Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Membahas Wanita Bercadar


__ADS_3

Keesokan paginya.


Abraham dan Ashraf telah tiba tepat di depan gerbang rumah. Kepulangan Abraham dan Ashraf tidak diketahui oleh Asyila serta yang lainnya.


Abraham sengaja tidak memberitahukan hal tersebut agar Asyila serta yang lainnya tidak menunggu kedatangan mereka.


“Ya Allah, cucu Nenek sudah kembali!”


Arumi yang sedang menyiram tanaman, tak sengaja menoleh ke arah gerbang dan melihat sosok cucu keduanya yang berdiri bersama dengan menantu idamannya itu.


Wanita itu berlari dengan tergesa-gesa untuk segera menghampiri Ashraf.


“Ya Allah, siapa yang sudah melakukan hal ini kepada kamu, Ashraf?” tanya Arumi dengan tatapan syok berat.


Ashraf tak menjawab pertanyaan Neneknya. Bocah kecil itu hanya diam seribu bahasa dan hanya ingin menemui Bundanya tersayang.


“Ibu tidak perlu cemas seperti ini, Ashraf sekarang sudah baik-baik saja,” tutur Abraham dan tak lupa mengucapkan salam serta mencium punggung tangan Ibu mertuanya.


Arumi membalas salam dari menantunya dan kembali fokus pada Ashraf.


“Sini sama Nenek, Bunda Asyila pasti senang melihat Ashraf sudah kembali,” tutur Arumi sambil menggandeng tangan kecil Ashraf untuk segera masuk ke dalam rumah.


Disaat yang bersamaan, Asyila keluar dari rumah untuk menghampiri Ibunya.


“Ashraf!” teriak Asyila dan berlari secepat mungkin menghampiri buah hatinya.


“Bunda tidak apa-apa 'kan?” tanya Ashraf yang begitu mengkhawatirkan Bundanya.


Arumi mengernyitkan keningnya, bagaimana mungkin bocah kecil seperti Ashraf malah mengkhawatirkan Bundanya.


“Bunda kamu itu tidak apa-apa, Ashraf. Justru, kami semua disini yang mengkhawatirkan kamu,” terang Arumi.


Asyila segera memeluk tubuh buah hatinya dan membisikkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa di dengar oleh Abraham maupun Arumi.


“Tolong jaga rahasia Bunda ya sayang,” bisik Asyila.


Dengan patuh, Ashraf mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya.


“Mas, kenapa tidak langsung pulang?” tanya Asyila kepada suaminya.


Bukannya menjawab, Abraham justru melamun memikirkan sesuatu hal yang terus saja mengganggu pikirannya.


“Mas!” panggil Asyila sambil menggoyangkan lengan suaminya agar tersadar dari lamunannya, “Mas sedang melamun'kan apa?” tanya Asyila penasaran.


“Tidak sedang melamun'kan apa-apa,” jawab Abraham.


Asyila menggigit bibir bawahnya dan memutuskan untuk mengajak Ashraf masuk ke dalam kamar. Sementara Abraham memilih duduk di kursi ruang tamu sambil memikirkan perkataan dari Bambang, Heri serta yang lainnya.


Mereka mengatakan bahwa ada wanita bercadar yang telah menghajar mereka dan Ashraf memanggilnya dengan sebutan Bunda.


Abraham kemudian tersadar dan menggelengkan kepalanya. Ia pun memilih menyangkal bahwa wanita bercadar itu adalah istri kecilnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Asyila tengah menemani buah hatinya berbaring.


“Ashraf sudah makan?” tanya Asyila sambil membelai lembut rambut buah hatinya dan dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


“Sudah, Bunda,” jawab Ashraf dan menceritakan tentang tempat makan yang enak ketika ingin kembali ke rumah.


Dengan tatapan keibuan, Asyila mendengarkan apa yang diceritakan oleh buah hatinya itu.


“Assalamu’alaikum, Ayah mengganggu 'tidak?” tanya Abraham sambil membuka pintu kamar.


“Wa’alaikumsakam,” jawab Asyila dan juga Ashraf secara kompak.


Abraham saat itu tidak langsung masuk, hanya salah satu kakinya serta kepalanya yang baru masuk.


“Mas sedang ngapain disitu? Masuk sini!” panggil Asyila.


Abraham tersenyum lebar dan akhirnya masuk ke dalam kamar.


“Syila, ada yang ingin Mas tanyakan kepada Syila,” ucap Abraham yang nampak sangat serius dengan ucapannya.


Deg!


Mendengar ucapan dari suaminya itu, tubuhnya Asyila tiba-tiba menegang. Asyila takut jika sang suami mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


“Boleh?” tanya Abraham memastikan.


Dengan ragu-ragu, Asyila mengangguk setuju.


Abraham tidak langsung menanyakan apa yang ingin ia tanyakan kepada istri kecilnya. Akan tetapi, Abraham lebih dulu menyentuh kedua tangan istri kecilnya yang halus tersebut.


“Tidak mungkin,” ucap Abraham lirih sambil tertawa kecil.


“Ti-tidak mungkin apanya, Mas?” tanya Asyila penasaran yang samar-samar mendengar ucapan suaminya itu.


“Tidak apa-apa. Jujur saja, Mas tak percaya kalau tangan ini bisa membuat wajah orang bonyok,” jawab Abraham sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Apa Mas ingin Asyila menjadi wanita kuat?” tanya Asyila sambil tersenyum canggung.


“Begini saja Syila sudah kuat,” jawab Abraham sambil memberikan kedipan mata genit kepada istri kecilnya dan berniat mencium bibir sang istri yang saat itu terlihat menggoda.


“Eiisssttt, jangan dulu Mas! Ada Ashraf disini,” ucap Asyila mencegah suaminya yang ingin mencium bibirnya sambil melirik ke arah Ashraf yang memang belum tertidur.


Abraham memanyunkan bibirnya dan akhirnya ikut bergabung dengan putra kecilnya yang sedari tadi telah menguasai ranjang empuk tersebut.


“Masih sakit, Nak?” tanya Abraham sembari membelai wajah Ashraf yang masih memiliki bekas kebiru-biruan ulah dari para penculik tersebut.


“Tidak, Ayah,” jawab Ashraf.


“Benar?” tanya Abraham sekali lagi.


“Kan, sudah dikasih obat sama Ibu dokter,” jawab Ashraf yang suaranya terdengar begitu menggemaskan.

__ADS_1


“Untungnya saja ada wanita bercadar itu, kalau saja dia tidak ada...” Abraham menghentikan ucapannya dan terlihat jelas matanya tengah berkaca-kaca.


“Wanita bercadar?” tanya Asyila berpura-pura terkejut.


“Iya, wanita bercadar yang telah membantu Ashraf dan sekaligus membantu kita untuk menghajar mereka semua,” jawab Abraham.


“Benarkah? Mas melihatnya dan berbicara dengannya?” tanya Asyila yang nampak begitu penasaran.


Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak. Wanita itu keburu pergi dan yang membuat Mas penasaran adalah wanita bercadar yang diceritakan oleh kelima pelaku itu, mengatakan bahwa dia adalah Bunda Ashraf,” terang Abraham.


Asyila mengernyitkan keningnya dengan tangan terheran-heran.


“Ashraf punya dua Bunda sekarang?” tanya Asyila protes sambil menoleh ke arah Ashraf.


“Kalau boleh,” celetuk Abraham.


Asyila yang mendengar celetukan suaminya, seketika itu memukul dada suaminya berulang kali.


“Mas kok bicara seperti itu?” tanya Asyila yang tidak senang dengan celetukan suaminya.


“Maaf, Mas tadi hanya bercanda,” balas Abraham mencoba menenangkan istri kecilnya yang tengah ngambek.


“Jangan pernah berpikiran sedikitpun untuk memiliki dua istri,” tegas Abraham dan berbalik meninggalkan suaminya serta Ashraf di dalam kamar.


Dengan langkah kesal, Asyila berjalan menuju halaman belakang rumah.


Mas Abraham benar-benar membuatku kesal. Meskipun begitu, aku yakin Mas tidak tahu siapa wanita cadar itu yang sebenarnya.


Abraham berlari kecil dan segera memeluk tubuh sang istri dari belakang.


“Maaf, tolong jangan pergi seperti itu lagi!” pinta Abraham.


“Mas menyebalkan,” ucap Asyila.


“Iya, Mas memang menyebalkan. Tolong jangan ngambek dan marah ya! Mas tadi hanya bercanda, sebenarnya dari tadi Mas memikirkan apa yang dikatakan oleh para pelaku penculikan itu. Mereka mengatakan bahwa wanita bercadar itu sepertinya adalah Asyila. Dikarenakan, wanita itu berteriak memanggil nama Ashraf dan juga Ashraf memanggilnya Bunda,” terang Abraham yang masih memeluk tubuh istri kecilnya dari belakang.


Asyila terdiam sejenak dan kemudian berbalik badan menghadap ke arah suaminya.


“Bagaimana kalau Asyila belajar ilmu beladiri dan ikut melawan penjahat bersama dengan Mas?” tanya Asyila.


Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya.


“Syila tidak perlu berlatih ilmu beladiri, karena Mas yang harusnya menjaga Syila dan juga anak-anak kita. Lagipula, kejadian satu tahun yang lalu masih terngiang-ngiang di kepala Mas,” terang Abraham.


“Asyila janji, Asyila tidak akan pernah lagi membahayakan keselamatan Syila dan Syila juga berharap agar kita bisa kembali memiliki buah hati,” ucap Asyila sambil menyentuh perutnya.


“Insya Allah, sebentar lagi kita akan segera memiliki bayi lucu. Mas akan mencobanya setiap malam,” tutur Abraham dengan menahan tawanya.


“Kalau itu, memang maunya Mas Abraham,” celetuk Asyila.


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang selalu menunggu kisah Absyil. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan juga rezeki yang berlimpah serta halal.. Aamiin ya Allah.. ❤️


__ADS_2