
Beberapa jam kemudian.
Ashraf terkesiap dan meloncat kegirangan ketika melihat mobil memasuki halaman rumah.
“Horeee! Kak Arsyad pulang, asik!” teriak Ashraf dan segera berlari mendekati mobil yang baru saja berhenti.
Arsyad turun dari mobil dan seketika itu memeluk tubuh adiknya.
“Kak Arsyad kangen banget sama Adik Ashraf,” ucap Arsyad menyatakan rasa rindunya kepada adiknya.
“Hiks.. hiks... Ashraf juga Kak. Kak, Bunda tidak sayang lagi sama kita,” ucap Ashraf yang mulai mencurahkan isi hatinya kepada Kakaknya.
Mendengar ucapan dari cucu keduanya, Arumi pun segera menggendong tubuh Ashraf dan meminta Ashraf untuk tidak mengatakan hal seperti itu.
“Ashraf tidak boleh membicarakan Bunda Asyila seperti itu. Sampai kapanpun, Bunda akan selalu menyayangi kalian berdua,” tegas Arumi dan kemudian menurunkan Ashraf.
“Maaf,” ucap Ashraf sambil menundukkan kepalanya.
Arumi tak membalas permintaan maaf dari Cucunya. Justru, Arumi berlari masuk ke dalam dengan terus meneteskan air matanya. Hati Arumi sangat hancur ketika berulang kali membohongi cucunya dan menyembunyikan fakta yang ada.
Herwan menghela napasnya dan mengajak kedua cucunya untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Kakek, Nenek marah ya?” tanya Arsyad.
Herwan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
“Nenek sama sekali tidak marah. Hanya saja, Nenek sedang sakit jadinya seperti itu,” jawab Herwan.
“Nenek sakit apa Kek?” tanya Arsyad.
“Sakit gigi. Ayo masuk ke dalam, Arsyad pasti ingin istirahat!”
Ketiganya pun masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat.
Beberapa saat kemudian.
Abraham tiba dan bergegas turun dari mobil untuk menemui kedua buah hatinya yang sangat ia rindukan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham.
“Wa’alaikumsalam, Ayah!”
Arsyad yang sedang membaca kita suci Al-Quran, seketika itu mengakhiri bacaannya dan berlari menghampiri Ayahnya yang baru saja tiba.
“Masya Allah, kesayangan Ayah sudah besar ya. Haduh, Ayah sana sampai tidak kuat untuk menggendong Arsyad,” ucap Abraham.
Arsyad tertawa kecil dan mencium pipi kiri serta kanan Sang Ayah.
“Ayah, Bunda sama adik bayi mana? Kenapa tidak ikut pulang kesini?” tanya Arsyad.
__ADS_1
Wajah Abraham seketika itu berubah menjadi sangat sedih.
“Ayah kenapa sedih?” tanya Arsyad dan melihat jelas bahwa kedua mata Ayahnya saat itu tengah berkaca-kaca.
“Nak, ada hal yang sudah cukup lama kami sembunyikan. Akan tetapi, kami tak berani untuk mengatakannya. Kalau Ayah mengatakan yang sebenarnya, apakah Arsyad sanggup menerimanya?” tanya Abraham yang akhirnya menyerah untuk tak membohongi putra sulungnya.
“Apa Ayah?” tanya Arsyad.
“Nak Abraham!” Arumi dan Herwan tiba-tiba datang dan membuat Abraham belum sempat mengatakan hal yang sebenarnya.
Abraham menurunkan tubuh putra sulungnya dan bergegas mencium punggung tangan mertuanya secara bergantian.
“Bagaimana kabar Nak Abraham sekarang? Sudah 4 bulan lamanya kita tidak pernah bertemu,” ucap Arumi menanyakan kabar menantunya.
“Alhamdulillah, Abraham sehat,” jawab Abraham, “Ayah dan Ibu, sehat?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, kami sehat,” jawab keduanya secara kompak.
“Ayah!” Ashraf berlari secepat mungkin sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Abraham tersenyum lebar dan ikut merentangkan tangannya.
“Apa kabar kesayangan Ayah yang paling gendut?” tanya Abraham menggoda Bua hatinya.
Ashraf memanyunkan bibirnya di gendongan Ayahnya.
Abraham mengedipkan mata sambil terus menganggukkan kepalanya.
Ashraf tersenyum lebar dan menjauhkan tangannya yang sebelumnya menutup rapat mulut Sang Ayah.
“Nak Abraham, ayo masuk ke dalam! Ibu tahu, kamu pasti sangat lelah. Oya, kebetulan Ibu sudah masak dan ajaklah anak-anak untuk makan!”
“Terima kasih, Ibu. Abraham datang kesini untuk menjemput anak-anak,” tutur Abraham sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Arumi dan Herwan seketika itu menoleh ke arah Abraham yang ternyata tidak bermalam di Jakarta.
“Kenapa buru-buru?” tanya Herwan pada menantunya.
“Ya mau bagaimana lagi, pekerjaan Abraham di Bandung begitu padat. Meskipun begitu, Abraham akan menyelesaikan pekerjaan Abraham di rumah saja bersama anak-anak,” jawab Abraham apa adanya.
“Kalau Nak Abraham maunya begitu ya tidak apa-apa. Lagipula, Arsyad dan Ashraf pasti sangat merindukan sosok Ayahnya,” terang Herwan.
Abraham yang lapar, mengajak kedua buah hatinya untuk makan.
Sementara Arumi dan Herwan yang belum lapar, memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga.
Sebenarnya, Arumi dan juga Herwan sengaja menjauh dari kedua cucu mereka. Alasan mereka melakukan hal tersebut karena tak ingin terus-menerus membohongi cucu-cucu mereka tentang kematian Asyila, putri kesayangan mereka.
“Ayah, Ashraf mau yang itu!” Ashraf menunjuk ke arah telur balado buatan Sang Nenek.
__ADS_1
Abraham mengiyakan dan mengambil telur balado keinginan putra kecilnya.
“Kalau kepedasan, sambalnya yang ikut dimakan. Nih air minum Ashraf!”
“Terima kasih, Ayah,” ucap Ashraf dan mulai menikmati makanannya.
Abraham tersenyum tipis dan menoleh ke arah putra pertamanya yang hanya makan sayur bening serta tempe goreng.
“Sayang, kenapa hanya lauk bening dan tempe goreng? Arsyad mau Ayah ambilkan Ayah?” tanya Abraham bersiap-siap mengambil ayam kecap untuk buah hatinya.
Arsyad menggelengkan kepalanya, “Ini saja Ayah. Di pondok Arsyad sering makan sayur bening dan juga tempe goreng,” ungkap Arsyad.
“Maaf kalau Ayah bertanya mengenai kondisi Arsyad disana. Apakah selama di pondok Arsyad hanya makan sayur bening dan juga tempe goreng?” tanya Abraham penasaran.
Arsyad tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Ayahnya.
“Di pondok makanannya enak-enak, Ayah. Apalagi kalau makannya sama teman-teman Arsyad. Setiap hari, menu makanannya berganti-ganti. Ada sate, ayam, rendang pokoknya menunya ganti terus, Ayah,” ungkapnya dengan sangat jujur.
Abraham menertawakan dirinya sendiri yang terlalu protektif kepada buah hatinya.
Setelah makan bersama, Abraham memutuskan untuk berbincang-bincang bersama kedua mertuanya.
Dan setelah dirasa cukup, Abraham pun izin untuk beristirahat di kamarnya karena dua jam lagi akan melakukan perjalanan menuju Bandung.
Eko yang berada di luar rumah, memilih untuk tidak di pos penjaga bersama dengan Pak Udin yang sudah seperti saudara kandung.
Beberapa saat kemudian.
Arsyad dan Ashraf terlihat sangat senang karena akan kembali ke Bandung.
Sebenarnya, alasan mereka begitu senang karena akan bertemu dengan Bunda serta adik bayinya yang baru lahir.
“Ayah, ayo masuk ke dalam mobil! Cepat!” panggil Ashraf sambil menggerakkan tangannya agar Ayahnya bisa segera masuk.
“Iya sayang,” jawab Abraham dan berpamitan kepada kedua mertuanya.
“Hati-hati ya Nak Abraham. Kami pun akan pulang ke rumah kami sendiri,” ucap Arumi.
“Kenapa Ayah dan Ibu tidak tinggal saja di rumah Abraham?” tanya Abraham.
“Nak Abraham ini aneh, rumah kita bukan disini. Lagipula, kami rindu dengan rumah kami sendiri. Ya sudah sana, pergilah! Kasihan anak-anak telah menunggu di mobil.”
“Ayah, Ibu! Abraham pamit, do'akan Abraham sampai rumah dengan selamat. Kami pulang, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’aalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru Arumi dan juga Herwan sambil terus melambaikan tangan mereka pada mobil yang sebentar lagi akan meninggalkan kota Jakarta.
“Kakek, Nenek! Kami pergi dulu!” Arsyad dan Ashraf membuka jendela lebar sambil terus melambaikan tangan mereka kepada Kakek serta Neneknya.
Teman2 jgn lupa vote ❤️ di kolom berwarna biru
__ADS_1