus menyembunyikan mengenai kematian wanita yang telah melahirkannya.


“Ayah jahat! Ayah jahat!” teriak Arsyad.


Suara tangisan Arsyad dan juga Ashraf saling bersahutan. Mereka menangis dengan sangat histeris, bahkan tetangga sebelah mereka bisa mendengar suara tangisan menyedihkan dari keduanya.


“Tok... Tok... Tok...” Suara pintu diketuk.


“Assalamu’alaikum, Abraham! Ini aku Yogi, Abraham!” panggil Yogi sambil terus mengetuk pintu rumah Abraham dengan sangat kasar karena khawatir dengan suara tangisan Arsyad maupun Ashraf yang sangat terdengar jelas sampai ke rumahnya.


Ema berlari menyusul suaminya yang terus-menerus berteriak di depan pintu rumah Abraham.


Ketika Ema ingin menanyakan alasan mengapa suaminya melakukan hal seperti itu, Ema seketika itu langsung tahu karena mendengar suara Arsyad dan Ashraf yang menangis histeris sambil terus memanggil Bunda.


Abraham akhirnya membuka pintu rumah dan mempersilahkan ketiganya untuk masuk ke dalam rumah.


“Kau kenapa menangis? Anak-anak juga kenapa ikut menangis? Ada apa ini?” tanya Yogi yang begitu syok.


Mendengar suara Arsyad dan Ashraf menangis, Kahfi seketika itu berlari mencari mereka berdua yang masih menangis histeris di ruang keluarga.


“Abraham!” Yogi yang sangat penasaran, akhirnya mencengkram kuat kerah pakaian yang dikenakan oleh Abraham dan meminta Abraham untuk segera memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.


“Jawab pertanyaan ku!” Yogi kembali mendesak sahabatnya, Abraham.


“Aku memberitahukan kepada Arsyad dan Ashraf bahwa Bunda mereka telah meninggal dunia,” jawab Abraham.


“Ya Allah!” Ema sangat terkejut dan berlari secepat mungkin untuk menemui buah hati dari sahabatnya, Asyila.

__ADS_1


Yogi refleks meninju wajah Abraham karena tak habis pikir dengan pemikiran Abraham yang pada akhirnya berterus-terang kepada Arsyad dan juga Ashraf.


“Maaf, aku tidak bermaksud melakukannya,” ucap Yogi yang kini memeluk tubuh sahabatnya.


“Apakah aku adalah Ayah yang jahat untuk mereka? Aku tak bisa merahasiakan ini lagi, bagaimanapun mereka juga harus tahu agar tak terus-menerus mengharapkan kehadiran Bunda mereka,” terang Abraham.


“Tidak, kau sama sekali tak jahat. Perlahan, mereka pasti akan menerima kenyataan ini,” balas Yogi.


Disaat yang bersamaan, Arsyad dan Ashraf menangis dipelukan Sahabat dari Bunda mereka, Ema.


“Mama, Bunda sudah meninggal,” ucap Arsyad sambil terus menangis.


“Iya sayang, Mama tahu. Akan tetapi, kalian tidak boleh berlama-lama menangisi Bunda Asyila,” balas Ema yang juga tak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir, “Di surga, Bunda pasti sudah sangat bahagia bisa berkumpul dengan kedua adik kalian. Tolong mengertilah, kasihan Ayah Abraham kalau melihat kalian yang terus menangis seperti ini,” imbuh Ema memberikan pengertian kepada Arsyad dan juga Ashraf.


Abraham dan Yogi datang menghampiri kedua bocah tersebut yang masih saja menangis.


“Sini, Nak! Sini peluk Ayah!” panggil Abraham sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Arsyad dan Ashraf berlari menghampiri Ayah mereka. Kemudian, memeluk Ayah mereka dengan penuh kesedihan.


“Ayah jahat, Ayah bohong sama Ashraf,” ucap Ashraf tengah berteriak karena selama ini dirinya telah dibohongi oleh Ayahnya sendiri.


“Maafkan Ayah sayang, Ayah tak bermaksud membohongi kalian,” balas Abraham.


Arsyad terus saja menangis sambil mengenang masa-masa ketika dirinya bersama Sang Bunda.


Bunda....


Arsyad kangen Bunda. Maafin Arsyad, Bunda.


Berulang kali Arsyad meminta maaf kepada Bundanya lewat batinnya dan berharap Sang Bunda bisa memaafkan dirinya.


Cukup lama mereka saling berpelukan, sampai akhirnya Ema yang satu-satunya wanita di ruangan itu hilang kesadaran dan jatuh begitu saja.


Melihat istrinya yang sudah jatuh ke lantai, Yogi pun panik dan mengangkat tubuh istrinya itu. Kemudian, meletakkannya di sofa.


Abraham bangkit dan merasa sangat bersalah karena Ema yang tiba-tiba pingsan.


Arsyad dan Ashraf masih saja menangis. Keduanya berlari menuju kamar yang biasa ditempati oleh Ayah serta Bunda mereka.

__ADS_1


“Mama...” Kahfi pun menangis dan berharap Mamanya bisa segera sadar.


__ADS_2