Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Dyah Bertemu Dengan Si Pemilik Sapu Tangan


__ADS_3

Abraham benar-benar tak mengizinkan Asyila untuk melakukan pekerjaan rumah dan bahkan, Abraham melarang Asyila agar tak keluar dari kamar.


Lalu, bagaimana dengan pekerjaan rumah?


Tentu saja Abraham yang melakukannya dan kadangkala Abraham meminta keponakannya untuk membantunya.


“Dyah!” panggil Abraham yang saat itu baru selesai menyapu lantai.


Dyah pun datang ketika mendengar Pamannya memanggil.


“Iya Paman, ada apa?” tanya Dyah.


“Apa pekerjaan kamu yang Paman suruh sudah kamu lakukan?” tanya Abraham.


“Tenang saja, halaman belakang sudah bersih dan tidak meninggalkan debu sekecil apapun,” jawab Dyah.


“Kamu ini kalau bicara terlalu besar. Sekarang Paman perintahkan kamu untuk menyiram tanaman di depan!”


“Tapi, Paman....”


“Kenapa? Takut ada ular kobra?” tanya Abraham.


Dyah dengan cepat mengiyakan, “Iya Paman. Bagaimana jika ular-ular itu masih ada dan tiba-tiba menggigit kaki Dyah?”


“Kamu ini terlalu banyak halusinasi. Sudah tidak ada ular kobra di rumah ini apalagi di halaman, sudah cepat siram tanaman keburu sore!” perintah Abraham sambil mendorong pelan Dyah.


Dyah menghentakkan kakinya dan meledek Pamannya itu. Kemudian, bergegas menuju halaman depan rumah untuk menyirami tanaman-tanaman hias.


Sore itu, Arumi tidak berada di kediaman menantunya. Dikarenakan Arumi sedang pulang ke rumahnya untuk beres-beres karena sudah beberapa hari tidak dibersihkan.


“Kak Dyah main air yuk!” ajak Arsyad yang ternyata sudah memegangi selang.


Dyah langsung menolak dan mengambil selang air di tangan Adiknya.


“Jangan hari ini ya Arsyad sayang,” ucap Dyah dengan suara selembut mungkin.


“Kenapa?” tanya Arsyad dengan memasang ekspresi wajah kecewa.


“Kak Dyah sedang ada tugas untuk menyirami tanaman. Kamu ajaklah adik Ashraf mandi di dalam ya.”


Arsyad mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dyah dan melenggang pergi mencari adiknya, Ashraf.


“Selamat sore tanaman hias!” sapa Dyah sambil menyiramnya.


Gadis muda itu tersenyum manis ketika menyirami tanaman hias, mendadak perasaannya menjadi tenang ketika mendengar suara gemericik air.


Beberapa saat kemudian.


Dyah masih enggan pergi disekitar pekarangan rumah, ia masih ingin berlama-lama di pekarangan rumah.


Ketika Dyah menoleh ke arah luar yang kebetulan gerbang rumah tidak di tutup, samar-samar Dyah melihat pria yang beberapa waktu lalu memberikannya sapu tangan.


Tanpa pikir panjang, Dyah berlari ke arah luar gerbang rumah untuk memastikan apakah benar itu adalah si pria pemilik Sapu tangan.


“Tunggu!” Dyah berteriak sekeras mungkin agar pria berpakaian muslim segera berhenti.


“Hei.. Pria sapu tangan!” panggil Dyah.

__ADS_1


Pria itu menoleh dan seketika itu Dyah tertegun.


Mereka berdua hanya saling memandang satu sama lain.


“Mbak memanggil saya?” Pria itu bertanya sambil menunjuk ke dirinya sendiri.


Dyah tersadar dan terlihat sangat gugup melihat si pria pemilik Sapu tangan sedang berdiri dihadapannya.


“Mas sapu tangan, bukan?” tanya Dyah.


Pria itu terheran-heran dengan pertanyaan Dyah.


“Nama saya bukan sapu tangan, Mbak,” jawabnya.


Dyah tersadar dengan pertanyaannya yang aneh. Ia pun menyentil keningnya sendiri dan memukul-mukul mulutnya.


Dyah saat itu benar-benar terlihat konyol dihadapan pria pemilik sapu tangan.


Pria itu menahan tawanya melihat tingkah Dyah yang benar-benar terlihat konyol.


“Oya, tunggu sebentar ya. Aku akan mengambil sesuatu di dalam!” Dyah berlari masuk ke dalam untuk mengambil Sapu tangan dan mengembalikan sapu tangan itu kepada pemiliknya.


“Gadis yang aneh dan sangat konyol.”


Dua kata terlontar begitu saja di mulut pria pemilik sapu tangan ketika menggambarkan sosok Dyah yang dinilai aneh dan konyol.


Dyah berlari memasuki kamarnya untuk mengambil sapu tangan yang sudah ia cuci bersih.


“Kamu kenapa berlari seperti orang kebakaran jenggot?” tanya Abraham menghentikan Dyah yang ingin cepat-cepat menemui pria pemilik sapu tangan.


“Maaf, Paman. Dyah ada urusan penting!”


Gadis kuda itu kembali berlari untuk segera memberikan sapu tangan kepada pemiliknya.


“Bruuukkk!”


Karena terlalu bersemangat, Dyah jatuh karena tak sengaja menginjak pakaiannya sendiri. Saat itu Dyah sedang mengenakan gamis berwarna biru muda dan hijab berwarna biru tua.


“Kamu tidak apa-apa?” Pria pemilik sapu tangan segera menghampiri Dyah dan membantu Dyah untuk bangkit.


“Hehehe... Tenang saja, aku tidak apa-apa,” jawab Dyah dan memeriksa sapu tangan di tangannya, “Ya ampun, sapu tangannya kotor,” tutur Dyah dengan sangat sedih.


Pria itu akhirnya tersadar apa yang sebenarnya dilakukan oleh Dyah.


Gadis muda dihadapannya ternyata ingin mengembalikan sapu tangan miliknya yang tempo hari ia berikan kepada Dyah karena saat itu Dyah tengah menangis.


“Begini saja, aku akan kembali mencuci bersih sapu tangan ini. Ketika sudah kering, aku akan memberikannya kepadamu,” jelas Dyah.


Pria itu menatap Dyah dengan sangat serius.


Mendapat tatapan dari pria dihadapannya, Dyah tiba-tiba malu dan merasa gugup.


Dengan cepat Dyah berbalik badan membelakangi si pria pemilik sapu tangan.


Deg! Deg! Deg!


“Oh ya ampun!” Dyah berteriak ketika merasakan detak jantungnya semakin kencang.

__ADS_1


Lagi-lagi pria itu menahan tawanya melihat keanehan dan kekonyolan Dyah.


“Pria pemilik sapu tangan, apakah besok kamu lewat jalan ini lagi?” tanya Dyah.


“Nama saya bukan pria pemilik sapu tangan, Mbak. Panggil saja saya Fahmi,” terang Fahmi.


Deg! Deg! Deg!


Dyah tertegun mendengar pria dihadapannya memberitahukan namanya.


“Maaf, Mbak. Saya buru-buru harus ke Masjid, boleh saya pergi sekarang?” tanya Fahmi yang sudah menjadi kewajibannya untuk melaksanakan sholat di masjid.


“I-iya si-silakan,” jawab Dyah terbata-bata.


Fahmi menundukkan pandangannya dan tak lupa mengucapkan salam sebelum pergi.


Dyah pun membalas salamnya dan terus memperhatikan punggung Fahmi yang semakin menjauh.


“Dyah, kamu sedang apa diam disini dan melamun seperti melihat hantu saja,” ucap Abraham yang rupanya bersiap-siap untuk pergi ke masjid.


“Paman, kalau jantung deg-degan itu tandanya kenapa apa Paman?” tanya Dyah penasaran.


“Paman perhatikan dari tadi kamu semakin aneh. Kalau soal itu Paman tidak paham, lebih baik tanyakan saja ke dokter barangkali Dyah mengalami penyakit yang cukup serius,” jawab Abraham.


Dyah memiringkan bibirnya dan melenggang pergi begitu saja dengan tatapan sebal.


Tanpa diketahui oleh Dyah, rupanya Abraham telah memperhatikan Dyah dan juga Fahmi dari kejauhan.


Abraham tentu saja mengenali sosok Fahmi, pria muda yang memang sering dan setiap hari melaksanakan sholat di masjid.


Jarak rumah kediaman Fahmi pun tidak jauh dari kediaman Abraham.


“Sepertinya keponakanku menyukai Fahmi,” ucap Abraham bermonolog dan terus melangkah menuju Masjid.


Dyah masuk ke dalam rumah dengan begitu terburu-buru. Ia masuk ke kamarnya dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


“Ya Allah perasaan apa ini?” Dyah bertanya-tanya dengan perasaannya yang sangat aneh.


Deg! Deg! Deg!


Jantung Dyah kembali berdegup kencang ketika mengingat saat dirinya dan Fahmi saling bertatapan.


Senyum Dyah merekah sempurna sambil memandangi sapu tangan yang berada digenggaman nya.


“Haduh, sadar diri Dyah. Pria itu pasti sudah memiliki istri. Astaga! Kenapa aku tidak menanyakan siapa wanita yang bernama Kikan.


Ya ampun, pegangannya masih terasa dikedua bahuku,” ucap Dyah panjang lebar sambil memegangi kedua lengannya yang beberapa saat lalu disentuh oleh Fahmi karena membantunya berdiri.


Dyah masih sangat terganggu dengan bordiran nama bernama Kikan di sapu tangan Fahmi.


Ia pun memutuskan akan bertanya jika suatu hari nanti bertemu dengan Fahmi.


🌠🌠🌠🌠


Menurut kalian, cerita Dyah dimasukkan kesini atau ke novel lain?


Komen di bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2