Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Datang Menemui Ashraf Yang Sakit


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan oleh Herwan kepada Arumi sebelumnya, Herwan akan menghubungi keluarga di Bandung jam 3 pagi.


Dan Herwan pun untuk untuk menghubungi keluarga di Bandung.


“Mas, mau kemana?” tanya Arumi yang ikut bangun ketika mendengar pergerakan dari suaminya.


“Mau menghubungi Nak Abraham,” jawab Herwan dengan suara yang sangat lirih dan nyaris tak di dengar oleh Arumi.


Herwan kembali melanjutkan langkahnya dengan sangat hati-hati agar Ashraf yang tengah tertidur tak terbangun karena.


Ketika Herwan keluar dari ruangan Ashraf, ternyata di tidak sendirian. Ada begitu banyak pria yang sedang terjadi dan ada beberapa yang tengah tertidur di lantai rumah sakit.


“Pak,” ucap Herwan menyapa pria yang tengah terjaga sambil mengisap rokok.


Pria yang baru saja disapa oleh Herwan tersenyum ramah dan menawarkan Herwan sebatang rokok. Akan tetapi, berhubung Herwan tak merokok, Herwan menolak sesopan mungkin. Agar pria yang menawarinya rokok tak tersinggung.


Kemudian, Herwan bergeser menjauh untuk segera menghubungi menantunya.


Disaat yang bersamaan, Abraham yang baru saja melaksanakan sholat tahajjud memutuskan untuk kembali tidur.


Ketika ia baru saja memejamkan matanya, ponselnya berbunyi dan cepat-cepat Abraham mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang tengah menghubungi pada jam seperti itu.


“Ayah?” tanya Abraham yang tak langsung menjawab telepon dari Ayah mertuanya.


“Assalamu’alaikum, Nak Abraham!” sapa Ayah mertuanya dari balik telepon.


“Wa’alaikumsalam, Iya Ayah,” jawab Abraham.


“Nak, sebelumnya maafkan Ayah menghubungi di jam seperti ini. Ayah ingin memberitahukan bahwa Ashraf demam dan sekarang Ashraf tengah di rawat di rumah sakit,” terang Herwan.


“Bagaimana keadaan Ashraf, Ayah? Abraham akan melakukan perjalanan setelah sholat subuh. Tolong katakan kepada Ashraf bahwa Ayahnya akan segera datang!” pinta Abraham yang sangat khawatir dengan kondisi buah hatinya.


Percakapan itu terus saja berlangsung dan tak terasa sudah hampir satu jam lamanya. Herwan pun mengakhiri sambungan telepon agar Abraham bisa berisitirahat.


Setelah melakukan percakapan lewat telepon, Abraham kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan berharap buah hatinya bisa segera sembuh.


“Ayah tahu bahwa sakit Ashraf ini adalah karena Ashraf butuh perhatian. Bukan dari Ayah, melainkan dari Bunda. Maafkan Ayah ya sayang, Ayah banyak salah karena selama ini telah membohongi Ashraf,” ucap Abraham dan perlahan memejamkan matanya untuk segera tidur karena setelah sholat subuh, ia akan melakukan perjalanan menuju Jakarta.


Keesokan paginya.


Dyah dan Fahmi ingin sekali ikut bersama dengan Abraham pergi ke Jakarta. Akan tetapi, Abraham langsung menolaknya dan meminta keduanya untuk diam di rumah.


Abraham tidak ingin kedatangan keduanya malah membuat Ashraf terus bertanya dan bertanya mengenai Bundanya.


“Paman, apakah kami benar-benar tidak boleh ikut?” tanya Dyah dengan wajah memelas.


“Tidak. Pokoknya tidak boleh. Paman ingin kalian disini menjaga rumah,” jawab Abraham yang tak bisa diganggu gugat.


Abraham pun keluar dari rumah dan sudah ada Eko yang siap mengantarkan Majikannya pergi ke Jakarta.


“Apakah semua barang ku sudah kamu masukkan?” tanya Abraham.


“Sudah, Tuan Muda Abraham. Saya pastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal,” jawab Eko dengan sangat ramah.


Ketika mobil ingin melaju keluar dari halaman rumah, Ema tiba-tiba menghadang dan membuat Abraham turun dari mobil.


“Maaf, Pak Abraham. Saya kemari ingin memberikan ini, saya harap Ashraf bisa menyukai manisan buah yang saya buat,” ucap Ema.


Abraham menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ema atas perhatiannya kepada buah hatinya bersama Asyila.


“Ayah, Kahfi boleh ikut?” tanya Kahfi yang sangat ingin bertemu dengan sahabatnya.


Abraham memberikan manisan buah kepada Eko agar disimpan baik-baik selama perjalanan. Kemudian, Abraham berjongkok mensejajarkan dirinya dengan buah hati Ema dan Yogi.


“Kahfi sementara ini di rumah dulu ya, soalnya Ashraf masih di rumah sakit,” jawab Abraham.


“Apa? Ashraf sakit apa, Pak Abraham?” tanya Ema yang sebelumnya tidak mengetahui bahwa kepulangan Abraham ke Jakarta untuk menemui Ashraf yang ternyata sedang sakit.


Tanpa pikir panjang, Ema menggandeng tangan Kahfi dan cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya untuk melakukan perjalanan ke Jakarta.

__ADS_1


Abraham mengernyitkan keningnya melihat tingkah Ema yang berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan Ema tak mengucapkan salam.


“Ayo, Tuan Muda Abraham!”


Abraham menoleh ke arah Eko dan kembali masuk ke dalam mobil untuk segera pergi menuju Jakarta.


Mobil pun perlahan meninggalkan perumahan Absyil dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Abraham malah diam seribu bahasa. Pria itu duduk dengan tenang sambil memikirkan keadaan buah hatinya yang sering sakit-sakitan karena merindukan istri kecilnya


Nak, Ayah tahu bahwa kamu juga menderita karena sampai sekarang belum bisa bertemu dengan Bunda mu.


Meskipun begitu, Ayah juga bingung harus bagaimana lagi?


Ayah sangat sedih dan Bunda mu pun sangat sedih ketika mengetahui bahwa buah hatinya sakit.


Eko menjadi tak fokus ketika mengendarai mobil, sopir pribadi itu sangat ingin berbincang-bincang dengan majikannya meskipun berbincang-bincang hal yang tidak penting.


“Tuan Muda Abraham!” panggil Eko sambil terus mengemudikan mobil.


“Ya,” jawab Abraham singkat.


“Tidak apa-apa,” ucap Eko dan memutuskan untuk diam daripada ia salah bicara.


Abraham menarik napasnya dan menghelanya secara berat.


“Aku ingin tidur,” ucap Abraham sembari bersandar dan memutuskan untuk tidur.


Disaat yang bersamaan, Ema berusaha membujuk suaminya untuk pulang ke Jakarta karena ingin menjenguk Ashraf yang sakit. Akan tetapi, bukannya mengiyakan Yogi malah menolak ajakan suaminya.


“Ayolah, Abang. Please!” pinta Ema, “Anak kita yang lainnya sedang sakit, apa Abang tetap disini dan tidak menjenguk ingin anak kita yang lain?” tanya Ema.


“Istriku yang paling cantik sedunia. Abang bukannya tidak ingin menjenguk anak kita, Ashraf. Akan tetapi, Mas disini juga tengah diberi amanah oleh Abraham untuk menangani perusahaan,” jawab Yogi selembut mungkin agar istrinya tidak bersedih.


Ema tertunduk diam, tiba-tiba air matanya menetes dan jatuh ke lantai.


“Ssuuttt, tolong janganlah menangis!” pinta Yogi dan mendekap tubuh istrinya dengan cukup erat.


Ema begitu menyayangi buah hati dari sahabatnya, begitupun Asyila yang juga begitu menyayangi buah hati Ema dan juga Yogi.


“Arsyad dan Ashraf sudah adik anggap seperti anak sendiri. Mendengar mereka sakit, sebagai orang tua adik harus menemui mereka. Apalagi, sekarang Asyila... Hiks... Hiks...” Ema tak bisa mengatakan bahwa Asyila telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, dikarenakan Ema masih belum percaya dan belum ikhlas atas kematian sahabatnya secara mendadak itu.


Yogi tidak bisa mengabaikan amanah yang diberikan Abraham untuknya.


Akan tetapi, saat ini apa yang dikatakan oleh Ema memang benar dan Yogi pun memberikan keputusan yang sama-sama menguntungkan untuknya dan juga sang istri.


“Begini saja, Adik dan Kahfi pergi duluan ke Jakarta. Setelah pulang kerja, Abang Akan menyusul kalian,” ungkap Yogi.


Ema seketika itu menghentikan tangisannya, ia sangat setuju dengan ide suaminya.


“Ok, setuju,” balas Ema dan seketika itu juga Ema menyiapkan barang-barangnya untuk berangkat menuju Jakarta.


Yogi tersenyum tipis, ia sangat senang melihat istrinya bersemangat seperti itu.


“Abang, setelah sampai ke Jakarta. Kami langsung pulang ke rumah Mami dan setelah itu menjenguk Ashraf di rumah sakit,” terang Ema sambil mengemas pakaiannya masuk ke dalam koper.


“Baiklah, senyaman istriku saja,” balas Yogi.


******


Setelah perjalanan yang memakan cukup banyak waktu, Abraham tiba di rumah sakit tempat buah hatinya di rawat.


Abraham merasa sangat kasihan dengan kondisi putra kecilnya. Belum lagi melihat jarum infus yang menusuk kulit buah hatinya.


Ya Allah, limpahkanlah sakit anak hamba kepada hamba saja Ya Allah.


Sungguh, hal ini sangat menyakitkan bila melihat putra kecil kami menderita seperti ini.


“Ayah!” panggil Ashraf sekali lagi karena bukannya mendekat, Sang Ayah malah melamun.

__ADS_1


Abraham tersadar dan mencium punggung tangan Ayah mertuanya terlebih dulu. Kemudian, menghampiri Asyila dan menggendong tubuh Ashraf yang kecil dengan sangat hati-hati.


Abraham terkejut ketika merasakan berat badan buah hatinya yang begitu kurus.


“Ashraf kenapa kurus seperti ini? Ashraf jarang makan ya?” tanya Abraham khawatir.


Dengan wajah pucat, Ashraf tersenyum dan mengatakan bahwa makanan yang ia makan sangatlah pahit.


Abraham sekuat tenaga menahan air matanya agar tak menetes. Orang tua mana yang tak sedih melihat buah hatinya kehilangan banyak berat badan terlebih lagi karena sakit-sakitan.


“Ashraf sudah sarapan?” tanya Abraham dan menciumi pipi Ashraf berulang kali.


“Sudah, Ayah,” jawab Ashraf.


“Ashraf tadi sempat sarapan. Akan tetapi, Ashraf hanya makan 2 sendok saja,” sahut Herwan apa adanya tanpa ada yang disembunyikan olehnya.


Abraham terdiam sejenak dan menurunkan tubuh Ashraf ke tempat tidur.


“Ashraf harus makan yang banyak. Bagaimana caranya, Ashraf tidak boleh makan sedikit. Kalau Ashraf makan sedikit, Ayah tidak ingin bertemu dengan Ashraf lagi,” terang Abraham dengan wajah tanpa ekspresi.


Ashraf terdiam dan menunduk sedih. Ia ingin makan dan menghabiskan makanannya. Akan tetapi, mulutnya terasa sangat pahit sehingga setiap makanan yang masuk ke dalam mulut sangat sulit ditelan olehnya.


Abraham seketika itu sadar bahwa ucapannya sangat keterlaluan. Ia pun meminta maaf atas ucapannya.


Ashraf tersenyum tipis dan nyaris tak terlihat kalau ia sedang tersenyum. Kemudian, meminta Sang Ayah untuk menyuapinya makanan.


Mendengar permintaan buah hatinya, Abraham langsung bersemangat dan memutuskan untuk mencari makanan di luar.


Belum juga keluar, Arumi sudah datang membawa beberapa nasi kotak yang dia beli di restoran rumah sakit.


“Ibu!” sapa Abraham dan mencium punggung tangan Ibu mertuanya.


“Nak Abraham sudah datang dari tadi?” tanya Arumi yang terlihat senang dengan kedatangan menantunya.


“Sekitar 10 menitan, Ibu,” jawab Abraham.


“Ini ada nasi kotak, makanlah. Dan ini untuk Ashraf, semoga saja Ashraf suka dengan makanan yang Ibu beli. Soalnya tadi, Ashraf hanya makan dua sendok saja dan tidak lebih dari itu,” terang Arumi yang perkataannya sama dengan apa yang dikatakan oleh Herwan sebelumnya.


Abraham tersenyum dan mengambil nasi kotak yang telah disiapkan oleh Ibu mertuanya untuk sang buah hati.


“Ashraf, Ayah suap ya!”


“Iya, Ayah,” balas Ashraf.


Abraham membaca do'a sebelum makan dan menyuapi makanan ke dalam mulut Ashraf.


Pelan tapi pasti, Ashraf mulai mengunyah dan menelan makanan yang diberikan oleh Abraham.


Arumi dan Herwan, seketika itu bernapas lega ketika melihat cucu kesayangan mereka mau makan.


“Anak pintar,” puji Abraham dan mencium kening Ashraf yang masih panas.


“Ayah, Bunda kemana? Kenapa tidak kesini?”


Akhirnya pertanyaan Ashraf kembali muncul dan membuat yang lainnya terkejut sekaligus sedih.


Seperti biasa, Abraham akan berbohong demi kebaikan buah hatinya. Abraham mengatakan bahwa Asyila sedang berada di Jakarta, karena ada urusan penting yang harus ditanganinya.


Lagi-lagi, Ashraf percaya perkataan Ayahnya. Meskipun, sering kali Ashraf dikecewakan oleh perkataan Ayahnya.


“Horeee, makanan Ashraf habis,” ucap Abraham dan bertepuk tangan dengan penuh semangat.


Ashraf tertawa kecil melihat tingkah Ayahnya yang seperti anak kecil.


“Sekarang, Ashraf minum!”


Ashraf menerima botol air minum pemberi Ayahnya dan meneguknya sampai air minum itu tersisa setengah botol.


“Sekarang Ashraf baca Do'a setelah makan!” pinta Abraham.

__ADS_1


Ashraf tersenyum dan melafalkan Do'a setelah makan dengan sangat fasih.


“Cepat sembuh ya sayang dan jangan sakit lagi. Ayah ingin Ashraf sehat dan kuat!”


__ADS_2