Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Menggagalkan Aksi Pencurian


__ADS_3

Asyila sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam kamar seorang diri. Sementara Abraham dan Ashraf masih belum pulang dari Masjid.


Asyila terus berusaha menambah hafalannya sedikit demi sedikit agar ia tidak kagok ketika melantunkan ayat suci Al-Qur'an bersama Sang suami.


“Shadaqallahul-'adzim.”


Dengan hati-hati Asyila kembali menutup kitab suci Al-Qur'an dan meletakkannya ke tempat semula.


“Assalamu’alaikum!” Abraham dan Ashraf masuk ke dalam kamar sembari mengucapkan salam.


Dengan masih mengenakan mukena, Asyila menghampiri keduanya, “Wa'alaikumsalam.”


Asyila dengan senyum manisnya mencium punggung tangan Sang suami.


“Cantiknya istriku,” puji Abraham sambil mengelus lembut pipi kiri Sang istri.


“Bunda, lihat ini!” Dengan sangat senang, Ashraf memperlihatkan peci baru pemberian dari Fahmi.


“Masya Allah, gantengnya kesayangan Bunda,” puji Asyila.


“Tadi Kak Fahmi yang memberikannya,” jelas Ashraf.


Asyila tertawa kecil sambil melirik ke arah suaminya. Ternyata Fahmi sudah bisa mengambil hati Ashraf yang sedikit rewel itu.


“Ashraf kenal dengan Kak Fahmi?” tanya Asyila dengan tubuh sedikit membungkuk.


“Kenal, Kak Fahmi sekarang teman Ashraf,” jawab Ashraf dengan tatapan polos.


“Wah, teman Ashraf sekarang bertambah satu lagi. Selamat ya sayang!”


“Terima kasih, Bunda!” seru Ashraf dengan malu-malu karena ia telah memiliki teman baru yang tak lain adalah calon suami dari Dyah.


Asyila tiba-tiba ingat ia harus membeli detergen untuk mencuci pakaian. Ia pun meminta izin untuk keluar sebentar, akan tetapi Abraham tidak mengizinkan istri kecilnya keluar sendirian.


Abraham pun menawarkan diri untuk mengantarkan istri kecilnya sekaligus membawa Ashraf pergi bersama mereka.


Wanita muda itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Tanpa menunggu lama, Abraham, Asyila dan Ashraf bersiap-siap untuk pergi ke market terdekat.


Malam itu, Eko tidak ada di perumahan Absyil. Abraham sengaja memerintahkan agar Eko pulang kerumahnya dan kembali besok pagi sebelum jam 7.


Mesin motor telah dipanaskan, Asyila pun mengunci pintu rapat dan naik ke atas motor.


“Asik!” Ashraf sangat senang naik motor bersama kedua orang tuanya. Bisa dikatakan hanya beberapa kali saja Ashraf pernah naik motor dan keseringan naik mobil.


“Ashraf suka sayang?” tanya Abraham dan mencium pucuk kepala Ashraf.


“Suka Ayah, ayo Ayah jalan!” pinta Ashraf yang tak sabaran agar motor segera melaju.


Abraham memegangi kedua istri kecilnya dan meletakkan di perut.


“Peluklah Mas ya erat!” pinta Abraham dan Asyila segera memeluk perut suaminya itu yang terasa sangat kencang.


Deg! Deg!


Meskipun telah menikah serta memiliki buah hati, Asyila tetap saja merasa gugup ketika bersentuhan dan berdekatan dengan suaminya. Baginya, setiap hari adalah hari dimana ia kembali jatuh cinta dan jatuh cinta lagi kepada pria yang sama yaitu, Abraham Mahesa.


Perlahan motor melaju meninggalkan kediaman mereka dan keluar dari area perumahan Absyil.


Kedua satpam yang bertugas tersenyum lebar melihat sepasang suami istri pemilik perumahan Absyil keluar dengan menggunakan motor.


“Tuan Abraham dan Nona Asyila seperti pengantin baru ya,” celetuk salah satu satpam penjaga perumahan Absyil.

__ADS_1


“Aku bahwa iri melihat mereka!”


Asyila tersenyum bahagia sembari mengingat masa-masa ketika ia tinggal dikontrakkan. Apalagi awal pertama kali Sang suami membeli motor dan membawanya berkeliling menikmati indahnya malam kota Bandung.


Setibanya di market, merekapun bergegas untuk masuk ke dalam. Akan tetapi, dari kejauhan Asyila melihat ada gerak-gerik mencurigakan.


Karena penasaran, Asyila meminta Suami serta putra kecil mereka untuk masuk ke dalam dan ia akan segera menyusul.


Abraham tak berpikir banyak, ia pun mengajak Ashraf masuk ke dalam.


Kini Asyila bergegas menghampiri anak-anak remaja yang terlihat sangat mencurigakan berdiri disekitar warung yang tengah tutup.


“Hei, kalian mau ngapain mengotak-atik pintu itu?” tanya Asyila menginterogasi mereka.


Salah satu dari mereka maju dan sepertinya ketua mereka.


“Kamu jangan ikut campur, cepat pergi sana atau....”


“Atau apa?” tantang Asyila, ”Saya tahu kalian pasti ingin mencuri isi dalam di warung itu 'kan?”


Pria yang baru saja mengusir dan ingin mengancam Asyila, tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau dan mengarahkan di perut Asyila.


Asyila langsung menekan tangan pria itu dan tanpa pikir panjang, Asyila memukul perut dan menjatuhkan tubuh pria itu dengan cukup keras.


“Akkkhhhh!” teriknya penuh kesakitan.


Mereka yang ingin kabur langsung dihadang oleh Asyila. Asyila tidak bisa tinggal diam ketika mengetahui bahwa mereka ingin mencuri isi dalam warung tersebut.


“Mau lari kemana lagi? Saya tidak akan melepaskan kalian!” tegas Asyila dan mulai melumpuhkan lawan.


Dalam waktu yang sangat singkat, 4 remaja putra berhasil diamankan oleh Asyila.


Setelah diketuk, penghuni rumah pun langsung membukakan pintu dan tak berbasa-basi Asyila langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Penghuni rumah itu ternyata adalah pemilik warung dan mengenali pelaku yang ingin mencuri isi dalam warungnya.


“Sepertinya mereka masih dibawah umur, saya harap Bapak bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan dan meminta keluarga dari mereka untuk menghukum mereka agar mereka jera,” ucap Asyila yang masih memiliki hati untuk meminta calon korban pemilik warung agar tidak melaporkan ke pihak yang berwajib.


“Eneng tenang saja, saya tahu siapa mereka-mereka ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, semoga Allah membalas semua kebaikan Eneng karena telah membantu saya,” ucapnya.


“Kalau begitu saya permisi, Pak. Suami saya sedang menunggu, assalamu'alaikum!”


”Wa’alaikumsalam!”


Para remaja yang sudah dilumpuhkan oleh Asyila terus saja meringis kesakitan. Mereka tidak habis pikir bagaimana bisa wanita muda yang terlihat lemah lembut bisa memukul mereka dengan sangat keras.


“Untung saja ada wanita cantik itu yang menangkap kalian, kalau tidak sudah habis dagangan ku karena dicuri oleh kalian. Lihat saja! Akan aku laporkan perbuatan kalian ke orang tua kalian, kalau sampai tidak kapok juga. Terpaksa aku akan memasukkan kalian ke dalam jeruji besi,” tegas si pemilik warung.


Asyila berlari secepat mungkin ketika melihat suami serta putra kecil mereka tengah menunggunya di motor.


Abraham yang melihat istri kecilnya berlari mendekati langsung beranjak dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukan..


“Syila dari mana saja? Mas dan Ashraf dari tadi sibuk mencari Syila, Mas mencoba menghubungi Asyila ternyata tidak aktif. Sungguh Mas sangat khawatir,” terang Abraham dan tak peduli dengan sekitarnya saat memeluk tubuh Asyila.


“Maaf, Mas. Tadi Asyila melihat ada tukang bakso lewat dan ketika Asyila ingin mengejarnya tukang bakso itu hilang begitu saja,” tutur Asyila berbohong. Tidak mungkin Asyila menceritakan kejadian yang sebenarnya, Abraham pasti langsung marah dan melarang Asyila untuk melakukan hal seperti itu.


Abraham melepaskan pelukannya dengan tatapan penuh kekhawatiran, “Kalau mau bakso, Syila tinggal bilang sama Mas. Mau bakso urat, bakso ati, bakso, beranak, bakso beranak dalam kubur, bakso beranak dalam sumur atau apapun itu, Asyila tinggal bilang saja dan Mas akan mencarikan bakso sesuai keinginan Asyila,” terang Abraham panjang lebar.


Asyila malah tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Ada yang lucu dengan ya?” tanya Abraham bingung.

__ADS_1


“Hahaha... hahaha!” Ashraf pun ikut tertawa mendengar nama-nama bakso yang baru saja disebutkan oleh Ayahnya.


“Kenapa kalian semua malah tertawa?” tanya Abraham semakin bingung.


“Memangnya ada ya Mas, bakso beranak dalam kubur dan bakso beranak dalam sumur?” tanya Asyila yang terus saja tertawa.


Abraham menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia sendiri heran mengapa menyebutkan nama-nama bakso yang jelas-jelas tidak ada.


“Sudah jangan tertawa lagi, yang ada kita tidak pulang-pulang! Oya, Syila mau bakso apa?” tanya Abraham.


“Bakso beranak dalam sumur saja, Mas,” jawab Asyila sambil menahan tawanya..


Abraham terdiam sembari memikirkan lokasi mana yang menjual bakso beranak dalam kubur.


“Memang ada ya di daerah sini?” tanya Abraham kebingungan.


Asyila mencubit gemas kedua pipi suaminya, ”Sepertinya tidak ada, suamiku. Asyila tiba-tiba kehilangan selera untuk makan bakso, bagaimana kalau Mas yang membuat susu jahe untuk Asyila?” tanya Asyila yang tiba-tiba ingin menikmati susu jahe buatan Abraham.


“Hhhmm.. boleh. Ayo kalau begitu!” seru Abraham.


Keluarga kecil itupun naik ke motor dan bergegas menuju perumahan Absyil.


Asyila senang karena keahliannya bisa bermanfaat untuk orang lain, seperti yang suaminya lakukan ketika membantu Dayat dan juga Edi.


Mas, Asyila akan berusaha menjadi wanita yang kuat. Menjadi istri sekaligus Ibu yang kuat untuk keluarga kecil kita. Terima kasih Ya Allah, berkat Engkau hamba bisa menguasai ilmu beladiri dan bermanfaat bagi orang banyak.


Sesampainya di rumah, Abraham langsung memasukkan motor ke dalam garasi dan tak lupa mengunci gerbang rumah.


Kemudian, merekapun masuk ke dalam bersama-sama.


“Mas mau kemana?” tanya Asyila ketika Sang suami berjalan ke arah dapur.


“Mau membuatkan susu jahe untuk istriku,” jawab Abraham dan mengedipkan sebelah matanya.


Asyila tertawa kecil dan meminta Ashraf untuk masuk ke kamar terlebih dulu. Ashraf pun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


“Mas...” Asyila mendekat dan memeluk suaminya dari belakang.


Abraham berbalik dan dengan perasaan menggebu-gebu, Abraham menciumi bibir istri kecilnya dengan tidak sabaran.


Asyila hampir saja tersedak karena air liurnya sendiri.


“Pelan-pelan, Mas!” pinta Asyila.


Abraham mengangguk dan kembali menikmati bibir seksi istri kecilnya yang terasa manis di dapur.


“Bunda!” Dari lantai atas, Ashraf memanggil Bundanya.


Abraham dan Asyila terkesiap karena suara Ashraf. Ciuman panas mereka berakhir begitu saja karena ulah putra kecil mereka.


“Bunda!” panggil Ashraf sekali lagi.


“Sebentar sayang!” seru Asyila dan mau tak mau Asyila menghampiri Ashraf.


Abraham menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit kesal.


“Beginilah kalau sudah memiliki anak, mau berduaan dengan Istri rasanya susah sekali. Sabar lah Abraham,” ucap Abraham bermonolog sambil mengelus-elus dadanya sendiri.


Dengan lesu, Abraham mencari susu dan juga jahe untuk membuatkan susu jahe permintaan istri kecilnya.


Abraham 💖 Asyila

__ADS_1


__ADS_2