
Asyila sudah tenang dan Dyah pun meminta izin untuk turun kebawah. Ternyata dilantai bawah, Fahmi sedang menunggu Dyah mengenai telepon dari Herwan.
Dyah pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Fahmi mengenai kesalahan rumah sakit, Fahmi yang sebelumnya syok kini sudah tenang dan ingin segera mengunjungi Abraham di rumah sakit.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah menghentikan langkah Fahmi yang ingin pergi mengambil barang-barang yang sebelumnya masih berada di luar rumah.
Fahmi segera berbalik menghadap ke arah gadis yang memanggilnya.
“Iya Dyah, ada yang bisa aku bantu?” tanya Fahmi dengan memberikan tatapan hangat.
Mendapat tatapan hangat seperti itu, membuat Dyah salah tingkah dan ia pun lupa dengan apa yang ingin ditanyakannya.
“Aku haus,” ucap Dyah begitu saja karena bingung harus bertanya apa.
“Mau aku ambilkan?” tanya Fahmi menawarkan diri.
Dyah memukul kepalanya sendiri dan menggelengkan kepalanya, “Ti-tidak usah, aku bisa sendiri,” balas Dyah salah tingkah dan berlari kecil menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Dyah langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Ia meneguknya sampai habis dan berharap kegugupannya cepat hilang.
“Haduh, aku sebenarnya mau bertanya apa? Kenapa pikiranku tiba-tiba langsung kosong begini ketika melihat tatapan dari Mas Fahmi?” ucap Dyah bermonolog sembari menyadarkan tubuhnya di kursi.
“Ini ditaruh dimana?” tanya Fahmi yang tiba-tiba datang.
Dyah terkejut dan seketika itu ia terguling bersama dengan kursi yang tengah ia duduki.
Bruk!
“Awwww...” Dyah merintih kesakitan karena kepalanya jatuh lebih dulu.
Fahmi terkejut dan segera membantu Dyah sembari menahan tawanya. Dyah selalu saja melakukan hal ceroboh dan itu juga yang membuat Fahmi menyukai calon istrinya sejak pandangan pertama.
Hebatnya lagi, Fahmi bisa menyembunyikan rasa ketertarikannya dan itu juga yang membuat Dyah tidak peka dengan perasaan Fahmi kepadanya.
“Apa ada yang sakit?” tanya Fahmi.
“Aku tidak apa-apa, lagi kenapa Mas Fahmi tiba-tiba muncul seperti hantu? Bahkan, langkah kaki pun tak terdengar,” omel Dyah.
Fahmi mengangkat kedua alisnya dan menoleh ke arah kakinya yang memang tak mengenakan sandal atau semacamnya.
“Kenapa Mas Fahmi bertelanjang kaki?” tanya Dyah terheran-heran.
Fahmi menggaruk-garuk kepalanya dan bingung harus menjawab apa. Ia memang sudah terbiasa seperti itu, terlebih lagi jika di rumah orang.
“Lantai disini sangat dingin, seharusnya Mas Fahmi memakai sandal atau sepatu. Pokoknya yang bisa Mas Fahmi kenakan, kalau Mas Fahmi masuk angin bagaimana?”
“Terima kasih telah mengkhawatirkan aku,” ucap Fahmi.
__ADS_1
“Si-siapa juga yang mengkhawatirkan Mas Fahmi. Aku cuma bilang saja,” balas Dyah yang semakin salah tingkah karena ucapan Fahmi kepadanya.
“Iya aku tahu, ini barangnya mau ditaruh dimana?” tanya Fahmi.
Dyah terkesiap dan segera mengambil tas milik Aunty-nya.
“Yang ini biar aku saja yang membawanya, Mas tolong bawa masuk sisanya ke kamar yang disebelah sana ya!” pinta Dyah.
“Apakah kamu kuat membawa tas itu ke atas?” tanya Fahmi memastikan dan kembali memberikan tatapan hangat kepada Dyah.
Dyah lagi-lagi salah tingkah dan bergegas meninggalkan dapur tanpa menjawab pertanyaan dari Fahmi.
“Menggemaskan,” ucap Fahmi dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar yang sebelumnya dikatakan oleh calon istrinya.
Dyah akhirnya tiba di depan kamar istri kecil dari Pamannya. Seperti biasa, ia akan mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Masuklah!” seru Asyila.
Gadis itu pun masuk dan betapa terkejutnya Dyah ketika melihat Aunty-nya sudah kembali seperti semula. Senyum cantik Aunty-nya begitu mekar sampai-sampai bunga yang baru saja mekar kalah dengan senyum cantik Asyila.
“Aunty!” Dyah tersenyum lebar dan menghampiri Asyila.
Asyila mencubit kedua pipi Dyah dengan menampilkan senyum terbaiknya.
“Ashraf saat ini sedang tertidur di kamarnya, bisakah kamu membuatkan Aunty salad buah?” tanya Asyila.
Asyila mengangguk dengan semangat dan memeluk sekilas untuk Dyah.
“Terima kasih karena kamu selalu ada di samping Aunty, maaf banget kalau selama ini Aunty merepotkan kamu.”
“Aunty sama sekali tidak merepotkan Dyah, kalau begitu Dyah akan ke bawah dan membuatkan salad buah untuk aunty.”
Dyah bergegas menuju dapur untuk membuatkan salad buah keinginan dari istri kecil Pamannya.
“Kamu sedang mencari apa?” tanya Fahmi ketika melihat Dyah sedang membuka kulkas.
“Aunty memintaku untuk membuat salad buah dan ternyata di kulkas tidak ada,” jawab Dyah.
“Ayo pergi!” ajak Fahmi.
“Kemana?” tanya Dyah heran.
“Membeli buah-buahan, bukankah Aunty ingin salad buah?” tanya Fahmi.
Dyah terdiam dan tiba-tiba ingat dengan bordiran nama Kikan di sapu tangan milik Fahmi.
“Siapa Kikan?” tanya Dyah memberanikan diri menanyakan wanita yang bernama Kikan dan siap mendengarkan jawaban dari Fahmi.
__ADS_1
Fahmi tertegun dan matanya langsung berkaca-kaca. Dyah pun melihat jelas ekspresi wajah Fahmi dan Dyah melenggang pergi dengan perasaan sedih.
Deg! Dyah terdiam seketika itu juga ketika tangannya dipegang oleh Fahmi dengan cukup erat.
“Lepas!” perintah Dyah yang terlihat jelas bahwa Dyah kesal dengan Fahmi.
“Kikan adalah adik kandungku. Adikku telah meninggal 5 tahun yang lalu ketika usianya tepat 17 tahun, tolong jangan salah paham,” tutur Fahmi yang mengetahui jelas bahwa Dyah sedang cemburu.
Ada rasa sedih bercampur bahagia pada hati Dyah. Ia merasa sedih karena dulu sempat berpikir bahwa Kikan adalah wanita spesial Fahmi dan disaat yang bersamaan, ia pun bahagia karena ternyata Kikan adalah adik kandung Fahmi.
“Maaf,” ucap Dyah.
“Tidak apa-apa,” balas Fahmi.
“Kalau boleh tahu, Kikan kenapa bisa meninggal?” tanya Dyah tanpa berani menatap Fahmi karena gugup.
“Karena kanker yang sudah lama dideritanya,” jawab Fahmi.
Dyah terdiam dan ia pun meneteskan air matanya.
“Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa. Kikan pasti sudah bahagia di surga,” ucap Fahmi dengan memberikannya senyum kepada Dyah.
“Ok, ayo kita ke minimarket!” ajak Dyah dan refleks menggenggam tangan Fahmi.
Fahmi terkejut dan ia mematung ketika merasakan tangan hangat dari calon istrinya.
“Maaf,” ucap Dyah dan segera melepaskan tangannya. Dyah berlari kecil dengan wajah merah merona.
Gadis itu terlihat salah tingkah dan bingung harus bagaimana, ia seperti terhipnotis oleh sosok Fahmi.
Rasa penasaran Dyah akhirnya terjawab sudah, wanita yang bernama Kikan ternyata adalah adik kandung Fahmi yang telah meninggal 5 tahun yang lalu.
“Kamu mau kemana?” tanya Fahmi ketika melihat Dyah seperti orang kebingungan berdiri di depan gerbang, “Ayo naik!” ajak Fahmi.
Dyah mengangguk kecil dan dengan malu-malu naik ke atas motor milik Fahmi.
Kemudian, merekapun pergi untuk membeli buah segar dan membuatnya menjadi salad buah.
Ternyata dari jendela kamar atas, Asyila memperhatikan keduanya dan berharap hubungan mereka menjadi lebih dekat lagi. Itulah harapan Asyila agar keduanya segera membina hubungan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Selama perjalanan menuju minimarket terdekat, Dyah terus saja memukul dadanya sendiri. Entah kenapa, Dyah merasakan ada sesuatu yang berbeda setelah mengetahui siapa Kikan yang sebenarnya.
Fahmi yang mengendarai motor terus saja tersenyum lebar, sepertinya Dyah perlahan mulai membuka hati untuknya.
“Mas Fahmi!” panggil Dyah setengah berteriak.
“Iya, ada apa?” tanya Fahmi.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, hanya memanggil saja,” balas Dyah dan tertawa kecil.