
Kediaman Abraham Mahesa.
Pagi hari.
Dyah menyentuh dadanya yang terus saja berdebar-debar tak karuan. Hari pernikahan yang ia tunggu-tunggu bersama dengan Fahmi akan segera terjadi.
“Ya Allah, kenapa jantung hamba dari tadi terus saja berdebar-debar tak karuan seperti ini? Tolong jangan membuat hamba mati cepat!” pinta Dyah.
“Kenapa malah bawa-bawa mati segala?” tanya Asyila yang datang secara tiba-tiba.
Dyah terkejut dan hampir saja ia terjengkang ke belakang.
“Hati-hati, Dyah! Kenapa mudah sekali terkejut?” tanya Asyila menggoda calon mempelai wanita.
“Bagaimana tidak terkejut? Aunty tiba-tiba datang,” keluh Dyah.
“Iya deh, Aunty minta maaf,” ucap Dyah menampilkan wajah sesal.
“Aunty kenapa datang kemari?” tanya Dyah.
“Hmm... Memangnya tidak boleh ya datang menemui keponakan sendiri? Ya sudah deh, kalau begitu Aunty pergi saja,” ucap Asyila yang ingin melangkah keluar kamar.
Dyah dengan cepat menahan tangan Asyila agar tidak meninggalkannya seorang diri.
“Aunty begitu saja sudah ngambek, Dyah tidak bermaksud mengusir Aunty. Akan tetapi, saat ini Dyah benar-benar tidak bisa berpikir. Dari tadi, jantung Dyah berdebar-debar tak karuan, takut kalau malah jadi penyakit jantung,” terang Dyah.
Asyila seketika itu terdiam dan di detik berikutnya, ia tertawa lepas mengetahui isi hati Dyah yang mengira debaran jantung tersebut adalah penyakit jantung.
“Ada yang lucu ya Aunty?”
Asyila menggigit bibirnya sendiri dan berhenti tertawa. Ia pun kembali mendekat dan duduk di tempat Dyah sebelumnya duduk.
“Ayo duduk disini!” ajak Asyila.
Dyah mengangguk kecil dan duduk kembali di tempat duduknya dengan posisi mengarah ke arah cermin sehingga Dyah bisa melihat langsung pantulan wajahnya yang sudah dirias sempurna oleh MUA.
“Dyah sayang, hampir semua orang merasakan hal yang sekarang tengah kamu rasakan. Kalau dulu, Aunty malah merasa sangat terkekang. Kamu pun tahu alasannya, karena Aunty dan Pamanmu dulu dijodohkan. Bahkan, dulu Aunty tidak pernah tahu siapa Pamanmu dan nama Pamanmu pun Aunty tidak tahu. Akan tetapi, setelah perjuangan panjang Pamanmu dan rasa penasaran yang kuat, Aunty pada malam itu memberanikan diri untuk mengetahui siapa suami Aunty dan ternyata suami Aunty sendiri adalah pria yang memang sudah Aunty cintai,” terang Asyila sambil mengingat-ingat kisah cintanya dengan Sang suami.
Dyah mendengarkan perkataan Asyila dengan sangat serius. Bisa dikatakan, Dyah sangat tahu perjuangan Pamannya untuk mendapatkan hati seorang Asyila dan Dyah pun ikut terlibat dalam mendekatkan keduanya agar bisa terus bersama.
“Dan kamu tahu, saat resepsi pernikahan Aunty dan Pamanmu, Aunty benar-benar gugup. Perasaan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, sungguh benar-benar membuat Aunty mu ini gugup tak karuan,” ucap Asyila.
Asyila tersenyum lebar sambil menyentuh kedua tangan Dyah.
“Ini bukanlah penyakit jantung, Dyah. Ini adalah sesuatu perasaan yang harus disyukuri, kami tahu kamu ada gadis yang sangat baik. Sebentar lagi, Fahmi akan menjadi suamimu dan setiap perbuatan yang kamu lakukan kelak akan menjadi pertanggungjawaban untuk suamimu. Aunty berharap, kamu bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah.”
Dyah mengangguk dan segera memeluk tubuh Asyila dengan sangat erat.
“Dyah, sebelum pernikahan kamu tidak boleh menangis. Hati-hati riasan mu luntur,” ucap Asyila mengingatkan Dyah untuk tidak menangis.
Dyah akhirnya tak jadi menangis, bagaimanapun ia tidak ingin terlihat jelek dihari bahagianya itu.
__ADS_1
Arumi masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa calon mempelai pria telah datang dan sebentar lagi akan dilaksanakannya pernikahan.
Untuk itu, Arumi meminta Dyah bersiap-siap dan akan datang menyusul ketika Fahmi sudah selesai mengucapkan ijab qobul.
“Asyila, Ibu tinggal dulu. Setelah Fahmi sudah selesai mengucapkan ijab qobul, Ibu akan kemari menyusul mempelai wanita,” ucap Arumi dan bergegas menuju ruang tamu.
Dyah menggigit bibirnya dan terlihat bahwa ia tengah gusar. Berulang kali Dyah menghela napasnya yang terlihat begitu berat.
“Kamu kenapa, Dyah?” tanya Asyila mencoba menenangkan Dyah yang terlihat gusar.
“Dyah takut, Aunty,” jawab Dyah.
“Takut kenapa, Dyah? Apa yang kamu takutkan?” tanya Asyila penasaran.
“Dyah takut tiba-tiba Mas Fahmi melakukan kesalahan,” jawab Dyah.
“Kesalahan yang seperti apa? Kamu takut Fahmi salah berucap atau tiba-tiba lupa, begitu?”
“Iya Aunty,” jawab Dyah.
“Percayakan semuanya kepada Allah, insya Allah semuanya akan baik-baik saja!”
Disaat yang bersamaan, Fahmi yang baru saja tiba langsung duduk berhadapan dengan calon mertuanya. Ia terlihat tak sabaran ingin cepat-cepat menjadi suami dari Dyah.
“Bagaimana, Nak Fahmi apakah sudah siap?” tanya Penghulu.
“Siap!” seru Fahmi dengan penuh semangat sambil mengangkat tangannya dengan membuat kepalan tangan seperti orang yang ingin berperang.
“Baiklah, kalau begitu kita mulai saja. Ayo Pak Temmy!”
“Baik, Pak,” ucap Temmy dan langsung berjabat tangan dengan calon menantu idamannya.
Acara suci itu pun langsung dimulai dan dengan satu tarikan napas, Fahmi bisa mengucapkan ijab qobul dengan baik dan benar.
“Bagaimana para saksi?” tanya Pak penghulu.
“Sah!!!” seru mereka dan bertepuk tangan dengan penuh semangat.
Fahmi menangis terharu, ia memeluk tubuh Temmy yang kini sudah menjadi Ayah mertuanya.
“Kami titip Dyah ya Nak Fahmi, kalau Dyah melakukan kesalahan tolong tegur lah Dyah dengan baik-baik!”
“Papa tidak perlu mencemaskan soal Dyah, Dyah sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab Fahmi,” ucap Fahmi yang terus saja memeluk tubuh Temmy, “Fahmi akan berusaha sebaik mungkin membimbing Dyah dan berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang dapat diandalkan oleh Dyah,” imbuh Fahmi.
Suasana ruang tamu tersebut begitu mengharukan, Abraham yang ikut menyaksikan pernikahan itu menangis terharu. Akhirnya, keponakannya telah menikah dengan pria yang tepat.
“Terima kasih, Abraham,” ucap Yeni kepada Abraham, karena Abraham lah yang sangat berjasa besar untuk mengenalkan Fahmi kepada ia dan juga suaminya, Temmy.
“Berterima kasihlah kepada Allah, Mbak. Ini semua atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” terang Abraham.
Pak penghulu meminta agar mempelai wanita segera bergabung dan seketika itu juga, Arumi bergegas menyusul Dyah dan juga Asyila yang berada di kamar.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, rupanya Dyah tengah menangis terharu dan untuknya riasan diwajahnya cantiknya tidak luntur.
“Nenek, terima kasih,” ucap Dyah yang kini bergantian memeluk tubuh Arumi.
“Jangan berkata seperti itu, Dyah. Kamu justru membuat Nenek menangis, sekarang kamu sudah menjadi istri dari Nak Fahmi. Nenek sangat berharap, semoga kalian berdua selalu dalam lindungan Allah. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin...”
“Aamiin ya Allah.”
Asyila dengan hati-hati menghapus air mata Dyah dengan menggunakan tisu, setelah itu Asyila dan Arumi membantu mempelai wanita untuk bertemu mempelai pria di ruang tamu.
Dyah berjalan beriringan dengan Asyila dan juga Arumi. Jantungnya berdetak hebat bersamaan dengan langkahnya yang semakin mendekat ke ruang tamu.
Ketika sampai di ruang tamu, pandangan semua orang langsung tertuju kepada mempelai wanita.
“Aunty, kenapa yang datang banyak sekali?” tanya Dyah lirih, karena Dyah mengira bahwa yang akan datang di Pernikahan nya adalah kerabat dekat saja.
“Ramai bagaimana Dyah? Tidak sampai 30 orang,” balas Asyila yang tak kalah lirih.
Dyah akhirnya duduk tepat di samping suaminya, Pak penghulu kemudian meminta Dyah untuk mencium punggung tangan Fahmi.
Pak penghulu langsung memberikan penjelasan kepada keduanya dengan tata cara setelah menikah. Keduanya terlihat sangat serius mendengarkan penjelasan dari Pak penghulu.
“Assalamu’alaikum,” ucap seorang pria muda yang terlihat begitu kelelahan seperti orang yang baru saja lari maraton.
Mereka semua langsung menoleh dan tak lupa membalas salah dari pria muda itu.
“Kevin!” Mata Dyah terbelalak lebar melihat Kevin yang tiba-tiba datang.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Kevin masuk dan tanpa canggung meneguk segelas air putih sangat cepat.
“Ini untukmu dan suamimu,” ucap Kevin dan memberikan sebuah kado pernikahan untuk keduanya, “Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga kalian selalu bahagia,” imbuh Kevin dan setelah itu ia pergi begitu saja.
Dyah merasa tak enak hati dengan suaminya, akan tetapi Fahmi masih cepat-cepat mengatakan kepada Dyah bahwa ia tidak apa-apa. Bagi Fahmi, Kevin adalah sosok pria yang baik. Dan Fahmi berdo'a, agar Kevin bisa segera mendapatkan calon istri yang baik.
Untuk mencairkan suasana di ruangan itu, Asyila meminta yang lainnya untuk menikmati hidangan yang ada. Kemudian, Asyila menyibukkan dirinya untuk membuat minuman es segar yang ternyata sudah habis.
“Terima kasih, sudah membuktikan,” ucap Dyah sambil menggandeng tangan suaminya dengan sangat erat.
“Terima kasih juga, telah menerima Mas sebagai suami Dyah,” balas Fahmi.
“Mas, sapu tangan! I love you,” ucap Dyah malu-malu.
“Gadis aneh, I love you too,” balas Fahmi.
“Gadis aneh? Hmmmm... Jadi, itu kesan pertama Mas Fahmi untuk Dyah?” tanya Dyah dan seketika itu juga ngambek.
“Ya mau bagaimana lagi, berkat kamu yang seperti itu langsung membuat Mas tertarik,” jelas Fahmi apa adanya.
Dyah seketika itu klepek-klepek mendengar penjelasan dari suaminya.
“Mas Fahmi bisa saja,” ucap Dyah sambil mencubit lengan suaminya dengan begitu gemas.
__ADS_1
Rahma dari kejauhan nampak bahagia melihat Dyah dan juga Fahmi yang telah sah menjadi suami istri. Rahma pun berharap, kedepannya ia bisa mendapatkan suaminya yang baik serta bertanggungjawab.