Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Mual


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat tahajjud bersama sang istri, Abraham memutuskan untuk menyibukkan dirinya di dapur. Abraham ingin memasak makanan untuk sang istri yang tengah mengandung buah hati ke-empat mereka.


“Mas Abraham kemana?” tanya Asyila ketika tak mendapati suaminya di tempat tidur.


Dengan mata yang masih mengantuk, Asyila berjalan keluar kamar untuk mencari suaminya yang tak ada di kamar.


“Mas Abraham....”


Mendengar namanya dipanggil, Abraham berlari kecil mencari istri kecilnya itu.


“Syila kenapa keluar dari kamar? Bukankah tadi Syila sudah tidur?” tanya Abraham pada istrinya.


“Mas tidak ada di samping Asyila, bagaimana Asyila bisa tidur?” tanya Asyila sambil memaksa membuka matanya lebar-lebar.


“Hhhmmmm, ayo masuk ke kamar!” ajak Abraham.


Asyila menggelengkan kepalanya dan malah melangkah menuju dapur.


“Mas masak apa?” tanya Asyila ketika melihat sebuah wajah dan kompor gas yang tengah menyala.


Abraham tersenyum tipis dan memperlihatkan masakannya pada sang istri.


“Karena Syila tengah mengandung, Mas ingin membuatkan sesuatu untuk Syila,” jawab Abraham.


“Oh, gitu. Jadi, kalau Syila tidak hamil Mas tidak membuatkan Asyila sesuatu?”


”Hhmm... Kok malah berpikiran seperti itu? Begini saja, Syila duduklah disini menunggu Mas selesai masak. Bagaimana?” tanya Abraham.


Asyila menuruti keinginan suaminya dan dengan tenang menunggu suaminya memasak.


“Sayang, kita tunggu Ayah memasak untuk kita ya...”


Setelah mengetahui bahwa dirinya tengah berbadan dua, Asyila begitu bahagia. Wanita muda itu begitu antusias menunggu kelahiran bayi mungilnya ke dunia.


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya masakan Abraham sudah siap untuk dinikmati oleh istri kecilnya.


“Sudah siap, tinggal menunggu dingin,” terang Abraham sambil meletakkan sebuah mangkuk yang isinya ada beraneka ragam sayuran yang ditumis dengan bumbu cinta oleh Abraham.


“Mas, kenapa sayurannya banyak sekali?” tanya Asyila dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


“Sekarang yang makan sayuran ini tidak hanya satu orang saja, melainkan dua,” balas Abraham sambil mengelus-elus perut Asyila yang masih rata.


“Terima kasih, Ayah Abraham,” tutur Asyila dengan menirukan suara anak kecil.


“Cium dong!” pinta Abraham dengan menyentuh bibirnya sendiri.


“Muaaaaccchhh!” Dengan semangat, Asyila memberikan kecupan mesra dibibir suaminya.

__ADS_1


“Uhuk... uhuk... uhuk..” Arumi yang tak sengaja melihat tingkah suami istri itu, cepat-cepat memalingkan wajah dan berpura-pura batuk.


Abraham dan Asyila terkesiap melihat Arumi yang sudah berada di dapur.


“Haduh, jam segini kenapa panas sekali?” tanya Arumi berpura-pura tak melihat mereka yang tengah kepergok.


Arumi membuka kulkas untuk mengambil air dingin.


“Loh, kalian sedang apa disini?” tanya Arumi sambil memasang wajah tak bersalah karena telah memergoki mereka berdua.


“Kami sedang bermesraan, Ibu,” jawab Abraham dan langsung mendapatkan cubitan dari sang istri.


“Aaawww..” Abraham terkejut dan mengelus-elus pinggangnya yang baru saja dicubit oleh Asyila.


“Maksud Mas Abraham, kita berdua sedang memasak,” terang Asyila.


“Oh, begitu,” balas Arumi sambil mengangguk-angguk kepalanya dengan senyum anehnya.


“Mas jangan asal bicara di depan Ibu. Asyila malu,” bisik Asyila.


Arumi yang samar-samar mendengar bisikan Asyila hanya bisa tertawa dan memutuskan untuk kembali melanjutkan tidur.


“Kenapa mesti malu seperti itu? Ibu pasti sudah mengerti bagaimana hubungan pengantin baru seperti kita,” goda Abraham.


“Pengantin baru? Apa kita masih pantas dikatakan seperti pengantin baru, sementara anak kita sudah banyak?” tanya Asyila.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar ucapan yang dilontarkan oleh suaminya.


“Kalau begitu, untuk kelahiran selanjutnya biar Mas saja yang melahirkan,” balas Asyila dan memasang wajah cemberutnya.


Abraham tertawa garing mendengar perkataan istrinya.


“Hhmmm... Kalau boleh, tidak masalah,” balas Abraham.


Asyila semakin terheran-heran dengan suaminya itu. Ia pun memilih untuk segera menikmati masakan yang telah dibuat oleh suaminya.


*****


Pagi hari.


Arsyad dan Ashraf tengah bermain kejar-kejaran di halaman depan rumah dengan begitu bahagia. Raut wajah keduanya begitu senang karena beberapa bulan lagi mereka berdua resmi menjadi kakak.


“Arsyad dan Ashraf sudah dulu main kejar-kejaran nya. Ayo sarapan bersama!” panggil Arumi.


“Ayo kita sarapan, Ashraf!” ajak Arsyad dan menggandeng tangan adiknya masuk ke dalam.


Di ruang makan, hanya ada Herwan saja. Sementara Abraham dan Asyila berada di dalam kamar.


“Loh, Nak Abraham dan Asyila kemana?” tanya Arumi karena tak mendapati sepasang suami istri itu.

__ADS_1


“Asyila tiba-tiba mual dan Abraham mengajaknya masuk ke dalam kamar,” jawab Herwan.


Arumi menghela napasnya dengan begitu berat. Ia begitu kasihan dengan putri tunggalnya yang sedari tadi mual-mual karena kehamilan sang putri tersayang.


“Arsyad dan Ashraf sarapannya bareng Kakek Herwan dulu ya! Nenek mau melihat Bunda kalian,” tutur Arumi.


“Baik, Nenek,” jawab mereka.


Arumi cepat-cepat menghampiri putrinya itu.


“Uweeekk... Uwek... Mas, perut Asyila rasanya sangat tidak nyaman. Asyila tidak kuat, Mas,” keluh Asyila yang merasakan bahwa kehamilannya yang sekarang begitu menguras tenaga.


“Kita ke rumah sakit sekarang ya!” ajak Abraham.


Asyila menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak ingin pergi ke rumah sakit.


“Tok! Tok! Tok!” Suara pintu diketuk.


“Asyila, ini Ibu,” terang Arumi yang masih berdiri di depan pintu Abraham dan Asyila yang tertutup rapat.


“Tunggu sebentar, Ibu!” seru Abraham dari dalam kamar dan perlahan menuntun sang istri untuk segera berbaring kembali.


Setelah membaringkan sang istri, Abraham bergegas membuka pintu untuk mertuanya.


“Kenapa dengan Asyila? Apakah mual-mual Asyila semakin parah?” tanya Arumi khawatir.


Abraham tak menjawab pertanyaan dari Ibu mertuanya, justru ia meminta Ibu mertuanya itu untuk mendekati sang istri.


“Wajah kamu sangat pucat, Nak. Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Arumi dengan penuh perhatian.


“Tidak, Ibu. Asyila tidak ingin ke rumah sakit. Asyila ingin di rumah saja,” balas Asyila begitu lirih tak berdaya.


“Terus, bagaimana kamu bisa sembuh? Kasihan Arsyad dan Ashraf kalau kamu terus berada di dalam kamar dengan keadaan lemas seperti ini,” terang Arumi memberi pengertian agar Asyila mau pergi ke rumah sakit.


Asyila berpikir sejenak dan akhirnya ia pun menyetujui ajakan suami serta Ibunya.


“Baiklah,” jawab Asyila singkat dengan begitu pasrah.


“Alhamdulillah,” balas Abraham dan Arumi mendengar persetujuan Asyila meskipun terlihat begitu pasrah.


“Kita sekalian mengecek usia buah hati kita ya Asyila,” tutur Abraham yang terdengar begitu perhatian, sampai-sampai Arumi tersenyum dibuatnya.


Ya Allah, terima kasih karena Engkau selalu memberikan kehidupan rumah tangga putri hamba dengan penuh keharmonisan.


Abraham menepuk pundak Ibu mertuanya yang terlihat tengah melamun.


“Ibu sedang melamun'kan apa?” tanya Abraham terheran-heran.


Arumi terkesiap dan malah bergegas meninggalkan kamar agar sepasang suami istri itu bisa segera mengganti pakaian mereka.

__ADS_1


__ADS_2