
Setelah sholat subuh, Asyila menyibukkan dirinya untuk beres-beres rumah. Mulai dari menyapu lantai, mengepel lantai, memasak, mencuci piring, menjemur pakaian ia lakukan seorang diri dengan sangat cepat dan berharap suaminya itu akan turun ketika pekerjaannya sudah selesai. Asyila tahu, jika sampai suaminya melihat ia beres-beres rumah seorang diri tanpa melibatkan Abraham, sudah pasti Abraham akan marah dalam arti ia tidak ingin sang istri beres-beres rumah sendiri, Abraham ingin ia juga dilibatkan dalam hal beres-beres.
Didalam kamar, Abraham tengah sibuk dengan laptop dihadapannya. Ia harus cepat menyelesaikan pekerjaannya dan setelah itu mengajak sang istri keluar untuk menghabiskan waktu bersama dihari Sabtu.
“Syila kenapa belum juga kembali,” ucap Abraham bermonolog karena sudah lebih dari satu jam sang istri belum juga masuk ke dalam kamar.
Karena tak bisa menunggu lagi, Abraham pun menyusul istri kecilnya dan melihat sang istri tengah mencuci pakaian.
Abraham menyadari bahwa lantai sudah bersih yang artinya sang istri telah mengepel lantai.
Asyila telah selesai mencuci pakaian dan telah selesai pula mengeringkan pakaian keluarga kecilnya. Ketika berbalik badan, Asyila terkejut melihat suaminya sudah berdiri dihadapannya.
“Mas Abraham,” ucap Asyila terkejut seperti maling yang tertangkap basah.
Abraham terdiam sambil memasang wajah datar.
“Mas..” Asyila segera memeluk suaminya dan berharap suaminya tak memarahi dirinya.
“Berapa kali harus Mas bilang, kalau setiap pekerjaan rumah tangga harus melibatkan Mas. Bahkan kalau perlu, semuanya biar Mas yang mengerjakan,” ucap Abraham tanpa membalas pelukan dari Asyila.
Asyila terdiam dengan terus memeluk tubuh suaminya. Tak butuh waktu lama, Abraham pun luluh dan segera membalas pelukan hangat dari istri kecilnya.
“Jangan seperti ini lagi,” ucap Abraham yang begitu lembut.
“Asyila hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan Mas,” tutur Asyila.
“Siapa yang bilang kalau pekerjaan rumah dapat menggangu pekerjaan Mas? Ini yang terakhir kalinya Asyila mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, kalau sampai melakukan ini lagi, Mas akan mencari asisten rumah tangga.”
Perlu diketahui, dari dulu Asyila anti dengan yang namanya asisten rumah tangga atau biasa disebut pembantu rumah tangga. Baginya, tanpa asisten rumah tangga atau pembantu rumah tangga dirinya bisa mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
Asyila dengan cepat menolak apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia pun akhirnya mengiyakan jika Abraham ikut dalam membereskan rumah.
“Tinggalkan cucian ini, biar Mas yang menjemurnya!” perintah Abraham agar Asyila segera meninggalkan tugasnya menjemur pakaian.
“Baik, Mas,” balas Asyila.
Abraham sedikitpun tak merasa terbebani jika harus membereskan dan membersihkan rumah. Justru ia sangat senang kalau hanya dia yang melakukannya dan bukannya sang istri.
Abraham bukan suami bodoh atau suami yang takut istri, akan tetapi ia tidak ingin jika sang istri kelelahan mengurus rumah tangga.
Asyila bingung harus melakukan apa karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Bahkan, Asyila sudah selesai menyiapkan sarapan untuknya serta keluarga kecilnya tercinta.
“Assalamu'alaikum, Ayah! Bunda!” Ashraf memanggil keduanya sambil mengetuk pintu.
“Sebentar sayang!” seru Asyila dengan berlari kecil menuju pintu, “Wa’alaikumsalam, kesayangan Ayah dan Bunda. Bagaimana tidurnya semalam, nyenyak sayang?” tanya Asyila dengan tatapan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Ashraf mencium punggung tangan Bundanya dan mengatakan bahwa ia sangat senang tidur bersama Kahfi. Selain itu, kedua orang tua Kahfi begitu baik padanya.
Asyila terus saja mendengar apa saja yang dikatakan oleh Ashraf yang kadangkala asyik tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ashraf.
Abraham telah selesai menjemur pakaian dan segera menghampiri ketika melihat putra kecil mereka telah kembali ke rumah.
“Sayang, sini peluk Ayah!”
Ashraf menoleh ke arah Abraham dan berlari untuk segera memeluk Ayahnya tersayang.
“Hhmmm.. Kesayangan Ayah dan Bunda sudah mandi. Baju yang kotor Ashraf mana?” tanya Abraham.
Asyila terperangah ketika menyadari bahwa putra kecil mereka telah mengganti pakaiannya.
“Dicuci sama Mama Ema,” jawab Ashraf.
Hal seperti itu sudah biasa, bahkan beberapa pakaian Ashraf ada dikediaman keluarga kecil Ema. Begitu pun sebaliknya, pakaian Kahfi berada dikediaman keluarga kecil Asyila.
“Tadi Ashraf mandi sendiri apa dimandikan oleh Mama Ema?” tanya Asyila.
“Hhhmmm.. Mandi sendiri,” jawab Ashraf.
Asyila tertawa kemudian diikuti pula oleh Abraham yang sangat senang karena mereka tidak susah-susah memandikan Ashraf yang sedikit rewel ketika mandi pagi.
“Mas, Asyila sudah membuatkan sarapan. Apa mau sarapan sekarang?” tanya Asyila.
Ketiganya pun bersama-sama melangkah menuju ruang makan.
Asyila mengambil piring dan mulai mengisinya.
“Bunda, Ashraf sudah sarapan,” ucap Ashraf dengan tatapan polosnya.
Asyila mendekat dan sedikit membungkuk, “Ashraf mau sarapan lagi?” tanya Abraham sambil menyentuh dagu buah hatinya.
Ashraf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia ingin main di ruang keluarga dengan mainannya.
“Ya sudah kalau begitu, ingat ya mainannya tidak boleh berserakan kemana-mana,” ucap Asyila mengingatkan buah hatinya.
“Baik, Bunda!” Dengan cepat Ashraf berlari menuju ruang keluarga padahal sudah diperingatkan oleh Asyila agar tidak berlari-larian.
Kini hanya ada Abraham dan Asyila di ruang makan. Seperti biasa, mereka akan makan dengan satu piring yang sama serta saling suap menyuapi makanan.
Usai sarapan, Abraham segera memerintahkan istri kecilnya untuk tidak melakukan apapun. Asyila mau tak mau mengiyakan dan duduk cantik sembari mengamati pekerjaan suaminya yang begitu hati-hati ketika mencuci piring.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham ketika tugas mencuci alat makan selesai.
__ADS_1
“Terima kasih, Mas,” tutur Asyila sambil menyentuh tangan suaminya dan mengarahkannya pada pipinya.
Abraham gemas dan mencubit kedua pipi istri kecilnya dengan pelan.
“1 jam lagi kita akan siap-siap,” ujar Abraham yang tangannya masih menyentuh kedua pipi Asyila.
“Siap-siap memangnya kita mau kemana Mas?” tanya Asyila penasaran.
“Ke pantai,” jawab Abraham.
Mendengar kata pantai Asyila langsung tersenyum lebar. Sebenarnya sudah sangat lama ia ingin pergi ke pantai, akan tetapi ia sungkan untuk memberitahukannya kepada sang suami. Terlebih lagi karena suaminya sibuk bekerja dan jika libur hanya bisa menghabiskan waktu dirumah.
“Kita pergi tidak hanya bertiga, ada Yogi dan keluarganya yang ikut berlibur,” tutur Abraham.
Asyila sangat senang dan karena terlalu senang ia melompat ke pelukan suaminya. Dengan refleks, Asyila menciumi seluruh wajah suaminya termasuk bibir Sang suami.
“Sepertinya kita harus melakukannya,” ucap Abraham dengan senyumnya dan berjalan meninggalkan ruang makan sambil terus menggendong istri kecilnya yang saat itu tengah memeluknya.
Asyila geleng-geleng kepala dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Dan Asyila pun pasrah dengan ajakan suaminya didalam kamar.
Beberapa saat kemudian.
Abraham, Asyila dan Ashraf telah bersiap-siap untuk pergi menuju pantai. Tak hanya mereka, Yogi, Ema dan Kahfi pun telah siap untuk bisa menghabiskan waktu bersama.
“Asik, Pantai!” Ashraf sangat senang karena ia akan bermain pasir pantai seperti membangun rumah atau istana yang sudah lama ia impikan.
“Senang ya sayang? Sini pakai tasnya!” Asyila memberikan tas gendong dan dengan semangat Ashraf mengenakannya.
Abraham mengeluarkan koper dan membawanya keluar. Diluar rumah sudah ada Eko yang bersiap-siap untuk mengantarkan Tuan Mudanya ke tempat lokasi untuk berlibur.
Rencananya, Abraham akan menghabiskan waktunya di hotel dekat dengan Pantai untuk beberapa hari ke depan.
“Kalian sudah siap?” tanya Abraham ketika melihat Yogi yang tengah menatapnya diseberang tembok pembatas rumah mereka.
“Tentu saja sudah, apa mau berangkat sekarang?” tanya Yogi.
“Tentu,” jawab Abraham singkat.
Asyila keluar dari rumah dan segera mengunci pintu rumah dengan perasaan yang sangat bahagia. Merekapun masuk ke dalam mobil dan perlahan meninggalkan perumahan Absyil dan diikuti oleh Yogi dari belakang.
Ashraf terlihat sangat senang sampai-sampai ia berjoget didalam mobil.
“Ashraf senang sayang?” tanya Asyila yang juga begitu senang melihat putra kecilnya bersemangat.
Ashraf mengiyakan dengan semangat dan mencium basah pipi Asyila. Abraham terlihat cemburu dengan apa yang dilakukan Ashraf dan segera menghapus bekas ciuman Ashraf di pipi istri kecilnya.
__ADS_1
Asyila hanya bisa geleng-geleng menyaksikan apa yang baru saja dilakukan suaminya. Bagaimana bisa Sang suami cemburu dengan anak sendiri.
Abraham 💖 Asyila