Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Dan Asyila Pergi Membeli Tanah


__ADS_3

“Assalamu’alaikum, Ema!” sapa Asyila pada Ema melalui telepon.


“Wa’alaikumsalam, iya Asyila,” sahut Ema.


“Begini, Ashraf hari ini sedang sakit tapi alhamdulilah sudah baikan,” tutur Asyila.


“Oh, syukurlah. Aku dan Kahfi sebentar lagi akan kesitu.”


“Serius?” tanya Asyila memastikan.


“Kamu ini seperti siapa saja, ya tentu saja aku serius. Sudah dulu ya, tidak sampai lima menit aku pasti akan tiba di rumah mu. Tunggu aku di depan rumah!” pinta Ema.


“Ok, aku akan menunggu kamu dan juga Kahfi.”


Ema mengucapkan salam untuk mengakhiri sambungan telepon mereka dan Asyila pun tak lupa membalasnya.


“Sayang, tunggu disini dulu ya. Bunda mau turun, Mama Ema dan Kahfi sebentar lagi akan sampai.”


“Baik, Bunda,” balas Ashraf.


Asyila berlari kecil menuruni anak tangga dan berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan sahabatnya serta buah hati dari sahabatnya, Ema.


“Assalamu’alaikum,” tutur Ema sembari tersenyum lebar ke arah sahabatnya yang sudah menantikan kedatangannya.


“Wa’alaikumsalam, mari masuk.”


Arumi dan Herwan tersenyum lebar melihat Ema yang baru masuk.


“Nak Ema dan Kahfi sudah makan?” tanya Arumi.


“Alhamdulillah kami sudah makan,” balas Ema dan memberikan sebuah paper bag berukuran cukup besar kepada Asyila.


Asyila mengernyitkan keningnya sembari menerima paper bag pemberian sahabatnya, Ema.


“Apa ini Ema?” tanya Asyila penasaran.


“Buka saja,” tutur Ema.


Asyila tersenyum sembari menyipitkan matanya. Kemudian, membuka isi paper bag tersebut.


Senyum Asyila merekah lebar melihat bahwa isi tersebut adalah brownies panggang dengan rasa coklat dan keju.


“Wah, terima kasih Ema,” ucap Asyila.


“Sama-sama, sekarang dimana Ashraf?” tanya Ema.


Asyila tersenyum dan memberikan paper bag yang berisi brownies kepada Ibunya, Arumi.


Kemudian, mengantarkan Ema dan juga Kahfi untuk bertemu dengan Ashraf yang tengah berbaring di kamar.


“Sayang, lihat siapa yang datang,” ucap Asyila sembari membuka pintu.


Ema dan Kahfi masuk dengan senyuman lebar.


Kahfi berlari kecil menghampiri sahabatnya.


“Ashraf sakit?” tanya Kahfi.


“Sudah sembuh,” jawab Ashraf.


Kedua bocah itu kemudian berbincang-bincang dan perbincangan mereka mengenai kartun kesukaan mereka.


Asyila dan Ema tertawa kecil mendengar perbincangan Ashraf serta Kahfi.


“Oya, Pak Abraham kemana?” tanya Ema karena tak melihat batang hidung suami dari sahabatnya.


“Mas Abraham sedang keluar, ya tidak terlalu jauh hanya sekitaran kota Bandung. Insya Allah nanti malam sudah pulang,” jawab Asyila.


Ema mengangguk mengerti dan kini perhatiannya fokus kepada bayi mungil yang tengah tidur.


“Syila, bayi Akbar benar-benar anteng ya. Ya ampun, jadi ingin cepat-cepat punya bayi. Atau begini saja, aku akan mengadopsi bayi Akbar menjadi anakku,” ucap Ema.


“Jangan,” celetuk Ashraf.


Asyila dan Ema pun terkejut melihat ekspresi wajah Ashraf yang sangat sedih mendengar bahwa adiknya akan dijadikan anak oleh Ema.


“Santai, kalem, rileks. Tenang saja, Mama hanya bercanda saja,” tutur Ema sembari menahan tawanya.


Disaat yang bersamaan, Arumi datang membawa teh hangat brownies yang sebelumnya diberikan oleh Ema.


“Ya ampun Ibu, tidak perlu repot-repot,” ucap Ema ketika melihat Ibu dari sahabatnya masuk membawa nampan berisi teh hangat dan juga brownies.


“Siapa yang repot? Justru Ibu sangat senang kalau ada Nak Ema dan juga Kahfi yang main kesini. Kalau bisa setiap hari ya!” pinta Arumi.

__ADS_1


Mendengar permintaan Arumi, Ema hanya bisa senyum-senyum.


“Ya sudah, Ibu tinggal ya,” ucap Arumi dan bergegas keluar dari kamar cucunya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.


Beberapa jam kemudian.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB. Ema dan Kahfi pun harus pulang.


“Asyila, kami pulang ya. Abang Yogi sebentar lagi tiba,” tutur Ema.


“Baiklah, terima kasih sudah mau datang,” balas Asyila.


Ema menggandeng tangan putra kecilnya dan melenggang pergi keluar dari kamar.


Setelah Ema dan Kahfi sudah kembali ke rumah mereka, Ashraf pun memutuskan untuk segera tidur.


“Ashraf tidur ya Bunda,” tutur Ashraf bersiap-siap untuk memejamkan mata.


“Iya sayang, Bunda dan Adik Akbar keluar kamar ya.”


Ashraf mengiyakan dan tanpa pikir panjang, Asyila keluar kamar dengan menbawa bayi mungilnya untuk pindah ke kamarnya sendiri.


“Ya ampun, bayi Bunda ini kerjaannya tidur terus,” ucap Asyila sembari merebahkan tubuh mungil bayinya ke tempat tidur.


Disaat yang bersamaan, Abraham tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan mendekap tubuh istri kecilnya dari belakang.


Asyila terkejut dan refleks membanting orang yang Asyila pikir adalah penjahat.


“Akkhhh...” Abraham terjatuh dengan cukup keras dan punggung terasa sangat sakit karena terbentur lantai.


Asyila terkejut karena ternyata pria yang ia banting adalah suaminya sendiri.


“Astaghfirullahaladzim, Mas Abraham.”


Asyila dengan hati-hati membantu suaminya bangkit dan menuntunnya untuk duduk di sisi ranjang.


Ternyata tidak hanya Asyila saja yang terkejut, Abraham justru lebih terkejut lagi dengan apa yang baru saja istri kecilnya lakukan.


Bagaimana bisa wanita sekecil ini membanting ku dengan sangat keras. Seperti orang yang sudah menguasai ilmu beladiri.


“Mas kenapa melamun? Ini semua salah Mas Abraham yang mengagetkan Asyila,” ucap Asyila sembari memukul dada suaminya berulang kali.


Abraham terkesiap dan tersenyum lebar ke arah istri kecilnya.


Asyila menoleh sekilas ke arah buah hatinya yang ternyata masih terlelap.


“Lain kali Mas jangan lagi membuat Asyila terkejut seperti tadi, sini Asyila lihat punggung Mas!”


Abraham membuka pakaiannya dan kini ia pun bertelanjang dada.


Asyila memanyunkan bibirnya sembari melihat punggung suaminya yang merah akibat ulahnya.


“Muaaachh... Cepat sembuh punggung,” tutur Asyila yang terlihat sangat imut serta menggemaskan.


Abraham tertawa dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.


“Rasa sakit di punggung Mas tiba-tiba menghilang karena kecupan dari istri Mas yang imut dan menggemaskan ini,” ucap Abraham semakin mempererat pelukannya.


Asyila tersenyum dan membalas pelukan suaminya itu.


“Mas, bagaimana hari ini? Apakah semuanya lancar?” tanya Asyila penasaran.


“Alhamdulillah semuanya lancar dan Insya Allah Mas akan ke sana lagi untuk membeli tanah,” tutur Abraham.


“Membeli tanah untuk membangun Masjid?” tanya Asyila memastikan.


“Rencana tidak hanya Masjid, tetapi tanah untuk membuat kebun pisang dan buah pisangnya itu bisa dijadikan keripik. Sehingga, Mas bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka,” terang Abraham.


“Mas, kalau boleh usul Asyila ingin memiliki gerai muslimah disana. Apakah bisa?” tanya Asyila penasaran.


Senyum Abraham seketika itu merekah sempurna. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


“Wow, itu ide yang sangat bagus. Lagipula, disana tidak ada toko-toko pakaian muslimah,” balas Abraham.


“Terima kasih, Mas. Asyila boleh ikut ya!” pinta Asyila.


“Boleh, besok kita akan pergi,” balas Abraham.


Asyila melepaskan pelukan suaminya dan meminta suaminya untuk segera mandi.


“Sekarang Mas mandilah!”


“Baru juga bermesraan,” celetuk Abraham dan beranjak dari duduknya untuk segera membersihkan diri.

__ADS_1


Asyila tersenyum manis sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Sayang, kalau sudah besar nanti Bunda ingin Akbar seperti Ayah Abraham. Sudah tampan, baik, mencintai istri serta keluarganya, bertanggung jawab dan tidak sombong,” ucap Asyila berbicara dengan bayi mungilnya yang tengah terlelap.


Perkataan Asyila ternyata didengar oleh Abraham yang saat itu ingin mengambil Handuk.


Mendengar istri kecilnya yang terus memuji dirinya, membuat Abraham tersipu malu sekaligus bangga dengan dirinya sendiri. Kemudian, bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Keesokan paginya.


Abraham dan Asyila telah siap untuk melakukan perjalanan menuju lokasi tempat dimana Menik serta yang lainnya tinggal. Abraham hanya mengajak istri kecilnya karena Ashraf masih harus banyak beristirahat agar cepat sembuh seperti sedia kala.


“Ibu, Asyila sudah memompa ASI dan Asyila letakan semuanya di dalam freezer. Insya Allah cukup sama malam,” tutur Asyila.


“Asyila tenang saja, Ibu akan menjaga Akbar dengan sangat baik. Sekarang kalian pergilah!”


“Kami pergi dulu, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kabari kami kalau sudah tiba di lokasi!” pinta Arumi.


“Baik, Ibu,” sahut Abraham dan juga Asyila.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan Perumahan Absyil.


“Mas, kok Asyila agak gugup ya?”


“Kalau Asyila gugup, cukup peluk Mas saja,” balas Abraham.


Sebelumnya, Abraham sudah menghubungi Menik perihal masalah tanah dan untungnya ada warga yang mau menjual tanahnya kepada Abraham Mahesa.


“Mas kenapa senyum-senyum?” tanya Asyila jutek.


“Masya Allah, wajah jutek seperti ini saja sudah cantik. Apalagi kalau Syila tersenyum,” tutur Abraham memuji kecantikan istri kecilnya.


“Ssuutss. . Mas tidak mau ya sama Pak Udin?” tanya Asyila sembari mencubit perut suaminya.


“Masya Allah, bahkan cubitan Asyila membuat Mas semakin cinta,” tutur Abraham.


“Uhuk... Uhuk... Uhuk...” Pak Udin tiba-tiba tersedak karena menahan tawa akibat ucapan majikannya yang membuat telinganya sedikit terganggu.


Asyila dengan cepat memberikan botol berisi air mineral kepada Pak Udin.


“Pak Udin, minumlah air ini,” ucap Asyila setengah panik.


Pak Udin meminggirkan mobil dan berhenti untuk meminum air.


“Terima kasih, Nona Asyila,” ucap Pak Udin setelah meminum setengah air di dalam botol itu dan bergegas melanjutkan perjalanan mereka kembali.


Asyila melotot tajam ke arah suaminya yang menyebabkan Pak Udin tersedak.


“Kenapa Syila malah melotot begitu?” tanya Abraham terheran-heran.


Asyila tak menjawab dan langsung membuang muka.


Saat Asyila tengah melihat ke arah luar, Asyila melihat sebuah warung yang menjual gorengan. Ia pun dengan cepat meminta Pak Udin untuk segera menghentikan laju mobil.


Pak Udin pun mengerem mendadak dan untungnya tidak kenapa-kenapa.


“Maaf ya Pak Udin,” ucap Asyila.


“Tidak apa-apa, Nona Asyila,” balas Pak Udin.


“Syila kenapa meminta Pak Udin berhenti mendadak?” tanya Abraham terheran-heran.


“Mas, Asyila mau gorengan. Belikan ya Mas!” pinta Asyila.


Abraham tidak bisa menolak keinginan istri kecilnya, ia pun turun dari mobil dan membeli gorengan dengan jumlah yang cukup banyak.


Beberapa menit kemudian.


Abraham kembali masuk ke dalam mobil dan meletakkan sebungkus gorengan di depan agar bisa dimakan oleh Pak Udin, kemudian bungkus yang lainnya ia berikan kepada Sang istri tercinta.


“Terima kasih, suamiku,” tutur Asyila yang sedikit geli dengan ucapannya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Asyila langsung mengambil tempe goreng dan melahapnya dengan penuh semangat.


“Mas harus coba, ini rasanya sangat enak. Pak Udin juga harus coba itu gorengan,” tutur Asyila.


Abraham mengernyitkan keningnya dan mengambil gorengan tau buncit yang rasanya sangat enak.


“Ternyata sangat enak,” tutur Abraham sembari mengacungkan jempol tangannya.


Asyila sudah sangat lama tidak makan yang namanya gorengan pinggir jalan dan ketika ia mencobanya kembali Asyila justru ketagihan.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


__ADS_2