Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Terima Kasih


__ADS_3

“Sudah, Mas jangan memikirkan hal yang berat-berat. Masalah ini biar Asyila saja yang menanganinya,” ucap Asyila sambil mengelus punggung tangan suaminya dengan penuh cinta.


“Maaf sebenarnya lebih memikirkan keadaan Syila. Istri Mas ini juga harus butuh istirahat, Mas mengerti kalau Asyila sangat peduli dengan wanita yang bernama Rahma, apalagi hidupnya yang begitu malang. Akan tetapi, Syila juga harus jaga kesehatan dengan lebih memperhatikan diri sendiri, karena sekarang Mas....” Abraham menggantungkan ucapannya sambil melirik ke arah kakinya.


Asyila tersenyum tipis kepada suaminya.


“Suatu hari nanti, Mas akan kembali sembuh dan bisa menjaga Asyila sepenuhnya. Mas jangan terlalu banyak berpikir, Asyila sangat mencintai Mas Abraham,” tutur Asyila.


Abraham hanya membalas penuturan Asyila dengan anggukan. Pria itu berharap dirinya bisa segera sembuh dan menganggap kecelakaan beruntun yang terjadi adalah teguran dari Allah agar dirinya semakin dekat lagi dengan Sang Pencipta.


Asyila menoleh ke arah meja dan ternyata makanan suaminya sudah diantar. Ia pun beranjak dari duduk untuk mengambil makanan tersebut dan menyuapi makanan itu kepada suaminya.


“Tadi Dyah kemari membawa anak-anak,” ucap Abraham.


Asyila berjalan menghampiri suaminya dan duduk kembali di kursi.


“Apa itu buah-buahan yang diberikan Dyah?” tanya Asyila melirik ke arah parsel buah yang cukup besar.


“Iya, tumben sekali anak itu pintar,” jawab Abraham.


Asyila geleng-geleng kepala mendengar perkataan suaminya. Jika saja saat itu ada Dyah, sudah pasti keduanya saling lempar kata seperti biasanya.


“Ayo Mas, pimpin do'a makan!” pinta Asyila dengan menampilkan senyum terbaiknya.


Abraham mencubit sekilas pipi istri kecilnya dan mulai berdo'a sebelum makan.


****


Sore hari.


Asyila tersenyum lebar ketika mendapat kabar dari dokter yang menangani Rahma, bahwasannya Rahma telah sadar. Asyila pun meminta izin kepada suaminya untuk bertemu dengan Rahma dan berusaha membuat Rahma tetap stabil.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila memasuki ruang rawat Rahma.


Asyila melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dan terkejut melihat Rahma yang tengah terduduk sambil meneteskan air matanya.


“Mbak Rahma kenapa?” tanya Asyila panik, “Mbak Rahma kenapa menangis?” tanya Asyila semakin penasaran.


Rahma mendongakkan kepalanya dan menatap Asyila dengan cukup lama. Kantung mata serta kelopak mata Rahma terlihat sangat sembab karena terlalu lama menangis.


“Mbak, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Jangan membuat saya takut,” ucap Asyila yang nampak ikut sedih melihat air mata Rahma yang terus saja mengalir deras.


Asyila mengelus-elus bahu Rahma sambil terus menatap kedua mata Rahma.


“Apakah ada yang sakit? Kalau begitu saya permisi untuk membawa dokter kemari,” ucap Asyila yang ingin bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Rahma dengan cepat menahan tangan Asyila sambil geleng-geleng kepala.


“Tidak perlu, aku baik-baik saja,” tutur Rahma sambil terus memegang tangan Asyila agar tak keluar untuk memanggil dokter, “Hanya saja, aku merasakan sakit disini. Sakit yang teramat sangat dan sangat sakit,” imbuh Rahma sambil menyentuh dadanya.


“Mbak boleh ceritakan apapun semuanya kepada saya. Saya siap mendengarkan curahan hati Mbak Rahma,” ucap Asyila dan menarik kursi mendekat ke arah ranjang agar Rahma bisa menceritakan keluh kesahnya.


Senyum manis Rahma perlahan mulai mengembang, kemudian ia menceritakan tentang hidupnya. Mulai dari dia kecil hingga dewasa, ia juga menceritakan bagaimana ia pertama kali bertemu dengan suaminya, Wahyu.


Asyila berusaha menjadi pendengar yang baik dan berharap dengan Rahma mencurahkan isi hatinya, Rahma bisa bangkit kembali untuk melanjutkan hari-harinya dengan penuh semangat.


Tak terasa sudah memasuki waktu Maghrib, Rahma pun telah selesai mencurahkan isi hatinya. Seketika itu Asyila terkesiap dengan bercucuran air mata memeluk erat tubuh Rahma.


“Mbak Rahma wanita yang sangat kuat, Allah sangat sayang dengan Mbak Rahma. Sekarang Mbak harus menatap ke depan dan jangan lagi menengok ke belakang,” ucap Asyila menyemangati Rahma.


“Terima kasih, terima kasih banyak karena kamu telah menjadi pendengar yang baik. Sekali lagi terima kasih banyak, kamu benar-benar wanita yang sangat baik. Aku berhutang kepadamu,” ucap Rahma yang terus saja mengucapkan terima kasih kepada Asyila.


Asyila masih memeluk Rahma sembari mengelus-elus punggung Rahma dengan begitu hangat.

__ADS_1


“Mbak Rahma sekarang beristirahatlah, saya harus kembali ke ruangan suami saya,” ucap Asyila.


“Suami? Jadi kamu sudah menikah?” tanya Rahma yang mengira bahwa Asyila masih lajang.


Asyila tertawa kecil mendengar pertanyaan Rahma yang terlihat tak percaya mengenai statusnya yang telah menikah.


“Iya, Mbak Rahma. Saya sudah menikah dan sudah memiliki dua anak,” terang Asyila.


Rahma langsung teringat dengan bayinya yang telah meninggal. Ia pun menundukkan kepalanya menoleh ke arah perut dan membelai perutnya dengan begitu sedih.


“Maafkan Ibu ya nak! Maaf karena keadaan Ibu yang seperti ini kamu sekarang harus tidur sendirian,” ucap Rahma.


Asyila langsung memegang erat kedua tangan Rahma setelah mendengar perkataan dari Rahma.


“Mbak Rahma jangan bilang seperti itu, bagaimanapun bayi Mbak Rahma sekarang sudah bahagia di surga. Disana sudah ada yang menjaganya dan tugas Mbak Rahma sebagai Ibu adalah mendo'akan bayi Mbak Rahma dan kembali melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik lagi,” ucap Asyila.


Rahma merasa sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Asyila. Meskipun mereka baru bertemu, akan tetapi Rahma merasakan ketulusan Asyila yang begitu luar biasanya. Sangat jarang ada wanita muda seperti Asyila yang berempati kepada sesama perempuan.


Rahma kembali meneteskan air matanya dan terus-menerus mengucapkan terima kasih kepada Asyila.


Karena waktu terus saja berjalan, Asyila pun pamit meninggalkan ruangan tersebut untuk segera melaksanakan sholat Maghrib di ruangan suaminya.


Rahma sekali lagi mengucapkan terima kasih karena kebaikan Asyila yang telah menolongnya ada kejamnya sang suami.


Setelah Asyila pergi, Rahma langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan tak lupa mengangkat tangannya berdo'a untuk kesembuhannya dan juga bayi mungil yang telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


“Ya Allah, hamba sungguh sangat sedih dengan kematian bayi hamba yang Allah. Tolong jagalah bayi hamba sampai hamba bisa menyusul Akbar ke surga,” ucap Rahma.


Akbar. Yaps, Rahma memberikan nama buah hatinya yang telah meninggal dengan nama Akbar. Ia yakin nama itu sangat cocok untuk bayi mungilnya.


Asyila masuk ke dalam ruangan Suaminya dan tak lupa mengucapkan salam, ia pun cepat-cepat melaksanakan sholat Maghrib karena suaminya ternyata sudah sholat duluan. Meskipun Abraham sakit, sebisa mungkin Abraham tetap melaksanakan sholat wajib dan ia berharap amal ibadahnya diterima di sisi oleh kelak.

__ADS_1


Abraham terus saja memperhatikan istri kecilnya yang tengah sholat, sungguh Abraham lagi-lagi terpikat dengan wanita cantik bernama Asyila.


__ADS_2