Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kejutan Di Pagi Hari


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Kabar kehamilan Asyila akhirnya sampai ke telinga para sahabatnya dan juga kerabat Abraham serta Asyila. Mereka berbondong-bondong mengucapkan selamat atas kehamilan anak ke-empat Abraham dan Asyila lewat telepon. Mereka juga berharap, agar keluarga Abraham selalu diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat.


“Masih pagi begini, kenapa duduk sendirian disini?” tanya Abraham mendapati sang istri tengah duduk seorang diri di teras depan rumah.


“Asyila sedang menghirup udara pagi, Mas,” balas Asyila dan menghirup udara pagi dengan penuh semangat.


Abraham tertawa kecil sembari geleng-geleng kepala.


“Istriku ini ada-ada saja, sini cium Mas dulu!” pinta Abraham dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang istri.


Bukannya mendapat ciuman pagi, Abraham justru mendapat cubitan cukup kencang di hidungnya.


“Aawww, sakit,” rengek Abraham.


Asyila tertawa lepas dan kembali mencubit hidung serta wajah suaminya.


“Asyila mencubitnya tidak terlalu keras, akting Mas terlihat sekali dibuat-buat,” ungkap Abraham.


Keduanya terus saja melempar ejekan, hingga akhirnya sebuah mobil datang memasuki halaman rumah Abraham.


Mendengar suara klakson mobil berbunyi, sepasang kekasih halal seketika itu juga menoleh.


“Siapa Mas?” tanya Asyila yang ingat betul bahwa ia tidak membuat janji kepada siapapun untuk datang ke rumah.


Abraham mengernyitkan keningnya dan seketika itu juga ia tahu bahwa itu adalah mobil milik sahabatnya. Mobil pemberian Abraham ketika mengalami kecelakaan mobil.


“Tamu spesial,” jawab Abraham dan tersenyum lebar untuk menyambut kedatangan keluarga kecil sahabatnya, Yogi.


Asyila menepuk dahinya sendiri karena baru ingat bahwa mobil itu adalah mobil suami dari sahabatnya, Ema.


“Astaghfirullahaladzim, bagaimana bisa Asyila lupa,” tutur Asyila geram dengan ingatannya sendiri.


Disaat yang bersamaan, sebuah mobil pun masuk ke dalam dan tanpa pikir panjang lagi, Abraham serta Asyila tahu bahwa mobil itu adalah mobil milik Fahmi.


“Assalamu'alaikum, Asyila!”


Ema berteriak dengan penuh semangat mengetahui bahwa sahabatnya kembali diberikan kepercayaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


“Masya Allah, kamu semakin cantik,” puji Ema yang sama sekali tak memberi kesempatan bagi Asyila menjawab sapaan salam darinya.


Dyah turun dari mobil dan dengan penuh semangat memeluk tubuh Aunty-nya, sampai-sampai Ema tak diberi kesempatan untuk memeluk sahabatnya.


“Selamat Aunty, Dyah tidak sabar ingin melihat adik baru,” tutur Dyah.


Abraham geleng-geleng kepala melihat Ema dan juga Dyah yang berebutan untuk mendekati sang istri tercinta.


“Assalamu’alaikum, sahabatku!” sapa Yogi dan memberikan pelukan singkat pada sahabatnya.


“Wa’alaikumsalam, kenapa datang kemari tanpa kabar-kabar? Dan, kenapa datang sepagi ini?” tanya Abraham pada sahabatnya.


Fahmi mendekat dan tak lupa mengucapkan salam.


Bocah kecil yang usianya sama dengan Ashraf, baru saja turun dari mobil dan terlihat masih mengantuk.


“Hiks... hiks...” Kahfi merengek di dekat pintu mobil sembari mengucek matanya sendiri.


Ema bergegas menghampiri Kahfi untuk segera menenangkan buah hatinya yang rewel.


“Ssuuttt, jangan nangis sayang. Ini kita sudah sampai di rumah Kak Arsyad dan Ashraf,” terang Ema.


Suasana depan rumah begitu ramai, hingga akhirnya Arumi, Herwan dan juga Ashraf keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang.


“Kahfi!” teriak Ashraf dengan penuh semangat ketika melihat Kahfi ada didepan rumahnya.


Kahfi yang sebelumnya merengek, seketika itu langsung tertawa kegirangan dan keduanya saling menghampiri untuk memberikan pelukan persahabatan.


“Kenapa datang sepagi ini?” tanya Arumi karena waktu saat itu masih pukul 06.17 WIB.


“Kami sengaja, Nek Arumi. Kalau berangkatnya siang atau sore, yang ada malah macet,” ungkap Dyah.


Arumi mengangguk setuju dan meminta semuanya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam untuk merilekskan tubuh mereka di ruang tamu.


“Aunty, Dyah sangat senang mendengar kalau Aunty hamil lagi. Itu artinya, bayi Dyah punya teman baru,” ungkap Dyah sembari mengelus-elus perutnya yang terlihat besar.


Asyila hanya mengiyakan sembari mengelus-elus perut Dyah yang dalam beberapa bulan lagi akan melahirkan.


Abraham, Asyila serta yang lainnya sibuk berbincang-bincang. Sementara Ashraf dan Kahfi sibuk bermain kejar-kejaran.


Arumi dan Herwan begitu bahagia melihat para sahabat Abraham serta Asyila datang ke rumah.


“Ashraf! Kahfi! Jangan main lari-larian, nanti jatuh,” ucap Abraham memperingatkan keduanya untuk segera berhenti main lari-larian.


Belum ada semenit Abraham berbicara, keduanya kompak bertabrakan dan terjatuh.


Melihat hal tersebut, abr


Abraham dan Yogi kompak menghampiri buah hati mereka masing-masing yang tengah menangis karena tabrakan yang cukup keras.


“Huwaaaa... Huwaa....”


“Huwwwaaa... Huwaaa..”


Tangis keduanya saling bersahutan, seakan-akan tengah berlomba siapa yang paling keras suara tangisannya itulah pemenangnya.


Bukannya bersedih, Asyila dan Ema justru tertawa melihat buah hati mereka yang terlihat seperti tengah akting.


“Lihat wajah Kahfi, begitu tidak natural,” ucap Ema meledek buah hatinya sendiri.


“Tidak hanya Kahfi saja. Ashraf pun terlihat sangat dibuat-buat,” balas Asyila.


Dyah memanyunkan bibirnya sambil menunduk menoleh ke arah perutnya yang membuncit.


“Sayang, nanti kalau sudah lahir jangan sering nangis-nangis ya,” tutur Dyah dan ternyata di dengar oleh Fahmi yang duduk tepat disampingnya.


“Siap, Mama Dyah,” jawab Fahmi sembari menirukan suara anak kecil.


Dyah mengangkat kepalanya dan seketika itu memberikan tatapan tajam kepada suaminya, Fahmi.


“Ssssuutt, perbincangan ini hanya khusus untuk Ibu dan anak,” tegas Dyah.


Gleggg! Fahmi langsung diam seketika itu juga, bahkan untuk menelan salivanya pun ia tak berani.


Suasana yang awalnya berisik, seketika mendadak menjadi hening.


Sampai akhirnya, Abraham tertawa dan diikuti oleh yang lainnya.


Fahmi tersenyum kaku sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Kami hanya bercanda saja tadi, jangan terlalu serius,” ungkap Abraham sambil menepuk bahu suami dari keponakannya.


Disaat yang bersamaan, Arumi datang sambil menyuguhkan cemilan serta teh hangat untuk para tamu.


“Silakan dinikmati!” ucap Arumi sambil meletakkan cemilan dan juga teh hangat dengan hati-hati di atas meja.


“Terima kasih, Bu Arumi,” tutur Ema.


“Terima kasih, Nenek,” sahut Dyah dan tanpa menunggu lama, Dyah langsung mengambil biskuit yang disajikan oleh Arumi.


Arumi kembali meninggalkan ruang tamu untuk mempersiapkan makan untuk Abraham, Asyila serta para tamu.


Ema menggigit bibirnya sendiri dan segera beranjak dari duduknya untuk mengambil sesuatu di dalam mobil. Ia pun permisi dan dengan langkah terburu-buru, wanita muda itu berjalan menuju mobil.


Beberapa menit kemudian.


Ema dengan penuh semangat memberikan sebuah paper bag yang ukurannya cukup besar untuk sahabatnya.


“Apa ini?” tanya Asyila malu-malu karena tak menyangka akan mendapatkan hadiah dari sahabatnya, Ema. Padahal, usia kandungannya terbilang masih sangat muda.


“Buka saja,” balas Ema malu-malu seperti tengah memberikan hadiah kepada kekasihnya.


Asyila tersenyum dan ingin membuka paper bag tersebut. akan tetapi, langsung dihalangi oleh sahabatnya, Ema.


“Eeeittsss, jangan membukanya disini,” ungkap Ema sambil menahan tangan Asyila yang ingin memperlihatkan hadiah pemberiannya kepada yang lainnya.

__ADS_1


Asyila memanyunkan bibirnya dan memutuskan untuk membawa masuk hadiah itu ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Asyila tak sabar untuk melihat hadiah pemberian sahabatnya. Ia dengan semangat membukanya dan tersenyum bahagia.


“Masya Allah, bagus sekali,” puji Asyila ketika melihat dua pakaian hamil yang diberikan oleh sahabatnya.


Abraham ternyata menyusul dan mendekap tubuh sang istri dari belakang dengan penuh cinta.


“Mas...” Asyila terkejut mendapati suaminya yang tiba-tiba datang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


“Kenapa terkejut seperti itu? Asyila saja yang tak mendengar suara langkah kaki Mas,” ungkap Abraham.


Asyila tersenyum manis dan memperlihatkan hadiah yang diberikan oleh sahabatnya.


“Lihat, Mas! Pakaian ini sangat bagus, buah hati kita pasti sangat menyukainya,” tutur Asyila sembari menyentuh perutnya yang masih datar.


“Terlebih lagi yang mengenakannya adalah wanita cantik seperti Syila,” terang Abraham.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar keterangan suaminya.


“Kalau tidak cantik, Mas mana mau sama Asyila,” ledek Asyila dan melenggang pergi untuk kembali berkumpul dengan yang lainnya.


Abraham menghela napasnya dan merebahkan tubuhnya sebentar di tempat tidur.


“Bukannya diajak, aku malah ditinggalkan begitu saja,” keluh Abraham.


Asyila melebarkan senyumnya dan kembali duduk bergabung dengan yang lainnya.


“Terima kasih, Ema. Aku suka hadiahnya,” tutur Asyila.


“Syukurlah,” balas Ema lega.


“Aunty, hadiah dari Dyah menyusul tidak apa-apa ya?” tanya Dyah.


“Kamu sudah datang saja bagiku adalah hadiah,” jawab Asyila.


Arumi kembali mendatangi mereka dan mengajak mereka semua untuk sarapan bersama. Berhubung meja makan tidak muat, Arumi berinisiatif menggelar tikar di lantai. Agar semuanya bisa meningkatkan sarapan bersama-sama.


“Ayo sarapan, tidak baik menolak makanan!” ajak Arumi.


Mereka pun mengiyakan dan berbondong-bondong menuju ruang makan yang ternyata semuanya sudah tertata rapi di atas tikar.


“Ibu kenapa tidak memanggil Asyila?” tanya Asyila.


“Kalau kamu ikut membantu Ibu, siapa yang mau menemani para tamu? Lagipula ada Ayahmu yang telah membantu Ibu,” terang Arumi.


Arumi mengernyitkan keningnya karena tak melihat batang hidung menantu kesayangannya.


“Dimana Nak Abraham?” tanya Arumi.


Mata Asyila terbelalak lebar, ia baru ingat kalau suaminya ia tinggalkan begitu saja di kamar.


“Ya ampun, Bu. Semoga saja Mas Abraham tidak ngambek,” tutur Asyila dan cepat-cepat menyusul suaminya ke kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Abraham semakin terkejut mendapati suaminya tengah tertidur.


Ya ampun, Mas Abraham sudah tertidur. Pasti gara-gara semalam.


Perlu diketahui, bahwa semalaman Abraham tidak tidur, dikarenakan Abraham sibuk mengelus-elus perut sang istri sampai larut malam dan tidak hanya itu. Setelah sholat tahajud, Asyila kembali meminta permintaan yang aneh. Yaitu, meminta suaminya untuk berbicara dengan buah hati mereka sampai subuh. 😅


Asyila merasa bersalah, ia pun dengan hati-hati duduk disebelah suaminya yang tengah tertidur dan mengecup bibir suaminya berulang kali.


perlakuan Asyila yang terus menciumi bibir suaminya, seketika itu membuat Abraham terbangun dari tidurnya.


“Maaf ya Mas, gara-gara Asyila Mas jadinya tertidur seperti ini,” tutur Asyila dengan wajah sedihnya.


“Kenapa berbicara seperti ini, Mas tidak masalah kalau harus melakukannya setiap hari,” balas Abraham.


Asyila tersipu malu dan memeluk tubuh suaminya dengan penuh cinta.


“Mas, ayo sarapan! Yang lainnya sudah menunggu kita di ruang makan!” ajak Asyila.


Abraham terkesiap dan merekapun bersama-sama menuju ruang makan untuk sarapan bersama yang lainnya.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


Yang mau crazy up komen ya 😘


__ADS_2