
Usai melaksanakan sholat, Asyila memutuskan untuk membaca ayat suci Al-Quran sebentar dan Abraham pun ikut menyimak bacaan istri kecilnya.
Meski sudah menikah dan telah dikaruniai dua buah hati yang menggemaskan, Asyila tetap saya merasa gugup jika terus diperhatikan oleh suaminya. Rasa gugup Asyila tentunya masih sama ketika awal-awal mereka dekat ketika Asyila masih kuliah di salah satu universitas terkenal di kota Bandung.
Abraham tersenyum melihat wajah istri kecilnya yang tersipu malu. Tentu saja Abraham tahu bahwa istri kecilnya tengah malu jika terus diperhatikan dan dipandangi oleh Abraham.
Asyila yang telah selesai membaca ayat suci Al-Quran dengan hati-hati meletakkan Al-Qur'an itu kembali ke tempatnya.
“Mas, boleh Asyila minta satu permintaan?” tanya Asyila dan berharap suaminya menyetujui permintaannya.
“Permintaan apa?” tanya Abraham penasaran.
“Begini Mas, nenek dari Mbak Rahma sudah sangat tua dan Asyila ingin sekali kita membantu memperbaiki rumah serta memberikan sumbangan untuk nenek Mbak Rahma,” jawab Asyila.
Abraham tanpa pikir panjang mengangguk setuju, Abraham kemudian mengambil ponsel miliknya dan langsung mentransfer uang ke rekening istri kecilnya.
Selang beberapa detik, ponsel Asyila berbunyi dan Asyila terkejut melihat nominal uang yang baru saja ditransfer oleh sang suami tercinta.
“Terima kasih, Mas Abraham,” ucap Asyila dan menciumi punggung tangan suaminya berkali-kali.
“Pakailah uang itu untuk kepentingan orang yang membutuhkan, kalau kurang Syila jangan sungkan-sungkan untuk meminta lagi. Oya, uang yang selama ini Mas berikan kepada Syila kenapa tidak pernah dipakai?” tanya Abraham yang sebenarnya sudah lama ingin menanyakan alasan istri kecilnya belum memakai uang pemberian darinya.
“Uang Mas tetap Asyila pakai, hanya saja Asyila tidak terlalu suka berbelanja dan uangnya kebanyakan untuk membeli lauk makan serta keperluan rumah tangga,” terang Asyila jujur.
“Tidak beli baju? Hijab atau yang lainnya?” tanya Abraham penasaran.
“Tidak, Mas. Lagipula pakaian Asyila di almari masih sangat banyak dan justru itu juga yang membuat Asyila bingung saking banyaknya,” jawab Asyila.
“Kalau ada pakaian Syila yang menurut Syila sudah tidak ingin dipakai lagi, lebih baik berikan saja kepada orang-orang yang membutuhkan,” tutur Abraham.
“Baik, Mas. Insya Allah secepatnya Asyila akan memisahkan pakaian yang tidak lagi Asyila kenakan,” balas Asyila.
“Ingat, berikan pakaian kepada yang membutuhkan dengan pakaian yang layak.”
Asyila geleng-geleng kepala dengan terus tersenyum.
“Memangnya Asyila akan setega itu, Mas?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak, Mas tadi hanya bercanda saja,” jawab Abraham.
Asyila mengangguk kecil dan bergeser menjauh untuk melepaskan mukena yang sedang ia kenakan.
“Mas, besok pagi Asyila pulang ya?
Asyila kangen dengan anak-anak dan kemungkinan besok Dyah sudah kembali ke Bandung,” ucap Asyila sambil melipat mukena dan memasukannya ke dalam tas.
“Kalau begitu Mas juga akan kembali ke rumah,” ucap Abraham serius.
“Tapi....”
“Akan lebih baik Mas dirawat di rumah dan bukan disini,” balas Abraham yang yakin jika kepulangannya ke rumah akan membuat keadaannya membaik.
“Kalau Mas pulang ke rumah, siapa yang akan merawat Mas?” tanya Asyila.
“Kan, ada Asyila dan mungkin tetap ada beberapa tenaga medis yang mengontrol kondisi Mas di rumah,” jawab Abraham.
Asyila mengiyakan apa yang dikatakan oleh suaminya, ia pun kembali mendekat dan meletakkan kepalanya bersandar di telapak tangan suaminya.
Jadwal kepulangan Abraham ke rumah seharusnya siang hari, akan tetapi Abraham sudah tidak betah di rumah sakit dan memaksa pihak rumah sakit untuk segera mengantarkannya pulang.
Dayat dan Edi pun datang ketika mengetahui bahwa Abraham sudah keluar dari rumah sakit.
“Anda ini memang sangat tangguh,” ucap Dayat kepada Abraham.
“Tangguh yang bagaimana?” tanya Abraham yang menunggu tim medis datang untuk memasukkannya ke dalam mobil.
“Masih sakit begini malah nekad pulang ke rumah, kalau ada apa-apa bagaimana? Kasihan Nona Asyila dan anak-anak,” ucap Dayat yang mulai rewel.
“Aku setuju, seharusnya Tuan Abraham disini dulu sampai keadaan benar-benar membaik,” sahut Edi yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dayat.
“Kalian berdua apa ingin beralih profesi menjadi tukang banyak bicara?” tanya Abraham dan tertawa kecil melihat kedua sahabatnya yang sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Tim medis tiba-tiba datang untuk membawa Abraham pulang, seperti yang telah dijanjikan oleh pihak rumah sakit bahwa Abraham tidak dikenakan uang sepeserpun karena kelalaian mereka sebelumnya. Akan tetapi, Abraham tetap membayar dan memilih untuk memberikan uangnya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Asyila masuk ke dalam mobil yang sama, sementara Dayat dan Edi membuntuti mobil rumah sakit dari belakang.
__ADS_1
“Mas yakin mau pulang?” tanya Asyila diperjalanan menuju rumah dari suaminya itu.
“Kita sudah diperjalanan, istriku. Tentu saja suamimu sangat yakin, apa Asyila tidak mau kita segera berkumpul seperti sebelumnya?”
“Mas, kalau ditanya apakah ingin berkumpul apa tidak jelas Asyila menjawab ingin berkumpul kembali dengan Mas serta anak-anak. Akan tetapi, dalam kasus ini Asyila hanya ingin Mas sembuh dan otomatis semuanya bisa kembali seperti sedia kala,” jelas Asyila.
Sepasang suami istri itu terus berbincang-bincang, mereka nampak sangat bahagia. Apalagi Abraham yang saat itu tidak terlihat seperti pasien, justru ia terlihat sangat ceria.
Asyila membelai lembut rambut suaminya dan menyisir rambut suaminya dengan jarinya. Asyila senang akhirnya ia bisa melihat senyum suaminya yang begitu mendebarkan hati.
Disaat yang bersamaan, Dyah dan Arumi tengah sibuk di dapur. Mereka berdua dan yang lainnya sudah tahu bahwa sebentar lagi Abraham akan kembali ke rumah.
“Ashraf, jangan lompat-lompat seperti itu!” perintah Dyah melihat Ashraf melompat-lompat kegirangan.
“Ayah pulang!” teriak Ashraf.
“Horeeee!” seru Arsyad yang tak kalah gembira.
Dyah meminta izin kepada Arumi untuk meninggalkan dapur sebentar, karena ingin menuntun kedua kakak beradik itu untuk tidak main di dapur.
“Kak Dyah dan Nenek buyut sedang sibuk. Kalau main lebih baik disini atau diam duduk di depan sambil menunggu ayah kalian pulang,” terang Dyah.
Arsyad dan Ashraf saling menatap kemudian, kompak mengangguk setuju.
“Anak pintar, ya sudah Kak Dyah tinggal dulu. Arsyad sebagai kakak harus menjaga adiknya dan Ashraf sebaik adik jangan melawan dengan apa yang dikatakan oleh kak Arsyad,” ucap Dyah.
”Baik, Kak Dyah,” balas Arsyad dan Ashraf kompak.
Dyah berlari kecil menuju dapur dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang memasak.
“Sudah cocok jadi seorang istri,” ucap Arumi sambil terkekeh geli.
Dyah hanya manggut-manggut dengan senyum manis di bibirnya.
“Kamu yakin tidak pulang hari ini ke Jakarta?” tanya Arumi.
“Hhhmmm... belum deh Nek, besok saja sekalian belanja jajan,” balas Dyah.
__ADS_1