
Merekapun akhirnya sampai di minimarket untuk membeli buah-buahan. Akan tetapi, Dyah malah tetap berada di atas motor dan membuat Fahmi tertawa kecil karena ternyata Dyah sedang melamun.
“Hati-hati,” ucap Fahmi.
Dyah refleks memegangi pakaian Fahmi dan belum juga sadar bahwa Fahmi sedang menggodanya.
Fahmi tertawa kecil dan seketika itu Dyah sadar bahwa mereka telah sampai di depan minimarket.
“Kenapa Mas Fahmi diam saja?” tanya Dyah sembari turun dari motor dengan bibir manyun.
“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Fahmi penasaran.
Dyah hanya menggelengkan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam minimarket dengan langkah besar serta buru-buru.
“Calon istriku ini memang sangat menggemari dan juga sedikit aneh,” ucap Fahmi bermonolog dan bergegas menyusul calon istrinya.
Di dalam minimarket, Dyah langsung mengambil berbagai macam buah-buahan, keju, susu dan juga mayonaise.
“Sini biar aku saja,” ucap Fahmi mengambil alih membawa keranjang belanja.
“Terima kasih, Mas Fahmi,” tutur Dyah malu-malu.
Seorang Ibu paruh baya tertawa kecil ketika melihat Dyah dan juga Fahmi.
“Pengantin baru ya?” tanya si Ibu paruh baya kepada Dyah dan Fahmi.
Wajah Dyah seketika itu juga merah merona, cepat-cepat Dyah menutupi wajahnya dengan satu tangannya dan memilih berpura-pura untuk tak mendengarkannya.
“Belum,” jawab Fahmi dan dapat didengar langsung Dyah.
Deg! Dyah sudah tak bisa menahan kegugupannya, ia pun berlari keluar minimarket begitu saja meninggalkan Fahmi.
Fahmi menatap heran calon istrinya dan bergegas membayar belanjaan tersebut sebelum keluar dari minimarket.
“Kamu kenapa?” tanya Fahmi sambil meletakkan bungkusan belanjaan di motor.
“Ke-kenapa tadi Mas Fahmi mengatakan belum? Se-seharusnya.....”
“Iya, seharusnya apa?” tanya Fahmi penasaran dengan ucapan Dyah.
Dyah terlihat kebingungan dan ia pun meminta Fahmi untuk segera bergegas kembali ke Perumahan Absyil.
Sepanjang perjalanan, Dyah terus saja mengingat perkataan dari Ibu paruh baya itu.
Pengantin baru? Memangnya aku dan Mas Fahmi terlihat seperti pengantin baru ya?
Ahh, Ibu itu pasti asal bicara saja. Akkhhh... Kenapa aku malah seperti orang bodoh begini, oh ya ampun sadarlah Dyah.
Setibanya di Perumahan Absyil, Dyah cepat-cepat turun dari motor dan membawa belanjaannya.
“Ini uangnya,” ucap Dyah memberikan uang tunai berwarna merah kepada Fahmi.
“Sudah ambil saja,” balas Fahmi sembari menatap Dyah dengan penuh penasaran.
__ADS_1
Lagi-lagi Dyah salah tingkah karena tatapan Fahmi yang membuat hatinya bergetar. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah Dyah dapatkan dari pria manapun. Bahkan, tatapan Kevin tak sehangat tatapan Fahmi kepadanya.
“Terima kasih,” ucap Dyah lagi dan berlari kecil sembari membawa kantong belanjaan masuk ke dalam rumah.
Fahmi pun menyusul dan disaat yang bersamaan, Ashraf baru saja turun dari anak tangga dengan langkah kecil karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
“Kak Fahmi!” teriak Ashraf dengan penuh semangat.
Fahmi berlari kecil sembari merentangkan kedua tangannya.
“Sudah bangun?” tanya Fahmi yang kini tengah menggendong tubuh Ashraf.
Ashraf hanya mengangguk dan memeluk leher Fahmi dengan begitu erat. Seakan-akan, Ashraf menganggap bahwa Fahmi adalah sosok Sang Ayah yang sudah berhari-hari tak pernah terlihat dihadapannya.
Dari kejauhan, Dyah terus mengamati Ashraf dan juga Fahmi. Dyah pun terheran-heran dengan sosok Fahmi yang dengan mudah bisa meluluhkan hati Ashraf yang dikenal sangat cuek terhadap orang baru.
“Kak Fahmi, Ayah mana?” tanya Ashraf lirih sambil meletakkan kepalanya di pundak Fahmi.
Fahmi yang mendengar pertanyaan Ashraf, akhirnya tahu bahwa Ashraf sampai sekarang belum juga mengetahui keberadaan Ayahnya.
“Ayah sedang bekerja mencari uang,” jawab Fahmi terpaksa berbohong.
Ashraf menangis di pundak Fahmi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, yang ada justru air mata yang terus mengalir membasahi pundak Fahmi. Menyadari bahwa Ashraf tengah menangis, Fahmi pun berinisiatif untuk menghibur perasaan Ashraf yang tengah bersedih.
“Ashraf mau ketemu Ayah Abraham?” tanya Fahmi lirih.
Ashraf terkesiap dan mengangguk kepalanya dengan semangat.
“Mau,” jawab Ashraf.
“Kalau begitu, laksanakan apa yang Kak Fahmi tadi katakan!”
“Siap!” seru Ashraf dengan penuh semangat dan dengan tangan kecilnya ia menghapus wajahnya yang basah karena air mata.
Asyila berlari kecil dan bernapas lega karena ternyata Ashraf sedang bersama dengan Fahmi.
“Ya Allah, hampir saja Bunda menangis gara-gara kamu tidak ada sayang. Sini sama Bunda!” panggil Asyila.
Fahmi segera menurunkan Ashraf dan Ashraf pun dengan langkah kecil mendekati Bundanya.
“Ashraf di kamar saja ya sayang, dokter bilang Ashraf harus banyak istirahat dan minum obat. Ashraf mau 'kan cepat sembuh?”
“Mau Bunda,” jawab Ashraf.
Asyila pun pamit kepada Fahmi untuk naik ke lantai atas, Fahmi mengangguk kecil dan setelah mereka berdua pergi, Fahmi langsung bergegas ke dapur membantu Dyah membuat salad buah.
“Dyah...” Fahmi menepuk pundak Dyah yang ternyata tengah melamun, sampai-sampai keran air terus mengeluarkan air.
Dyah terkesiap dan segera memutar keran air tersebut.
“Kamu sedang memikirkan apa? Memikirkan aku ya?” tanya Fahmi dan berharap bahwa Dyah benar-benar tengah memikirkan dirinya.
Gadis itu mendadak menjadi salah tingkah dan tak sengaja ia menyenggol gelas. Untungnya, Fahmi dengan cepat menangkap gelas tersebut.
__ADS_1
“Kalau memikirkan aku juga tidak apa-apa, setiap hari pun juga tidak apa-apa,” ucap Fahmi menggoda calon istrinya.
“Ogah amat,” celetuk Dyah sambil melipat kedua tangannya ke dada.
“Apa jangan-jangan kamu sudah memiliki pria lain?” tanya Fahmi.
Dyah dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak, hanya Mas Fahmi yang dekat dengan Dyah,” terang Dyah keceplosan.
Fahmi tertegun dan tanpa sadar ia tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Dyah.
Deg! Dyah tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Ya ampun, ini mulut,” ucap Dyah sambil mencubit bibirnya sendiri.
Fahmi menatap Dyah dengan begitu serius dan semakin membuat Dyah salah tingkah.
“Jangan menatapku seperti itu, cepat berbalik!” perintah Dyah sambil melotot tajam ke arah Fahmi.
Dengan tersenyum, Fahmi berbalik membelakangi Dyah.
“Pokoknya jangan menoleh ke belakang!” perintah Dyah sambil memotong-motong buah.
Fahmi menuruti apa yang diperintahkan oleh calon istrinya.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya salad buah telah selesai, hanya tinggal memarut keju saja.
“Mas Fahmi, tolong parut keju ya. Aku mau ke kamar mandi dulu,” ucap Dyah yang sedari tadi ingin buang air kecil.
Fahmi tersenyum tipis dan mulai memarut keju, sambil memarut keju Fahmi membayangkan bagaimana ia dan Dyah telah menjadi suami istri. Tentu, hari-harinya akan lebih berwarna.
“Mas Fahmi....” ucap Dyah lirih.
“Iya istriku,” balas Fahmi keceplosan.
Dyah terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh Fahmi. Bahkan, mulutnya terbuka lebar hingga air liur pun siap terjun ke bawah.
“Maksudku Dyah,” ucap Fahmi meralat ucapannya.
Dyah segera menutup mulutnya dan berpura-pura tidak dengar apa yang sebelumnya dikatakan oleh Fahmi.
“Apakah sudah selesai?” tanya Dyah tanpa berani menatap kedua mata indah Fahmi.
“Sudah,” jawab Fahmi yang juga tak berani menatap mata Dyah.
Keduanya sama-sama salah tingkah, Dyah tak berani menatap Fahmi dan Fahmi pun tak berani menatap Dyah.
“Kalian berdua kenapa?" tanya Asyila terheran-heran melihat wajah keduanya merah merona.
“Tidak ada apa-apa,” balas keduanya kompak.
Asyila tertawa kecil dan mengambil semangkuk salad buah yang sangat menggoda. Kemudian, ia cepat-cepat pergi karena suasana di dapur tersebut semakin canggung.
__ADS_1