
“Mas marah ya?” tanya Asyila yang sudah selesai mengganti pakaiannya dan menoleh ke arah suaminya yang ternyata sedang membelakangi dirinya.
“Tidak,” jawab Abraham singkat.
Asyila berlari kecil dan dengan penuh semangat memeluk punggung suaminya.
“I love Mas Abraham,” ucap Asyila dengan penuh semangat.
Abraham tersipu mendengar pernyataan cinta dari Sang istri.
“I love you too Istriku,” balas Abraham dan perlahan berbalik menghadap ke arah istri kecilnya.
“Suatu kebanggaan bisa menjadi istri Yang Mulia,” tutur Asyila seakan-akan tengah berhadapan dengan suara pria yang berkuasa dalam sebuah kerajaan.
Abraham tak sanggup mendengar pernyataan dari istri kecilnya hingga ia tertawa geli.
“Mas kenapa malah tertawa? Seharusnya membalas pernyataan cinta Asyila,” tutur Asyila kesal.
“Bagaimana tidak tertawa, kalau Asyila menyatakannya dengan kalimat seperti itu,” ungkap Abraham yang kembali menertawakan istri kecilnya.
“Dasar jahat,” celetuk Asyila sembari memukul dada suaminya berkali-kali.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar pun terbangun dan menangis.
“Gara-gara Mas bayi kita bangun,” ucap Asyila setelah itu berlari menghampiri bayi mungilnya yang tangisannya semakin kencang.
Asyila dengan cepat merebahkan tubuhnya di samping bayi mungilnya dan perlahan menyusui bayi yang masih berusia 1 bulan.
“Minum yang banyak ya sayang, biar Akbar cepat besar,” tutur Asyila dan dengan perlahan menyentuh pipi kemerah-merahan Akbar yang lembutnya seperti kapas.
Abraham tersenyum tipis melihat bagaimana istri kecilnya tengah menyusui buah hati ke-empat mereka.
“Mas kenapa melihat Asyila terus? Cepat ganti baju,” pinta Asyila menggunakan bahasa bibir agar bayi mungilnya tak terganggu ketika sedang menyusui ASI.
Abraham mengangguk dan memberikan kedipan mata genitnya pada Sang istri. Kemudian, bergegas mengganti pakaiannya dengan piyama yang sama dengan Sang istri tercinta.
“Oh nikmatnya kasur ini,” ucap Abraham yang baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Abraham kini tak merasa kesepian lagi setelah kembalinya Sang istri. Sebelumnya, ia tidur dengan perasaan bersalah sekaligus sangat sedih. Hanya bisa memandangi foto Sang istri tercinta, akan tetapi mimpi buruk itu telah pergi karena istri kecilnya sudah kembali dan sudah satu ranjang dengannya kembali.
“Mas sedang memikirkan apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Asyila penasaran.
Abraham seketika itu mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah Sang istri.
“Mas sangat bahagia, karena malam-malam Mas selalu ditemani Asyila. Sebelumnya, Mas sangat takut untuk tidur karena tak bisa memeluk Asyila,” ungkap Abraham dari hati yang paling dalam.
“Bukankah sekarang Asyila sudah disini?” tanya Asyila dengan tatapan berbinar-binar.
“Oleh karena itu, Mas tadi senyum-senyum sendiri,” balas Abraham dan kembali melebarkan senyumnya untuk istri kecilnya.
“Mas, bolehkah Asyila bertanya mengenai seseorang?” tanya Asyila penasaran dengan tatapan serius.
__ADS_1
Abraham mengernyitkan keningnya mendengar istri kecilnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.
“Mas kenapa melihat Asyila dengan tatapan seperti itu? Boleh, tidak?” tanya Asyila memastikan.
“Memangnya Syila mau bertanya apa?” tanya Abraham penasaran.
“Apakah Mas kenal dengan wanita yang bernama....” Entah kenapa, Asyila sedikit kesal menyebutkan nama wanita yang ingin ditanyakan olehnya.
“Kenapa malah diam? Wanita bernama siapa?” tanya Abraham semakin penasaran.
“Wa-wanita bernama Salsa. Apakah wanita itu mengejar-ngejar Mas Abraham?” tanya Asyila yang tiba-tiba memasang ekspresi ngambek.
Abraham tertegun mendengar nama wanita yang paling ia benci karena kejadian buruk yang menimpa istri serta bayi mungilnya diakibatkan oleh Salsa alias Ratih.
“Mas... Kenapa malah melamun? Mas tidak ingin ya menjawab rasa penasaran Asyila?”
Abraham terdiam sejenak sembari merangkai kata-kata agar kalimat kasar tidak keluar dari mulutnya.
Asyila memanyunkan bibirnya ketika melihat suaminya mengabaikan rasa penasaran dihatinya.
“Ya sudah kalau tidak mau menjawab,” ucap Asyila lirih dan nyaris tak terdengar oleh telinga Abraham.
Abraham bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kemudian, memandangi wajah istri kecilnya secara intens.
“Wanita itu adalah dalang dari musibah yang dialami oleh Asyila dan juga bayi kita. Dialah otak dari kejadian yang membuat kami semua terpukul dan kehilangan arah, terlebih lagi suamimu ini,” tutur Abraham.
Asyila terkejut dan dadanya terasa sakit.
Abraham panik melihat napas istri kecilnya begitu pendek.
“Syila kenapa?” tanya Abraham panik.
Asyila yang tengah menyusui bayi mungilnya, seketika itu menyudahi dan mengubah posisi yang sebelumnya miring menjadi terlentang.
“Mas, Asyila tiba-tiba merasa sangat sesak. Asyila takut Mas, Asyila takut ditinggalkan sendirian di dalam lautan yang luas itu,” terang Asyila terengah-engah.
Abraham turun dari tempat tidur dan bergegas memberikan napas buatan kepada istri tercintanya itu.
“Bagaimana, apakah sudah lebih baik?” tanya Abraham khawatir.
“Mas, tolong peluk tubuh Asyila,” pinta Asyila dan dalam sekejap mata Abraham sudah memeluk erat tubuh Sang istri.
Abraham bisa merasakan bahwa tubuh istri kecilnya gemetaran.
Syila pasti mengalami trauma berat dengan laut. Bagaimanapun, aku harus membawa Syila ke psikolog untuk menghilangkan trauma berat tersebut.
Cukup lama Asyila berada dipelukan suaminya dan ia pun kembali meminta agar suaminya melanjutkan perkataannya mengenai Salsa.
Abraham sebenarnya tak ingin lagi membahas mengenai wanita jahat itu. Akan tetapi, ia juga tinggi membuat istri kecilnya menjadi penasaran.
“Setelah menghilangnya Syila, wanita itu tiba-tiba datang ke dalam kehidupan kami. Banyak hal yang telah wanita itu lakukan untuk bisa masuk ke dalam keluarga kita. Terlebih lagi, ia mendekati Ashraf dan awalnya Ashraf sangat dekat dengan wanita itu karena....”
__ADS_1
“Karena apa, Mas?” tanya Asyila semakin penasaran.
“Karena wanita itu wajahnya mirip sekali dengan Syila,” jawab Abraham.
“Haaa? Bagaimana mungkin bisa mirip sekali dengan Asyila?” tanya Asyila terheran-heran.
“Karena untuk bisa masuk ke dalam keluarga kita, dia rela melakukan operasi plastik agar terlihat mirip dengan Syila. Meskipun begitu, Mas sudah mencurigainya dari awal ketika melihat data dirinya yang sangat jelas bahwa itu data diri palsu,” terang Abraham.
Asyila tak bisa berkata-kata lagi, ia sangat kesal mendengar keterangan dari suaminya.
“Lalu, dimana wanita itu sekarang?” tanya Asyila yang tak ingin lagi mengorek informasi mengenai wanita yang ternyata mirip dengannya hasil operasi plastik.
“Sekarang dia sudah kembali ke rumah sakit jiwa. Dia sendiri adalah pasien rumah sakit jiwa yang berkali-kali keluar-masuk rumah sakit jiwa,” ungkap Abraham.
“Haaa?” Lagi-lagi Asyila sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya mengenai Salsa.
“Syila jangan khawatir lagi ya, ada Mas disini yang akan melindungi Asyila dan tidak akan pernah membiarkan Asyila kembali mengalami hal seperti kemarin lagi,” tutur Abraham.
Asyila tak habis pikir dengan pemikiran Salsa yang dengan berani mengubah wajahnya menjadi wajah seorang Asyila.
“Oek... Oek...” Bayi Akbar kembali bangun dan dengan hati-hati Asyila kembali menyusui bayi mungilnya.
Abraham mengangkat kedua alisnya melihat bayi mungilnya yang sedikit rewel.
Pria itu tersenyum lebar ketika menyadari bahwa hadiah untuk bayi mungilnya begitu banyak.
“Ashraf pasti sangat senang membuka kado-kado ini,” tutur Abraham dan pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah kado yang ukurannya cukup besar.
“Mas mau ngapain?” tanya Asyila ketika melihat suaminya sedang menyentuh salah satu dari banyaknya hadiah.
“Mau buka kado, siapa tahu ada mobil di dalamnya,” ucap Abraham.
“Mas ini ada-ada saja, mana mungkin kotak sebesar itu isinya mobil. Yang ada mobil-mobilan,” sahut Asyila.
“Intinya Mas ingin membuka kado ini.”
Asyila tersenyum dan menggerakkan tangannya agar suaminya itu segera mendekat padanya.
“Kita buka sama-sama ya Mas!” pinta Asyila.
Abraham mengiyakan dan bergegas duduk di dekat istri kecilnya. Kemudian, ia membuka isi kado tersebut sembari memperlihatkan caranya membuka kado.
Senyum Abraham dan Asyila merekah sempurna ketika mengetahui isi dari kado tersebut.
”Masya Allah, ini selimutnya cantik sekali Mas. Bahannya halus dan juga tebal, cocok buat musim hujan,” ungkap Asyila.
“Wah, ternyata kado ini dari keluarga kecil Yogi,” tutur Abraham ketika melihat nama Yogi tertera di kado tersebut, “Lihat, ada lagi,” imbuh Abraham dan perlahan membuka kotak kecil yang ternyata isinya adalah sebuah kalung emas.
“Ya ampun, ini juga sangat cantik. Seharusnya mereka tidak perlu repot-repot membelikan kalung ini,” tutur Asyila.
Abraham ❤️ Asyila
__ADS_1