Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Suasana Rumah Menjadi Panas


__ADS_3

Abraham terbangun dari tidurnya sembari tersenyum ke arah samping dan ternyata sang istri tak berada di tempat tidur. Hanya ada Ashraf yang masih terlelap sambil memeluk guling.


Karena sang istri tak berada di tempat tidur, Abraham pun turun dari ranjang dan bergegas mencari sang istri yang kemungkinan sedang berada di dapur.


“Ternyata sudah jam satu, Asyila ngapain ya di dapur?” tanya Abraham yang sama sekali belum sadar bahwa sang istri telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Pria itu berlari kecil menuju dapur. Akan tetapi, sang istri tidak berada di dapur.


“Tidak ada di dapur, lalu Syila pergi kemana?” tanya Abraham dan memutuskan mencari sang istri di ruang keluarga karena biasanya sang istri duduk di sofa untuk melihat acara kesukaannya.


Arumi yang sedang melintas, terheran-heran melihat barang yang tengah tersenyum sembari menoleh kesana-kemari. Karena penasaran, Arumi menghampiri menantunya sambil menepuk pundak sang menantu.


“Abraham!” panggil Arumi, “Kamu ngapain disini?” tanya Arumi.


“Abraham sedang mencari Asyila, Bu. Di kamar tidak ada, di dapur tidak ada dan disini juga tidak ada,” jawab Abraham sambil mengangkat kedua bahunya.


Arumi menundukkan kepalanya dan tiba-tiba air matanya jatuh ke lantai, membuat Abraham terkejut dengan sikap ibu mertuanya itu.


“Ibu kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Abraham.


Arumi mendongakkan kepalanya dan menarik-narik pakaian Abraham tanpa membuat Abraham bergeser dari pijakannya.


“Sadarlah, Abraham! Ikhlaskan saja istrimu,” ucap Arumi setengah berteriak.


Abraham mengernyitkan keningnya sembari menatap wajah Ibu mertuanya dengan terheran-heran.


“Maksud Ibu, ikhlaskan apanya?” tanya Abraham yang belum sadar jika sang istri telah pergi untuk selamanya.


“Ikhlaskan saja kepergian Asyila, kasihan istrimu kalau kamu terus seperti ini. Pokoknya, nanti sebelum Dzuhur kita mengadakan Do'a bersama,” terang Arumi dan berlari meninggalkan air dengan air mata kesedihan.


Abraham tersadar dan seketika itu kakinya lemas tak berdaya.


“Ya Allah, kenapa semua ini harus terjadi?”


Pria itu menangis dan meringkuk di sofa sambil terus memanggil nama sang istri tercinta.


Abraham sangat merindukan sosok sang istri yang selalu tersenyum padanya. Banyak hal yang sudah mereka lewati dan akan sangat sulit bila harus menjalani kehidupan tanpa sosok wanita yang dicintainya.


Cukup lama Abraham menangis di ruang keluarga, hingga akhirnya ia tersadar dan kembali menemani buah hatinya yang tengah sakit.


“Ayah dari mana?” tanya Ashraf dengan suara yang sangat lirih.

__ADS_1


Dengan mata sembab, Abraham tersenyum lebar ke arah buah hatinya dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


“Ayah habis dari dapur, Ashraf kenapa bangun? Ayo tidur lupa,” ucap Abraham sambil memperbaiki selimut buah hatinya.


“Ayah, Ashraf mimpi Bunda,” tutur Ashraf dengan mata berkaca-kaca.


“Iya,” jawab Ashraf dengan menganggukkan kepalanya.


Abraham terkesiap dan sangat penasaran dengan mimpi buah hatinya.


“Tolong ceritakan mimpi Ashraf sama Ayah!” pinta Abraham dan menciumi pipi buah hatinya berulang.


“Bunda bilang sama Ashraf, Ashraf tidak boleh nakal. Harus patuh sama Ayah, Nenek, Kakek dan Kak Arsyad,” jawab Ashraf dan tiba-tiba bocah itu menangis.


“Jangan menangis sayang,” tutur Abraham dengan terus mengusap air mata buah hatinya.


“Kata Bunda, Bunda mau jalan-jalan dulu sama adik. Kenapa kita tidak diajak?” tanya Ashraf yang ingin ikut jalan-jalan.


Susah payah Abraham ingin menyembunyikan air matanya di depan Ashraf. Akan tetapi, usahanya gagal. Abraham akhirnya menangis sembari memeluk tubuh buah hatinya yang masih demam.


“Ayah kenapa menangis?” tanya Ashraf terheran-heran, “Ayah jangan menangis, supaya Bunda cepat pulang ke rumah,” imbuh Ashraf yang berusaha untuk tidak menangis, karena ia percaya ketika dirinya tak menangis lagi, Bundanya tercinta akan segera kembali menemuinya.


“Pokoknya Ayah tidak boleh nangis,” tegas Ashraf membantunya Ayah menghapus air mata yang tersisa.


Dengan kebohongannya, Abraham tersenyum lebar dan mencium pipi kiri dan kanan buah hatinya secara bergantian.


“Ayo tidur lagi!” ajak Abraham.


Ashraf mengiyakan dan segera memejamkan matanya.


Keesokan paginya.


Setelah melaksanakan sholat subuh di masjid bersama Sang ayah tercinta, Ashraf memutuskan untuk kembali tidur dengan memeluk foto Bundanya.


“Bunda cepat pulang ya.. Ashraf tidak nangis lagi,” ucap Ashraf berbicara pada foto Asyila yang tengah memeluk seorang bayi. Yaitu, foto ketika Ashraf berusia 5 bulan.


Abraham yang mengintip dari luar pintu hanya bisa menangis. Entah berapa banyak air mata yang sudah Abraham teteskan karena kepergian sang istri.


Arumi yang sedang melintas, mengernyitkan keningnya dan menepuk lengan menantunya.


“Nak Abraham sedang apa?” tanya Abraham.

__ADS_1


Abraham tak langsung berbalik badan, ia lebih dulu menghapus air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan Ibu mertuanya.


“Iya Ibu, ada apa?” tanya Abraham berusaha memasang mimik wajah tanpa ekspresi.


“Kamu habis menangis? Tolong jangan seperti ini terus, Nak Abraham. Ibu tahu kamu sedih, karena kehilangan Asyila. Kita pun juga sedih dan sangat sedih. Akan tetapi, kalau kita seperti ini terus, bagaimana kita bisa melanjutkan hidup?” tanya Arumi.


Abraham tak menjawab apa saja yang dikatakan oleh Ibu mertuanya. Justru, Abraham melenggang pergi sebagai tanda kekecewaannya kepada Sang Ibu mertua yang dengan mudah melupakan istri kecilnya.


Sampai kapanpun aku tak akan pernah melupakan Asyila. Sampai kapanpun Asyila selalu berada di hatiku untuk selamanya.


Abraham berjalan menuju halaman belakang dengan begitu kesal.


Ia duduk termenung di kursi tempat dimana Ia dan Sang istri menghabiskan waktu bersama.


Melihat Abraham seperti itu, Arumi hanya bisa mengelus dadanya sendiri. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, mengenai putri tunggalnya yang pergi dengan keadaan yang begitu tragis.


“Kalian yang terlibat dalam pembunuhan putriku selamanya hidup kalian tak akan bahagia. Bahkan, keturunan kalian pun tak akan pernah merasakan yang namanya hidup tentram,” ucap Arumi yang mengeluarkan sumpah serapahnya.


Sumpah serapah Arumi ternyata di dengar oleh Herwan. Herwan pun marah dan meminta Arumi untuk mencabut sumpahnya itu.


“Apa yang baru saja kamu katakan, Dik? Cepat cabut ucapan yang hina itu!” perintah Herwan yang sangat marah dengan istrinya.


“Biar. Biarkan saja!” teriak Arumi.


“Yang salah adalah mereka yang membunuh Asyila dan bukannya keturunan mereka,” jelas Herwan.


“Kalau begitu, apa Mas bisa menjelaskan kenapa mereka juga membunuh janin yang tidak berdosa sama sekali?” tanya Arumi menantang jawaban suaminya.


Abraham terkejut melihat kedua mertuanya yang tengah bertengkar. Sampai-sampai, Ema dan Yogi menyaksikan keduanya adu mulut.


Pria itu bangkit dari duduk dan segera melerai pertikaian diantara Ayah dan Ibu mertuanya.


“Cukup! Apakah Ayah dan Ibu ingin menambah permasalahan ini menjadi lebih rumit? Abraham saat ini tengah berduka, tolong kerja samanya. Tolong biarkan rumah ini tenang dan damai!” pinta Abraham meminta pengertian keduanya.


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Abraham kembali meninggalkan mereka dengan sangat sedih.


“Maaf sebelumnya, saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abraham barusan. Sebagai orang tua Nona Asyila, saya sangat berharap agar Ayah dan Ibu tidak ribut seperti ini. Saat ini kita semuanya terguncang atas kepergian Asyila yang secara tiba-tiba. Akan tetapi, yang lebih terguncang jiwanya adalah Abraham. Belum lagi, ketika Abraham menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Ashraf dan bisa jadi Arsyad pun ikut bertanya mengenai keberadaan Bundanya,” terang Yogi memberi pengertian kepada Arumi dan juga Herwan.


Arumi dan Herwan tertunduk malu, mereka sangat malu karena apa yang dikatakan oleh Abraham maupun Yogi sangatlah benar. Tidak seharusnya mereka berdua memperparah keadaan yang ada.


Rumah itu benar-benar menjadi panas manakala kedua orang tua Asyila selalu bertengkar mengenai kematian putri mereka.

__ADS_1


__ADS_2