Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Bertaubatlah!


__ADS_3

Asyila melirik ke arah jam yang terpaku di dinding dan ternyata sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB.


“Ternyata sudah jam 11, sebaiknya aku menyiapkan keperluan Septia dan setelah sholat Dzuhur barulah aku berangkat ke rumah sakit,” ucap Asyila bermonolog sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangannya sendiri.


Asyila turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati agar bayi mungilnya tak terbangun. Lalu, ia membuka almari pakaiannya dan memilih beberapa pakaian untuk diberikan kepada Septia.


Tak butuh waktu lama, tiga setelan pakaian pun Asyila masukkan ke dalam sebuah tas ransel yang berukuran cukup sedang. Tidak hanya itu saja, Asyila mengambil pakaian serta ****** ***** miliknya yang tentu saja masih baru, sama sekali belum pernah Asyila pakai.


“Syila sedang apa?” tanya Abraham yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan sedang memergoki istri kecilnya memasukkan sesuatu ke dalam tas ransel berwarna hitam tersebut.


“Ini Mas, hanya beberapa pakaian Asyila untuk Septia,” jawab Asyila.


“Maksud Asyila?” tanya Abraham yang belum mengerti dengan perkataan istri kecilnya.


“Di dalam tas ransel ini ada setelan pakaian, pakaian dalam dan juga ****** ***** untuk Septia,” terang Asyila dengan senyum manisnya.


Abraham mengangguk kecil dan tak lagi bertanya.


“Mas, nanti bayi kita dibawa atau tidak?”


Abraham tak langsung menjawab, ia menoleh sekilas ke arah bayi mungil mereka yang tengah terlelap di ranjang tidur mereka.


“Lebih baik di rumah saja,” jawab Abraham.


“Baik, Mas,” sahut Asyila.


Abraham tersenyum dan kembali melenggang pergi keluar kamar.


“Hhmm... Bawa apa lagi ya,” tutur Asyila sambil berpikir apa yang akan ia bawa untuk diberikan kepada Septia.


Di ruang tamu.


Abraham duduk di sofa tepat disamping Ayah mertuanya.


“Ayah, Ibu! Insya Allah setelah sholat Dzuhur nanti, Abraham dan Asyila akan ke rumah sakit. Bayi Akbar kami tinggal,” terang Abraham apa adanya.


“Ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit? Asyila kah?” tanya Arumi khawatir.


“Ibu tenang saja, Asyila sama sekali tidak sakit. Kami ingin menjenguk seseorang di rumah sakit” jawab Abraham.


“Kalian berdua saja?” tanya Herwan.


“Sepertinya begitu, Ayah. Biar Ashraf dirumah saja bersama Bela,” jawab Abraham.


“Ashraf!” panggil Herwan.


Tak butuh waktu lama, Ashraf pun datang menghampiri Kakeknya yang memanggil dirinya.


“Iya, Kakek!” seru Ashraf.


Herwan menoleh ke arah menantunya dan memberi isyarat agar menantunya itu segera memberitahukan perihal Abraham dan juga Asyila yang akan pergi ke rumah sakit tanpa mengajak Ashraf.


Abraham mengangguk kecil dan menarik tubuh Ashraf ke dalam pangkuannya.


“Ashraf sayang, Bunda dan Ayah akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk teman Bunda. Ashraf di rumah ya, jaga adik bayi dan temani Kak Bela bermain. Ashraf mengerti, 'kan?”


Ashraf memanyunkan bibirnya dengan ekspresi sedih. Kemudian, ia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya berulang kali.


“Iya Ayah, Ashraf dirumah saja,” jawab Ashraf yang tak terlihat sedih.


Arumi, Abraham dan juga Herwan saling tukar pandang mendengar Jawa dari Ashraf. Jika biasanya Ashraf akan rewel, kali ini sama sekali tak rewel. Justru, Ashraf terlihat sangat santai tak seperti biasanya yang akan menangis minta untuk ikut.


“Terima kasih, sayang,” ucap Abraham dan mencium pipi kanan putra ke-duanya itu.


“Tetapi, Ayah dan Bunda harus membelikan Ashraf banyak jajan,” tutur Ashraf.


“Haaaaa?” Abraham terkejut mendengar permintaan Ashraf, “Ya ampun, Ayah kira tidak ada syaratnya,” imbuh Abraham.


“Ya sudah, kalau tidak mau membelikan Ashraf jajan, Ashraf ikut Ayah sama Bunda pergi ke rumah sakit,” terangnya.


“Jangan ngambek dulu dong. Ok, Ayah akan membelikan Ashraf jajan yang banyak,” tutur Abraham.


“Belikan juga Kak Bela, Ayah!”


“Iya, nanti Ayah dan Bunda membelikan Kak Bela jajan yang sama banyak seperti punya Ashraf,” jelas Abraham.

__ADS_1


Ashraf tersenyum senang dan ia pun turun dari pangkuan Ayahnya untuk segera kembali bermain bersama Bela di ruang keluarga.


Arumi dan Herwan geleng-geleng kepala ketika tahu ada udang dibalik batu.


“Ibu kira Ashraf mengiyakan tanpa syarat, ternyata oh ternyata,” ujar Arumi dan tertawa geli dengan tingkah menggemaskan cucunya itu.


Abraham dan Herwan juga ikut tertawa karena kelakuan menggenggam dari Ashraf Mahesa.


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan Asyila telah siap untuk pergi ke rumah sakit. Saat itu, mereka pergi tidak hanya berdua saja. Tetapi, ada Pak Udin yang ikut mengantarkan sepasang suami istri itu.


“Ayo, Pak Udin kita berangkat sekarang!” perintah Abraham.


“Baik, Tuan Abraham,” jawab Pak Udin dan perlahan mengendarai mobil tersebut keluar dari halaman rumah.


Abraham dan Asyila duduk tidak saling berdekatan, dikarenakan saat itu mereka sedang menjalankan Ibadah puasa.


Asyila menoleh ke arah suaminya dengan senyum manisnya, begitu juga Abraham yang juga tersenyum dengan penuh cinta.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang hampir memakan waktu 1 jam karena jalan raya macet, mereka pun sampai di rumah sakit tempat dimana Septia dirawat.


Pak Udin ikut serta karena membawa beberapa barang yang cukup banyak.


“Terima kasih, Pak Udin,” ucap Asyila pada Pak Udin yang telah membantunya membawa barang.


“Sama-sama, Nona Asyila. Ini semua sudah menjadi tugas saya,” balas Pak Udin.


Pak Udin lalu pamit untuk kembali ke area parkir.


“Mas, ayo masuk!” ajak Asyila.


Abraham menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak ingin masuk ke dalam.


“Kenapa, Mas?” tanya Asyila penasaran.


“Akan lebih baik kalau Mas menunggu disini saja, bukankah aneh kalau Mas juga ikut masuk ke dalam?” tanya Abraham.


“Mas yakin tidak mau masuk ke dalam? Bagaimana kalau Asyila di dalam lama?” tanya Asyila.


“Baiklah, Asyila masuk ya Mas.”


Abraham mengiyakan dan duduk di jejeran kursi.


“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila sambil membuka pintu.


Septia yang saat itu tengah berbaring, seketika itu juga menoleh ke arah Asyila dan membalas salam dari Asyila.


“Bagaimana keadaanmu? Apakah jauh lebih baik?” tanya Asyila.


“Masih sakit, akan tetapi tidak separah semalam,” jawab Septia.


“Apakah kamu sudah menghubungi keluargamu?” tanya Asyila sambil meletakkan tas ransel berwarna hitam tersebut di dekat nakas.


“Aku terlalu takut untuk menghubungi mereka, lagipula orangtuaku telah membuang ku setelah mereka tahu bahwa pekerjaan putri mereka adalah wanita malam,” balas Septia.


Perhatian Asyila seketika itu mengarah kepada Septia.


“Tunggu, maksudmu apa tadi?” tanya Asyila yang tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Septia.


Septia mencoba untuk duduk agar bisa lebih santai berbincang-bincang dengan Asyila.


“Dulu, saat umurku 15 tahun lebih tepatnya 2 tahun yang lalu. Aku memutuskan untuk terjun di dunia malam, dikarenakan saat itu aku tak punya pilihan lagi untuk mencari uang. Hasil yang didapatkan cukup besar dan bisa memenuhi kebutuhan pengobatan Adikku. Akan tetapi, itu tak berlangsung lama karena adik perempuan ku meninggal dan dihari itu juga orang tuaku tahu masalah pekerjaan ku,” terang Septia yang mencoba untuk tak menangis.


Asyila mengernyitkan keningnya mendengar keterangan dari Septia.


“Aku pun diusir dan akhirnya tinggal di rumah pacar ku, Ayah dari janin yang aku kandung ini,” terang Septia lagi.


“Apakah kalian sering melakukan hubungan terlarang itu, maksudku sampai akhirnya kamu hamil begini? Lalu, hutang yang mereka maksud itu apa?” tanya Asyila.


“Iya, aku hamil karena kami sering melakukan hubungan terlarang dan soal hutang itu memang benar aku meminjamnya,” jawab Septia.


“Lebih baik kamu meminta maaf atas apa yang telah kamu lakukan kepada orang tuamu dan jujurlah masalah kamu yang keguguran terhadap pria itu. Bertaubatlah selagi masih hidup,” tutur Asyila.


“Bertaubat? Bagaimana bisa aku bertaubat sedangkan aku sudah kotor seperti ini?” tanya Septia.

__ADS_1


“Tentu saja bisa, Allah maha pemaaf. Asal kita bersungguh-sungguh, Insya Allah dosa-dosa kita terampuni, Septia,” jelas Asyila.


“Aku rasa aku tidak bisa, orang tuaku saja tidak memaafkan aku, apalagi Allah.”


“Tidak boleh memiliki pemikiran seperti itu, siapapun boleh bertaubat. Asalkan tidak pernah lagi melakukan kesalahan yang sama, sekarang kamu mau, 'kan?” tanya Asyila.


Septia terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat besar sekaligus penting.


“Berubahlah menjadi lebih baik secara perlahan-lahan dan jangan tergesa-gesa. Nikmati saja setiap proses dari diri kita, insya Allah semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Allah tahu mana hambanya yang bersungguh-sungguh dan hanya main-main saja dalam bertaubat,” ujar Asyila sambil menyentuh kedua tangan Septia.


Septia akhirnya menangis, menyadari semua perbuatannya yang sangat merugikan dirinya. Ia berharap kedepannya dirinya bisa keluar dari lingkaran hitam tersebut.


Asyila terus saja memberikan penjelasan mengenai arti dari kata taubat dan Septia dengan serius mendengarkan setiap perkataan dari Asyila yang penuh dengan sisi positif.


Septia menatap kagum sosok Asyila yang begitu pemberani sekaligus baik. Dari setiap perkataan yang Asyila lontarkan, tak sedikitpun ada kata yang menyinggung. Jika itu orang lain, sudah pasti orang itu akan mengutuk Septia habis-habisan.


“Mbak, bolehkah aku memeluk Mbak?” tanya Septia.


Asyila tersenyum lebar dan seketika itu memeluk erat tubuh Septia.


“Kamu adalah sosok wanita yang kuat, Septia. Aku sangat yakin bahwa kamu bisa melalui ini semua, aku berharap pria itu bisa bertaubat dan bertanggung jawab atas apa yang telah kalian lakukan,” ujar Asyila yang masih memeluk erat tubuh Septia.


“Mbak Asyila baik sekali, kenapa keluargaku tidak bisa mengerti tentang diriku,” ucap Septia.


“Hush... Tidak boleh berbicara seperti itu, Insya Allah kedepannya mereka akan mengerti dan menerimamu kembali. Yang terpenting sekarang kamu harus cepat membaik dan bisa segera pulang untuk menemui orangtuamu.”


“Terima kasih, Mbak Asyila. Mbak Asyila ada penyelamatku.”


“Lebih tepatnya Allah yang mempertemukan kita berdua,” terang Asyila.


Abraham terlihat mulai bosan karena harus duduk seorang diri di luar, sementara istri kecilnya masih di dalam dan entah apa yang sedang dilakukan oleh istri kecilnya itu.


“Sudah hampir 3 jam lamanya, kenapa Asyila belum juga keluar. Sebenarnya, apa yang sedang mereka bicarakan sampai hampir 3 jam,” tutur Abraham bermonolog.


Dari kejauhan, tanpa Abraham sadari ada seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Abraham.


Wanita berkulit sawo matang dengan rambut panjang berwarna hitam serta mata berwarna hitam pekat terus saja tersenyum ke arah Abraham.


Karena penasaran dengan sosok Abraham yang duduk seorang diri tanpa melakukan apapun, wanita itu pun memutuskan untuk menghampiri Abraham sekaligus berkenalan dengan pria yang sangat tampan itu.


“Permisi, boleh saya duduk disini?” tanya wanita itu dan bersiap-siap untuk duduk disamping Abraham.


“Saya sedang menunggu istri saya disini, jadi anda tidak boleh duduk di dekat saya,” tegas Abraham.


Wanita itu mengernyitkan keningnya dengan raut wajah yang begitu terkejut.


Disaat yang bersamaan, Asyila keluar dari ruangan Septia.


“Maaf menunggu lama, ayo Mas kita pulang!” ajak Asyila dengan senyum manisnya.


Abraham tersenyum dan merekapun bergegas meninggalkan area tersebut.


Wanita yang sebelumnya ingin berkenalan dengan Abraham, seketika itu merasakan sesak di dadanya. Ia tak mengira bahwa pria yang ia pikir masih lajang ternyata sudah menikah.


“Syila tadi mengobrol apa saja dengan Septia?” tanya Abraham penasaran.


“Ada banyak hal, Mas. Akan tetapi, maaf Asyila tidak bisa menceritakan perbicangan kami,” jawab Asyila.


“Baiklah, Mas tidak akan bertanya lagi. Oya, kita pergi beli jajan dulu ya buat anak-anak!”


“Iya, Mas. Sekalian beli keperluan dapur,” balas Asyila yang teringat dengan bahan dapur yang hampir habis.


Pak Udin tersenyum lebar dan bergegas membukakan pintu untuk sepasang suami istri itu.


Tak butuh waktu lama, mobil pun perlahan pergi meninggalkan area rumah sakit.


Ya Allah, hamba tahu Engkau maha pemaaf. Hamba berharap bahwa Septia bisa melalui semuanya dengan sangat baik. Aamiin ya rabbalalamin.


“Syila sedang memikirkan apa? Jangan melamun seperti itu!” pinta Abraham ketika melihat istri kecilnya melamun.


Asyila terkesiap dan menggelengkan kepalanya.


“Asyila tidak melamun, Mas,” jawab Asyila.


Like ❤️

__ADS_1


__ADS_2