Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Dyah Merasakan Ada Sesuatu Yang Aneh


__ADS_3

Dyah tertawa kecil ketika melihat isi pesan dari Kevin. Jika Dyah sedang sedih, Kevin lah yang menghibur Dyah hingga Dyah mampu kembali tertawa lagi.


“Pagi-pagi begini sudah bahagia saja, jadi penasaran siapa yang membuatmu senyum-senyum begitu,” ucap Melati teman kerja Dyah.


“Kepo,” celetuk Dyah.


“Ya mau bagaimana lagi? Dari semalam kamu terus mengoceh karena kita pagi ini harus bekerja tatap muka,” jawab Melati.


“Ya kamu tahu sendiri, kalau aku sedang menghabiskan waktu di Jakarta. Dan tiba-tiba disuruh masuk, mana mendadak. Untungnya ada Aunty ku yang memberiku semangat,” jelas Dyah.


“Enak ya punya Aunty yang care sama keponakannya. Lah, aku? Boro-boro care, menyapa aku saja rasanya najis,” ucap Melati dengan memasang raut wajah kesal.


“Kok pagi-pagi begini kamu malah menggosip. Kalau mau menggosip cari yang lain sana, aku tidak mau ikut-ikutan, dosa.”


Dyah dari dulu memang tidak suka dengan hal yang berbau ghibah. Baginya, tidak ada gunanya dan sangat tidak bermanfaat menceritakan aib seseorang.


Lebih baik ia tidak memiliki teman daripada harus membicarakan aib seseorang yang belum tentu itu benar.


“Kamu mah dari dulu memang susah diajak bergosip,” celetuk Melati dan kembali ke kursi kerjanya.


Dyah kembali fokus dengan laptop dihadapannya, ia terus saja mengingat pesan dari Aunty-nya untuk selalu bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan oleh siapapun. Itu artinya mereka percaya bahwa Dyah bisa melakukan pekerjaan yang diberikan oleh mereka kepada dirinya.


“Kruyuk! Kruyuk!”


“Haduh, ini perut baru saja diisi. Kenapa malah lapar lagi,” ucap Dyah sambil menyentil perutnya.


Dyah memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru mencari makanan untuk mengisi perutnya.


Deg! Deg!


Tiba-tiba Dyah bayangan Fahmi muncul dipikiran Dyah. Dyah langsung berdiri dan mengambil segelas air minum ia kemudian meneguknya sampai habis.


“Ya Allah, tolong jangan buat hamba masuk neraka.”


Dyah kembali ke kursinya dan kembali fokus ke laptop dihadapannya.


****


Akhirnya pekerjaan Dyah selesai, sudah waktunya bagi Dyah untuk kembali ke rumah dan cepat-cepat berisitirahat.


Ketika Dyah ingin melangkah menuju seberang jalan, Kevin menghubunginya dan Dyah pun segera menerima sambungan telepon dari Kevin.


“Assalamu’alaikum, Kevin. Tumben telepon,” ucap Dyah.


Dyah berbincang-bincang sebentar sampai akhirnya mobil milik Kevin berhenti tepat didepannya.


“Ayo naik!” ajak Kevin.


Tanpa pikir panjang, Dyah pun masuk ke dalam mobil Kevin.


“Bagaimana pekerjaan mu hari ini?” tanya Kevin penasaran sambil mengemudikan mobilnya.


“Hhhm.... Lumayan menguras tenaga dan otak,” jawab Dyah apa adanya.


“Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit!” ajak Kevin sambil tertawa kecil.


“Memangnya siapa yang sakit?” tanya Dyah penasaran.


“Kamu,” jawab Kevin singkat.


“Aku? Memangnya aku sakit apa?” tanya Dyah sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Bukankah kamu bilang pekerja mu menguras tenaga dan juga otak. Jadinya, aku mengajakmu ke rumah sakit untuk menimbang berat tenaga dan otak mu,” jawab Kevin dengan ekspresi serius.


Dyah tertawa terpingkal-pingkal dengan apa yang dikatakan oleh Kevin.

__ADS_1


“Kamu ini dari dulu tidak pernah berubah, selalu buat aku tertawa,” ucap Dyah sambil memegangi perutnya yang geli karena tertawa terus-menerus.


“Sudah jangan tertawa lagi, ayo cari makan!” ajak Kevin.


“Wah, baru gajian ya?” tanya Dyah sambil senyum-senyum.


“Tidak juga,” jawab Kevin.


Dyah tiba-tiba ingat ada sebuah restoran yang baru buka dan tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat Dyah bekerja.


“Hhmm... Kamu tahu 'kan, restoran pelangi?”


“Oh, yang baru buka itu? Kamu mau kesana?” tanya Kevin dan Dyah pun mengangguk setuju, “Baiklah, kita berangkat!” teriak Kevin.


Semenjak lulus kuliah, Dyah dan Kevin semakin dekat.


“Aku makannya banyak loh, kamu tidak takut rugi?” tanya Dyah serius.


“Kalau dibilang rugi ya dari dulu kali. Tapi, untungnya uangku banyak jadi aku tidak merasa rugi,” jawab Kevin.


Semenjak lulus kuliah, Kevin sibuk turun tangan dengan usaha yang dimiliki oleh keluarganya.


Kadangkala ia harus pergi sendirian ke Bali untuk melihat usaha kain sintetis keluarganya.


“Aku jadi denganmu yang memiliki keluarga kaya raya,” ucap Dyah.


“Memangnya keluargamu tidak kaya raya?” tanya Kevin.


“Orang tuaku yang kaya raya. Kalau aku ya jelas tidak,” jawab Dyah dengan begitu jujur.


“Aku menyukai mu,” ucap Kevin.


Dyah terkejut dan seketika itu menoleh ke arah Kevin yang tengah sibuk mengemudikan mobil.


“Ma-maksud kamu?” tanya Dyah.


Dyah menghela napasnya dan menyeruput teh gelas yang ia beli. Perkataan Kevin hampir membuatnya salah paham.


Beberapa menit kemudian.


“Ya ampun, kenapa yang antri banyak sekali?” tanya Dyah sambil melihat ke arah restoran dengan pengunjung yang tengah antri.


“Kita mau makan disini atau cari tempat lain?


Kalau pun ikut mengantri, pasti memakan waktu lebih dari 1 jam,” ucap Kevin.


Dyah melirik ke arah jam di ponselnya dan ia tidak mungkin menunggu antrian yang cukup menyita waktu.


“Cari tempat lain saja, Kevin. Kalau terlalu lama Papa dan Mama akan mengomel,” ucap dengan sedih.


“Sudah jangan bersedih, masih ada hari esok. Kita pergi ke tempat biasa, bagaimana?”


“Setuju!” seru Dyah.


Kevin sesekali melirik ke arah Dyah yang menurutnya semakin hari Dyah semakin terlihat cantik.


Tak dapat dipungkiri jika Kevin tertarik dengan sosok Dyah yang sedikit ceroboh sama seperti Ema.


“Kevin awas!” teriak Dyah.


Kevin yang seketika itu mengerem mendadak karena hampir saja menabrak pejalan kaki.


“Ya Allah, hampir saja. Kamu sebenarnya sedang memikirkan apa? Untung saja aku melihatnya kalau tidak?”


“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Kevin dan kembali mengendarai mobil.

__ADS_1


Tibalah Kevin dan Dyah disebuah restoran yang biasa Kevin dan Dyah singgahi. Restoran yang juga cukup terkenal karena masakan dan pelayanannya yang sangat ramah.


“Selamat sore, mau pesan menu apa?” tanya pelayan restoran.


“Saya pesan ati balado, capcay dan jamur krispi!” pinta Dyah dengan begitu semangat. Dyah sudah cukup lama tidak menikmati makanan yang baru saja ia sebutkan.


“Saya udang balado dan cah kangkung,” ucap Kevin.


“Baik, tunggu sebentar. Kami akan menyiapkan menu makanan yang Mas dan Mbak pesan!”


Dyah bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih kepada Kevin yang telah mentraktir makan.


“Iya sama-sama,” balas Kevin sambil menyentuh tangan Dyah.


Dyah secara refleks melepaskan genggaman Kevin yang secara tiba-tiba menyentuhnya.


“Maaf,” ucap Kevin merasa bersalah.


“Tidak apa-apa,” jawab Dyah sambil tertawa kecil agar suasana tidak canggung.


Selepas menikmati makan sore bersama, Kevin tidak langsung mengantarkan Dyah pulang. Kevin malah mengajak Dyah untuk mampir sebentar kesebuah taman yang cukup terkenal di daerah Bandung.


“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Kevin sambil berjalan beriringan dengan Dyah.


“Lumayan, kamu tahu tempat ini darimana?” tanya Dyah yang sebelumnya belum pernah menginjakkan di taman itu. Dyah hanya melihat dari sosial media teman-teman kerjanya.


“Dua hari yang lalu aku kemari bersama keponakanku dan tiba-tiba ingat kamu. Jadinya, aku mengajakmu kemari,” jawab Kevin jujur.


“Terima kasih, Kevin. Kamu memang sahabat terbaik,” ucap Dyah.


Kevin tersenyum tipis dan terus melanjutkan langkahnya menelusuri taman Bunga tersebut.


“Dyah!” panggil Kevin.


“Hhhmmmm...”


“Dua hari lagi aku akan pergi ke Bali dan mungkin aku akan tinggal disana dengan waktu yang cukup lama,” ucap Kevin yang terdengar sedih.


“Memangnya kenapa? Bukankah kamu selalu wara-wiri Jakarta, Bandung dan Bali.”


“Iya, memang benar. Tapi, orangtuaku memintaku untuk tinggal di Bali selama tiga bulan. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa berlama-lama tinggal di pulau orang,” ucap Kevin.


“Kamu ini ada-ada saja, lagipula kamu kesana bukan untuk bermain-main. Melainkan, untuk membantu usaha orangtuamu, ayo Kevin. Semangat!”


Kevin tersenyum lebar ketika Dyah menyemangati dirinya.


“Terima kasih, Dyah. Kamu memang gadis yang paling mengerti aku.”


Kenapa Kevin selalu mengatakan hal-hal yang membuatku merasa canggung didekatnya. Tidak seperti biasanya yang selalu santai.


Dyah berlari kecil menghampiri pedagang yang berjualan Arum manis.


“Pak, Arum manisnya satu!” pinta Dyah.


“Ini Neng!” Si penjual lalu memberikan Arum manis keinginan Dyah.


“Berapa Pak?” tanya Dyah sambil mengeluarkan dompet miliknya.


“Biar saya saja!” Tiba-tiba Kevin mengeluarkan uang dan membayar Arum manis yang diinginkan oleh Dyah.


“Terima kasih,” ucap Dyah singkat.


Lagi-lagi Dyah merasa aneh dengan sikap Kevin yang tidak seperti biasanya. Akan tetapi, Dyah memutuskan untuk tetap diam dan fokus menikmati Arum manis keinginannya.


Kevin benar-benar aneh. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

__ADS_1


Terima kasih atas semangat kalian!!


__ADS_2