
Gema takbir terdengar di segala penjuru dunia, Abraham serta yang lainnya menangis terharu karena akan kembali berpisah dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar...
laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.
“Ayo, kita berangkat sholat Ied!” ajak Herwan.
Mereka berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan sholat Ied.
Melihat keluarga besar Abraham Mahesa yang baru saja keluar dari gerbang rumah, banyak pasang mata yang menoleh ke arah mereka dengan tatapan terkagum-kagum. Banyak dari mereka yang mengidolakan sosok Abraham maupun Asyila, bahkan tak sedikit dari mereka yang berharap bisa masuk ke dalam keluarga Abraham Mahesa.
Setibanya di masjid, salah satu pria berusia 60 tahun mendekati Abraham dan meminta Abraham untuk menjadi imam sholat.
Abraham menolak secara halus, dikarenakan masih banyak orang yang bisa menggantikan dirinya. Akan tetapi, pria itu hanya ingin Abraham yang memimpin sholat.
Abraham akhirnya mengiyakan permintaan pria tersebut untuk memimpin sholat.
****
Usai melaksanakan sholat Ied, Abraham serta yang lainnya pulang ke rumah.
Setiba di rumah, mereka mulai meminta maaf satu sama lain.
“Ibu, maafkan Asyila yang masih belum menjadi anak yang berbakti untuk Ayah dan juga Ibu. Asyila akan berusaha menjadi putri yang baik untuk Ayah dan juga Ibu,” ucap Asyila dengan derai air mata.
Arumi menangis terharu, baginya Asyila sudah menjadi putri yang baik untuknya.
“Ibu selalu memaafkan Asyila, selama ini Asyila tak pernah membuat Ibu kesal. Justru, Ibu merasa masih belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk Asyila,” balas Arumi pada putri kesayangannya.
“Ibu tidak boleh berkata seperti itu, Asyila selamanya sayang dan selamanya mengormati Ibu,” tutur Asyila.
Keduanya menangis terharu dan saling berpelukan satu sama lain dengan penuh kasih sayang.
Setelah Asyila bermaaf-maafan dengan kedua orangtuanya, kini gantian Abraham yang bermaaf-maafan dengan kedua mertuanya.
Abraham meminta maaf kepada orang tua istri kecilnya, Arumi dan Herwan sama sekali tak melihat kekurangan dari menantu mereka. Justru, mereka semakin bersyukur dan berterima kasih kepada Abraham yang sudah menjaga putri serta cucu-cucu mereka.
Setelah semuanya bermaaf-maafan, satu-persatu tetangga datang untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar Abraham Mahesa.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap para tetangga Abraham.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham serta yang lain.
“Mari masuk!” Arumi dengan ramah mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.
“Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” ucap Asyila.
Mereka bergantian mengucapkan kata tersebut, kemudian Asyila mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan yang sengaja disiapkan oleh Asyila serta yang lain untuk setiap para tamu yang hadir dikediaman Abraham Mahesa.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
Asyila seketika itu menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengucapkan salam.
“Ema!” Asyila nampak sangat terkejut, ketika mengetahui bahwa sahabatnya datang, “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya Allah kamu apa kabar?” tanya Asyila dan memeluk sekilas Sang sahabat tersayang.
__ADS_1
“Alhamdulillah, aku baik. Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin sahabatku,” ucap Ema.
Ema tidak datang seorang diri, dia datang bersama dengan suami serta buah hatinya, Kahfi.
Yogi memeluk sahabatnya dan keduanya saling bermaaf-maafan.
Bela menangis terharu, sedikitpun ia tidak rindu dengan kedua orangtuanya. Meskipun begitu, ia tetap mendo'akan kedua orangtuanya agar kedepannya bisa menjadi manusia yang memiliki hati nurani.
“Bela sayang, kenapa menangis? Sini peluk Nenek!” Arumi tersenyum lebar sembari memeluk Bela yang terlihat sedih.
Arumi berharap, Bela selamanya hidup bahagia.
“Bela mau makan apa? Ayo kita nikmati semua makanan ini!” ajak Arumi sambil menyeka air mata Bela.
Suasana ruang tamu serta ruang keluarga begitu ramai, banyak sekali orang yang berdatangan untuk bisa bertemu langsung dengan Abraham maupun Asyila yang memang dikenal baik oleh orang-orang sekitar.
Tidak hanya para tetangga yang datang, para saudara dari Arumi maupun Herwan juga datang untuk bermaaf-maafan. Sekaligus bersilaturahmi agar tali persaudaraan semakin erat.
“Bunda, Ashraf mau makan coklat itu. Boleh ya Bunda?” tanya Ashraf yang sangat ingin menikmati coklat yang berada di toples plastik.
“Boleh sayang, tapi jangan makan berlebihan ya,” balas Asyila.
Ashraf mengangguk mengerti dan bergegas mengambil coklat yang berada di toples.
“Kahfi mau?” tanya Ashraf pada Kahfi.
“Mau,” jawab Kahfi sambil mengangguk kecil.
Ashraf pun terlebih dulu mengambil coklat tersebut untuk diberikan kepada Kahfi.
“Sama-sama,” sahut Ashraf dengan senyum manisnya.
Melihat Ashraf dan Kahfi yang begitu dekat, Abraham merasa sangat senang. Abraham berharap persahabatan mereka akan selalu seperti itu sampai mau menjemput.
“Bagaimana pekerjaan di perusahaan? Apakah kau menanganinya dengan baik?” tanya Abraham pada sahabatnya, Yogi.
“Kau tenang saja, semuanya berjalan dengan sangat baik. Meskipun, pekerjaan sedikit lebih banyak dari biasanya,” jawab Yogi, kemudian tertawa lepas.
“Kau tenang saja, aku akan menambahkan bonus untukmu,” sahut Abraham.
Yogi kembali tertawa mendengar perkataan sahabatnya.
“Ayolah, gajiku sudah cukup banyak. Lagipula, aku sangat senang karena diberi kepercayaan olehmu,” terang Yogi.
“Kau membuatku merasa tidak enak,” tutur Abraham.
Yogi tersenyum lebar dan kembali memeluk sahabatnya.
“Tuan Abraham, apa kabar?” tanya seorang pria yang umurnya sekitar 5 tahun diatas Abraham.
Abraham seketika itu melepaskan pelukannya pada Yogi dan menoleh ke arah pria yang baru saja menanyakan kabarnya.
“Iya, Alhamdulillah saya baik. Anda siapa ya?” tanya Abraham yang tak mengenali pria dihadapannya.
“Oh, maaf. Saya Rian, saudara jauh Pak Herwan,” ucapnya memperkenalkan diri.
__ADS_1
Abraham mengangguk kecil mendengar keterangan dari pria dihadapannya.
“Nak Abraham, ini Rian. Keponakan jauh Ayah,” tutur Herwan.
Abraham tersenyum lebar setelah mendengar penuturan dari Ayah mertuanya.
Merekapun berbincang-bincang sebentar, kemudian Abraham izin untuk meninggalkan mereka karena ada beberapa orang yang harus Abraham sapa secara langsung.
“Mas, Asyila ke kamar dulu ya. Mau menyusui bayi Akbar,” ucap Asyila dengan berbisik.
“Mas ikut!” seru Abraham dan keduanya pun pergi bersama-sama menuju kamar mereka.
Setibanya di dalam kamar, Asyila memutuskan untuk berbaring sejenak. Ia merasa pinggangnya sedikit sakit karena kekurangan cairan.
“Mas, hari ini Asyila sangat senang. Banyak tetangga serta saudara yang hadir, Oya saudara Mas Abraham ternyata cukup banyak ya. Meskipun begitu, sampai sekarang Asyila tidak bisa menghafal satu-persatu panggilan untuk mereka,” terang Asyila.
“Sudah, tidak apa-apa. Tidak hanya Asyila, bahkan Mas pun sering lupa memanggil mereka dengan sebutan apa. Intinya kalau ada yang lebih tua, panggil saja Mas atau Mbak. Dan jika seumuran Ayah atau Ibu, panggil saja mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu,” sahut Abraham dengan sangat santai.
“Asyila boleh tidur sebentar, tidak Mas? 5 menit saja!” pinta Asyila dengan sedikit merayu.
“Boleh, Mas juga kalau begitu,” sahut Abraham.
Keduanya pun akhirnya tertidur dengan saling berhadapan satu sama lain dan saling menggenggam berpegangan tangan.
10 menit kemudian.
Asyila lebih dulu bangun dan ia menyadari bahwa sudah 10 menit lamanya ia tertidur.
“Mas, ayo bangun,” tutur Asyila membangunkan suaminya.
Disaat yang bersamaan, bayi Akbar bangun dari tidurnya dan langsung merengek seketika itu juga. Suara tangisan bayi Akbar, membuat Abraham terbangun dari tidurnya.
“Syila sudah bangun dari tadi?” tanya Abraham pada istri kecilnya yang tengah menyusui bayi mereka.
“Tidak, Mas. Asyila baru saja bangun. Mas keluar dulu ya, Asyila akan menyusul setelah menyusui bayi Akbar,” tutur Asyila pada suaminya.
Sebelum keluar dari kamar, Abraham membasuh wajahnya terlebih dahulu agar nampak segar.
Setelah itu, Abraham pun bergegas keluar dari kamar.
“Ayah, Bunda mana?” tanya Arsyad pada Ayahnya yang baru saja tiba di ruang keluarga.
“Bunda sedang menidurkan adik bayi, kita tunggu saja disini, ok!”
“Ok, Ayah!” seru Arsyad dan kembali mendaratkan bokongnya di samping Arumi yang tengah berbincang-bincang dengan salah satu saudaranya.
“Nak Abraham, kenalkan ini saudara Ibu yang dari Kalimantan,” tutur Arumi.
“Abraham Mahesa,” ucap Abraham memperkenalkan dirinya pada saudara Arumi.
“Panggil saja saya Paman Rus, sepupu jauh Ibu mertua Nak Abraham,” tutur Pria yang bernama Rus.
“Iya, Paman Rus,” balas Abraham dengan tersenyum ramah.
Paman Rus ingin mengenal lebih dalam mengenai sosok Abraham, suami dari keponakannya. Merekapun berbincang-bincang dan tak butuh waktu lama, Pak Rus tahu bahwa Abraham adalah sosok pria yang begitu baik.
__ADS_1