Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Jangan Menangis


__ADS_3

Keesokan paginya.


Asyila masih belum diperbolehkan menemui suaminya dan itu semakin membuat Asyila frustasi. Semalaman Asyila tidur di kursi tunggu dan tidur dengan sangat gelisah.


Ema pun mencoba untuk mengajak Asyila pulang, akan tetapi Asyila bersikeras untuk tetap di rumah sakit menemani suaminya.


“Asyila, makanlah dulu,” ucap Ema sambil memberikan sebungkus nasi dan satu botol air mineral ukuran sedang.


Asyila menoleh dan menerima makanan serta air minum pemberian dari sahabatnya.


“Terima kasih,” ucap Asyila lirih.


Ema duduk di samping sahabatnya dan meminta Asyila untuk segera menikmati nasi bungkus tersebut meskipun sedang tidak nafsu makan.


“Makanlah Asyila, Pak Abraham pasti akan sedih mengetahui kamu seperti ini.”


Asyila tersenyum tipis sembari menoleh ke arah sahabatnya.


“Terima kasih, Ema. Terima kasih karena kamu selalu mempedulikan aku,” tutur Asyila.


“Kamu kenapa bicara seperti itu, yang ada akulah yang berterima kasih sama kamu. Dari dulu kamu yang selalu ada untuk aku dan kamu juga yang selalu membantuku, kalau diingat-ingat apa yang aku lakukan tak sepadan dengan apa yang kamu berikan,” terang Ema.


Asyila menghela napasnya dan mulai membuka bungkus nasi yang ternyata isinya adalah nasi ayam bakar.


“Kamu tidak makan?” tanya Asyila.


“Aku sudah makan setelah sholat subuh tadi di bawah, sekarang kamu makanlah dan jangan lupa dihabiskan. Kalau kurang nanti aku belikan lagi.”


Asyila membaca do'a makan terlebih dahulu dan kemudian dengan pelan ia mengunyah nasi ayam bakar pemberian sahabatnya.


Usai sarapan, Asyila beranjak dari duduknya untuk membuang nasi kertas dan juga botol air minum yang sudah kosong ke dalam kotak sampah. Kemudian, ia berjalan menuju toilet untuk membasuh wajahnya. Ema dengan cepat membuntuti sahabatnya yang berjalan dengan begitu tak berdaya.


Ketika Asyila sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian cukup seksi dan berambut panjang lurus sepunggung menabrak tubuh Asyila hingga Asyila pun terjatuh.


Ema yang melihatnya langsung berlari menghampiri Asyila dan membantu Asyila berdiri. Kemudian, Ema memarahi wanita tersebut yang jelas-jelas sengaja menabrak tubuh Asyila hingga akhirnya Asyila terjatuh.


“Kamu ada masalah apa dengan sahabatku?” tanya Ema yang terlihat sangat emosi.


“Maksud kamu apa ya? Masalah apa?” tanya wanita itu balik sambil mengibaskan rambutnya ke arah Ema.


Ema yang geram langsung menjambak rambut wanita itu.


“Rambut begini saja sudah pamer, kalau tidak ke salon ini rambut keriting sudah kemana-mana,” ejek Ema yang terlihat begitu emosi dan wanita itu berlari secepat mungkin menjauh dari Ema.


Ema terus saja memperhatikan wanita itu dan hal yang tak terduga pun terjadi. Wanita itu terjatuh dan high heels yang ia kenakan patah, sontak saja hal tersebut menjadi sorotan orang-orang yang berada disekitar.


“Syukurin,” ucap Ema yang terlihat sangat senang dengan apa yang terjadi kepada wanita tersebut.

__ADS_1


Asyila menggelengkan kepalanya dan mengingatkan bahwa tak baik tertawa di atas kemalangan seseorang.


“Wanita itu jelas-jelas sengaja menabrak kamu Asyila, rasanya aku ingin sekali menggunting rambutnya atau aku gunting habis biar botak sekalian,” ucap Ema yang masih kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita menyebalkan itu.


“Husss... Tidak boleh bicara seperti itu, lagipula aku tidak apa-apa. Aku nya saja yang tidak lihat,” ucap Asyila yang malah menyalahkan dirinya sendiri.


“Dia yang salah dan kamu yang benar,” tegas Ema dan menggandeng tangan Asyila menuju toilet.


“Aku bisa sendiri, Ema,” tutur Asyila.


Ema menggelengkan kepalanya dan tetap menggandeng tangan sahabatnya masuk ke dalam toilet.


Sesampainya di dalam, Asyila langsung membuka hijab yang ia kenakan dan membasuh wajahnya sambil memberikan pijatan kecil di area mata agar kantung mata segera mengecil.


“Syila, sore nanti aku dan Abang Yogi akan kembali ke rumah. Dokter mengatakan bahwa Abang Yogi sudah bisa pulang dan tak perlu lagi menginap di rumah sakit,” ucap Ema yang tak enak hati dengan sahabatnya.


“Kenapa kamu malah sedih seperti ini? Kamu tidak enak dengan aku? Tolong jangan berpikiran seperti itu, kamu pun tahu aku orang yang seperti apa! Lagipula aku pun senang karena Pak Yogi sudah boleh pulang,” terang Asyila sambil menyentuh kedua tangan sahabatnya.


“Lalu, bagaimana denganmu Asyila? Apakah kamu akan tetap berada di rumah sakit?” tanya Ema.


“Tentu saja, saat ini Mas Abraham sangat membutuhkan diriku dan aku sebagai istrinya akan berusaha berada disisi Mas Abraham,” jelas Asyila.


“Kalian memang pasangan yang sangat serasi dan saling melengkapi. Semoga saja Pak Abraham segera sadar karena aku ingin kembali melihat senyum serta tawa lepas mu,” ucap Ema sambil menitikkan air matanya.


“Dasar cengeng,” ledek Asyila kepada Ema.


“Cengeng teriak cengeng,” celetuk Ema dan keduanya pun tertawa kecil.


“Kamu juga jangan ikut-ikutan menangis, tambah jelek tahu,” celetuk Asyila.


“Biarin, yang penting aku punya sahabat secantik kamu,” balas Ema.


“Itu mulut apa madu?” tanya Asyila.


“Dua-duanya juga boleh,” jawab Ema dan terkekeh kecil.


Kedua pun keluar dari toilet dan bergegas menuju ruang rawat Yogi.


“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila kepada Yogi yang tengah duduk di ranjang.


“Wa'alaikumsalam, Nona Asyila apa kabar?” tanya Yogi pada istri dari sahabatnya.


“Alhamdulillah, baik. Pak Yogi apa kabar?” tanya Asyila balik.


Yogi tahu bahwa Asyila sedang tidak baik-baik saja, wajahnya yang pucat terpampang jelas dan meskipun mengenakan gamis dan hijab syar'i tetap saja terlihat bahwa Asyila mengalami penurunan berat badan yang cukup banyak.


“Tenang saja, Abraham pasti akan segera sadar. Tolong Nona Asyila jangan bersedih apalagi sampai menangis. Kalau Abraham tahu, pasti Abraham menyalahkan dirinya sendiri,” terang Yogi.

__ADS_1


Asyila mengiyakan dan berusaha tersenyum lebar meskipun ia sendiri sangat takut jika suaminya kenapa-kenapa.


“Ema, Pak Yogi! Saya pamit mau ke ruangan Mas Abraham dulu, Assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam,” balas Yogi dan memberi isyarat pada Ema agar mengantarkan Asyila ke ruangan Abraham.


Ema pun mengangguk kecil dan mengantarkan Asyila ke ruangan Abraham.


“Ema..”


“Iya Asyila, ada apa?” tanya Ema penasaran.


Asyila hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis.


“Jangan membuatku menjadi mati penasaran, kamu tahu sendiri kalau aku paling tidak suka diperlakukan seperti ini,” ucap Ema dan memanyunkan bibirnya.


“Apakah aku tidak boleh tersenyum ketika melihat sahabatku ini semakin hari semakin dewasa? Sahabatku yang dulu sangat-sangat ceroboh ternyata sudah menjadi istri sekaligus Ibu yang baik. Aku bangga padamu, Ema,” puji Asyila jujur.


Ema tersipu malu dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut.


“Jangan membuatku menjadi besar kepala, Asyila. Bagaimanapun aku masih seperti yang dulu, bahkan Abang Yogi cerewet jika aku melakukan hal yang bisa membuatku terluka,” jelas Ema.


“Itu karena Suamimu tidak ingin kamu kenapa-kenapa dan itu tandanya bahwa suaminya sangat mencintaimu,” terang Asyila.


Wajah Ema seketika itu merah merona dan Asyila pun bisa melihatnya.


“Kenapa wajahmu menjadi merah seperti itu?” tanya Asyila menggoda sahabatnya.


“Hentikan Asyila, kamu membuatku semakin malu.”


Mereka terus berjalan sampai akhirnya langkah mereka terhenti tepat di depan ruang rawat Abraham.


“Asyila, jangan bersedih lagi. Aku tahu kamu wanita yang sangat kuat, semangat!”


Asyila tersenyum tipis dan memeluk sekilas tubuh sahabatnya.


“Kamu pun harus semangat,” ucap Asyila.


Ema mengiyakan dan pamit untuk kembali ke ruang rawat suaminya.


“Aku permisi dulu Syila, Wassalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam,” balas Asyila sambil melambaikan tangan ke arah Ema.


Kini Asyila sendirian, ia duduk dan berharap Dokter mengizinkannya untuk bisa segera bertemu dengan suaminya.


Asyila menepuk dahinya sendiri ketika tersadar bahwa tas miliknya yang berisi beberapa pakaian masih berada di masjid dekat rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Asyila bergegas menuju masjid dan berharap tas miliknya masih berada disana.


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2