Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kedatangan Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Pagi hari.


Ashraf dan Kahfi sedang bermain air kran di depan rumah, keduanya terlihat sangat senang karena bisa bermain air sepuas mereka karena saat itu tidak ada orang tua yang mengawasi mereka berdua.


Sampai akhirnya Abraham keluar dari rumah dan terkejut melihat keduanya yang sudah basah kuyup.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Asyila sembari geleng-geleng kepala dan tak ada maksud untuk memarahi mereka berdua.


Ashraf dan Kahfi tak kalah terkejut ketika mereka tertangkap basah bermain air.


“Ayah, maafkan kami,” ucap keduanya yang mengira bahwa Abraham akan memarahi mereka.


Abraham menampilkan ekspresi galak dan beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar.


“Main air sudah belum?” tanya Abraham.


Ashraf dengan jujur mengatakan bahwa ia belum puas bermain air.


“Sayang, air itu tidak baik kalau terbuang sia-sia. Ya sudah, Ayah beri waktu 5 menit lagi dan setelah itu kalian berdua harus berhenti bermain air,” tutur Abraham.


Keduanya mengiyakan dan kembali bermain air dengan penuh semangat.


“Mas, anak-anak kenapa dibiarkan bermain air? Kalau mereka demam bagaimana?” tanya Asyila.


“Mereka hanya bermain sebentar, sini duduk disamping Mas!” pinta Abraham sembari menarik kursi agar semakin dekat dengannya.


Asyila tersipu malu dan duduk berdempetan dengan suaminya.


Abraham menoleh ke layar ponselnya sekilas.


“Anak-anak, sudah waktunya untuk berhenti bermain air. Sekarang kalian mandilah, Ayah sudah menyiapkan pakaian untuk kalian,” tutur Abraham.


“Yang benar Ayah?” tanya Ashraf memastikan.


“Tentu saja, pakaian kalian saat ini ada pada Nenek Arumi,” jawab Abraham.


Ashraf dan Kahfi dengan semangat berlari masuk ke dalam rumah.


Asyila geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya.


“Mereka dua itu benar-benar seperti anak kembar, kelakuan mereka pun tidak jauh beda,” ucap Asyila.


“Asyila!” Ema tiba-tiba memanggil sahabatnya dari rumah.


Asyila pun menoleh sembari melambaikan tangan ke arah sahabatnya.


“Ema!” seru Asyila.


“Sebentar lagi aku akan tempat mu,” tutur Ema setengah berteriak.


Asyila dengan semangat mengangkat jempol tangannya ke arah Ema.


Ema tersenyum lebar dan masuk ke dalam rumah setelah selesai menyapu lantai.


“Mas, Asyila ke dalam ya mau lihat anak-anak. Takutnya mereka malah tidak selesai-selesai,” tutur Asyila.


“Mas ikut,” balas Abraham mengikuti istri kecilnya masuk ke dalam untuk melihat anak-anak apakah sudah selesai mandi ataukah belum.


“Ibu, anak-anak dimana?” tanya Asyila.


“Itu di belakang,” jawab Arumi menunjuk ke arah dapur.


Tanpa pikir panjang, Asyila dan juga Abraham menyusul kedua bocah yang belum juga keluar dari kamar mandi.


Ketika Asyila mendekat ke kamar mandi, dua bocah itu keluar bersamaan dengan handuk yang melingkar sempurna di pinggang mereka masing-masing.


“Sudah selesai mandinya?” tanya Asyila memastikan kembali.


“Sudah, Bunda,” jawab keduanya.


“Ayo ikut Bunda ke ruang keluarga!” ajak Asyila.


Baru saja mereka tiba di ruang keluarga, keduanya telah disambut dengan pakaian baru yang tentu saja sudah dicuci bersih oleh Arumi sebelumnya.


“Ini pakaian yang belikan Ayah Abraham, sekarang cepatlah pakai,” tutur Asyila dan melenggang pergi agar keduanya bisa lebih santai mengenakan pakaian baru.


Di ruang tamu.


Arumi dan Herwan saat itu tengah berbincang-bincang sembari bersenda gurau dengan cucu keempat mereka yang saat itu tengah terjaga.


Abraham dan Asyila pun ikut bergabung untuk sekedar berbincang-bincang ringan.


“Tidak terasa sebentar lagi bulan puasa, Ibu tidak sabar bertemu saat dimana umat Islam berpuasa,” tutur Arumi.


“Iya ya Ibu, tidak terasa kurang dari satu bulan lagi. Asyila ingin puasa pertama di Jakarta,” tutur Asyila yang merindukan suasana di Ibukota Jakarta.


“Kalau Syila maunya begitu tidak masalah,” balas Abraham.


Ketika mereka sedang berbincang-bincang, sebuah mobil tiba-tiba masuk ke halaman rumah Abraham.


Abraham dan yang lainnya terkesiap melihat mobil tersebut.


“Siapa Mas?” tanya Asyila penasaran.


Abraham mengernyitkan keningnya, ia ingat betul bahwa hari itu ia tidak ada janji dengan siapapun.


“Mas juga tidak tahu,” jawab Abraham apa adanya.


“Coba Mas ingat-ingat lagi, siapa tahu ada teman Mas yang sebelumnya memberitahukan kepada Mas ingin datang kemari!”


Abraham berusaha mengingat dan tetap saja ia tidak membuat janji kepada siapapun hari itu.


“Nak Abraham, ayo ke depan. Kita harus mengetahui siapa yang datang!” pinta Herwan mengajak menantunya untuk menyambut kedatangan pemilik mobil tersebut.


Abraham dan Herwan pun berjalan menuju luar rumah untuk menyambut kedatangan pemilik mobil tersebut.


Asyila dan Arumi tentu saja tetap di dalam rumah, sembari mengamati pemilik mobil itu dari ruang tamu.

__ADS_1


Pintu mobil itupun perlahan terbuka dan ternyata pemilik mobil tersebut adalah Kevin.


“Kevin,” ucap Abraham terheran-heran.


Asyila yang berada di ruang tamu pun terkejut melihat Kevin yang sudah beberapa tahun tidak ada kabar.


“Syila, bukankah itu teman kamu?” tanya Arumi yang samar-samar mengenal sosok Kevin sebagai teman Asyila.


“Iya, Ibu. Asyila ke depan ya Bu,” tutur Asyila.


Kevin tersenyum dan perlahan berjalan mendekat ke arah Abraham serta Herwan.


“Assalamu’alaikum, Pak Abraham dan Pak Herwan!” sapa Kevin yang penampilannya saat ini lebih dewasa serta badannya tak sekurus beberapa tahun yang lalu.


“Wa’alaikumsalam, apa kabar kamu?” tanya Abraham.


“Alhamdulillah, saya baik,” jawab Kevin.


Asyila datang sembari menatap Kevin dengan penuh tanda tanya.


“Kamu dari mana saja selama beberapa tahun ini?” tanya Asyila.


“Selama beberapa tahun ini aku di Bali, membantu mengembangkan bisnis orang tuaku,” jawab Kevin tersenyum canggung.


“Ayo masuk ke dalam!” ajak Abraham.


“Sebentar, masih ada satu orang lagi di dalam,” tutur Kevin kemudian berlari mendekati mobil.


Abraham dan Asyila saling tukar pandang melihat Kevin.


“Mas, kira-kira Kevin datang bersama dengan siapa?” tanya Asyila setengah berbisik.


“Entahlah, mungkin temannya,” balas Abraham.


Tiba-tiba seorang wanita keluar dari mobil dan Kevin tersenyum lebar ke arah wanita tersebut.


Jika kedatangan Kevin mengejutkan Abraham dan juga Asyila. Kini, munculnya sosok wanita bersama Kevin membuat Abraham, Asyila serta kedua orang tua Asyila terkejut bukan main.


Mulut mereka kompak menganga lebar melihat wanita tersebut yang tentu saja mereka kenal.


“Mbak Rahma!” Asyila masih tak percaya dengan wanita yang ia lihat itu.


Rahma melambaikan tangan dan tak lupa mengucapkan salam.


“Assalamu’alaikum, semuanya,” ucap Rahma setengah menunduk.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham, Arumi dan juga Herwan.


Arumi tiba-tiba datang dan mendekati Rahma, putri angkatnya yang sudah cukup lama tidak pernah bertemu lagi.


“Ya Allah, ini benar Rahma?” tanya Arumi ketika melihat wanita dihadapannya yang sudah Arumi anggap seperti putrinya sendiri.


“Iya, Ibu. Ini Rahma anak angkat Ayah dan Ibu,” jawab Rahma dengan mata berkaca-kaca karena akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Abraham Mahesa yang sudah banyak membantu dirinya ketika orang lain membuangnya.


Arumi menangis terharu sembari mengendong cucu keempatnya.


“Ayo masuklah, kita berbincang-bincang di dalam!” ajak Arumi.


“Ibu, ini bayi Nona Asyila dan juga Tuan Abraham?” tanya Rahma.


“Iya, ini cucu keempat Ayah dan Ibu. Mau gendong?” tanya Arumi dan tersenyum bahagia melihat Rahma.


Dengan malu-malu Rahma mengiyakan dan Arumi pun memberikan bayi Akbar agar digendong oleh Rahma.


Rahma tersenyum sembari memandangi wajah imut bayi Akbar.


“Namanya siapa, Ibu?” tanya Rahma penasaran dengan nama bayi mungil yang saat itu sedang berada di gendongannya.


“Akbar Mahesa,” jawab Arumi memberitahukan nama cucu keempatnya.


Arumi dan Rahma terlihat sangat santai berbincang-bincang, sementara Abraham dan Asyila terlihat bingung dengan datangnya Kevin dan juga Rahma.


Disaat yang bersamaan, Ema dan Dyah datang.


“Assalamu’alaikum,” ucap keduanya yang masih belum tahu bahwa Kevin dan Rahma ada di ruang tamu.


Asyila beranjak dari duduknya dan menghampiri Ema serta Dyah yang berada di pintu samping.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Asyila.


“Aunty, ada tamu ya?” tanya Dyah sembari masuk ke dalam.


“Iya ada tamu, ayo ke depan!” ajak Asyila.


Dyah dan Ema dengan kompak menolak ajakan Asyila.


“Loh, kenapa tidak mau?”


“Kita 'kan, tidak kenal. Jadi untuk apa ke depan?” tanya Dyah.


“Aku setuju dengan perkataan Dyah!” seru Ema.


“Kalian berdua pasti kenal dengan kedua tamu di depan,” tutur Asyila.


Dyah dan Ema saling tukar pandang mendengar penuturan dari Asyila.


Karena penasaran, Dyah dan Ema pun akhirnya mengikuti Asyila ke ruang tamu.


“Kevin!” Dyah dan Ema kompak menyebut nama Kevin.


“Kamu apa kabar? Kamu kesini sendirian?” tanya Ema yang belum menyadari bahwa ada Rahma yang duduk bersebelahan dengan Arumi.


“Hai Ema!” sapa Kevin pada mantan kekasihnya, “Aku kesini sama Rahma,” imbuh Kevin sembari melirik ke arah Rahma yang masih menggendong bayi Akbar.


Dyah dan Ema seketika itu menoleh ke arah Rahma.


“Loh, bukannya ini....” Dyah dengan cepat menghentikan ucapannya karena tak ingin menyinggung perasaan Rahma yang dulu pernah tinggal bersama dengan keluarga Pamannya.

__ADS_1


Rahma dengan ramah tersenyum ke arah Dyah dan juga Ema.


“Kalian kenapa terus berdiri disitu? Sini duduk!” panggil Asyila.


Dyah dan Ema terlihat kebingungan melihat Kevin datang bersama dengan Rahma.


“Ayo sini!” panggil Asyila sekali lagi.


Keduanya dengan kompak berjalan mendekati Asyila dan duduk bersebelahan.


Suasana pun tiba-tiba menjadi canggung dan hening.


“Bagaimana bisnis orang tuamu di Bali, Kevin?” tanya Dyah memecah keheningan.


“Alhamdulillah semuanya lancar,” jawab Kevin.


“Oya, kamu di Bandung baru apa sudah lama?” tanya Dyah lagi yang penasaran dengan sosok Kevin yang pernah menyukai dirinya.


“Kebetulan aku di Bandung sudah dua bulan,” jawab Kevin.


Dyah mengangguk kecil dan suasana ruang tamu pun kembali hening.


“Ya ampun, Ibu sampai lupa membuatkan minuman. Tunggu sebentar ya,” tutur Arumi untuk segera pergi ke dapur.


Ashraf dan Kahfi dengan penuh semangat berlari ke ruang tamu. Tentu saja mereka disuruh oleh Arumi agar segera bergabung dengan para orang tua, Arumi memang sengaja melakukannya karena Arumi tahu bahwa suasana ruang tamu terasa sangat canggung.


“Hallo Ashraf!” sapa Rahma.


Ashraf hanya tersenyum tanpa menghampiri Rahma.


“Ayah, nanti kita keluar ya!” pinta Ashraf yang terlihat manja.


“Memangnya Ashraf mau kemana?” tanya Abraham penasaran.


“Jalan-jalan Ayah, keliling naik mobil,” jawab Ashraf.


“Hhhm.... Lihat nanti ya sayang, kalau cuacanya bagus kita pergi. Tapi kalau hujan ya kita tetap di rumah,” balas Abraham.


“Ayah, kita 'kan naik mobil. Jadi, tidak akan kehujanan,” ucap Ashraf dan seketika itu membuat Abraham tak bisa berkata-kata lagi.


Arumi serta yang lainnya tertawa mendengar perkataan Ashraf.


“Ayah, boleh ya?” tanya Ashraf merayu Ayahnya dengan cara menciumi punggung tangan Ayahnya berulang kali.


Ayah mana yang akan menolak keinginan buah hatinya kalau sudah di rayu seperti itu.


Abraham tertawa kecil dan mengiyakan keinginan putra kecilnya.


“Horeee, Kahfi nanti kita jalan-jalan keliling naik mobil,” tutur Ashraf bersemangat dan mengajak Kahfi untuk kembali menonton televisi yang menayangkan acara kartun kesukaan mereka yang sudah tayang.


“Mbak Rahma sekarang kerja dimana? Apa masih usaha catering?” tanya Asyila penasaran dan tak lupa memperlihatkan senyum manisnya kepada wanita yang pernah ia tolong.


Rahma tidak langsung menjawab, wanita itu malah melirik ke arah Kevin yang ternyata juga meliriknya.


“Alhamdulillah, masih,” jawabnya.


Bayi mungil yang sedang digendong oleh Rahma tiba-tiba menangis dan dengan cepat Asyila mengambil alih agar bayi mungilnya tidak menangis lagi.


“Sssuutss... Sayang, jangan menangis,” ucap Asyila dan mencium lembut pipi bayi mungilnya.


Bayi Akbar perlahan menghentikan tangisannya dan ia pun kembali terlelap.


“Anak pintar,” ucap Asyila lirih.


Arumi datang dengan membawa beberapa cangkir berisi teh. Kemudian, mempersilakan Kevin dan juga Rahma untuk menikmati teh buatannya.


“Terima kasih, Ibu,” ucap Kevin dan juga Rahma.


“Ngomong-ngomong kedatangan kalian kesini karena apa?” tanya Abraham penasaran dan mungkin yang lainnya juga sama penasarannya seperti Abraham.


Kevin dan Rahma kembali tukar pandang mendengar pertanyaan dari Abraham.


Asyila, Dyah dan juga Ema saling tukar pandang dan tak sabar ingin mengetahui alasan kedatangan mereka ke Perumahan Absyil.


Saat Kevin ingin membuka mulut, ia tiba-tiba terbatuk-batuk.


“Mas, minumlah ini,” ucap Rahma sembari memberikan secangkir teh kepada Kevin.


Kevin menerimanya dan untungnya teh yang Arumi buat tidaklah panas.


Kevin meneguknya sampai habis tak tersisa.


“Terima kasih,” tutur Kevin.


Abraham, Asyila serta yang lainnya tercengang mendengar Rahma memanggil Kevin dengan sebutan Mas.


Padahal, kalau dilihat secara usia, Rahma lebih tua usianya dari Kevin.


“Ema, apakah kamu mendengar Mbak Rahma berkata Mas kepada Kevin?” tanya Dyah berbisik-bisik dan hanya di dengar oleh Ema.


Ema memberikan isyarat mata yang artinya ia juga mendengar panggilan tersebut.


Kevin dan Rahma seketika itu tersenyum kepada mereka yang menatap dirinya serta Rahma dengan penuh tanda tanya.


“Astaghfirullahaladzim, Ibu lupa mematikan kompor,” tutur Arumi dan berlari terbirit-birit menuju dapur.


Dyah pun menyusul Neneknya ke dapur.


“Ya Allah, untung saja airnya masih ada,” ucap Arumi lega.


“Nenek kenapa bisa lupa? Hampir saja Dyah jantungan,” tutur Dyah.


“Sudah tidak apa-apa, ayo ke ruang tamu lagi!” ajak Arumi untuk kembali berkumpul di ruang tamu.


“Sudah Ibu matikan?” tanya Asyila pada Ibunya yang baru saja duduk di sofa.


“Alhamdulillah sudah, tenang saja,” balas Arumi sembari mengelus dadanya sendiri karena hampir saja membuat rumah kebakaran karena kelalaiannya.

__ADS_1


Abraham ❤️ Asyila


Like ❤️ komen 👇


__ADS_2