
Keesokan paginya.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Abraham serta yang lainnya memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga.
Hanya ada satu orang yang tak berkumpul, siapa lagi kalau bukan Salsa.
Ashraf yang saat itu masih mengantuk, memilih untuk tidur dipangkuan Ayahnya.
Sementara para orang tua, sedang sibuk dengan perbincangan serius mereka.
Saat tengah berbincang-bincang, Salsa tiba-tiba datang sambil membawa nampan yang berisi beberapa teh buatannya.
“Selamat pagi, silakan diminum,” ucap Salsa mempersilakan mereka untuk menikmati teh buatannya.
Dyah memutar matanya dengan sangat jengah dengan apa yang dilakukan oleh Salsa.
Akan tetapi, Dyah memilih untuk tetap diam seakan-akan tak mengetahui kehadiran Salsa diantara mereka.
“Terima kasih ya Nak Salsa,” ucap Arumi pada Salsa.
Salsa tersenyum malu-malu dan dengan santainya duduk bersebelahan dengan Arumi.
Dyah tak tahan lagi dengan kehadiran Salsa di ruang keluarga itu.
“Siapa yang meminta kamu duduk disini? Kamu tidak tahu kita sedang berkumpul dan khusus untuk keluarga bukan orang lain,” tegas Dyah.
Salsa ingin sekali membalas ucapan Dyah yang terang-terangan mengusirnya. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukannya karena ia tidak ingin semuanya beranggapan bahwa ia jahat.
“Maafkan saya Mbak Dyah, kalau begitu saya permisi dan tidak akan mengganggu Mbak Dyah serta yang lainnya,” ucap Salsa dan perlahan meninggalkan ruang keluarga.
Salsa pun masuk ke dalam kamar dan sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Dyah.
“Wanita itu benar-benar membuatku kehilangan kesabaran. Dan juga, kenapa wanita tua bangka itu tidak membelaku? Seharusnya dia memarahi Dyah dan membelaku,” ucap Salsa bermonolog.
Ketika Salsa sedang mengomel di dalam kamar, perutnya kembali berbunyi. Ia sudah sangat lapar, akan tetapi tak berani makan karena yang lainnya belum makan.
1 jam kemudian.
Arumi mengetuk pintu kamar yang saat itu ditempati oleh Salsa dan meminta Salsa untuk segera sarapan.
Mendengar hal itu, Salsa pun tersenyum dan buru-buru pergi ke ruang makan.
“Kok sepi? Yang lainnya kemana, Ibu?” tanya Salsa penasaran.
“Yang lainnya sedang berada di teras depan,” jawab Arumi, “Kamu tidak perlu menunggu mereka, lagipula mereka sudah sarapan. Sekarang kamu sarapan ya, Ibu mau ke depan,” imbuh Arumi dan setelah itu melenggang pergi meninggalkan Salsa seorang diri di ruang makan.
Salsa mengernyitkan keningnya sambil terus memperhatikan punggung Arumi yang perlahan pergi meninggalkannya seorang diri.
“Kenapa wanita itu sekarang terlihat sangat cuek terhadapku? Apa hanya perasaanku saja?” tanya Salsa bermonolog.
Salsa menggerutu dalam hatinya dengan sangat kesal dan memutuskan untuk segera makan.
Disaat yang bersamaan, Abraham duduk bersama yang lainnya dengan ditemani teh hangat buatan Arumi.
“Paman, sebenarnya sedang menunggu siapa?” tanya Dyah penasaran sambil menggendong buah hatinya yang saat itu tengah terlelap.
“Saat mereka tiba, kamu juga akan tahu,” balas Abraham yang tetap merahasiakan kedatangan para sahabatnya.
__ADS_1
Dyah memonyongkan bibirnya dan memilih untuk duduk disamping suaminya.
Beberapa saat kemudian.
Salsa keluar dari rumah dan dengan santainya ikut bergabung bersama mereka.
Saat itu pula, Arumi membahas masalah pernikahan mereka yang akan berlangsung secepatnya.
“Bagaimana, Nak Abraham. Kapan kalian akan menikah?” tanya Arumi sambil menyentuh kedua bahu Salsa seakan-akan memberitahukan kepada yang lainnya bahwa ia sepenuhnya berpihak kepada Salsa yang wajahnya sangat mirip dengan putrinya.
“Apa!!” Dyah terkejut dan berteriak setelah mendengar perkataan Arumi.
Salsa tersenyum puas, ia sangat puas melihat wajah Dyah yang begitu terkejut.
“Oek... Oek... Oek..” Bayi mungil itu pun menangis mendengar teriakkan dari Dyah.
“Paman, jelaskan kalau pernikahan kalian sama sekali tidak benar!” pinta Dyah agar Pamannya segera menjelaskan mengenai pernikahan tersebut.
Melihat istrinya yang tengah marah, Fahmi pun mengambil buah hatinya dan masuk ke dalam kamar untuk menenangkan bayi mungil yang terus menangis.
“Paman!” Dyah menatap mata Pamannya dan berharap Pamannya itu segera menjelaskan maksud dari Arumi.
“Dyah sudah mendengarnya 'kan? Paman dan Salsa akan menikah secepatnya,” terang Abraham.
Salsa yang mendengar keterangan Abraham seketika itu meloncat kegirangan.
Lain halnya dengan Dyah yang seketika itu menangis.
“Paman jahat, bagaimana bisa Paman melupakan Aunty Asyila secepat ini. Paman jahat!” teriak Dyah sambil terus memukuli lengan Pamannya. Kemudian, berlari masuk ke dalam rumah.
“Terima kasih, Mas Abraham,” ucap Salsa sambil berjalan mendekat ke arah Abraham.
“Berhenti!” perintah Abraham dingin, “Jangan sekali-kali memanggil namaku dengan sebutan Mas. Hanya istriku Asyila lah yang boleh memanggilnya,” tegas Abraham dan melenggang pergi.
Salsa sama sekali tak memedulikan perkataan Abraham. Hatinya saat itu terlalu senang dan berbunga-bunga karena Abraham akhirnya menerimanya sebagai calon istri.
Herwan menoleh ke arah istrinya dan dengan cepat Arumi memberikan kedipan mata kepada suaminya.
Seakan-akan tengah memberitahukan kepada suaminya bahwa suaminya baik-baik saja.
Di dalam kamar, Dyah terus saja menangis. Keterangan Pamannya benar-benar membuatnya syok berat. Fahmi sebagai suami hanya bisa menenangkan istrinya yang saat itu nampak begitu sedih.
“Dyah, ayo berhentilah menangis. Kalau Dyah terus saja menangis, bagaimana dengan putri kita?” tanya Fahmi yang saat itu tengah memeluk tubuh istrinya.
“Hiks.. hiks... Tolong hajar Paman sampai babak belur, Mas. Dyah ingin sekali membuat Paman babak belur,” pinta Dyah pada suaminya.
“Dyah, Suamimu ini tidak berhak melakukan hal seperti itu. Tolong mengertilah!” pinta Fahmi.
“Mengerti? Apanya yang harus dimengerti?” tanya Dyah yang kini malah melampiaskan kekesalannya pada suaminya.
Bayi mungil itu kembali menangis dan Fahmi pun segera menggendong buah hatinya.
“Sini, biar Asyila sama Mamanya. Sekarang, Mas Fahmi keluar dari kamar ini dan jangan masuk lagi!” pinta Dyah mengusir suaminya.
Karena tak ingin memperkeruh keadaan, Fahmi pun mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar.
Salsa tersenyum dengan penuh kemenangan mengetahui Dyah dan Fahmi bertengkar.
__ADS_1
“Rasakan, akhirnya kalian bertengkar juga. Kedepannya, aku akan membuat rumah tangga kalian berantakan dan hancur,” ucap Salsa bermonolog.
Beberapa saat kemudian.
Dayat, Edi serta dua lainnya datang untuk menemui Abraham karena ada hal penting yang harus mereka selesaikan hari itu juga.
“Ayah!” panggil Ashraf ketika melihat sebuah mobil terparkir di depan halaman rumah.
Bocah kecil itu berlari menaiki anak tangga untuk segera memberitahukan Ayahnya.
“Ashraf kenapa lari-larian?” tanya Abraham pada buah hatinya yang terengah-engah.
“Ayah, dibawah ada Paman Dayat,” jawab Ashraf.
Abraham seketika itu mengambil kemeja miliknya dan mengenakannya.
“Ashraf main ke rumah Kahfi ya, jangan pulang sebelum Ayah susul!” perintah Abraham.
Ashraf dengan cepat mengiyakan, ia sangat senang karena akan bertemu dengan Kahfi.
Keduanya pun turun dan bergegas menemui Dayat serta yang lainnya.
“Ayah, Ashraf ke rumah Kahfi ya,” ucap Ashraf dan tak lupa mencium punggung tangan Sang Ayah.
Ashraf berlari kecil menuju kediaman sahabatnya yang letaknya bersebelahan dengan kediaman orangtuanya.
Dayat, Edi dan dua lainnya rupanya sudah duduk santai di ruang tamu karena Arumi lebih dulu mempersilakan keempatnya untuk masuk.
“Kalian sudah datang, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk datang kemari,” ucap Abraham.
“Ayolah, anda tidak perlu sungkan dengan kami. Sesibuk apapun kami, Insya Allah kami akan datang kemari. Oya, dimana wanita itu?” tanya Dayat penasaran.
Abraham menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan dari Dayat.
“Ada, sebentar lagi wanita itu pasti akan kemari,” jawab Abraham.
Baru saja Abraham mengatakannya, rupanya Salsa sudah tiba dan dengan pakaian yang begitu menggelikan.
“Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya calon istri dari Mas Abraham,” ucap Salsa memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Abraham.
Dayat, Edi dan dua lainnya tersenyum lebar mendengar keterangan dari Salsa.
“Kamu tidak salah dengan pakaian seperti itu?” tanya Edi meledek Salsa.
Bukannya tersinggung, Salsa malah berbangga diri dan mengira bahwa Edi tengah memuji bentuk tubuhnya yang begitu menarik.
“Terima kasih atas pujiannya. Meskipun begitu, saya kini adalah calon dari Mas Abraham. Sampai kapanpun, saya tidak akan tertarik kepada pria manapun,” tegasnya.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Dayat dan yang lainnya secara kompak.
Abraham tak bisa menahan tawanya, ia tertawa lepas mendengar ucapan yang penuh percaya diri dari Salsa.
Salsa lagi-lagi merasa besar kepala, ia semakin senang dengan kecantikan tubuhnya.
Next akan ada yang lebih seru lagi.
Jgn lupa like ❤️ komen 😘 vote juga ya
__ADS_1