
“Mas hentikan, nanti ada yang melihat kita!” pinta Asyila sambil menutupi mulut suaminya dengan tangan.
Disela-sela kebahagiaan Abraham dan Asyila. Rupanya Rahma tak sengaja melihat mereka, dalam hatinya yang paling dalam wanita itu iri dengan kebahagiaan Asyila. Apalagi, sekarang tengah berbadan dua dan membuatnya teringat akan bayi mungilnya yang telah meninggal.
Asyila tak sengaja melihat Rahma yang berdiri tak jauh dengan terus memperhatikan dirinya serta Sang suami.
Rahma pun tersadar dan cepat-cepat pergi meninggalkan keduanya.
“Kenapa?” tanya Abraham melihat Sang istri tiba-tiba terdiam.
Abraham mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah lain.
“Ada apa, Syila?” tanya Abraham sambil menyentuh pipi Asyila, “Apakah Syila melihat hantu?” tanya Abraham lagi.
Asyila merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangannya.
“Mas, Pak Udin kapan datangnya? Asyila sudah tidak sabar ingin makan pie susu,” ucap Asyila sambil menampilkan wajah sedihnya.
“Iya, tunggu sebentar lagi ya sayang,” jawab Abraham sambil menyentuh perut Asyila.
Asyila mengiyakan dan tersenyum kaku. Wanita muda itu tiba-tiba merasa tidak tak enak hati karena menyadari bahwa tatapan Rahma padanya terlihat sangat sedih
Mbak Rahma tadi kenapa? Apa mungkin Mbak Rahma merasa sedih karena kehamilanku mengingatkan bayinya yang telah meninggal dunia?
Abraham mencubit sekilas hidung mancung Asyila dan membuat Asyila tersadar dari lamunannya.
“Ibu hamil tidak baik melamun seperti ini, apa yang sebenarnya Asyila pikirkan?”
“Asyila memikirkan pie susu, Mas. Kita ke kamar ya Mas!” ajak Asyila yang memilih untuk bermesraan di dalam kamar.
“Kenapa tiba-tiba ingin ke kamar? Bukankah sebelumnya Syila yang semangat ingin bersantai disini?”
“Iya, Mas. Itu 'kan, tadi,” jawab Asyila dan beranjak dari duduknya. Kemudian, mendorong kursi roda suaminya masuk ke dalam rumah.
Disaat yang bersamaan, Rahma keluar dari kamarnya dan tengah menenteng sebuah tas kecil.
“Mbak Rahma mau kemana?” tanya Asyila.
“Sebelumnya terima kasih, karena sudah berbaik hati memberikan saya tempat tinggal dan kenyamanan di rumah ini. Akan tetapi, saya harus kembali ke rumah peninggalan orang tua saya,” terang Rahma.
__ADS_1
Asyila terkejut begitu juga dengan Abraham. Arumi yang tak sengaja mendengar perkataan Rahma, buru-buru menghampiri Rahma yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
“Nak Rahma tadi bilang apa? Ibu tidak salah dengar 'kan?” tanya Arumi yang terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Rahma.
“Ibu sama sekali tidak salah dengar, Rahma ingin pulang ke rumah peninggalan orang tua,” jawab Rahma.
“Kenapa pulang secepat ini? Kenapa tidak tinggal disini lebih lama lagi?” tanya Arumi yang terlihat tidak rela jika Rahma pulang secepat itu.
Arumi menggenggam erat kedua tangan Rahma dengan tatapan memelas. Arumi berharap, dengan tatapannya seperti itu Rahma dapat luluh dan tak jadi kembali ke rumahnya.
“Tolonglah, Nak Rahma! Tinggallah disini lebih lama lagi!”
“Ibu Arumi sudah Rahma anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan, kalian semua sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Akan tetapi, orang luar tetaplah orang luar. Akan sangat aneh jika saya tinggal disini lebih lama lagi,” jelas Rahma yang memang bertekad untuk segera kembali ke rumahnya.
“Mbak Rahma, kenapa Mbak Rahma mendadak ingin pulang? Apakah saya melakukan kesalahan besar?” tanya Asyila.
“Tidak. Nona Asyila sama sekali tidak melakukan kesalahan besar, hanya saja sudah waktunya bagi saya untuk kembali ke rumah. Tolong, biarkan saya pergi. Kalau saya terus berlama-lama disini, takutnya saya malah ingin tinggal disini selamanya,” jelas Rahma yang sengaja mengatakan hal tersebut agar Asyila dan yang lainnya membiarkan ia pulang ke rumah.
“Sudah biarkan saja, kalau memang Rahma ingin pergi biarkan saja. Kalau ada apa-apa, hubungi kami,” ucap Abraham.
Akhirnya, dengan berat hati Asyila dan yang lainnya membiarkan Rahma kembali ke rumahnya.
“Tante Rahma mau pulang, Arsyad. Arsyad jangan nakal dan jaga adik Ashraf.”
Arumi masih belum menerima kenyataan bahwa Rahma akan pergi meninggalkan rumah itu. Ia pun menarik tangan Rahma dan membawa Rahma untuk duduk di ruang tamu.
Hampir satu jam mereka berbincang-bincang dan akhirnya Arumi melepaskan Rahma yang ingin pulang ke rumahnya.
“Mbak Rahma, tunggu sebentar!” Asyila berlari kecil masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Beberapa menit kemudian.
Asyila memberikan amplop berisi uang dan juga ponsel Android untuk Rahma agar kedepannya mereka bisa terus berkomunikasi. Meskipun, kedepannya akan jarang bertemu.
“Ini juga yang membuat saya tidak nyaman, kalian semua terlalu baik dan semakin membuat saya berhutang Budi,” terang Rahma.
“Mbak Rahma tidak perlu sungkan-sungkan kepada kami, lagipula kami membantu Mbak Rahma, ikhlas.”
“Iya, Nak Rahma. Apapun yang diberikan oleh kami, tolong jangan ditolak. Kapanpun Nak Rahma ingin kemari, datanglah!”
__ADS_1
Rahma memeluk tubuh Arumi dan juga Asyila secara bergantian. Ia sebenarnya sudah sangat nyaman tinggal dirumah itu, akan tetapi ia tidak mungkin tinggal di rumah Abraham untuk selamanya.
“Pakailah uang ini untuk modal membuka usaha, kalau kurang langsung hubungi kami dan kami akan berusaha membantu Mbak Rahma. Mbak Rahma tetap jaga kesehatan ya, kami semua sayang sama Mbak Rahma,” tutur Asyila.
“Nona Asyila juga tetap jaga kesehatan dan juga calon bayi, saya akan selalu mendo'akan kebahagiaan keluarga ini,” balas Rahma.
Asyila tersenyum sambil menahan air matanya. Ia kemudian, bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya dan tak lupa mengenakan hijabnya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Pak Udin yang baru saja tiba dengan menenteng paper bag yang isinya adalah pie susu keinginan Asyila.
“Wa'alaikumsalam, terima kasih Pak Udin,” jawab Abraham sambil menerima paper bag berisi pie susu keinginan Sang istri.
Abraham memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dan kembali mengucapkan terima kasih.
“Tuan Abraham, ini kebanyakan,” tutur Pak Udin yang ingin mengembalikan uang tersebut dan dengan cepat Abraham menolak uang tersebut, karena uang itu sudah menjadi rezeki dan hak untuk penjaga rumah itu.
Asyila keluar dari kamar sambil membawa tas dengan ukuran yang bisa dikatakan cukup besar. Kemudian dengan senyum manisnya, Asyila memberikan tas tersebut dan meminta Rahma untuk mengenakan pakaian serta hijab miliknya yang baru beberapa kali ia pakai. Bahkan, ada beberapa pakaian serta hijab yang masih baru dan sama sekali belum pernah ia kenakan.
“Ini terlalu banyak, Nona asyila.”
“Sudah tidak apa-apa, akan lebih bermanfaat kalau Mbak Rahma yang mengenakannya,” balas Asyila.
“Sekali lagi saya berterima kasih atas kebaikan Nona Asyila, selamanya saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Nona Asyila dan keluarga.”
“Pak Udin, tolong antar kan Mbak Rahma pulang ke rumah. Kalau sudah sampai depan rumah, segera kabari kami!” pinta Asyila.
Rahma pun pamit kepada orang rumah, termasuk Arsyad dan juga Ashraf yang terlihat sedih karena Rahma benar-benar akan pergi meninggalkan mereka.
“Saya permisi, Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam,” balas mereka.
Rahma masuk ke dalam mobil dan cepat-cepat ia menutup pintu mobil. Wanita itu menangis di dalam mobil dan meminta Pak Udin untuk segera membawanya pergi dari kediaman Abraham Mahesa.
Selamat tinggal semua, terima kasih atas kebaikan kalian selama ini. Selamanya, aku tidak akan pernah melupakan kalian. Kalau ada kesempatan, aku akan mengunjungi kalian.
Dari Asyila, Rahma banyak belajar dan membuat Rahma kembali mempelajari serta mendalami ilmu agama Islam. Rahma sadar, bahwa selama ini dirinya sangat jauh dari Sang pencipta.
Kini, Rahma bertekad untuk benar-benar bertobat dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
__ADS_1