
Asyila terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba merasakan mual yang sangat hebat, ia dengan hati-hati melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi di dalam perutnya dengan penuh kesakitan.
Abraham terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara istri kecilnya yang tengah mual-mual di dalam kamar mandi. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, Abraham melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 1 pagi.
“Syila!” panggil Abraham yang hanya bisa memanggil istri kecilnya dari tempat tidur.
Asyila tidak mendengar panggilan dari suaminya, ia terus saja mengeluarkan isi di dalam perutnya.
Cukup lama Asyila di dalam kamar mandi, sampai akhirnya ia keluar dengan langkah tertatih-tatih.
“Syila kenapa?” tanya Abraham panik.
Asyila tak langsung menjawab, wanita muda itu terus saja melangkahkan kakinya dan akhirnya ia pun sampai di tempat tidur.
“Mas, perut Asyila sangat tidak sehat,” tutur Asyila dengan suara parau.
Abraham semakin khawatir, ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu dokter yang bisa datang untuk memeriksa kondisi kesehatan istri kecilnya.
Asyila yang melihat suaminya ingin menghubungi seseorang langsung mengambil ponsel suaminya.
“Mas, tidak baik jika Mas menghubungi seseorang untuk datang kemari di jam seperti ini. Asyila mungkin masuk angin dan salah makan saja, tolong Mas jangan terlalu panik. Asyila ke dapur dulu ya Mas, siapa tahu dengan Asyila minum wedang jahe perut Asyila tidak sakit lagi,” tutur Asyila dan bergegas keluar kamar untuk membuat wedang jahe.
Disaat yang bersamaan, Rahma sedang berjalan menuju dapur dan Asyila pun memanggil Rahma agar menunggu dirinya.
“Kamu kenapa Asyila?” tanya Rahma panik karena raut wajah Asyila waktu itu benar-benar pucat.
“Saya tidak apa-apa, Mbak. Tolong bantu saya menuju ruang dapur!” pinta Asyila.
Rahma mengangguk setuju dan merangkul Asyila menuju dapur.
“Kamu mau ngapain Asyila?” tanya Rahma ketika melihat Asyila tengah membuka tutup termos air.
“Perut saya sedikit bermasalah dan saya ingin menghangatkannya dengan membuat wedang jahe,” terang Asyila.
Rahma menggelengkan kepalanya dan menuntun Asyila untuk duduk.
“Kamu sebaiknya diam disini saja, biar aku yang membuatkan wedang jahe untukmu,” ucap Rahma.
Asyila tersenyum tipis dan menyetujui apa yang diucapkan oleh Rahma.
Beberapa menit kemudian.
Wedang jahe buatan Rahma akhirnya jadi, Asyila tanpa pikir panjang menyeruputnya dan kebetulan wedang jahe yang dibuat oleh Rahma tidaklah panas.
“Bagaimana? Apakah enak?” tanya Rahma penasaran.
__ADS_1
“Sangat enak dan juga hangat. Terima kasih, Mbak Rahma,” jawab Asyila.
Asyila tidak hanya minum wedang jahe, ia juga mengisi perutnya dengan roti kacang hijau yang sebelumnya dibeli oleh Sang Ayah ketika perjalanan menuju rumah Sang suami tercinta.
Rahma ikut menemani Asyila sampai Asyila kembali masuk ke dalam kamarnya.
***
Pagi hari.
Kondisi Asyila sudah membaik seperti biasanya, pagi itu ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan suaminya karena ada hal yang harus ia kerjakan dan juga ada beberapa rapat yang harus ia hadiri menggantikan posisi suaminya untuk sementara waktu.
“Syila yakin ingin pergi ke perusahaan?” tanya Abraham yang terlihat berat hati membiarkan istri kecilnya pergi ke perusahaan.
“Mas, Asyila pergi ke perusahaan juga untuk membantu pekerjaan Mas yang tertunda cukup lama. Tolong dukung Asyila dan beri Asyila semangat!” pinta Asyila sambil menyentuh tangan suaminya.
Abraham terdiam sejenak dan beberapa detik berikutnya pria itu menghela napasnya yang terdengar berat.
“Kalau ada apa-apa, langsung telepon Mas atau orang yang dapat Asyila percaya. Do'a Mas selalu menyertai Asyila,” tutur Abraham.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak,” ucap Asyila sambil memeluk tubuh suaminya.
Asyila pun bergegas pamit dan tak lupa mencium punggung tangan suaminya serta bibir suaminya itu dengan penuh cinta.
Abraham sebenarnya tidak ingin merepotkan istri kecilnya, apalagi sekarang Sang istri harus turun tangan mengatasi perusahaan yang didalamnya banyak sekali hal-hal yang tak terduga.
Asyila keluar dari kamarnya dan pamit kepada orang rumah untuk segera pergi ke perusahaan. Arsyad dan Ashraf terlihat sedih karena Bundanya mereka akhir-akhir ini sangat sibuk dan sangat jarang bermain dengan mereka.
Asyila mencoba memberikan penjelasan kepada kedua putra kecilnya dan berharap Arsyad serta Ashraf mengerti maksud dengan apa yang dikatakan olehnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Bunda mereka, keduanya pun mengangguk paham.
“Bunda berangkat dulu ya sayang, kalian berdua tidak boleh nakal selama Bunda tidak ada di rumah. Kalian mengerti!”
“Mengerti Bunda!” seru mereka.
Asyila pun pamit dan bergegas menuju perusahaan suaminya. Pagi itu, Asyila tidak pergi seorang diri. Ada Pak Udin yang siap mengantarkan dirinya dan menunggunya pulang.
“Ayo Pak Udin!” ajak Asyila ketika melihat Pak Udin sedang duduk santai di kursi.
Pak Udin mengiyakan dan bergegas masuk ke dalam mobil. Perjalanan Asyila menuju perusahaan pun akhirnya dimulai, untuk pertama kalinya Asyila yang mengambil alih perusahaan suaminya.
Tentu saja Asyila merasa sangat gugup, ia takut jika melakukan kesalahan yang fatal.
“Nona Asyila kenapa terlihat sangat tegang?” tanya Pak Udin.
__ADS_1
“Asyila juga tidak tahu, Pak Udin. Hanya saja, Asyila takut kalau melakukan kesalahan fatal,” jawab Asyila apa adanya.
“Nona Asyila ini ternyata bisa membuat lelucon ya,” ucap Pak Udin dan tertawa kecil.
“Lelucon?” tanya Asyila terheran-heran.
“Nona Asyila sebelumnya adalah lulusan terbaik dan mengantongi sertifikat cumlaude. Apalagi dengan jurusan Nona Asyila yang mendukung, Nona Asyila harus percaya diri dan ini saatnya bagi Nona Asyila menunjukkan kepada yang lain bahwa Nona Asyila juga bisa memimpin perusahaan,” terang Pak Udin.
Perkataan Pak Udin langsung membuat Asyila tersadar, apa yang dikatakan oleh Pak Udin memang 100% benar.
“Terima kasih, Pak Udin. Asyila sekarang mengerti dan apa yang Pak Udin katakan membuat Asyila tersadar, pokoknya Asyila harus bisa!” teriak Asyila di dalam mobil dengan penuh semangat.
Pak Udin merasa sangat senang, ia dari dulu sudah menganggap Asyila seperti putrinya sendiri. Ditambah, perilaku Asyila yang sangat baik dan patut diacungi jempol.
****
Di perusahaan.
Asyila mengatur napasnya sebelum turun dari mobil, untuk pertama kalinya ia akan menjadi pemimpin perusahaan dan berharap para karyawan dari suaminya dapat menerima kehadirannya.
“Nona Asyila, ayo turun,” ucap Pak Udin menyadarkan Asyila.
Asyila mengiyakan dan turun dari mobil dengan langkah ragu-ragu.
“Huh, Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Asyila sambil menyentuh dadanya.
Seorang wanita berpakaian rapi menghampiri Asyila dengan begitu sopan.
“Selamat siang, Nona Asyila. Mari ikut saya!”
Asyila membalas sapaan selamat pagi tersebut dan mengikuti langkah kaki wanita yang menuntunnya masuk.
Semua mata tertuju padanya dan tersenyum ramah ke arahnya, sepertinya mereka semua memang sudah tahu siapa dirinya.
Pertama-tama, Asyila dibawa oleh wanita muda itu kesebuah ruangan. Ruangan tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah ruangan suaminya, Abraham.
“Ini adalah ruang Pak Abraham dan Nona Asyila berhak tinggal di ruangan ini,” terangnya.
Setelah melihat-lihat ruangan suaminya, Asyila pun diajak ke ruangan lainnya yang cukup besar dan luas. Ruangan tersebut adalah ruangan khusus rapat-rapat penting dan kebanyakan dihadiri oleh orang-orang penting.
Cukup lama Asyila berkeliling, sampai akhirnya Asyila kembali ke tempat awal yaitu ruangan suaminya. Asyila diberi waktu sekitar satu jam untuk menguasai materi, Asyila pikir materi tersebut akan sangat rumit dan ternyata materi yang diberikan oleh salah satu pegawai perusahaan suaminya adalah materi yang sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya ketika masih menjadi mahasiswi.
Tak sampai satu jam, Asyila sudah menguasai materi tersebut dan bersiap-siap untuk membahas mengenai perusahaan dengan yang lainnya.
Aku yakin aku bisa, semangat Asyila. Tolong berikan hamba kemudahan, Ya Allah.
__ADS_1
Tunggu Asyila pulang ya Mas! Asyila tidak akan mengecewakan Mas Abraham.
Asyila tersenyum lebar menyemangati dirinya, ditambah sebuah foto yang semakin membuat semangat. Yaitu, foto dirinya dan Sang suami tercinta ketika sedang berada di pelaminan. Foto resepsi pernikahan mereka yang selamanya akan menjadi sejarah cinta antara dirinya dan Sang suami.