
Keesokan paginya.
Asyila sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, sebelumnya ia telah memberitahukan kepada orangtuanya dan juga putra kecilnya, bahwa ia harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu pelanggannya.
Arumi maupun Herwan sama sekali tak curiga terhadap Asyila, justru mereka senang kalau Asyila bisa pergi menjenguk orang yang sedang sakit, terlebih lagi itu adalah pelanggan Asyila.
“Ayah, Ibu!” Asyila pergi dulu, tolong jaga Akbar!’ pinta Asyila tanpa mengajak Akbar untuk ikut ke rumah sakit.
“Asyila sayang, sudah jangan khawatir. Akbar aman bersama kita, kamu yakin naik motor sendirian? Kenapa tidak naik mobil online saja?” tanya Arumi pada Asyila.
“Tidak usah, Ibu. Lagipula, Asyila senang kalau naik motor,” jawab Asyila yang memang lihat suka jika mengendarai motor daripada harus naik mobil tanpa ada suami disampingnya.
“Hati-hati ya sayang, jangan pulang terlalu sore!” pinta Arumi yang tidak ingin Asyila kelelahan.
“Ibu tenang saja, paling lambat Asyila pulang jam 3 sore. Untuk itu, tolong jaga Akbar ya.”
Asyila mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan mengecup lembut pipi Akbar.
“Akbar sayang, Bunda pergi dulu mau menjenguk teman Bunda yang sedang sakit. Selama Bunda pergi, Akbar jangan nakal ya dan jangan main jauh-jauh,” tutur Asyila panjang lebar.
“Baik, Bunda! Bunda, nanti bawa durian ya!” pinta Akbar yang tidak sabar ingin menikmati buah durian kesukaannya.
“Iya sayang, nanti Bunda bawakan.”
Asyila mengucapkan salam dan akhirnya melenggang pergi keluar rumah untuk segera mengendarai motornya.
Pagi itu, cuaca cukup cerah dan Asyila berharap hari itu tidak turun hujan.
“Tunggu Asyila ya Mas, Asyila berharap Mas Abraham dan juga Pak Edi baik-baik saja,” tutur Asyila dengan terus mengendarai motor matic tersebut.
Saat Asyila tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit, ia tak sengaja melirik ke arah kedai buah-buahan. Asyila pun memutuskan untuk berhenti dan membeli buah-buahan, barangkali Sang suami ingin menikmati buah segar yang ia beli.
Ia turun dari motor dan tak lupa melepaskan helm berwarna hitam miliknya. Kemudian, berjalan mendekat ke arah kedai buah-buahan tersebut.
“Teteh, saya beli kelengkeng, jeruk kecil, anggur, duku, pir dan juga apel. Sekilo-kilo ya, tapi dijadikan dua tempat!” pinta Asyila.
“Alhamdulillah, Siap Neng geulis. Ngomong-ngomong, mau kemana nih?” tanya penjual buah-buahan tersebut sembari menimbang buah-buahan yang sebelumnya telah Asyila sebutkan.
“Mau ke rumah sakit, Teteh,” jawab Asyila dengan sangat ramah.
“Oh, ada keluarga Eneng yang sakit?” tanya wanita itu sekedar basa-basi.
“Iya Teteh,” jawab Asyila sembari tersenyum manis pada penjual buah-buahan tersebut.
Asyila mengeluarkan ponselnya dan menggenggamnya dengan sangat erat. Ia teringat akan suaminya yang tentu saja saat ini tengah dalam kondisi menyedihkan di dalam ruang rawatnya.
“Ini, sudah Teteh bungkus rapi di keranjang buah,” ujarnya.
Asyila tersenyum sembari memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. Asyila tahu, bahwa uang tersebut lebih dari harga sebenarnya.
“Eneng geulis, ini uangnya kelebihan,” ucap Penjual buah-buahan tersebut sembari berjalan mendekat ke arah Asyila yang sudah berada di atas motor.
“Teteh, itu buat teteh saja,” balas Asyila dan bergegas melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit, untuk segera bertemu dengan kekasih halalnya yang begitu dicintai oleh Asyila.
Beberapa menit kemudian.
Asyila memarkirkan motornya di area parkir rumah sakit. Kemudian, ia berlari kecil untuk segera memasuki rumah sakit tersebut.
Asyila berlari ke arah pintu masuk dan meminta informasi ke salah satu pekerja di rumah sakit untuk mengetahui dimana letak kamar suaminya.
“Permisi, maaf saya istri dari Mas Abraham Mahesa. Bisa tolong beritahu saya, letak kamar suami saya!” pinta Asyila.
“Sebentar ya, kami akan melihat kamar dari Tuan Abraham,” jawab wanita yang berpakaian serba putih.
Tak butuh waktu lama, wanita muda itu memberitahukan letak kamar Abraham Mahesa.
Asyila mengucapkan terima kasih dan berjalan dengan langkah lebar untuk segera sampai ke ruang dimana suaminya tengah di rawat.
__ADS_1
Untuk segera sampai ke lantai atas, Asyila memilih untuk menggunakan lift.
Saat Asyila baru saja keluar dari lift, ia sudah melihat Dayat dan beberapa anggota polisi yang lain tengah berdiri tepat di depan sebuah ruangannya, yang kemungkinan itu adalah ruangan tempat dimana Abraham dan juga Edi dirawat.
“Assalamu'alaikum,” ucap Asyila dengan senyum tipisnya.
“Wa’alaikumsalam, Nona Asyila datang sendirian?” tanya Dayat yang begitu menghormati sosok istri dari Abraham Mahesa.
“Iya, Pak Dayat. Saya datang seorang diri, saya masih merahasiakan bahwa Mas Abraham saat ini masuk rumah sakit,” jawab Asyila pada salah satu sahabat dari suami tercintanya itu.
“Nona Asyila yakin ingin menemui Tuan Abraham? Saya hanya tidak ingin membuat Nona Asyila sedih dan malah membuat Tuan Abraham merasa bersalah,” ujar Dayat yang memang tahu benar bagaimana Abraham jika sampai istri kecilnya itu menangis.
“Pak Dayat, istri mana yang tidak sedih dan menangis bila melihat suaminya terluka? Meskipun begitu, saya akan berusaha menyembunyikan kesedihan saya di depan Mas Abraham. Kalau boleh tahu, apakah Mas Abraham di dalam sedang tertidur?” tanya Asyila penasaran.
“Tuan Abraham baru saja selesai makan siang, bahkan Edi pun juga selesai makan siang. Mungkin, Tuan Abraham dan juga Edi sedang berbincang-bincang di dalam, mereka berdua sengaja saya taruh di ruangan yang sama. Agar mereka tidak jenuh, jika harus berbeda ruangan,” jelas Dayat pada Asyila.
“Terima kasih atas perhatian Pak Dayat dan juga rekan yang lain, karena telah membantu suami saya. Kalau begitu, saya permisi ke dalam,” tutur Asyila dan saat itu melenggang masuk ke dalam ruangan Sang suami tercinta.
Asyila berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan berusaha untuk tidak tahu apa-apa mengenai penculikan yang telah dialami oleh suami serta sahabat dari suaminya tersebut.
“Assalamu'alaikum Mas Abraham, Pak Edi!” Asyila masuk dengan senyum manisnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham dan juga Edi sembari menoleh ke arah Asyila yang baru masuk ke dalam ruangan mereka.
Asyila berjalan menuju ke arah Edi dan memberikan salah satu buah-buahan yang ia beli dan sudah tertata rapi di keranjang buah.
“Hai, Pak Edi. Ini saya bawakan buah-buahan,” tutur Asyila dan meletakkan buah-buahan tersebut ke nakas dekat Edi.
“Terima kasih, Nona Asyila. Seharusnya tidak perlu repot-repot,” balas Edi yang sama sekali tidak ingin merepotkan Asyila.
“Ini sama sekali tidak merepotkan saya, Pak Edi. Ya sudah, saya mau menemui Mas Abraham,” tutur Asyila dan saat itu juga berbalik arah untuk menghampiri suaminya.
Melihat istri kecilnya yang sudah berada dihadapannya, Abraham terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
Abraham menangis, karena mengingat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya, Abraham hampir saja putus asa dan untungnya ada wanita bercadar yang datang menyelematkan dirinya serta Edi.
“Mas Abraham kenapa menangis? Sakit ya Mas? Bagian mana yang sakit?” tanya Asyila pada suaminya.
“Mas, Mas Abraham kenapa diam saja? Bagian mana yang sakit? Kenapa Mas Abraham bisa seperti ini?” tanya Asyila dengan mata berkaca-kaca.
Abraham perlahan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi kiri Asyila dengan tatapan penuh cinta.
“Syurkurlah Mas masih bisa menyentuh wajah Asyila, Mas semalam sudah hampir menyerah dan berpikir yang tidak-tidak mengenai kematian,” ujar Abraham dengan suara yang sangat lirih.
“Maksud Mas Abraham apa? Kenapa Mas berbicara seperti ini?” tanya Asyila yang jelas-jelas paham dan juga mengerti maksud dari perkataan suaminya.
Abraham meminta istrinya untuk menarik seluruh kain pembatas antara dirinya dan Edi, agar ia bisa lebih privasi berbicara dengan istri kecilnya.
Asyila mengiyakan dan menutup tirai tersebut sesuai dengan permintaan suaminya. Setelah itu, Asyila mendaratkan bokongnya di kursi untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sang suami tercinta.
“Syila, kenapa hanya datang seorang diri saja? Ayah, Ibu, Akbar serta yang lain kenapa tidak kemari?” tanya Abraham sembari membelai lembut pipi istri kecilnya.
“Mereka semua tidak tahu bahwa Mas Abraham masuk rumah sakit,” jawab Asyila yang juga membelai lembut pipi suaminya.
Abraham mengernyitkan keningnya mendengar jawaban dari Asyila.
“Mas, Asyila hanya tidak ingin membuat mereka khawatir. Mendengar Mas masuk rumah sakit saja sudah membuat Asyila gemetaran, kenapa Mas bisa seperti ini? Lalu, kenapa Pak Dayat dan yang lainnya baik-baik saja? Kecuali, Mas Abraham dan juga Pak Edi,” ujar Asyila penasaran mengenai suaminya yang bisa berada di dalam ruang pengap tersebut.
Abraham tersenyum mendengar keterangan dari istrinya yang memang tidak ingin membuat keluarga yang lain khawatir dengan kondisinya tersebut.
“Sebelumnya, Mas sangat berterima kasih kepada Asyila yang telah memutuskan untuk tidak memberitahukan keluarga yang lain,” tutur Abraham dan perlahan menghela napasnya. “Kalau Mas menceritakan yang sebenarnya, bisakah Asyila berjanji untuk tidak menangis?” tanya Abraham mengajukan syarat terlebih dahulu karena tak ingin membuat Sang istri menangis ketika mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai dirinya dan juga Edi yang berhasil kena jebakan dari para penjahat yang sekarang sudah mendekam di penjara karena aksi heroik dari wanita bercadar tersebut.
“Mas, Asyila tidak bisa membuat janji yang seperti itu. Tolong, ceritakan saja kepada Asyila dan soal menangis atau tidaknya, Asyila akan berusaha untuk tidak menangis di hadapan Mas Abraham. Tolong, ceritakan lah apa yang sebenarnya terjadi kepada Mas Abraham dan juga Pak Edi!” pinta Asyila.
Abraham kembali menghela napasnya dan sebelum menceritakan apa yang telah terjadi, Abraham lebih dulu meminta istri kecilnya untuk menyuapi buah anggur ke dalam mulutnya.
Asyila pun mengiyakan dan terlebih dahulu mencuci buah anggur tersebut, setelah itu menyuapi buah anggur tersebut ke dalam mulut suaminya dengan biji yang sebelumnya telah dipisahkan oleh Asyila.
__ADS_1
Setelah cukup menikmati buah anggur dari tangan istri kecilnya, akhirnya Abraham memutuskan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Sang istri secara pelan-pelan.
“Sebelum kejadian Mas diculik, kami sedang membahas masalah makanan yang diracuni itu. Tiba-tiba, salah satu dari tim terkena tembakan dari orang yang tak dikenal, yang sempat melihat pelaku penembakan tersebut adalah Mas Abraham, Edi dan beberapa polisi yang lain. Singkat cerita, Mas dan Edi berlari mengejar pelaku penembakan tersebut, pelaku itu berlari ke arah pasar tradisional yang memang letaknya dekat dengan markas,” terang Abraham dan mengatur napasnya kembali.
Asyila menggigit bibirnya dan tangan kirinya mengepal kuat-kuat.
“Kami terus mengejar sampai akhirnya kami berhenti di sebuah gang kecil, tanpa kami sadari gang kecil itu adalah perangkap untuk kami berdua. Satu-persatu mereka muncul dengan membawa senjata api alias pistol di tangan mereka. Bahkan, pistol milik Edi sudah hilang karena sebelum ditabrak oleh seseorang yang ternyata adalah salah satu dari mereka,” terang Abraham lagi.
Asyila takut jika membayangkannya, meskipun Asyila bisa dikatakan menguasai ilmu bela diri yang dapat diacungi jempol.
“Lalu, setelah itu Mas Abraham dan Pak Yogi dibawa mereka pergi?” tanya Asyila.
Abraham mengangguk kecil, mengiyakan apa yang diucapkan oleh istri kecilnya.
“Beberapa jam kemudian, kami sadar dan sudah berada di ruangan seperti gudang yang sangat pengap. Disana, kami berdua disiksa habis-habisan, tidak diberi makan apalagi minum setetes pun,” ungkap Abraham dan kembali meneteskan air matanya.
Asyila meneteskan air matanya dan cepat-cepat menyeka air matanya itu agar Sang suami terus melanjutkan apa yang telah terjadi.
“Kami disiksa, di cambuk, dipukul, di tendang dan apa yang mereka lakukan benar-benar sangat menyakitkan seluruh tubuh ini. Untungnya, ada malaikat penolong yang menyelamatkan kami berdua, yaitu wanita bercadar,” tutur Abraham. “Wanita Bercadar itu datang seperti malaikat, dia datang memberikan kami minum dan juga makan. Kemudian, mengoleskan salep di bagian dada Mas dan juga dada Edi, benar-benar yang seperti malaikat,” imbuh Abraham yang terdengar seperti memuji wanita bercadar tersebut.
Entah kenapa, Asyila agak terganggu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Seakan-akan suaminya telah jatuh cinta dengan sosok lain dari Asyila, yaitu wanita bercadar.
Ya Allah, bagaimana ini? Kenapa hamba bisa jadi cemburu begini dengan sosok wanita bercadar yang jelas-jelas adalah diri hamba sendiri. Tidak ada wanita yang membuat hamba cemburu kecuali sosok lain dari di hamba, yaitu wanita bercadar.
“Syila, Mas dan Edi berhasil selamat karena wanita bercadar itu. Mau bagaimanapun, kita berhutang Budi kepadanya dan jika ada kesempatan lagi, Mas ingin berbicara langsung dengannya untuk mengucapkan terima kasih,” jelas Abraham pada istrinya.
“Kalau begitu, kenapa Mas tidak mengucapkan terima kasih kepadanya saat dia datang?” tanya Asyila yang terlihat jelas bahwa dia begitu cemburu.
Abraham tertawa kecil melihat ekspresi wajah istri tercintanya itu.
“Syila, malam itu Mas tidak sempat karena memang tidak sanggup untuk berbicara,” balas Abraham. “Syila, kenapa ekspresi wajah Asyila begitu? Asyila cemburu?” tanya Abraham pada Sang istri.
“Tidak, Asyila sama sekali tidak cemburu. Mau bagaimanapun, Mas Abraham hanya mencintai Asyila,” balas Asyila dengan jutek.
Asyila beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
“Sudah jelas-jelas Asyila cemburu, masih saja ditutup-tutupi,” ujar Abraham.
Kedatangan istri kecilnya, membuat kondisi Abraham jauh lebih baik. Abraham bahkan ingin sekali jika Sang istri tinggal di rumah sakit untuk menemaninya tidur.
“Setelah aku sembuh, aku akan membuat perhitungan kepada mereka. Ucapan mereka benar-benar harus dibungkam,” ujar Abraham yang ingat dengan setiap perkataan dari pria berkalung rantai tersebut.
Di dalam kamar mandi, Asyila sedang menata hatinya. Asyila masih kesal dengan suaminya yang terlihat begitu memuji sosok wanita bercadar tersebut.
Jika itu orang lain, entah apa yang akan terjadi dengan hati Asyila.
“Asyila, kamu harus tenang. Mau bagaimanapun, sosok wanita bercadar itu adalah dirimu sendiri. Istri dari suami, Abraham Mahesa,” ujar Asyila bermonolog.
Asyila mengatur napasnya yang tak beraturan, setelah cukup membaik. Asyila memutuskan untuk segera menghampiri Suaminya.
Ia duduk di kursi dan mengambil buah kelengkeng kesukaan Ashraf. Asyila memakan buah kelengkeng tersebut tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya.
“Syila, Mas juga mau!” pinta Abraham dan membuka mulutnya secara perlahan.
Asyila memanyunkan bibirnya sembari menyuapi buah kelengkeng ke dalam mulut suaminya.
Kecemburuan di mata Asyila sangat terlihat jelas dan membuat Abraham tak bisa berhenti tertawa.
“Mas, apakah ada yang lucu dari wajah Asyila?” tanya Asyila serius.
Saat itu juga, Abraham menutup mulutnya rapat-rapat.
Asyila mengangkat sebelah alisnya dan kembali menyuapi buah kelengkeng ke dalam mulut suaminya.
Bagaimana bisa istriku ini cemburu dengan wanita bercadar itu? Meskipun wanita itu baik seperti malaikat penolong, tetap saja aku hanya mencintai Asyila seorang.
“Mas kenapa melihat Asyila dengan tatapan seperti itu?” tanya Asyila tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Mas tengah melihat sosok bidadari yang sedang ngambek,” jawab Abraham.
“Mas, jangan banyak bicara. Ayo buka mulutnya lagi!” perintah Asyila yang ingin menyuapi buah kelengkeng ke dalam mulut Sang suami.