Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kopi Asin Buatan Dyah


__ADS_3

Dyah mulai bosan dengan aktivitasnya sehari-hari, biasanya ia akan datang ke perumahan Asyila untuk menghibur diri sekaligus bermain dengan adiknya, Ashraf. Kini semuanya terlihat biasa-biasa saja dan cenderung membosankan.


“Dyah, kalau begitu aku pulang dulu. Salam untuk kedua orangtuamu, wassalamu’alaikum,” ucap Fahmi sambil tersenyum ramah pada Dyah.


“Wa’alaikumsalam,” balas Dyah jutek.


Sudah berhari-hari Fahmi mencoba lebih dekat dengan Dyah, akan tetapi Dyah sama sekali tidak peka dan menganggap bahwa Fahmi hanya tukang ojek antar jemputnya saja.


“Assalamu’alaikum,” ucap Dyah dan masuk ke dalam rumah dengan tampang kesal.


Yeni mendekati putrinya yang terlihat begitu tak bersemangat, “Wa’alaikumsalam, kesayangan Mama kenapa jutek begini?” tanya Yeni penasaran.


Dyah meletakkan tasnya dengan sangat kasar karena terlalu kesal. Kemudian, ia melipat kedua tangannya ke dada.


“Kalau ada apa-apa cerita sama Mama jangan hanya dipendam. Yang ada nanti kamu jadi sakit dan kami nantinya yang repot,” tutur Yeni.


“Pokoknya hari ini juga Dyah mau ke pantai menyusul Paman, Aunty dan juga adik Ashraf. Pokoknya Dyah mau kesana hari ini juga,” tegas Dyah yang tak bisa berdiam diri di rumah, “Besok hari Sabtu, Dyah tidak kerja,” imbuh Dyah lagi.


Yeni tersenyum dengan penuh perhatian, “Kalau memang mau kesana kenapa tidak bilang saja dari tadi? Kenapa harus pakai ngambek segala?” tanya Yeni menggoda putri tunggalnya.


“Ada apa ribut-ribut?” tanya Temmy yang tiba-tiba datang dari belakang.


“Begini Pa...” Yeni menjelaskan panjang lebar mengenai keinginan Dyah yang ingin menyusul Abraham dan keluarga kecilnya.


Temmy tertawa dan mengangguk-angguk sambil tersenyum.


“Ya sudah kalau mau kesana, cepat siap-siap!” perintah Temmy.


Dyah membuka matanya lebar-lebar seakan tak yakin dengan apa yang diperintahkan oleh Papanya.


“Kenapa malah melihat Papa seperti itu? Cepat siap-siap kalau kamu memang mau menyusul mereka!”


Dyah melompat-lompat kegirangan, akhirnya ia bisa menyusul Paman, Aunty dan juga Ashraf.


“I'm coming!” teriak Dyah penuh semangat dan menyambar tas miliknya untuk segera membersihkan diri.


Yeni mengernyitkan dahinya dan menyenggol lengan suaminya.


“Papa sanggup membawa mobil lama-lama dijalan?” tanya Yeni terheran-heran.


“Tentu saja bukan Papa yang mengantar Dyah,” sahut Temmy.


“Lalu siapa?” tanya Yeni sambil berpikir dan ia pun tersenyum ketika mengetahui siapa yang akan mengantarkan Dyah pergi menyusul keluarga kecil Abraham, “Ya Allah, Mama hampir lupa kalau ada menantu kita,” imbuh Yeni dan tertawa lepas.


“Masih calon menantu,” jelas Temmy.


“Iya deh, terserah Papa saja,” balas Yeni.


***


Dyah telah bersiap-siap untuk berangkat dan wajahnya tiba-tiba langsung berubah kesal karena tahu bahwa Papanya belum juga siap-siap.


“Papa kalau memang tidak mengizinkan Dyah pergi bilang saja, kenapa malah begini?” tanya Dyah yang terlihat sangat kecewa ketika melihat Temmy duduk sambil menikmati secangkir kopi dengan kaos oblong dan celana pendeknya.


“Loh? Memangnya yang mau mengantarkan Dyah siapa?” tanya Temmy terheran-heran.

__ADS_1


Dyah yang kesal berlari ke dalam rumah untuk mencari Mamanya.


”Mama mau diajak kemana?” tanya Yeni yang tiba-tiba tubuhnya dibawa paksa oleh Dyah meninggalkan dapur.


“Mama adalah saksi mata, pokoknya Mama harus memarahi Papa karena telah berbohong kepada Dyah,” jelas Dyah dan membawa Yeni ke teras depan rumah.


“Ini kenapa Mama dibawa-bawa?” tanya Yeni terheran-heran.


Dyah masih saja kesal, ia pun dengan nekad masuk ke dalam mobil.


“Kalau Papa tidak mau mengantarkan Dyah, biar Dyah pergi sendiri. Meskipun belum terlalu mahir, Dyah bisa membawa mobil menyusul Paman,” ucap Dyah yang bersiap-siap menyalakan mesin mobil.


“Memangnya kamu tahu dimana Pamanmu?” tanya Temmy dengan senyum remeh.


Dyah keluar dari mobil dengan mata terbelalak lebar.


Disaat yang bersamaan, Fahmi datang untuk mengantarkan Dyah.


Dyah menoleh dan akhirnya tahu bahwa Fahmi lah yang akan mengantarkan dirinya.


“Pa, Ma. Kenapa harus Fahmi?” tanya Dyah pakai bahasa bibir.


Temmy dan Heni kompak mengabaikan Dyah, mereka malah mendekati Fahmi dan menyambut Fahmi dengan sangat ramah.


“Asalamu’alaikum, Papa, Mama!”


“Wa’alaikumsalam, ayo masuk ke dalam!” ajak keduanya.


Dyah terheran-heran dengan sikap kedua orangtuanya yang semakin aneh. Sejak kedatangan Fahmi untuk pertama kalinya, kedua orangtuanya nampak sangat akrab dan terlihat sekali mengabaikan dirinya.


Ketika Dyah ingin mendaratkan bokongnya di kursi, Yeni cepat-cepat meminta Dyah untuk membuatkan kopi. Dyah pun mengangguk dengan sangat terpaksa.


“Biasanya Mama yang membuatkan kopi, sekarang kenapa harus aku?” tanya Dyah bingung.


Tiba-tiba muncul di benak Dyah untuk mengerjai Fahmi, Dyah tertawa jahat dan menggantikan gula dengan garam.


“Ya sekali-kali lah, kopi rasa asin,” ucap Dyah yang terus saja tertawa.


Dyah mencicip sedikit dan ia pun bergidik ngeri merasakan asinnya kopi yang ia buat.


Hhmmm... Fahmi pasti akan terkejut dengan kopi buatan ku yang super asin ini. 😆


Dyah tersenyum jahat ketika kopi buatannya sendiri sudah jadi. Dengan penuh semangat, ia berjalan menuju ruang tamu dan menyuguhkan kopi asin pada Fahmi.


“Silakan diminum dan dihabiskan!” pinta Dyah


Fahmi dengan sangat senang mengangguk, akhirnya ia bisa menikmati kopi buatan dari calon istrinya.


“Tunggu apalagi? Cepat diminum!” pinta Dyah yang terlihat tak sabaran untuk melihat reaksi Fahmi ketika merasakan kopinya buatannya asin.


Aku menambahkan dua sendok garam, pasti sangat asin di mulutnya. Hehehe... Sekali-kali lah buat kopi spesial.


Melihat calon istrinya bersemangat, Fahmi pun mulai meminum kopi spesial buatan Dyah.


“Uhuk... uhuk...” Fahmi tersedak dan tenggorokannya sangat sakit ketika rasa asin menyelimuti seluruh mulut serta tenggorokannya.

__ADS_1


“Nak Fahmi kenapa?” tanya Temmy dan Yeni panik.


Fahmi dengan cepat mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Dan tanpa terduga, Fahmi kembali meminum kopi itu dan mengatakan bahwa kopi buatan Dyah begitu pas.


“Ternyata Dyah pintar sekali membuat kopi seenak ini,” puji Fahmi yang sejujurnya menahan asin di mulutnya.


Dyah menunduk malu. Ia benar-benar merasa bersalah karena Fahmi tidak mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orangtuanya.


“Boleh aku habiskan?" tanya Fahmi dan langsung meminumnya sampai habis.


Dyah semakin sedih karena apa yang dilakukan oleh Fahmi. Ia pun beranjak dari duduknya dan berlari keluar rumah dengan membawa koper.


“Kenapa dia tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Mama dan Papa? Kenapa juga dia malah menghabiskan semuanya? Hiks... hiks...”


Dyah menangis didepan teras dengan rasa bersalah. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Fahmi terhadapnya, sungguh Fahmi benar-benar membuat Dyah terkejut.


“Kalau sudah begini, bagaimana caranya aku menghadapinya?” tanya Dyah lagi.


Fahmi keluar bersama kedua orang tua Dyah. Fahmi pun pamit untuk mengantarkan Dyah menyusul Abraham serta keluarga kecil Abraham.


“Kamu kenapa menangis?” tanya Yeni dengan begitu terkejut, “Kami tidak membohongimu, Nak Fahmi yang akan mengantarkan kamu sampai tujuan dengan selamat,” sambung Yeni.


Dyah segera menghapus air matanya dan mencium punggung kedua orangtuanya secara bergantian.


“Dyah pergi dulu, assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam.”


Merekapun masuk ke dalam mobil yang sebelumnya telah disiapkan oleh Temmy. Kemudian, mobil perlahan pergi meninggalkan halaman rumah.


Dyah masih merasa bersalah, akan tetapi ia terlalu malu untuk meminta maaf.


“Uhuk.... uhuk...” Fahmi terbatuk-batuk karena tenggorokannya sedikit sakit akibat minum kopi asin buatan Dyah.


Dyah terkesiap dan segera memberikan sebotol air minum kepada Fahmi.


“Berhenti dulu, Mas harus minum air putih!” pinta Dyah sambil menyerahkan air minum itu kepada Fahmi.


Fahmi mengiyakan dan menghentikan laju mobil Ia pun meneguk air minum itu sampai habis.


“Kenapa tadi Mas meminumnya sampai habis?” tanya Dyah tanpa berani menatap Fahmi.


“Karena itu pemberian Dyah dan Aku harus menghabiskannya,” jawab Fahmi.


Deg!


Wajah Dyah seketika itu merona, entah kenapa jawaban dari Fahmi membuatnya senang. Meskipun, ada kesalnya.


“Maaf,” ucap Dyah memberanikan diri.


“Asal traktir aku makan, aku akan memaafkan mu,” balas Fahmi yang sebenarnya ingin bisa lebih dekat dengan Dyah, calon istrinya.


“Ok, aku akan mentraktir kamu makan sepuasnya!” seru Dyah.


Fahmi kembali mengendarai mobil untuk mencari rumah makan terdekat.

__ADS_1


__ADS_2