
2 hari setelah pernikahan, lebih tepatnya saat ini adalah hari Minggu. Dyah dan Fahmi akhirnya kembali ke Bandung, sementara kedua orang tua Dyah serta Bibi dari Fahmi sudah lebih dulu kembali, sehari setelah pernikahan Dyah dan Fahmi.
“Kalian hati-hati di jalan, kalau sudah sampai langsung hubungi kami!” pinta Asyila yang terus saja memegangi tangan Dyah.
“Aunty, Paman dan yang lainnya tidak perlu cemas. Sekarang ada Mas Fahmi yang selalu berada disisi Dyah,” balas Dyah malu-malu.
“Dyah, sini ada yang ingin Paman katakan!” panggil Abraham sambil menggerakkan tangannya, isyaratkan agar Dyah mendekat padanya.
Dyah mengangguk kecil dan setengah membungkuk mengira ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan oleh Pamannya.
Setelah Dyah mendekat, Abraham seketika itu juga menyentil dahi keponakannya dengan sangat gemas.
Pletak!
“Awww... Paman! Dyah 'kan, sudah menikah. Apa masih pantas diperlakukan seperti ini?” tanya Dyah sambil memasang wajah sebal.
“Bagi Paman, kamu tetaplah keponakan Paman yang kecil,” jawab Abraham.
Dyah yang mendengar jawaban dari Pamannya mendadak menangis, apa yang dikatakan oleh Pamannya memang ada benarnya. Dyah masih ingat jelas, sewaktu pulang sekolah ada gerombolan anak-anak yang ingin mengambil uangnya dan untungnya ada Sang Paman yang pasang badan untuk menyingkirkan anak-anak gerombolan yang nakal itu.
“Sudah besar malah menangis, dasar cengeng,” ledek Abraham.
“Biarin cengeng, lagipula yang membutuhkan Dyah menangis 'kan, adalah Paman,” balas Dyah dan refleks memukul lengan Pamannya dengan cukup keras.
“Awww... Ternyata sakit juga ya,” ucap Abraham dan tertawa kecil.
“Mas, sudah waktunya bagi Dyah dan Fahmi pergi,” tutur Asyila mengingatkan suaminya.
Arsyad dan Ashraf cepat-cepat mendekat ke arah Dyah, mereka menangis karena Dyah akan kembali ke Bandung.
“Kalian berdua kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Dyah terheran-heran.
“Kak Dyah jangan pergi, diam disini saja,” jawab Arsyad yang enggan melepaskan Dyah.
“Arsyad sayang, Kak Dyah tidak bisa kalau terus tinggal disini. Kak Dyah juga harus bekerja dan sekarang harus mengurus kak Fahmi,” tutur Dyah memberi pengertian agar Arsyad membiarkannya pergi.
“Kak Fahmi sudah besar,” celetuk Arsyad.
Dyah tak bisa mengelak, ia pun mengiyakan bahwa memang suaminya telah besar.
“Iya deh, Iya. Tapi, Kak Dyah memang tidak bisa kalau harus tinggal disini sayang. Kapan-kapan Kak Dyah dan Kak Fahmi kesini lagi.”
“Janji ya!”
“Iya, Kak Dyah janji,” balas Dyah.
Mereka berdua akhirnya membuat janji jari kelingking.
“Paman, Aunty, Kakek dan Nenek. Fahmi serta Dyah akan kembali ke Bandung, mohon do'anya,” ucap Fahmi.
Dyah dan Fahmi akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kediaman Abraham Mahesa.
Arsyad dan Ashraf hanya bisa melambaikan tangan melihat mobil tersebut perlahan pergi meninggalkan halaman rumah.
“Sudah jangan sedih, kapan-kapan Kak Dyah dan Kak Fahmi akan main kesini lagi,” ucap Asyila menghibur keduanya.
Disaat yang bersamaan, sebuah mobil berwarna hitam datang. Siapa lagi kalau bukan keluarga kecil dari Yogi.
__ADS_1
“Bunda, itu Kahfi!” Ashraf meloncat-loncat kegirangan mengetahui bahwa mobil milik orang tua Kahfi datang.
Asyila melebarkan senyumnya karena ternyata, sahabatnya datang untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya di pusat perbelanjaan yang letaknya tak jauh dari tempat kediaman Abraham Mahesa.
“Assalamu'alaikum, Asyila!” Ema berlari kecil menghampiri sahabatnya.
“Wa’alaikumsalam, aku pikir kamu tidak datang,” balas Asyila dan memeluk sekilas sahabatnya.
“Tentu saja aku pasti datang, kapan kita pergi ke mal?” tanya Ema.
Kahfi turun dari mobil dengan begitu semangat, begitu juga dengan Arsyad dan Ashraf yang sangat senang dengan kehadiran Kahfi.
Yogi tersenyum lebar ke arah sahabatnya, Yogi.
“Assalamu’alaikum,” ucap Yogi sembari memeluk sekilas tubuh sahabatnya.
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!” ajak Abraham.
Sesampainya di ruang tamu, Arumi cepat-cepat membuatkan minuman segar untuk Ema serta keluarga kecilnya.
“Dyah sudah pulang?” tanya Ema.
“Sudah, aku kira kalian berpapasan di jalan,” jawab Asyila.
Ema menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak melihat mobil yang dikendarai oleh Fahmi.
Sebagai kado pernikahan keponakannya, Abraham menghadiahkan mobil. Awalnya, Dyah dan Fahmi menolak hadiah yang terlalu mahal itu. Akan tetapi, Abraham bersikeras memberikannya dengan alasan mobil yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi. Hal tersebut Abraham lakukan agar pengantin baru itu tidak dapat menolak hadiah yang ia berikan.
“Cuaca seperti ini paling enak minum yang segar-segar,” ucap Arumi yang datang membawa minum segar dan meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.
Arsyad, Ashraf dan Kahfi dengan semangat menyerbu minum segar itu. Tentunya yang mereka ambil adalah gelas berukuran kecil, sesuai dengan porsi mereka.
Setelah mengambil minuman segar yang dibuat oleh Sang nenek, Arsyad kemudian mengajak Ashraf dan Kahfi ke ruang keluarga sembari menonton televisi acara kartun kesukaan mereka.
Arumi tertawa kecil dan ikut bergabung bersama dengan mereka. Sementara Herwan, sedang menyibukkan diri di halaman belakang dengan cara bersih-bersih kebun anggur milik Almarhumah Nenek Erna.
“Kalian jadi pergi ke mal?” tanya Arumi memastikan.
“Insya Allah jadi Ibu,” balas Asyila.
“Ibu mau kami belikan apa?” tanya Abraham yang begitu perhatian dengan mertuanya.
“Ibu ini sudah tua, jadi bingung mau beli apa,” balas Arumi dan tertawa kecil.
“Ibu tidak perlu sungkan kepada kami, apa Ibu mau kami belikan pakaian?” tanya Abraham penasaran.
“Tidak usah repot-repot, pakaian yang kamu belikan saja masih ada yang belum Ibu kenakan. Sebaiknya, belikan saja Ibu susu kedelai organik,” balas Arumi.
“Baiklah, Ibu. Kami akan membelikan Ibu susu kedelai organik. Mau yang bubuk apa yang sudah siap minum?” tanya Abraham.
Asyila memanyunkan bibirnya, ia bisa melihat jelas kedekatan suami dengan Ibunya yang begitu dekat.
“Bubuk saja. 'kan, sewaktu-waktu bisa Ibu seduh sendiri,” balas Arumi.
“Baiklah, Ibu. Kami akan membeli beberapa kotak untuk stok Ibu,” ucap Abraham.
Asyila mengangkat kedua alisnya dan memeluk tubuh Ibunya.
__ADS_1
“Ibu lebih sayang Asyila 'kan?” tanya Asyila yang tiba-tiba terlihat manja.
“Ibu tidak bisa memilih diantara kalian, bagi Ibu semuanya adalah harta berharga untuk Ibu,” jelas Arumi.
Asyila tersenyum bahagia begitu juga dengan Abraham.
Ema dan Yogi terlihat sangat iri dengan kedekatan mereka bertiga.
“Abang, semoga keluarga kita seperti keluarga Asyila dan Pak Abraham ya,” bisik Ema.
Yogi mengiyakan dan sekilas mencium kening istrinya.
Beberapa saat kemudian.
Mereka akhirnya bergegas menuju mal terdekat, anak-anak terlihat begitu bahagia. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan bermain di area khusus permainan.
“Ayah, Ibu! Kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Arumi dan Herwan.
Setelah semuanya mencium punggung tangan Arumi dan Herwan, merekapun bergegas masuk ke dalam mobil mereka masing-masing untuk segera pergi menuju mal.
Sesampainya di mal, Abraham turun dibantu oleh Pak Udin dan juga Yogi. Setelah itu, mereka bersama-sama masuk ke dalam mal.
Pak Udin pun ikut dan akan bertugas untuk menjaga anak-anak di area khusus permainan, sementara Abraham, Asyila, Ema dan Yogi berkeliling mencari sesuatu yang entah itu apa.
“Pak Udin, kami titip anak-anak. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Asyila,” ucap Asyila pada Pak Udin.
“Insya Allah tidak ada apa-apa, Nona Asyila,” balas Pak Udin.
Para orang tua pun berpamitan kepada buah hati mereka dan bergegas berkeliling Mal.
“Asyila, lihat deh yang itu lucu!” Tunjuk Ema pada sebuah boneka kucing yang terlihat begitu menggemaskan.
“Kamu mau?” tanya Asyila.
“Hhmmm.. Yang itu nanti saja deh, kita lihat-lihat yang lain dulu,” balas Ema.
Asyila dan Ema terlihat sangat menikmati tempat itu, lain halnya dengan para suami yang lebih fokus memperhatikan istri mereka masing-masing.
“Abraham, bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?” tanya Yogi yang kebetulan belum makan sejak pagi.
Abraham mengiyakan dan memanggil Asyila serta Ema untuk mencari makanan di mal tersebut. Akhirnya, sekitar 10 menit mengitari mal merekapun menemukan sebuah restoran yang cukup terkenal.
“Sepertinya restoran ini menyajikan menu yang enak-enak. Ayo tunggu apalagi? Kali ini aku yang mentraktir,” ucap Yogi dan mendorong kursi roda Abraham masuk ke dalam restoran.
2 jam kemudian.
Setelah berkeliling dan berbelanja pakaian, merekapun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tidak banyak yang mereka beli, hanya beberapa pakaian saja dan itupun bisa dikatakan adalah pakaian diskon.
Bagi mereka, yang terpenting adalah jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Bukan tidak bisa membeli pakaian mahal, akan tetapi kalau ada pakaian yang diskon untuk apa membeli pakaian yang mahal?
Toh fungsi pakaian adalah menutup aurat.
“Kalian hati-hati di jalan, salam jumpa. Wassalamu'alaikum!”
“Wa’alalaikumsalam,” balas Abraham dan Asyila.
__ADS_1
Keduanya berpisah di area parkir mal dan bergegas menuju rumah mereka masing-masing. Arsyad dan Ashraf di dalam mobil terus saja berbicara mengenai permainan seru mereka.
Belum lagi hadiah-hadiah yang mereka dapatkan dari permainan tersebut.