
Pukul 22.45 WIB.
Akhirnya urusan dengan si pencuri telah selesai. Perhiasan emas pun telah kembali kepada pemiliknya dan tidak ada yang kurang sama sekali.
“Alhamdulillah, semuanya beres. Kedepannya Mas akan memperketat penjagaan dan pengamanan di perumahan kita ini,” ucap Abraham yang kini sudah merebahkan tubuh di pulau kapuk.
“Iya, Mas. Syukurlah semuanya sudah baik-baik saja,” balas Asyila.
Abraham menoleh ke arah istri kecilnya yang tengah duduk tepat di samping ia merebahkan tubuhnya. Kemudian, menarik tubuh sang istri agar menyatu dengannya.
“Asyila sungguh tidak apa-apa?” tanya Abraham memastikan sekali lagi bahwa sang istri baik-baik saja.
“Mas, Asyila baik-baik saja. Bukankah sudah Syila katakan berulang kali?” tanya Asyila terheran-heran.
“Ya mau bagaimana lagi, suamimu ini ya sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya,” jawab Abraham.
“Iya, Mas. Asyila tahu Mas sangat mengkhawatirkan Asyila, terima kasih ya Mas. Asyila sangat sayang dengan Mas,” ungkap Asyila dan memeluk tubuh suaminya dengan penuh kebahagiaan.
Abraham tertawa kecil dan mengajak istri kecilnya untuk segera tidur. Karena esok ada banyak pekerjaan yang menantikan mereka berdua.
Keesokan pagi.
Abraham telah bersiap-siap untuk pergi ke perusahaannya dan terpaksa meninggalkan istri kecilnya di rumah seorang diri.
“Mas nanti pulang jam berapa?” tanya Asyila.
“Insya Allah sebelum ashar, Mas sudah sampai rumah,” balas Abraham dan memberikan kecupan mesra di kening istri tercintanya.
Abraham pun bergegas pergi ke perusahaan agar pekerjaan di kantornya cepat selesai.
“Mas berangkat dulu, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, Mas. Hati-hati ya Mas, semangat kerjanya!”
Asyila mencium punggung tangan suaminya dan melambaikan tangan ke arah suaminya yang sudah berada di dalam mobil.
Setelah suaminya benar-benar pergi, Asyila memutuskan untuk mengepel lantai yang sebelumnya sudah ia sapu.
“Nona Asyila!” panggil salah satu penghuni perumahan Absyil.
Asyila menoleh dan mengiyakan panggilan tersebut.
“Ya Allah, sampai lupa saya. Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Asyila dengan sangat ramah.
__ADS_1
“Saya Reni, salah satu penghuni perumahan Absyil. Alasan saya datang kemari untuk memberikan ini,” terang Reni sambil memberikan nasi kotak.
“Alhamdulillah, terima kasih Mbak Reni,” balas Asyila sambil menerima nasi kotak tersebut, “Ngomong-ngomong, ada acara apa Mbak?” tanya Asyila.
“Hanya acara kecil-kecilan saja, kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan Nona Asyila,” ungkap Reni.
Asyila tersenyum ramah dan mempersilakan Reni untuk masuk ke dalam agar lebih mudah untuk berbincang-bincang. Akan tetapi, Reni menolak karena tidak bisa lama-lama. Ada buah hatinya yang sedang menunggunya di rumah.
“Nona Asyila, saya sebagai penghuni perumahan Absyil mengucapkan banyak terima kasih untuk Nona Asyila dan juga Tuan Abraham,” terang Reni.
“Terima kasih untuk apa Mbak Reni?” tanya Asyila penasaran, “Justru saya lah yang berterima kasih karena Mbak Reni memilih perumahan Absyil untuk menjadikannya tempat tinggal,” imbuh Asyila.
“Sebenarnya, wanita semalam yang perhiasannya dicuri oleh pencuri itu adalah Kakak perempuan saya. Untungnya saja, perhiasan Kakak perempuan saya kembali karena Tuan Abraham,” ungkap Reni.
Percakapan tersebut terus saja berlanjut, sampai akhirnya Reni harus kembali ke rumahnya karena buah hatinya menunggunya.
“Lumayan untuk sarapan,” tutur Asyila yang memang belum sarapan.
Asyila kembali masuk ke dalam dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang ingin mengepel.
Disaat yang bersamaan, Ema terkejut mendengar kabar bahwa di perumahan Absyil ada seorang pencuri yang berhasil masuk. Meskipun, pencuri tersebut sudah tertangkap oleh Abraham dan sudah dijerumuskan ke dalam penjara.
“Mama mau kemana?” tanya Kahfi ketika melihat Mamanya tengah mengenakan hijab.
“Mama mau ke tempat Bunda Asyila, kamu mau ikut?” tanya Ema pada buah hati semata wayangnya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Ema dan Kahfi.
Asyila yang belum selesai mengepel lantai pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan sekitar 3 menit kemudian barulah Asyila selesai mengepel lantai.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, maaf ya Ema. Aku di dalam tadi sedang mengepel lantai, mari masuk!” ajak Asyila.
“Haduh, maaf ya aku tidak tahu kalau kamu lagi sibuk. Kalau begitu, aku dan Kahfi pamit pulang saja,” balas Ema.
Asyila dengan cepat menggenggam erat tangan sahabatnya dan menuntun sahabatnya itu masuk ke dalam.
“Kamu kenapa pulang cepat-cepat? Aku sudah selesai mengepel dan menunggu keringnya saja. Sekarang duduk disini, aku akan membawakan kamu dan Fahmi brownies kukus buatan ku.”
Asyila dengan penuh semangat berjalan menuju dapur, ketika tengah berjalan Asyila lupa bahwa bagian yang ia injak masihlah basah.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila yang hampir saja terpeleset. Untungnya, ada kursi yang dapat diraihnya sehingga Asyila tak sampai terjungkal ke lantai.
Wanita muda itu mengelus-elus dadanya dan dengan hati-hati kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
“Wah, seperti enak,” ucap Ema ketika melihat piring yang sudah dipenuhi oleh potongan brownies kukus buatan sahabatnya, Asyila.
__ADS_1
“Sebenarnya ini buatan ku dan juga Mas Abraham. Aku harap kamu dan Kahfi menyukai brownies kukus buatan kami ini,” terang Asyila.
Ema dengan semangat mengambil brownies tersebut dan mulai menikmatinya.
Usai menikmati brownies kukus tersebut dengan cukup banyak, Ema pun menjelaskan maksud kedatangannya. Yaitu, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Asyila tersenyum dan menjelaskan secara detail mengenai pencuri tersebut.
“Kenapa sekarang ini banyak sekali orang-orang yang tidak mau berusaha mencari pekerjaan yang halal?” tanya Ema sambil geleng-geleng kepala.
“Mungkin dengan cara seperti itu lebih cepat menghasilkan uang, Ema,” balas Asyila.
“Ya meskipun begitu, itu namanya dosa besar. Mengambil hal orang lain,” tutur Ema geram.
Asyila tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia setuju dengan penuturan sahabatnya.
“Silakan diminum,” ucap Asyila pada keduanya agar segera meminum teh hangat buatannya.
Kahfi yang duduk tepat disebelah Mamanya tidak banyak bicara. Bocah kecil itu hanya fokus dengan brownies ditangannya.
Asyila yang melihat Kahfi tiba-tiba mengingatkannya akan sosok kedua buah hatinya yang saat ini tengah terpisah darinya dan juga sang suami.
“Kamu kenapa, Asyila?” tanya Ema ketika melihat wajah sahabatnya tiba-tiba berubah menjadi murung.
“Aku tiba-tiba merindukan Arsyad dan juga Ashraf, Ema,” jawab Asyila sambil meneteskan air matanya.
Ema mendekat dan segera memeluk sahabatnya.
“Wajar kalau kamu merindukan mereka berdua,” ucap Ema.
Asyila terus saja menangis di pelukan sahabatnya. Mungkin dengan cara menangis, dirinya bisa membuang kesedihannya.
“Terima kasih, Ema,” ucap Asyila yang terlihat mulai membaik.
“Kamu adalah wanita sekaligus Ibu yang kuat untuk mereka. Kalau itu terjadi padaku, dapat dipastikan aku tak mengizinkan Kahfi meninggalkan aku seorang,” terang Ema sambil menoleh ke arah Kahfi yang masih setia mengunyah brownies kukus tersebut.
“Jujur saja, aku merindukan momen manis ketika aku tengah menggendong tubuh kecil mereka. Momen dimana ketika mereka menangis karena haus ingin minum ASI. Ya Allah, rasanya waktu di dunia ini begitu saja. Aku ingin sekali merawat mereka ketika mereka belum bisa berjalan,” ungkap Asyila sambil membayangkan masa-masa ketika Arsyad dan juga Ashraf masih bayi.
Asyila terus saja menceritakan bagaimana rindunya seorang Ibu kepada buah hatinya. Ema dengan setia mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
“Lihatlah! Sekarang rumah sebesar ini, tapi di dalam hanya ada aku dan juga Mas Abraham,” tutur Asyila.
“Kamu tidak perlu merasa sedih, meskipun tidak bisa membuat kerinduan mu berkurang. Akan tetapi, aku dan Kahfi akan sering kemari untuk menemani. Bagaimana?”
“Benarkah?” tanya Asyila memastikan.
__ADS_1
“Tentu saja, bagaimana kalau besok kita buat makanan bersama?” tanya Ema dengan penuh semangat.
Asyila perlahan tersenyum dan mengiyakan ajakan Ema untuk membuat makanan bersama-sama.